
Bugh
“Ah …”
Di saat Ronal sedang menatap Laila dengan inten, di saat itu pula Laila menginjak kaki pria itu dengan high heels-nya.
Sontak, Ronal pun langsung mengaduh dan melepaskan kungkungannya terhadap tubuh Laila yang terhimpit ke dinding. Laila pun langsung mendorong pria yang tengah sedikit membungkuk untuk menyentuh kakinya yang Laila prediksi pasti sangat sakit mengingat high heels yang ia kenakan itu cukup lancip.
Dengan cepat, Laila meninggalkan kamar kecil itu dan membiarkan Ronal yang masih merintih kesakita. Laila terus berjalan cepat mendekati Darwis untuk mencari perlindungan.
“Laila kamu kenapa?” tanya Darwis yang melihat calon istrinya terengah – engah.
Laila hanya menggeleng. Ia masih mengatur nafasnya dan belum bisa menjawab pertanyaan itu.
“Sebentar, aku ambilkan minum dulu,” ucap Darwis yang akan menjauh. Namun, Laila langsung menahan lengan Darwis.
“Jangan tinggalkan aku!”
Darwis tersenyum melihat ekspresi Laila yang seperti sangat membutuhkannya. “Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu. Maaf, tadi aku membiarkanmu ke kamar kecil sendiri, pasti kamu takut ya!”
Laila hanya mengangguk. Padahal yang ia takutkan bukan karena harus melewati lorong itu sendirian, tapi yang ia takutkan karena harus bertemu dengan Ridho di saat hatinya sudah tertata kembali dan kedua anaknya pun sudah mendapatkan kebahagiaannya masing – masing.
Darwis menggenggam kedua tangan Laila seolah meyakinkan wanita itu. “Aku hanya ingin mengambil minum untukmu. Di sana!”
Darwis menunjuk jejeran gelas yang berisi air putih di meja yang cukup terjangkau dari tempat saat ini mereka berdiri.
“Sebentar, saja. Sekarang kamu tenangkan dirimu di sini. Duduklah!”
Darwis segera berlari ke arah meja yang terjejer gelas beisi air puih itu. setelah mengambil satu gelas di sana, ia pun langsung menghampiri Laila lagi.
“Minumlah!” ucap Darwis sembari menyerahkan gelas itu di depan Laila.
__ADS_1
“Terima kasih.”
“Sama – sama.”
Keduanya saling bertatapan dan tersenyum. Di saat bersamaan, Ronal sudah keluar dari lorong kamar kecil, tempat ia mencoba memberi peringatan pada Laila. Di kepala Ronal, Laila adalah wanita murahan yang sudah menggodanya dan membuat ia harus menikahi wanita itu dan menduakan Lenka.
Saat dinyatakan amnesia, Lenka langsung mendoktrin Ronal dengan karangan cerita yang menyudutkan Laila dan menjelekkan wanita itu. Alhasil, Ronal atau bapak Ridho yang terhormat itu pun menelan mentah – mentah informasi yang datang padanya, apalagi informasi itu dari orang yang ia anggap adalah cintanya karena yang ia ingat saat itu memang hanya Lenka.
Ronal semakin geram, melihat interaksi antara Darwis dan Laila. Entah mengapa hatinya kesal dan cemburu. Ia tidak suka melihat Laila di dekati oleh pria apalagi itu Darwis, sahabat dekatnya selama ia tinggal di Singapura.
Ronal mendekati Darwis yang tengah bersama Laila.
“Darwis. Kau tidak menemui dr. Lee?”
Darwis langsung menoleh ke arah suara yang merupakan suara Ronal. Ronal menatap Darwis sebentar dan lebih lama mengarahkan matanya pada Laila yang menunduk dan sengaja tidak ingin membalas tatapan Ronal, padahal ia tahu bahwa arah mata mantan suaminya itu terus tertuju padanya.
“Oh, ya. Aku belum menemi beliau,” jawab Darwis.
Seketika, Darwis menatap wajah Laila yang memelas untuk meminta tidak ditinggalkan. Darwis pun mengerti dan menggenggam tangan calon istrinya yang cukup dingin.
“Terima kasih, atas perhatianmu Ron. Tapi sepertinya calon istriku tidak mau jauh dariku. Jadi aku akan membawanya menemui kolega – kolega kita.”
Raut wajah Ronal semakin berubah. Tidak ada lagi sikap bersahabat. Ronal semakin tidak menyukai kedekatan mereka. Ia hanya bisa menatap Darwis yang pamit dan meninggalkannya dengan menggenggam tangan Laila. Pria itu terus menatap punggung Laila yang menjauh dan berharap wanita itu akan menolah, tapi sayang hal itu tidak terjadi. Lalila tidak menoleh ke belakang sama sekali. Justru Laila mengeratkan pegangannya pada Darwis.
Ronal berencana akan membeberkan siapa Laila pada sahabatnya. Ia tidak ingin Darwis mendapatkan wanita tidak baik. Padahal dari lubuk hati Ronal yang paling dalam. Ia ingin menggagalkan pernikahan sahabatnya dengan wanita itu untuk dirinya sendiri.
Di ruang kerja kediaman Kenneth, Alex mengirim email pada Darwis tentang siapa Laila dan Bilqis. Ia meneruskan email dari Zavier pada Darwis. Alex ingin sebelum Darwis menikahi Laila, pria itu juga mengetahui latar belakang Laila dan masa lalunya yang pernah menjadi istri Ronal.
Alex juga membuka identitas Ronal kepada Darwis. Entah nantinya Lenka akan marah padanya, ia tidak peduli, karena kebenaran ini memang harus diungkapkan. Walau pun selama ini Alex tidak pernah ada benturan dengan Lenka dan menganggap ibu mertuanya itu baik, tapi mengubah identitas seseorang adalah sebuah kejahatan.
Setelah mengirimkan email ke Darwis, Alex langsung menutup Laptopnya. Ia kembali menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi dan memijat lagi pelipisnya.
__ADS_1
Alex menengok jam yang menempel di dinding. Waktu semakin malam. Baru beberapa jam tidak bertemu Bilqis, rasanya ia sudah rindu. Alex bangkit dari kursi keebsarannya dan melangkah menuju kamarnya. Ia berharap putrinya sudah tidur. Ia juga berharap Bilqis sudah tidur sehingga ia bisa mengecup kening itu.
Sesampianya di depan kamar, Ia menekan handle pintu dengan perlahan dan tanpa suara. Alex memasuki kamar itu dengan hati - hati seperti seorang maling. Sungguh lucu, ingin menemui istri sendiri seperti ingin menemui pacar yang dipingit oleh orang tuanya.
Ternyata feeling Alex benar, kamar itu tidak dikunci. Alex pun melenggang masuk dengan penuh kehati – hatian. Ia melangkah sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. Perlahan melangkah, hingga dirinya sampai di depan Bilqis. Alex menoleh ke arah Aurel yang sudah terlelap. Ia juga melihat Bilqis yang sudah terlelap. Bibir Alex tersenyum, rasanya damai sekali melihat kedua perempuan yang ia cintai itu tegah tertidur pulas di kamarnya dan berada dalam jangkauannya.
Alex berjongkok untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Bilqis. Lalu, ia mengecup kening itu dan beralih ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Usai berwudhu, Alex memakai baju koko. Ini adalah moment yang Bilqis sukai. Biasanya, wanita itu akan memandangnya cukup lama jika Alex sedang menggunakan perlengkapan ibadahnya.
Alex menghamparkan sajadah dan sholat dengan khusuk. Di akhir sholatnya pun ia memohon agar Allah melembutkan hati Bilqis untuk memaafkan dan menerima kekurangannya.
Bilqis yang sadar setelah mendapat kecupan di keningnya tadi pun menatap suaminya yang sedang khusuk di pojokan yang dapat ia jangkau dari pandangannya. Seketika, hati Bilqis melunak. Ia sadar bahwa dirinya bukan menikahi pria bujangan, tapi duda beranak satu. Dan, ia sadar bahwa Alex memiliki masa lalu. Bukan seperti dirinya yang memang benar – benar masih sendiri dan tidak memiliki masa lalu. Hanya saja, masa lalu yang terjadi pada kedua orang tuanya yang membuatnya menjadi takut untuk melangkah ke masa depan.
Tiba – tiba sudut mata Bilqis pun menggenang, apalagi saat ia mendengar sayup – sayup isakan tangis Alex tanpa mendengar doa yang sedang pria itu panjatkan. Sungguh, Alex memang pria sempurna. Semua kriteria suami idaman memang ada di diri pria itu. Hanya satu yang membuat Bilqis belum sepenuhnya menambatkan hati untuk Alex, yaitu karena masa lalunya. Akankah, Allah akan melunakkan hatinya dan ikhlas untuk menerima hanya menjadu yang kedua. Padahal, Bilqis ingin hanya menjadi satu – satunya wanita dihati pria itu, tapi rasanya hal itu tidak mungkin.
Alex bangkit dan melipat sajadahnya. Ia kembali menghampiri Bilqis yang pura – pura memejamkan lagi matanya.
Alex mengusap lebut rambut Bilqis setelah ia mengusap wajahnya sendiri saat mendekat.
“Sayang, andai kamu tahu. Rasaku saat ini tidak seperti yang sebelumnya. Rasaku padamu jauh lebih dalam dari yang kamu tahu.”
Alex kembali mendekati wajahnya dan mencium lembut kening itu. kini, ciuman itu lebih lama dari sebelumnya saat Alex belum menunaikan sholat isya. Alex memperhatikan bibir ranum Bilqis. Rasanya ia ingin mengecup bibir itu. Namun, ia takut Bilqis akan sadar dan terbangun. Walau pun ia tidak bisa tidur dengan sang istri malam ini, paling tidak ia bisa mencium bibir yang menjadi candunya itu.
Lama berperang dengan hati dan pikiran. Akhirnya, Alex memutuskan untuk mendekatkan bibirnya pada bibir Bilqis. Baru kedua bibir itu akan bersentuhan, tiba – tiba.
Bugh
Tangan Aurel yang sedang bergerak dalam tidurnya untuk memeluk sang ibu sambungnya itu pun secara tidak sengaja mengenai kepala Alex.
“Ah.” Sontak, Alex menjauhkan bibirnya dan menepak lengan Aurel. “Dasar anak kurang ajar.”
Impian untuk bisa mencium bibir itu malam ini pun gagal. Dan lagi – lagi karena ulah putri kesayangannya sendiri.
__ADS_1
“Aurel …” teriak kesal Alex dalam hati.