
“Ini nasi goreng buatan Mommy. Ayo coba!” ucap Bilqis pada Aurel yang duduk di meja makan.
Pagi ini, Bilqis membiarkan Alex tidur lagi setelah subuh dan belum membangunkannya.
“Aurel tidak suka nasi goreng, Mommy.” Anak itu menutup mulutnya. Sarapan nasi goreng untuk Aurel memang langka. Anak kecil itu tidak pernah mencoba menu makanan khas Indonesia itu.
“Ini enak loh, Sayang.” Bilqis masih tetap membujuk anak sambungnya untuk mencoba makanan yang baru saja ia buat.
Bilqis berdiri dengan sedikit membungkuk sembari menekan meja untuk mendekatkan wajahnya pada wajah Aurel yang duduk dengan sopan di kursi itu.
Aurel tetap menggelengkan kepala sembari menutup mulutnya.
“Di sini ada sosisnya, ada baksonya. Hm… yummy,” kata bilqis dengan menyendokkan makananan itu. “Ayo! Aaaa …” Ia mencoba menyuapkan makanan itu ke mulut Aurel, tapi yang terjadi tdak demikian.
“Amm.” Makanan itu sampai di dalam mulut Alex.
Bilqis kaget dan menoleh, karena dengan cepat Alex menarik lengannya dan mengarahkan makanan itu ke mulutnya.
“Hm. Enak. Ini nasi goreng terenak yang pernah Daddy makan. Ayo, sayang coba dulu!” kata Alex sembari mengunyah, hingga makanan yang ada di dalam mulutnya pun sedikit tumpah.
“Ih, Daddy jorok. Daddy kan baru bangun tidur, pasti belum gosok gigi tapi sudah makan aja,” ujar Aurel yang melihat rambut sang ayah yang masih berantakan dan masih bertelanjang dada.
Alex memang baru saja bangun. Ia terbangun karena tangannya tidak menemukan tubuh yang selama dua minggu terakhir ini selalu menemaninya tidur.
“Tau nih, mana belum pakai baju lagi. Sana! Masuk kamar lagi,” ucap Bilqis mendorong suaminya untuk kembali ke kamar.
“Lagian siapa suruh tidak membangunkanku, Hm! Meninggalkanku sendirian di kamar,” jawab Alex kesal dengan kaki yang tetap berjalan mengikuti dorongan Bilqis.
“Masuk dulu! Pakai baju kamu.”
Alex menggeleng. Ia menahan kakinya setelah sampai di depan pintu kamarnya dan hendak menarik tangan Bilqis untuk ikut masuk ke dalam kamar.
“Pakaiakan dulu!”
“Ish, kamu ya Mas. Manja banget.” Bilqis menahan kakinya agar tidak ikut ke dalam kamar itu. Ia juga melepaskan paksa tangannya yang ditarik Alex. “Sebelum ada aku, kamu bisa pakai baju sendiri kan.”
Bilqis membalikkan tubuhnya tanpa menunggu jawaban dari Alex. Lalu dengan cepat Alex mengejar wanita itu dari belakang dan mengangkat tubuh mungil itu, kemudian dibawa ke dalam kamar itu bersamanya.
“Mas, lepas!” Bilqis meronta, tapi Alex pura – pura tuli.
“Mas.”
Bruk
Tubuh itu pun dilempar ke atas tempat tidur dan Alex mengungkung Bilqis.
“Mas, apa – apaan sih? Nanti ada Aurel,” kata Bilqis ketus.
__ADS_1
“Ada Maya. Dia tahu apa yang harus dikerjakan kalau kamu ada di sini,” jawab Alex dengan menatap sayu ke arah Bilqis.
Bilqis tahu tatapan itu. Ia sudah cukup hafal, bagaimana suaminya jika sedang bergairah. Alex mendekatkan wajahnya pada wajah Bilqis. Pria itu mengincar bibir ranum Bilqis. Arah matanya bergerilya mentap bibir dan dua gunung kembar sang istri.
“Mas.” Bilqis menahan dada Alex. Setelah semalam berkutat dengan pemikirannya sendiri tentang kamar rahasia itu, rasanya Bilqis malas untuk bercinta.
“Hm. Aku sedang datang bulan.”
Kening Alex mengernyit. “Sudah sekarang? Bukannya seharusnya masih dua hari lagi ya?”
“Tanggal periodenku sering maju, Mas.” Bilqis tidak berbohong. Usai sholat subuh tadi, tanda – tanda itu memang sudah ada walau belum deras.
Alex menggulingkan tubuhnya ke samping Bilqis. “Yah, seharusnya semalam kita melakukannya.”
Bilqis melirik ke arah Alex dengan pertanyaan dalam hati. “Apa setiap suami hanya menginginkan ini?”
Alex pun menoleh. Namun, Bilqis cepat – cepat meluruskan pandangan. Pria itu kembali mendekatkan tubuhnya pada Bilqis dan memeluk sang istri dari samping. “Jadi, aku harus puasa selama satu minggu ke depan?”
Bilqis mengangguk.
“Hm. Pasti aku akan sangat merindukan ini dan ini.” tangan nakal Alex langsung meremas ke kedua bagian inti tubuh atas dan bawah Bilqis.
“Mas, ih. Apaan sih? Tangan kamu tuh ga bisa banget dikondisiin.” Bilqis segera bangkit dari tempat tidur itu dan Alex memiringkan tubuhnya sembari menopang kepalanya dengan tangan.
“Tapi suka kan?” tanya pria itu genit.
“Ngga,” jawab Bilqis ketus.
“Masa? Kayanya ngga tuh.” Bilqis pun menjawab cuek dan membuka pintu kamar untuk meninggalkan Alex.
Sebelum menutup kembali pintu itu saat keluar, Bilqis meledek Alex dengan menjulurkan lidahnya, membuat Alex tertawa gemas. Padahal di sana, Bilqis memang sedang benar – benar jengkel dengan pria itu dan untuk meluapkan kejengkelannya, ia menjulurkan lidahnya di depan Alex.
****
“Buat apa sih Mas, kamu ke jakarta lagi?” tanya Lenka yang melihat suaminya sedang berkemas.
“Kemarin kan aku udah bilang, Sayang. Aku mau menemui Darwis.”
“Kenapa sih, bukan Darwis aja yang pulang? Bukannya tugasnya di sana sudah selesai ya?” tanya Lenka lagi. Ia khawatir jika di jakarta nanti, Ridho atau Ronal akan bertemu dengan Laila, karena kejadian itu pernah terjadi waktu itu. Untung saja, Lenka bergerak cepat dan dengan cepat membawa suaminya keluar sebelum berpapasan dengan wanita itu.
“Darwis ingin menikah di sana. kemarin dia meminta beberapa surat – surat yang harus di bawa dari sini,” jawab Ronal dengan sabar.
Ya, Ridho atau Ronal itu memang selalu sabar menghadapi Lenka yang manja dan cemburuan.
“Temanmu itu menyusahkan sekali,” sahut Lenka ketus.
Ronal pun tersenyum. “Ya sudah, kalau begitu ikut denganku. Kita menghadiri pernikahan Darwis. Ayo!”
__ADS_1
Lenka menggeleng. “Tidak. Aku tidak bisa ikut denganmu sekarang, karena ada urusan yang harus aku kerjakan. Sampaikan saja salamku pada Darwis, semoga bahagia.”
“Terserah.” Ronal tersenyum sembari mengangkat bahunya. “Ya, akan aku sampaikan salammu nanti.”
Lenka memang tidak secara langsung memegang rumah sakit yang didirikan sang suami dengan modalmya. Namun, ada saja kegiatan yang dilakukan wanita itu, karena Lenka juga dikenal sebagai pebisnis perhiasan.
Setelah berkemas, tak lama kemudian Ronal pun hendak menuju bandara. Dengan berat hati, Lenka mengantarkan suaminya ke bandara.
“Jangan macam – macam di sana,” ucap Lenka pada suaminya yang tersenyum.
“Selama ini, memangnya aku pernah macam – macam padamu? Hm!” sahut Ronal.
Lenka tersenyum sembari bergelayut manja. Jika ia tidak sedang memantai akun yangan yang kerap masuk ke bank data miliknya, mungkin hari ini ia akan ikut menemani suaminya di kota itu, karena Lenka masih tetap khawatir jika mereka kebetulan kembali berpapasan di suatu tempat.
“Baiklah, kalau begitu Aku pergi. Jangan sedih! Aku tidak akan lama,” ucap Ronal pada istrinya. “Aku hanya ingin bertemu Darwis dan memperkenalkan tim IT baru untuk rumah sakit kita. Dan orang itu adalah anak sambung Darwis.”
“Jadi, Darwis akan merekomendasikan anak istrinya itu padamu?” tanya Lenka yang langsung mendapat anggukan dari Ronal.
"Ya. Dan aku menyetujui.”
“Kamu memang selalu menyetujui apa yang diminta Ronal. Seharusnya kamu memberi dia batasan.”
Ronal menggeleng. “Ini kali pertama Darwis memintaku menerima karaywan. Sebelumnya dia tidak pernah melakukan ini, jadi menurutku tidak apa.”
Lahi – lagi, Lenka memasang wajah ketus.
“Sudah, Sayang. jang idtekuk terus mukanya,” goda Ronal pada sang istri hingga beberapa menit kemudian ia pun pergi meninggalkan sang istri dan memasuki ruang pemeriksaan barang di bandara itu.
Baru selesai melakukan pemeriksaan, Ronal melangka menuju ruang tunggu untuk menunggu pesawatnya tiba.
Dret … Dret … Dret …
Ponsel Ronal berdering dengan nama Darwis di layar itu. untuk kali pertama, Ronal pergi tanpa didampingi sang istri.
“Halo.”
“Hai, Ronal. Kau sudah berangkat?” tanya Darwis.
“Aku baru sampai bandara. Jemput aku dua jam setelah ini.”
“Oke, siap!” jawab Darwis yang siap untuk menjemput Ronal saat tiba di bandara Soekarno hatta. “Aku akan menjemputmu bersama calon anakku.”
“Kau bawa anak calon istrimu itu?” tanya Ronal.
“Ya. Yang akan bekerja di rumah sakitmu.”
“Oh, oke.”
__ADS_1
Ronal tidak akan mengira jika nanti ia akan bertemu dengan putranya sendiri. Darah daging yang sejak kecil ditinggalkan begitu saja. Sama seperti Alex yang masih belum mengira, kalau Bilqis sudah memasuki kamar yang ia rahasiakan itu.
Apakah ikatan ayah dan anak itu akan terasa, walau Ronal masih mengalami amnesia?