Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Bonchap 9 - malam panjang


__ADS_3

Di hotel, Aurel terlihat sudah terkapar. Anak kecil yang sebentar lagi akan menjadi kakak itu tertidur pulas di samping kiri Bilqis. Sedangkan ayah anak itu juga berada di samping Bilqis, tepatnya di sebela kanan. Alex juga terlihat lelah dan sudah memejamkan mata sembari memeluk wanita yang berperut besar itu dengan menempelkan kepalanya pada bahu Bilqis dan berada di cerug leher itu.


Hampir setiap malam, posisi tidur mereka seperti ini. Bilqis selalu berada di tengah antara anak dan ayah itu. Aurel dan Alex selalu berebut untuk memelukny saat tidur. Tak jarang ayah dan anak itu sering bertengkar hanya karena posisi tidur saja. Dan yang membuat Alex kesal karena akhir – akhir ini, Aurel justru lebih sering meminta tidur bersama Bilqis, membuat jatah Alex pun terpotong.


Bilqis terbangun saat tangan Alex bergerak berada di kedu gunung kembarnya yang kian menjulang.


“Mas.”


“Sayang. Mas pengen banget.”


Bilqis menoleh ke arah Aurel yang tidur terlentang dan terlihat pulas. “Ada Aurel.”


“Dia udah tidur.”


“Mas, kan bisa besok – besok,” ucap Bilqis.


“Ga bisa besok, Sayang. Udah tiga hari puasa nih.”


Memang Bilqis sudah berada di hotel ini sejak tiga hari yang lalu. Ia dan sang Ibu lebih dulu datang ke kota ini untuk mempersiapkan pernikahan sang adik dan Alex menyusul sehari sebelum acara besar itu berlangsung.


Bilqis menggelengkan kepala dan memukul pelan pipi Alex. “Ish, aku nyesel pernah segan banget sama kamu.”


Alex pun nyengir. Ia tetap melancarkan aksinya. Bahkan ia mengkondisikan keadaan dengan sedikit mendorong pelan tubuh Aurel hingga anak itu berbaring miring menghadap tembok. Lalu, Alex menjaga punggung Aurel dengan tumpukan bantal dan guling.


“See … tidak ada masalah yang tidak bisa diatasi,” ujar Alex sombong.


Bilqis mencibir sembari menahan tawa. Dan Alex mulai menciumi tubuh yang semakin sekal itu.


“Mas, kalau nanti Aurel terbangun karena gerakan kita, gimana?” Bilqis kembali menahan dada suaminya saat Alex hendak melancarkan aksi.


“Aku pelan – pelan, Sayang. Dia tidak akan terbangun.”


“Beneran?” tanya Bilqis yang tak percaya. Pasalnya Alex tiper pria yang bringas saat di ranjang, walau semula lembut tapi pada akhirnya ia pun akan tetap bringas.


“Bener, Sayang.”


Bilqis menurut, ia pasrah dengan apa yang akan dilakukan Alex pada tubuhnya. Alex mulai mencumbu hingga akhirnya bersatu. Benar saja, lama kelamaan aktfiitas itu membuat Aurel terganggu.


Anak kecil itu pun mulai bergerak, sehingga membuat Bilqis mendorong dada Alex agar menghentikan aktifitas itu.


“Mas, aku takut Aurel melihat kita.”


“Ngga.” Alex menggeleng. “Dia masih pulas.”


Tiba – tiba Aurel bangkit dan duduk dalm keadaan matanya yang masih tertutup. Sontak Alex dan Bilqis pura – pura tidur. Mereka berbaring dengan posisi saling memunggungi dan selimut yang sudah sampai ke leher.


“Mommy.” Aurel menggoyangkan tubuh sang Ibu sembari mengucek matanya.


“Eum … Ada apa, Sayang?” tanya Bilqis dengan pura – pura menggeliat.


“Apa tadi ada gempa? Karena tempat tidurnya goyang.”

__ADS_1


“Ya ampun.” Bilqis menepuk keningnya dengan menyembunyikan wajah itu dibalik selimut. Sementara, Alex tersenyum tipis di balik punggung Bilqis.


Jika sudah begini, suami tidak bertanggung jawab dan alhasil Bilqis yang bertanggung jawab membuat Aurel tenang dan kembali tidur.


“Sayang.”


“Tidur, Mas. nanti Aurel terbangun lagi.”


“Sayang.”


“Maas.” Bilqis membulatkan matanya pada Alex dan meminta pria itu berhenti merengek.


Alex pun pasrah. Ia kembali membaringkan tubuhnya dan berpikir. Mengapa sekarang ia lemah dan terus kalah dengan dua wanita yang saat ini tidur bersamanya?


“Ah si*l,” umpat Alex dalam hati dan mencoba memejamkan mata, walau si jerry tetap berada dalam mode on.


****


“Mas, salah.” Maya mendorong dada Radit.


“Ini benar, Maya Sayang.”


“Salah, Mas. ini sakit.”


“Memang sakit, awalnya. Tapi nanti setelahnya tidak.”


“Bukan di sini tempatnya.”


Malam pertama yang seharusnya khidmat, tenang, damai, dan penuh kenikmatan justru menjadi rusuh. Keduanya berdebat hanya karena sebuah permulaan menuju surga dunia. Keduanya memang masih tabu dan masih sama – sama pemula.


Radit menarik tubuhnya menjauh dari sang istri diiringi dengan tarikan nafasnya yang kasar. Ia menggulirkan tubuhnya ke samping Maya sambil berpikir. Padahal ia merasa sudah melakukan apa yang Alex perintahkan. Ia sudah mencumbu sang istri dan membuatnya relaks, tapi saat akan menyatu, Maya justru mendorong dadanya hingga terjungkal.


Maya mendekati Radit. Keduanya hanya berbalut selimut. “Mas marah ya?”


“Ngga.”


“Beneran?” tanya Maya dengan menatap Radit manja sambil menyandarkan kepalanya di dada yang lumayan bidang itu.


“Iya, ya udah kita lanjutkan besok.”


Maya menggeleng. “Sekarang aja. Ayo di coba lagi!”


Maya tidak ingin membuat suaminya kecewa. Semua orang tahu jika setelah menikah yang dinanti adalah malam ini. Apa jadinya jika malam ini hanya berlalu dengan saling mendengkur?


Maya menggoda Radit dengan memainkan ujung jari telunjuknya di dada Radit yang terbuka.


“Ayo, Mas!”


“Apa?” tanya Radit yang juga ingin menggoda kepolosan Maya.


Walau Radit memang belum pernah bercinta, tapi ia cukup tahu cara bercinta dan memecah keper*w*n*n sang istri.

__ADS_1


“Ayo dicoba lagi!”


“Di coba apa? Nanti kamu dorong aku lagi sampai terjungkal,” kata Radit sembari menahan tawa. Walau awalnya ia kecewa, tapi ia cukup mengerti dengan sikap spontan sang istri.


“Maaf,” ucap Maya yang penuh dengan penyesalan.


Radit mencekal pergelangan tangan Maya yang terus bermain di atas dadanya. “Cukup, Sayang!”


“Ayo lanjutkan!”


“Yakin?” Radit menatap Mata Maya.


Maya menagngguk dengan ekspresi lucu dan menggemaskan, membuat Radit pun tersenyum gemas.


“Baiklah, tapi ga boleh nangis ya!”


Maya mengangguk.


“Ga boleh dorong aku lagi.”


Maya kembali menganggukkan kepalanya. “Iya.”


“Tahan sedikit kalau sakit,” ucap Radit lagi.


“Iya, bawel. Cepetan.”


Radit tertawa. “Dih, udah ga tahan.”


“Maaasss …” teriak Maya kesal, hingga akhirnya Radit membungkam bibir Maya.


Radit mencium bibir itu, memberi rangsangan pada bagian atas dengan tangan yangsudadh kembali bergerilya ke bagian – bagian sensitif yang meningkatkan hasrat.


Benar saja, Maya langsung terbuai oleh sentuhan itu. Nalurinya muncul dan dengan sendirinya ia pun pasrah.


Radit terus memberikan cumbuan ringan dan memabukkan, karena hal itu yang diajarkan Alex padanya.


“Laki - laki sejati tidak hanya memikirkan kenikmatannya sendiri. Dia harus membuat pasangannya merasakan apa yang dia rasakan, karena bercinta adalah aktifitas yang harus dinikmati bersama. Jadi buat pasanganmu merasakan kenikmatan yang kamu rasakan, Dit. Ajak dia terbang dan melupakan rasa sakit itu.”


Ucapan Alex terngiang di kepala Radit. Ia pun mempraktekkan itu. Ia terus membuat Maya terbang hingga saat penyatuan tiba, Maya tak lagi mendorongnya. Tubuh Maya hanya tersentak oleh kehadiran benda asing yang kini berada di dalamnya.


Radit mngehapus jejak air mata yang mengalir di sudut mata itu tanpa sengaja. Walau Maya tidak berteriak saat dirinya berhasil menerobos pertahanan itu. Namun, ia bisa merasakan rasa sakit itu.


“Maaf, Sayang,” ucap Radt lembut.


Maya tersenyum dan mengangguk. “Tidak apa. Aku malah senang mempersembahkannya untukmu.”


Senyum Radit semakin mengembang diiringi gerakannya yang tetap lembut. “Terima kasih.”


“Sama – sama.”


Pernikahan mengajak dua insan untuk saling memberi dan menerima dengan ketulusan. Pernikahan mengajak dua insan untuk bertanggung jawab. Pernikahan juga membuat seorang wanita mendapatkan harga diri. So, jangan lakukan sesuatu diluar batas tanpa adanya pernikahan, karena saat pria menginginkan hal itu sebelum menikah, itu artinya dia bukanlah pria yang memiliki tanggung jawab dan tidak menghargai wanita.

__ADS_1


__ADS_2