
Langit sudah nampak gelap. Tamu yang datang dan memberi ucapan tidak lagi seramai saat sore. Para tetangga yang cukup kenal dengan Laila pun datang. Sebagian ada yang datang sebelum langit gelap dan sebagian ada yang datang setelah langit berubah warna.
Grep
Alex menarik Bilqis dan mengajaknya bersembunyi di balik pintu dapur yang terhubung dengan taman belakang yang minimalis.
“Sayang, ayo kita keluar dulu sebentar!”
“Ke mana?” tanya Bilqis bingung.
“Temani saja, sebentar.” Alex ingin mengajak sang istri ke suatu tempat.
Alex sudah tidah bisa lagi menanahan keinginan Jerry. Padahal pesta masih berlangsung, sanak saudara masih berada di tempat ini dan para tamu pun masih ada saja yang datang walau tingga beberapa gelintir orang.
Alih – alih membuat jerry tidur, justru Alex terperangkap dalam gairah yang tak kunjung henti. Bagaimana tidak? Salah Alex yang selalu menempel pada sang istri. Ke mana pun Bilqis bergerak, Alex selalu menempel di belakang Bilqis. Bahkan dengan nakalnya, pria itu sengaja menempelkan senjatanya pada bagian bulat belakang tubuh Bilqis. Menyebalkan bukan? Dan Bilqis sadar atas kelakuan suami mesumnya itu.
“Ke mana?” tanya Bilqis.
“Ke mini market.”
“Tapi di luar masih banyak orang, Mas. Ga enak pamitnya.” Bilqis masih bingung dengan permintaan Alex.
“Memang kamu mau beli apa?” tanya Bilqis lagi.
“Hm. Silet pencukur,” jawab Alex yang kemudian mengusap janggutnya. “Lihat janggutku sudah menebal!”
Bilqis memperhatikan bagian yang diperlihatkan Alex sembari memicingkan mata. Rasanya yang dikatakan Alex tidak benar. Ia melihat bulu di janggut itu masih sangat tipis.
“Ayo, Sayang! sebentar saja.” Kini, Alex menarik lagi lengan Bilqis untuk keluar sebentar dari tempat ini.
“Lalu Aurel?” tanya Bilqis yang bingung jika sang putri menanyakannya dan ayahnya.
“Ada Maya. Lagi pula, sedari tadi Aurel asyik bermain dengan Radit dan sepupu – sepupu mu.”
Benar, Aurel memang senang sekali banyak orang, mengingat ia selalu sendiri di rumah. Terlebih ada beberapa sepupu Bilqis yang memiliki anak sebaya dengan Aurel. Sehingga gadis kecil itu sedari tadi tidak mengeluh bosan dan malah terlihat sangat senang.
“Ayo!” Alex kembali mengajak Bilqis.
“Mas Alex sama Mba Qis mau ke mana?” tanya Radit yang melihat Alex menarik lengan sang kakak.
“Ke mini market bentar, Dit,” jawab Alex. “Titip Aurel ya!”
Alex tampak tergesa – gesa membawa Bilqis pergi. Bilqis pun tidak bisa menolak, ia hanya bisa melambaikan tangannya sembari tersenyum untuk memberi isyarat bahwa dirinya pamit sebentar untuk menemani suaminya keluar.
Alex berhasil membawa Bilqis ke dalam mobil. Ia sengaja pergi mengendap tanpa sepengetahuan Aurel, anak kecil yang selalu menggagalkan rencana jerry untuk bersenang – senang. Yang penting Alex sudah memberi perintah pada Maya untuk selalu menjaga putrinya. Ditambah ada Radit yang juga bisa diandalkan. Saatnya untuk memikirkan diri sendiri, pikir Alex.
“Kamu tuh ya, Mas. Ada – ada aja. Masa beli silet cukur aja harus malam ini sih,” ucap Bilqis kesal sembari memakai seatbelt. Sedangkan Alex sudah mulai menyalakan mesin kendaraan itu dan menjalankannya.
Alex cukup tahu destinasy di sekitar kompleks rumah Bilqis. Ia juga cukup tahu letak minimarket, restoran atau hotel yang cukup bagus dan berada dekat dari komplek itu.
“Mas, itu mini marketnya. Kok dilewatin sih?” tanya Bilqis bingung sambil menunjuk mini market yang semakin lama semakin menjauh.
Kepala Bilqis pun mengikuti gedung mini market hingga kepalanya menoleh ke belakang. “Yah, Mas. Lewat itu mini marketnya.”
“Biarin aja,” jawab Alex santai.
“Lah kok? Tadi bukannya kamu mau ke mini market?” Bilqis semakin bingung.
“Ngga juga sih, aku ingin ke sini.” Mobil Alex belok ke sebuah gedung.
__ADS_1
“Hotel?” tanya Bilqis sembari menatap hotel yang memang sangat dekat dari komplek rumahnya.
Alex tersenyum sembari menaik turunkan alisnya. Sontak, Bilqis pun tersadar. Kedua tangannya melipat di dada dengan menatap tajam ke arah pria itu.
“Jadi kamu ngajak aku keluar, untuk ini?” tanya Bilqis kesal.
Alex hanya menawab dengan cengiran. Ia memberhentikan mobilnya di lobbi dan mengajak Bilqis untuk keluar. Lalu, memberikan kunci mobil pada petugas agar mereka yang membawa mobilnya ke parkiran. Alex sudah tidak tahan ingin segera memesan kamar.
“Ayo!” Ajak Alex senang.
Bilqis menggeleng. Apa seperti ini jika pria sedang dilanda gairah yang tinggi. Segala macam cara dilakukan.
“Dasar!” umpatnya.
Rencana Alex berhasil. Kini, ia sudah membawa Bilqis menuju kamar yang baru saja dipesan. Alex menuntun Bilqis menuju ranjang hotel dengan design kamar yang bagus karena Alex memesan kamar VVIP hanya untuk satu jam saja atau mungkin kurang dari itu.
“Mas, kamu tuh bener – bener deh.” Bilqis duduk di tepi ranjang dengan wajah ditekuk.
“Sayang, Mas ga tahan. Dari tadi si jerry ga mau turun,” jawab Alex memelas.
Melihat Alex memelas, Bilqis pun tidak tega. “Tapi kalau kita lama di sini dan orang – orang di sana nyariin, gimana?”
“Ngga lama. Mas janji akan melakukan cepat. Quick.”
Bilqis menahan tawa. Bos yang selama ini dijuluki killer, tiba -tiba seperti beruang madu yang lucu dan menggemaskan. Apalagi saat ini, Alex juga sudah menanggalkan celana panjangnya dan ia hanya memakai kemejanya saja. Benar – benar seperti beruang madu ala kartun yang digemari anak - anak.
Bilqis pun tak bisa menahan tawanya. Ia tertawa sembari menutup mulutnya.
“Kenapa tertawa?” tanya Alex.
“Kamu lucu,” jaab Bilqis yan masih tertawa.
“Lucu kenapa?” tanya Alex lagi. ia senang menatap wajah Bilqis yang sedang tertawa lebar.
Bilqis menggeleng. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan ini.
“Katakan, lucu kenapa?” tanya Alex mendesak sembari menghimpit tubuh Bilqis ke dinding ranjang.
Lagi – lagi Bilqis hanya mengeleng sembari tawa yang masih menghiasi bibir ranumnya. “Ya, lucu aja.”
“Ya, apanya yang lucu? Aku lucu?” tanya Alex dengan menunjuk jari telunjuknya sendiri ke wajahnya. “Bukannya katamu aku killer?”
Bilqis mengangguk. “Ya, si killer yang lagi ke pengen. Jadinya lucu.”
Alex menanggapi celotehan Bilqis dengan senyum. Tangannya mulai bergerak. Alex mengusap pipi dan bibir Bilqis. Deru nafas Alex mulai memburu.
“Salah kamu, kenapa cantik sekali? Si jerry akhirnya tidak mau tidur sebelum dimanjakan olehmu.”
Tawa dibibir Bilqis pun berubah menjadi senyum. “Apa aku cantik?”
Alex mengangguk. “Sangat.”
“Ini bukan kali pertama, kamu menggombal. Pasti dulu kamu juga mengatakan cantik pada Ta …”
“Mpphhh …”
Alex langsung membungkam bibir Bilqis dengan bibirnya. Ia memotong akhir kata yang ingin Bilqis ucapkan.
Sungguh, Alex tidak ingin membanding – banding Bilqis dan Tasya. Baginya dua wanita itu memiliki perbedaan. Walau wajah mereka tapi banyak sisi yang berbeda. Salah satunya bercinta. Alex bisa membedakan dua wanita itu saat bercinta. Entah dimana letak bedanya. Tapi menurut Alex, Bilqis lebih memabukkan.
__ADS_1
“Mmm … Mas.” Bilqis melenguh saat bibir Alex mulai mengggit leher jenjangnya dan beralih pada dua bukit kembar itu.
“Aww … Ssshh … Pelan Mas, Ah.”
Bilqis tak bisa menahan suaranya, kala mulut Alex mulai memainkan dua bukit yang kenyal itu bergantian. Alex terus memberi sentuhan yang tiada tara pada Bilqis. Sentuhan yang tidak bisa ia tolak karena begitu nikmat.
“Aww … Mas, lakukan.” Bilqis semakin meracau ketika Alex mulai berada dalam sebuah lembah yang semakin lembab.
“Mas, lakukan sekarang. Cepat!”
Alex menyeringai. Akhirnya, Bilqis menyerah. Wanita itu yang meminta lebih dulu.
“Kamu ingin apa? Hm!” tanya Alex yang kini kembali mensejajarkan wajahnya dengan wajah Bilqis.
Wajah Bilqis pun merona dan Alex semakin gemas dengan ekspresi itu.
“Ingin apa? Hm. Katakan!” Alex menatap mata Bilqis yang sayu karena gairah yang sudah ia ciptakan melalui cumbuan tadi.
“Mau kamu,” jawab Bilqis.
“Mau apa?” tanya Alex menggoda.
“Mau pisang. Eh Jerry,” jawab Bilqis polos dengan nada manja.
Alex tertawa. Ia kembali memakan bibir itu sambil menuntun jerry untuk bersemayam ke dalam rumahnya.
“Ah.” Bilqis melenguh saat Alex melepaskan pagutan dan mulai merasakan sesuatu yang menyatu di dalam tubuh itu.
“Sayang, kau benar – benar nikmat.” Alex bergerak sembari meracau dan menikmati sensasi berada dalam tubuh sang istri.
“Mas, Ah.”
“Sayang. Oh.”
“Eum.”
“Cepat, Mas,” ucap Bilqis yang tak merasakan tanda – tanda Alex akan menyudahi aktifitas ini.
Alex menggeleng. “Tidak bisa. Aku belum mau udahan.”
“Tadi katanya, quick.”
Alex menggelengkan kepala. “Tidak bisa.”
Bilqis kembali kesal. Ia tidak bisa bayangkan saat nanti mereka kembali ke rumah dan dicecar banyak pertanyaan oleh orang – orang di rumah itu. Hah, benar – benar memalukan, tapi ia juga menikmati permainan ini.
“Oh.” Bilqis menengadahkan kepalanya ke atas langit – langit kamar.
Mata Bilqis tidak bisa terjaga sepenuhnya. Bilqis seperti orang yang tengah terbang. Sensasi ini benar - benar membuatnya melayang.
“Ah, ini gila!” umpatnya dalam hati merasakan sensasi gila dari gerakan Alex yang tidak bisa digambarkan oleh apa pun.
“Kenapa sayang? Sakit?” tanya Alex yang melihat Bilqis tidak bersuara, seperti menahan sesuatu.
Bilqis tak mampu menjawab pertanyaan Alex dengan suaranya. Ia hanya bisa menggeleng. Lalu, meraup kepala Alex dan mencium rakus bibir suaminya.
Alex tersenyum. Bahkan senyum itu semakin lebar kala Bilqis bangkit dan memilih memimpin permainan dengan mendudukkan tubuh Alex.
“Let go, Baby. Tunjukan kemampuanmu!” ucap Alex menyeringai.
__ADS_1
Di balik kepolosan dan keluguan Bilqis, ternyata menyimpan keliaran tersendiri saat bercinta. Dan itu perbedaannya dengan Tasya, membuat Alex lebih mencintai dan menginginkan Bilqis.