
“Qis, udah selesai?” tanya Saskia pada rekan sejawatnya yang masih berkutat di depan komputer.
“Sebentar, dikit lagi selesai,” jawab Bilqis dengan arah mata yang masih tertuju pada layar komputer LED itu.
“Cepetan, nanti jam makan siang kita abis.”
“Bentar Kia. Ini tinggal di save, terus di shutdown,” jawab Bilqis.
“Di sleep aja.”
“Ngga, nanti ada yang buka komputer aku, bisa repot.”
“Ya, kan ada passwoednya, Qis.”
Bilqis menggeleng. “Dimatiin aja biar aman.”
Saskia pun mengangguk. “Ya udah terserah. Yuk cus! Mbak Mira sama Tina udah nungguin kita di lobby.”
“Mau makan di mana sih?” tanya Bilqis yang sudah mematikan komputernya dan mengambil dompet serta ponsel, lalu memasukkan di kedua saku celananya.
“Seeprti biasa aja,” jawab Saskia.
“Di restoran jepang xxx?”
Saskia mengangguk.
“Ah, ngga ah. Di sana lumayan mahal. Ini tengah bulan, Kia. Dompetku udah menipis.”
Saskia tertawa. “Ada Tina, tenang aja. Nanti lu bisa bayar ke dia pas gajian.”
Bilqis mengerucutkan bibirnya. Sebenarnya ia tidak suka berhutang, apalagi hanya karena sebuah makanan.
Saskia dan Bilqis berjalan menuju lift.
“Oh ya? Si bos ditinggal ga apa-apa?” yang Kia maksud adalah Alex.
“Aman. Si Killer lagi sama Pak Bimo.”
Saskia pun tertawa. “Kira-kira apa jadinya ya kalau killer itu jadi suami kamu?”
Sontak Bilqis pun membulatkan matanya. Apa Saskia tahu rencana pernikahannya dengan Alex? Tapi bilqis pikir tidak, karena rencana ini memang hanya Bimo yang tahu.
“Menurutmu bagaimana?” Bilqis malah menyambung pertanyaan itu.
“Seru. Gue bisa bayangin sih, orang ceroboh dan sepolos lu dapet Sir Alex yang perfecksionis dan berpengalaman.” Saskia kembali tertawa sembari menggelengkan kepalanya membayang itu. “Sumpah gue ga bisa bayangin. Pasti lu berdua lucu sih. Berwarna banget lah.”
“Kamu kira aku lagi mau lomba mewarnai,” celetuk Bilqis membuat Saskia kembali tertawa.
Mereka pun menuruni lantai menggunakan lift dan bertemu dengan Mira yang sedang duduk di lobby bersama Tina.
“Lama amat sih, Ki!” protes Tina pada Saskia.
“Bukan gue yang lama, tapi Bilqis.” Saskia menunjuk ke arah Bilqis.
“Sorry,” jawab Biqis nyengir. Lalu Mira mengajak mereka untuk segera ke restoran itu.
Sesampainya di restoran, keempat wanita itu mengambil makanan yang mereka inginkan, lalu duduk di tempat yang ditengahnya terdapat sebuah kompor kecil untuk memasak langsung makana yang diambil tadi.
“Qis, gimana? Udah dapet belum bukti konkritnya?” tanya Tina.
“Belum. Sabar!” jawab Bilqis sembari menuangkan sayuran ke dalam panci yang berkuah kaldu. Sedangkan Tina menaruh beberapa suki ke panci yang berkuah tom yam.
Saskia dan Mira memasak daging tipis dengan bumbu yang mereka racik sendiri dari bumbu yang disediakan.
“Kapan dong, Qis? Aku udah mau pesen tiket nih,” sahut Saskia.
__ADS_1
“Iya, nih. Bilqis lama. Atau lu nyerah aja,” kata Tina.
“Ngga. Enak aja nyerah. Orang aku udah taklukkin dia kok,” jawab Bilqis percaya diri. ia memang sangat percaya diri karena terbukti dengan keinginan Alex yang ingin menjadikan dirinya istri dalam waktu dekat.
“Serius?” tanya Mira, Tina, dan Saskia bersamaan.
“Ngga percaya aku, Qis.” Mira menggeleng.
“Iya. Masa iya Ibu Adel kalah sama Bilqis,” ledek Saskia.
“Beuh, jangan remehin aku. Gini-gini aku mempesona tau!”
“Hoek.” Tina dan Saskia pura-pura ingin muntah, sedangkan Mira tertawa.
“Dih, ngga percaya. Buktinya akan ada di ponsel kalian satu kali dua puluh empat jam dari sekarang. Cekidot pokoknya.”
Bilqis tersenyum. Ia membayangkan satu rencana untuk Alex dan mendapatkan taruhan.
****
“Sir, kenapa harus bawa saya sih?” tanya Bilqis cemberut karena harus kembali memakai gaun pilihan Alex di butik yang seperti sebelumnya setelah mereka pulang kerja tadi.
“Karena kamu calon istriku,” jawabAlex santai dengan tetap mengarahkan matanya lurus ke jalan.
Mereka berada di daalam mobil menuju restoran yang sudah dibooking Ammar. Alex duduk di kursi kemudian, sedangkan Bilqis tepat di sampingnya.
Alex melirik ke arah Bilqis dan tersenyum.
“Kenapa? Pasti aku aneh kan? Sudah ku bilang, riasannya terlalu berlebihan. Aku tidak pernah menggunakan eyeliner.” Bilqis menunjukkan matanya. Kedua mata itu berkedip pelan. “Aku juga tidak pernah memakai ini.”
Bilqis menunjukkan kelopak matanya yang diberikan warna. walau menurut riasan di wajanya malam ini terlihat berlebihan, tapi tidak untuk Alex karena ia meminta perias profesional itu untuk merias Bilqis dengan riasan natural.
“Kamu cantik kok,” ucap Alex, membuat Bilqis menoleh.
Kata yang diucapkan Alex memang hanya tiga kata dan dengan ekspresi biasa, tapi entah mengapa Bilqis terasa berbunga. Pipinya pun semakin merah, padahal sudah merah karena blush on.
Bilqis menggeleng. “Tidak. ini memang sudah merah karena blush on.”
“Tapi semakin merah,” ledek Alex sembari tertawa, membuat Bilqis semakin malu.
“Sir,” panggil Bilqis manja. “Sir tuh nyebelin banget sih. Biasa makan apa sih sampe seperti ini?”
Alex semakin tertawa mendengar ucapan Bilqis.
Setelah melewati gedung-gedung tinggi, Alex sampai di restoran yang menjadi tempat pertemuannya dengan klien baik yang sudah ia anggapa sebagai kakak karena usia Ammar jauh diatasnya.
Alex turun lebih dulu dari mobil dan membuka pintu untuk Bilqis. Bilqis menoleh dan tersenyum. terkadang perlakuan Alex benar-benar membuat Bilqis terbang, seperti saat ini. Walau hanya hal kecil, tapi sangat berarti. Bagi wanita perlakuan seperti ini bak seorang ratu.
“Alex …” panggil Ammar yang sudah berada di meja itu. Ammar dan istrinya berdiri menyambut kedatangan Alex bersama Bilqis.
“Wah ternyata kalian memang benar-benar serasi,” ucap Ammar lagi sembari menatap takjub pada pasangan itu.
“Ya, yang wanitanya cantik dan prianya tampan,” sambung istri Ammar yang bernama Shinta.
Ammar mengangguk. Sedangkan Alex hanya tersenyum. Bilqis pun demikian, gadis itu terlihat malu. Lalu, Ammar mengajak Alex untuk berpelukan. Alex pun menerima pelukan hangat itu.
“Pokoknya, saya tunggu undangan dari kalian,” ucap Ammar sembari duduk di kursinya.
“Ya, ya. Untuk Bang Ammar, saya akan memberi undangan nanti,” jawab Alex.
“Jadi benar? Kalian akan menikah?” tanya Ammar antusias.
“Hm … On proses. Bukan begitu, Sayang?” tanya Alex pada Bilqis dengan menatap sayang.
Ah, sumpah demi apapun, Bilqis benar-benar ingin menghilang rasanya. Ia sangat canggung dengan situasi ini.
__ADS_1
Bilqis pun tersenyum tipis.
“Ah, sepertinya calon anda malu-malu, Sir,” sahut Shinta.
Ammar pun tertawa. Alex juga demikian. Ia senang melihat Bilqis yang salah tingkah.
Makan malam berlangsung dengan khidmat. Hampir satu jam mereka berada di restoran ini. mereka berbincang banyak hal. Untung saja, Bilqis dapat mengimbangi perbincangan para kelas atas itu. Shinta juga bukan wanita biasa, terlihat dari penampilannya yang elegan. Dan, Bilqis berusaha untuk melakukan hal yang sama. Karena kata orang, di samping pria hebat juga ada wanita hebat di sebelahnya dan Bilqis melihat hal itu pada pasangan Ammar beserta istrinya.
“Sir, biar saya saja yang menyetir.” Bilqis berinisiatif dan meminta kunci mobil pada Alex. Ia dapat melihat Alex yang kelelahan sembari melonggarkan dasinya.
Acara makan malam dengan Ammar dan istri selesai, kini mereka hendak melakukan perjalanan pulang. Alex akan mengantar Bilqis ke rumahnya terlebih dahulu.
“Memang tidak apa?” tanya Alex.
“Tidak apa. Anda sepertinya sangat lelah” Bilqis menerima kunci itu dan duduk di kursi kemudi. Alex membuka pintu mobil dan duduk di samping Bilqis.
“Lagi pula saya nyetir hanya sampai di rumah saja kan. Selanjutnya anda setir sendiri,” ucap Bilqis lagi.
“Anda?” tanya Alex menoleh ke arah Bilqis sebelum wanita itu menyalakan mobil. “Sudah berapa kali jangan panggil aku seperti itu jika kita sedang berdua.”
“Lalu panggil apa?” tanya Bilqis.
“Terserah kamu, asal tidak Sir dan Anda.”
“Baiklah, Mas,” jawab Bilqis cuek sembari menyalakan mesin mobil.
“Apa?”
“Mas.”
“Coba ulang!” pinta Alex lagi karena panggilan itu terdengar merdu ditelinganya.
Bilqis memonyongkan bibir. “Tidak ada siaran ulang.” Ia pun menjalankan mobil.
Alex hanya tersenyum. Bibirnya masih mengulum senyum yang lebar saat mengingat Bilqis meminta foto berdua di dalam restoran tadi.
Selama diperjalanan, mereka tidak berinteraksi banyak karena Alex pun tertidur di kursinya. Bilqis menatap wajah Alex yang tampan. ia pun tersenyum. sebenarnya ia juga tidak bisa menolak pesona itu. ia juga mau menjadi istri pria ini tanpa perjanjian, tapi pengalaman hidup membuatnya harus berhati-hati pada makhluk yang bernama pria.
Bilqis menarik rem mobil saat kendaraan itu sudah berada di depan gerbang rumahnya.
“Sir,” panggil Bilqis hati-hati untuk membangunkan Alex.
Alex tampak tidak terbangun. Bilqis pun memanggil lagi hingga ketiga kali, tapi hasil tetap sama. Alex belum juga terjaga. Kemudian, Bilqis pun berinisiatif untuk memajukan tubuhnya. Ia mengambil kesempatan ini. kesempatan yang sudah ia rencanankan sebelumnya.
Bilqis mengambil ponsel dan memajukan bibirnya tepat di bibir Alex.
Cup
Ceklek
Bilqis memoto bibirnya yang menempel pada bibir Alex. Kejadian yang cepat dan tidak terhitung hingga tiga menit itu pun membuat Alex menahan senyum, padalnya pria itu sudah terbangun dan kembali pura-pura tidur karena Bilqis mendekat.
Alex bergerak, Bilqis langsug memberi jarak.
“Sudah sampai?” tanya Alex.
“Ya, sir. sudh sampai,” jawab Bilqis gugup.
Alex mengulum bibirnya. “Mengapa bibirku manis?”
Bilqis dengan cepat menggeleng. “Entahlah, mungkin efek minuman manis di restoran tadi.”
“Oh.” Alex hanya membulatkan bibirnya. Lalu, Bilqis keluar dari mobil dan Alex pun demikian. Emreka bertukar posisi.
Alex mendekati Bilqis saat pria itu hendak kembali memasuki mobil dan duduk di kursi yang semula di duduki Bilqis.
__ADS_1
“Seharusnya, kalau ingin menciumnya jangan disaat aku tidur. Saat sadar pun aku mau melakukannya,” bisik Alex membuat Bilqis mematung.
Bilqis merutuki kebodohan kelakuannya tadi hanya demi sebuah taruhan.