
Baru saja Alex memberhentikan kendaraannya persis di depan rumah mertuanya. Ia dan sang istri pun masih berada di dalam mobil. Ia melihat Bilqis yang belum keluar dari mobil dan hanya menatap rumahnya saja, rumah yang tak lagi ramai seperti saat mereka tinggalkan.
“Ayo, turun!” ajak Alex pada istrinya yang masih duduk di dalam mobil.
“Malu, Mas. Nanti kalau ibu tanya, kita jawab apa?” tanya Bilqis meringis.
“Ya, jawab aja apa adanya.” Alex justru sebaliknya, ia terlihat santai padahal Bilqis sudah sangat panik.
“Ish, kamu tuh ga ada malunya. Masa’ aku jawab kalau kita abis ke hotel.”
“Ya, ga apa – apa. jujur lebih baik ‘kan?” Alex dengan santai membuka pintu mobil dan hendak keluar karena ia sudah mematikan mesin kendaraan itu sedari tadi.
“Ayo, Sayang!” ajak Alex lagi pada istrinya untuk segera keluar.
Alex tersenyum menatap sang istri yang masih diam di tempat. “Mau aku gendong?”
Bugh
Bilqis memukul lagi lengan Alex.
“Ah. Kamu hobby banget mukul lengan aku sih.” Alex mengusap lengannya yang cukup berotot.
“Lagian kalau ngomong suka asal,” jawab Bilqis cemberut, membuat Alex tertawa.
Alex pun keluar dari mobil itu dan Bilqis juga perlahan membuka pintu mobil, lalu mengikuti sang suami yang sengaja menunggunya untuk berjalan ke dalam rumah itu bersama – sama.
“Itu Bilqis!” tunjuk Laila saat melihat anak dan menantunya menghampiri.
Darwis dan Radit pun menoleh ke arah itu. Di rumah ini sudah tidak ada lagi tamu dan sanak saudara. Terakhir, keluarga dari adik Laila yang pamit pulang. Semua orang yang pamimt tadi menanyakan Bilqis, tapi sayang justru putri sulung Laila malah tidak ada.
"Ya ampun, ke mana aja sih Mba? Tidur di mini market?" ledek Radit dengan polos.
“Masa tidur di mini market. Tidur di hotel lah, Dit,” sahut Alex yang langsung mendapat sikutan dari Bilqis ke perut kotaknya.
“Aww …” ringis Alex yang merasakan perutnya di sikut oleh siku Bilqis yang runcing.
“Eh, jadi benar? Kalian mampir ke hotel?” tanya Darwis yang memang sudah berpikir demikian. Darwis tertawa melihat ekspresi Alex yang nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Hotel?” Radit dan Laila bertanya bersamaan.
“Kamu ngapain ke hotel, Qis?” tanya Laila polos.
“Ada pertemuan sama klien mendadak?” Radit pun bertanya dengan kepolosannya.
__ADS_1
Darwis dan Alex sama – sama tertawa, sedangkan Bilqis hanya bisa nyengir melihat kelakuan ayah sambung dan suaminya itu. sepertinya Alex dan Darwis sebelas dua belas.
“Sudah – sudah, tidak usah di bahas. Istirahat saja, sudah malam,” kata Darwis menutup perdebatan yang mungkin akan berlangsung lama, mengingat hari semakin larut dan aktifitas seharian di hari ini cukup melelahkan.
Bilqis, Laila, Radit, dan Alex pun setuju. Mereka sama – sama masuk ke dalam rumah. Pesta pernikahan Laila dan Darwis hari ini selesai dan berjalan lancar. Walau sederhana, tapi tidak menghilangkan kesakralan acara itu.
Darwis merangkul istri barunya dan menuntut ke kamar utama yang sudah di design menjadi kamar pengantin.
“Alex itu gigih banget bekerjanya ya, Mas,” ucap Laila pada suaminya yang sedang merangkul tubuhnya. “Aku jadi ga enak. Lagi acara begini ternyata dia sempat – sempatnya menemi kliennya di hotel.”
Sontak, Darwis menoleh ke arah istrinya dan tersenyum lebar. Laila benar – benar polos. Wanita itu percaya saja bahwa kepergian Alex ke hotel tadi dalam rangka menemui klien.
“Iya.” Darwis menjawab iya saja agar cepat selesai dan mereka cepat berada di dalam kamar, berdua.
Laila dan Darwis memisahkan diri dan hendak beristirahat di kamarnya, di sana menyisakan Alex, Bilqis, dan Radit.
“Oh ya, Dit. Aurel mana?” tanya Bilqis pada adiknya.
“Beuh, baru nanya anaknya sekarang. Dari tadi ke mana aja?” sahut Radit kesal.
“Sorry, Dit.” Alex merangkul adik iparnya. “Nanti Mas beliin motor sport baru. Motor kamu yang itu udah lama.”
“Hah, beneran Mas?” tanya Radit sumringah.
“Bener,” jawab Alex sungguh – sungguh. Ia melongok ke kamar Radit dan melihat sang putri tengah tidur bersama pengasuhnya.
“Tapi satu lagi nih,” ucap Alex yang kini merangkul bahu istrinya dan sang istri meraih pingang suaminya.
“Apa, Mas?” tanya Radit.
“Kamu ga apa – apa tidur di luar. Biar Aurel dan Maya tidur di kamarmu.”
“Ya ampun, Mas. Ya ga apa – apa lah. Memang Radit yang nyuruh Maya istirahat di kamar radit aja, soalnya kamar Mba Qis dikunci.”
“Oh, ya. Ya ampun, Mba baru inget kalo Mba ngunci kamar.” Bilqis menepuk jidatnya. “Maaf, ya. Dit.”
“It’s oke, Mba. Yang penting motor sport baru.”
“Siap, Dit.” Alex mengangkat ibu jarinya ke atas dan membawa istrinya menuju kamar. Sepertinya ini akan menjadi ronde ketiga atau keempat untuk Alex.
Di kamar pengantin, Darwis tertegun dengan dekorasi kamar itu.
“Waw, cantik sekali kamar ini,” ucapnya usai membuka pintu kamar dan menutupnya kembali saat Laila sudah ikut ke dalam bersamanya.
__ADS_1
“Ya, ini Bilqis yang dekorasiin. Bagus ya?”
Darwis mengangguk. Perlahan ia duduk di atas ranjang yang ditaburi banyak bunga itu. Ranjang bertabur bunga yang sempat akan dipakai Alex dan Bilqis untuk bercinta, tapi gagal karena gedoran pintu dari Aurel.
Darwis tersenyum sembari meraba ranjang dengan sprei dan selimut yang berwarna putih. Ia tidak mengira akhirnya bisa menemukan tambatan hati setelah istrinya meninggal dunia sekitar delapan tahun silam. Waktu yang cukup lama untuk menyandang status duda. Puluhan kali, Darwis mendapat ajakan dari keraba atau teman sejawat yang ingin memperkenalkannya dengan seorang wanita, tapi tetap tidak bisa. Sempat ia mencoba mengiyakan tawaran itu dan menjalani beberapa kali hubungan. Namun, hatinya menolak. Ia merasa kurang cocok dengan wanita – wanita itu. Dan saat melihat Laila, hatinya langsung tergetar.
Darwis menatap Laila yang berdiri di depan cermin. Wanita itu tampak kesulitan membuka gaun pengantinnya, sementara rambut Laila yang selalu tertutup jihab itu sduah tergerai indah. Di usianya yang tak lagi muda, Laila memang sudah memiliki beberapa lembar rambut yang berwarna putih. Namun sebelum acara ini tiba, Bilqis mengajak ibunya ke salon dan mengecat rambut sang Ibu dengan warna cokelat untuk menutupi beberapa helai yang berwarna putih itu. Alhasil, malam ini Laila pun tampak lebih muda dari usianya.
Kreeek
Darwis mengambil alih kesulitan Laila dengan memegang tangan Laila yang hendak menarik relesting di bagian belakang gaunnya itu.
Dengan gerakan perlahan, Darwis menarik resleting itu hingga turun sembari berbisik tepat di telinga Laila, “Kamu cantik.”
Laila tersipu malu. Kepalanya langsung tertunduk. Darwis pun membalikkan tubuh itu. Untung saja, Laila menahan gaun yang turun itu di dadanya saat berbalik, agar tubuhnya tak tampak terlihat hanya dengan pakaian d*l*mnya saja di depan Darwis.
Dengan tetap menatap mata Laila, Darwis melonggarkan kedua tangan Laila yang mengapit gaun itu di dadanya. Ia sengaja membiarkan gaun itu lolos dari tubuh Laila.
“Mas.”
Darwis tersenyum. kini, ia hanya melihat Laila dengan bra dan kain segitiga pengamannya saja. Sontak, Laila langsung menutup dadanya yang terbuka.
Darwis kembali tersenyum dan melepaskan kedua tangan Laila yang menutupi dadanya itu. Pria itu kagum dengan apa yang dimiliki Laila. Asetnya tampak masih kencang seperti wanita muda. Aset yang taknoernah disentuh puluhan tahun.
Lama menjanda, tak membuat Laila cuek dan tidak merawat tubuhnya. Tanpa sepengetahuan Bilqis dan Radit, Laila juga sering merawat tubuhnya dengan lulur atau jamuan tradisional. Ia melakukan itu hanya untuk kesehatan tubuhnya saja, tanpa membayangkan hasil dari merawat diri dengan tradisional itu akan ia persembahkan untuk suaminya nanti, karena Laila memang tidak berniat untuk menikah lagi setelah merasakan sakit hati di pernikahan sebelumnya bersama Ridho.
Namun, pertemuannya dengan Darwis, mengubah itu semua. Laila pun yakin untuk menikah lagi karena sosok pria itu. Pria baik dan setia yang sudah lama menduda.
Darwis berhasil membaringkan tubuh Laila di atas ranjang bertabur bunga itu.
“Boleh aku melakukannya sekarang?” tanya Darwis pada wanita yang ia tindih dan berada di bawahnya.
Laila mengangukkan kepalanya pelan. Walau takut akan merasa kesakitan, mengingat sudah lebih dari dua puluh tahun ia tak bercinta, tapi Laila harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
Tangan Darwis menyingkirkan bung – bunga yang menghalangi gerakan yang akan ia lakukan pada Laila. Dan di saat tangannya mengusap tempat tidur itu, ia menemukan sesuatu.
“Apa ini?” tanya Darwis menunjukkan sebuah benda kecil di depan Laila.
Laila pun melihat benda kecil yang dipegang suaminya. “Ini anting Bilqis.”
Darwis mengernyitkan dahi. “Mereka sempat memakai kamar ini?”
Laila berpikir sejenak. “Alex datang siang. Pas dia datang, kebetulan Bilqis sedang mandi di kamar ini. Terus, aku suruh Alex langsung menemui Bilqis di sini.”
__ADS_1
“Ya, ampun. Aleeeex …” geram Darwis yang yakin bahwa menantu sahabatnya yang nakal itu sudah memakai ranjang mmiliknya dan Laila.
“Kenapa, Mas?” tanya Laila yang masih tidak mengerti dengan perubahan wajah Darwis.