
Tina, Saskia, dan Mira mematung. Begitu juga dengan Bilqis.
Wajah Bilqis lebih terkejut dari pada ketiga sahabatnya itu. Ia pikir, sejak tadi Alex sudah memasuki lift dan sampai di atas. Tapi ternya pria itu malah berdiri di depannya sekarang. Mata Alex menyilang menatap istrinya yang tidak ada satu pun di tempat itu tahu status Bilqis dan Alex.
"Tina," panggil Alex.
"Ya, Sir." Tina menyahut.
"Setelah makan siang, datang ke ruanganku."
Saskia dan Mira tampak pias. Wajahnya pucat pasi karena takut akan di pecat. Merekaikhawatir Alex marah karena telah membawa dirinya sebagai bahan taruhan.
"Saskia, Mira." Alex memanggil dua nama orang yang ada bersama istrinya.
"Ya Sir," jawab Mira dan Saskia kompak dengan menahan takut karena tidak ada orang yang tidak marah jika dijadikan taruhan, apalagi yang menjadi bahan taruhan mereka adalah Alex si boss killer.
"Kalian juga ke ruanganku, setelah makan siang."
Bilqis merasa aman, karena sedari tadi namanya tidak Alex panggil.
"Bilqis."
Sontak, pemilik nama yang semula menunduk itu pun mendongak ke arah Alex. "Ya, Sir."
"Kamu juga."
"Ta ..."
baru saja Bilqis ingin memberi alasan. Namun Alex sudah terlanjur pergi meninggalkanya dan ketiga sekretaris senior perusahaanya itu.
Alex melenggang pergi dan menekan tombol lift lali naik seorang diri.
"Ya, ampun. Tina. Mamp*s deh! Alamat kena SP kita," ucap Saskia.
Tina mematung, tapi masih aempat bersuara. "Ya, kita keterlaluan banget ya, menjadikan Sir Alex sebagai badang taruhan.
"Ya, ampun jangan dong! Cicilan mobil aki tinggal dua tahun lagi," ucap Mira.
"Emang kamu doang, Mir yang masih ada cicilan mobil. Aku juga," sahut Bilqis.
Lalu, arah mata Bilqis tertuju pada Tina. "Sekarang aja baru nyesel kamu, Tin. Ini kan idemu!"
Seketika Tina lemas. "Kalau gue dipecat, gw minra kerjaan aja sama Jhon."
"Kerjaan apa?" tanya Bilqis.
"Jadi istrinya lah." Tina tertawa, begitu pun dengan Saskia dan di susul Mira. Walau tawa Miea sangat terlambat.
"Serius napa sih?" ucap Bilqis yang melihat ketiga temannya itu masih santai.
"Gue juga serius, Qis," sahut Tina.
Gue juga, Qis." Mira dan Saskia lin menambahi.
"Tenang aja. Kita ga bakal dapet SP (Surat Peringatan)," ucap Tina yakin. "Karena nanti Jhon aka menjelaskan masalah ini ke Alex.
"Beneran, Qis?" tanya Saskia dan Mira dengan mata berbinar.
"Tentu saja." Tina melirik Bilqis. "Kamu tidak percaya padaku, Qis."
Bilqis pun mengangguk. "Ya, aku percaya."
__ADS_1
Sepertinya, Tina akan merengek pada Jhon agar membantunya meluluhkan hati Alex. Walau pun harus dibayar dengan gempuran Jhon semalaman, Tina bersedia.
Akhirnya mereka menaiki lift dan turun terpisah di lantai yang berbeda - beda, kecuali Tina. Karena ruangan Jhon memang satu lantai dengan CEO.
"Tin, apa tindakanmu akan berhasil?" tanya Bilqis ketar - ketir, sebelum mereka berpisah.
"Apa selama ini aku tidak pernah berhasil?" Tina balik bertanya.
"Jangan bilang kamu akan membayar Jhon dengan bercinta semalaman?"
Sontak, Tina tertawa. "Eh anak Ibu udah gede. Tumben ngomong soal bercinta."
Bilqis pun terdiam. Ia tidak ingin terlihat bahwa dirinya sudah melakukan itu. Entah apa reaksi Tina, Saskia, dan Mira jika mengetahui bahwa ia pernah bercinta dan partnernya adalah Alex. Bilqis tidak bisa bayangkan betapa gemparnya kantor ini.
Sesampainya di meja kerja, Bilqis meletakkan tasnya di sana. Ia masih menggunakan tas miliknya yang tebilang biasa, bukan tas dari Alex yang kemarin dijadikan seserahan. Ia tidak percaya diri memakai Tas mahal itu. Belum lagi jika Tina, Saskia atau Mira melihat benda itu dan bertanya. Bilqis belum siap memberi jawaban yang tepat.
Bilqis menatap pintu ruangan Alex. Ia tahu suaminya sedang marah. Jika hal itu terjadi pada dirinya pun, ia akan marah. Dijadikan barang taruhan, itu sama saja mengibaratkan Alex sebagai barang langka.
Bilqis menyesal. Ia salah telah melakukan ini pada Alex.
Tok Tok Tok
Bilqis mengetuk pintu itu. Namun, tidak ada sahutan dari dalam sana. Biasanya Alex akan berteriak ... "masuk."
Tapi ini, tidak. Bilqis pun tak pantang menyerah. Ia tetap memasuki ruangan itu.
"Hai, Sir," sapa Bilqis pada Alex yang terlihat cuek dan tetap memfokuskan matanya di depan laptop.
"Eh, salah. Hai Mas." Bilqis mendekati sang suami setelah memastikan pintu ruangan itu kembali tertutup.
"Mas, mau kopi?" tanyanya lembut sembari berdiri di samping Alex. Ia juga sedikit membungkuk untuk mensejajarkan posisi tubuhnya dengan Alex yang sedang duduk.
Alex menggeleng. "Tadi pagi, aku sudah minum kopi," jawabnya ketus.
Bilqis merubah posisinya. Ia langsung berdiri di belakang Alex dan memijat bahu serta leher dan kepala itu. Pijatan Bilqis terasa enak dan membuatnya relaks. Ia baru tahu keahlian lain dari istrinya.
"Gimana? Enak?" tanya Bilqis.
"Lumayan."
"Yah, cuma lumayan?"
"Ya, memang lumayan saja."
Bilqis pun cemberut. Padahal ia sudah memberikan pijatan spesial pada pria ini.
"Daswr menyebalkan," gerutu Bilqis dalam hati.
"Bagaimana dengan ini?"
Bilqis memberi teknik pijatan lain yang sudah ia praktekan pada sang Ibu. Dan Laila sangat menyukai hingga ketagihan.
"Biasa saja," jawab Alex datar, membuat Bilqis frustrasi.
"Ya sudah kalau tidak enak. Lebih baik aku kembali ke mejaku," kata Bilqis kesal.
Sedari tadi Alex tengah menahan tawanya. Namun, ia juga jago berakting.
Bilqis hendak meninggalkan ruangan itu. Dan Alex tertawa dari balik tubuh Bilqis. Kemudian, wanita itu berbalik. Seketika, Alex menghentikan tawanya
"Oh ya, lepas jam makan siang. Aku akan menjemout Aurel, jadi aku tidak bisa memenuhi perintahmu."
__ADS_1
Sontak, Alex menoleh ke arah Bilqis. Pria itu menatapnya tajam, membuat Bilqis sedikit takut.
"I-itu permintaan Aurel. Kamu dengar kan saat berangkat, Aurel ingin aku menjemputnya," kata Bilqis lagi.
"Aurel sangat pengertian. Dia pasti mengerti jika hari ini kamu sibuk dan tidak bisa menjempunya. Masih bisa hari esok kan?"
Bilqis pun terdiam. Ternyata alasannya tidak mampu merobohkan perintahnya itu. Padahal alasan Bilqis sangat kuat, yaitu Aurel.
Alex mengangkat pesaaat telepon yang ada di mejanya. Ia menyuruh bagian HRD untuk memanggil Tina, Saskia, dan Mira.
Langkah Bilqis yang semula akan keluar dari ruangan ini pun tertahan oleh suara perintah Alex di telepon tadi.
"Bukan kah kamu menyuruh mereka menemuimu setelah makan siang?" tanya Bilqis.
"Tidak, sekarang saja. Aku ingin semuanya clear," jawab Alex tegas.
Bilqis pun pasrah dan hanya bisa menarik nafasnya kasar. Apa yang terjadi, ya terjadilah, pikirnya.
***
"Maaf,Sir."
"Saya juga minta maaf, Sir."
"Ini semua karena saya. Saya yang memulai taruhan ini. Saya benar - benar menyesal."
Saskia, Mira, dan Tina memohon maaf pada Alex. Tina terlihat sangat bersungguh - sungguh saat mengucapkan maaf.
Lalu, arah mata Alex beralih pada Bilqis. "Aku tidak mendengarmu meminta maaf."
"Maaf, Sir." Bilqis baru bersuara. Sedari tadi memang hanya bersahutan suara Tina, Saskia, dan Mira.
"Saya juga sangat menyesal menjadikan Sir sebagai taruhan," ucap Bilqis lagi dengan menundukkan kepala.
Alex dapat merasakan kejujuran permohonan maaf itu.
"Baiklah, saya tidak akan memberikan kalian So," kata Alex membuat Tina, Saskia, dan Mira tersenyum senang dan langsung membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Terima kasih, Sir."
"Terima kasih."
"Saya tahu, Sir Alex memang bijaksana. Terima kasih."
Bilqis kesal melihat ketiga sahabatnya yabg terlihat takut pada Alex.
"Dan kamu." Alex menunjuk pada Bilqis. "Kamu akan kena SP. Di skors mulai besok hingga tiga hari ke depan."
"What?" tanya Bilqis tak percaya.
Ternyata menjadi istri CEO tidak lantas membuatnya kebal aturan.
Tina, Saskia, dan Mira pun menatap Bilqis dengan sedih, seolah juga memohon maaf pada sahabatnya itu.
"Kalian boleh pergi!" ucap Alex.
Keempat sekretaris senior yang duduk di depan Alex pun langsung berdiri dan hendak pergi. Bilqis juga ikut berdiri seperti ketiga temannya.
"Kamu." Alex kembali menunjuk Bilqis. "Tetap di sini."
"Qis," panggil Tina pelan seolah mengisyaratkan keprihatinannya pada Bilqis.
__ADS_1
Saskia dan Mira pun seperti itu. Saat keluar dari ruangan itu, Mereka memberikan Bilqis semangat.