Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Gaya kakak ipar


__ADS_3

“Bilqis.”


“Mba Qis.”


“Bilqis, Tunggu!”


“Mba Qis, larinya pelanin kek. Aku capek nih.”


Alex mengejar sang istri yang ternyata memiliki keahlian berlari dengan cepat. Ya sejak kecil, Bilqis memang hoby lari, bahkan saat lomba tujuh belasan di daerahnya, Bilqis selalu menjuarai lomba lari juara pertama.


“Hah … Hah … hah …”


Nafas Radit terengal. Ia berhenti sejenak untuk beristirahat. Lalu, Radit berinisiatif untuk mengambil motornya ketika melihat parkiran motor untuk mengejar Bilqis yang sudah berada di luar gedung rumah sakit.


Dengan cepat, Radit menghampiri motornya. Saat Ridho pingsan di apartemen Darwis dan di bawa dengan ambulans, ia mengikuti mobil itu dengan motornya dari belakang. Tentu dengan pantauan Lenka yang saat itu terus meminta pertanggung jawabannya.


“Bilqis, berhenti!”


Bilqis terus berlari, hingga ia sudah menyeberang jalan. Sementara, Alex masih tertinggal. Ia takut ketika melihat Bilqis berlari sekencang itu, ia juga takut saat sang istri menyeberang jalan dengan semaunya di saat mobil berlalu lalang sangat kencang.


“Bilqis, hati – hati!” teriak Alex dari seberang jalan dan hendak menyeberang untuk menghampiri istrinya.


Bilqis mengabaikan panggilan itu. Ia tetap berlari hingga satu mobil yang melintas mengenai hampir mengenai dirinya.


“Bilqis.” Alex semakin teriak histeris saat melihat hal itu.


Namun, beruntung si pemilik mobil dengan cepat mengerem.


Ciiiiit ….


Pemilik mobil itu pun langsung melihat ke arah depan.


“Biliqis,” gumamnya. Ia segera membuka kaca jendela dari sisi kursi penumpang lewat sentral lock yang ada di pintunya.


“Bilqis,” sapa pemilik mobil itu.


“Rendi.” Bilqis langsung mengingat wajah si pemilik mobil yang hampir menabraknya itu.


Ya, dia adalah Rendi, karyawan di perusahaan Mister Ammar yang menambah pekerjaan di hari liburnya sebagai driver mobil online. Rendi, teman SMA Bilqis dan sempat menyatakn cinta saat SMA. Namun, Bilqis tolak karena traumanya terhadap sikap sang ayah pada ibunya dan berikrar untuk tidak akan berhubungan dengan lawan jenis.


“Hei, kamu kenapa?” tanya Rendi bingung melihat kondisi Bilqis yang memprihatinkan.


Wajahnya berantakan karena sepanjang berlari, ia terus menangis. Rambutnya pun acak – acakan.


“Rendi, buka pintu mobilmu. Cepat!”


“Bilqis.” Alex sudah menyeberang separuh jalan dan sebentar lagi posisinya akan mendekat.


“Rendi, buka pintu mobilmu. Antar aku!”


“Ke mana?” tanya Rendi bingung.


Pasalnya ia melihat Bilqis dan melihat ke arah Alex yang sedikit lagi mendekat. Jujur, Rendi cukup takut dengan pria yang pernah mengancamnya itu. Dan, ia juga cukup tahu siapa Alex.


“Rendi, tolong aku! Buka mobilmu sebelum dia bisa menangkapku.”


Rendi pun langsung memenuhi keinginan Bilqis.


Klik

__ADS_1


Bilqis membuka pintu dan langsung duduk tepat di samping kursi kemudian. “Ayo, Ren! Jalan Cepat!”


Di luar mobil, Alex berlari dan mendekati kendaraan itu. Namun sayang. Bilqis sudah berada di dalam.


“Buka!” teriak Alex dengan menggedor jendela mobil itu.


“Rendi, jalan!”


“Buka.”


“Jangan!”


Rendi bingung. Ia antara takut dengan Alex yang sedang melotot dengan aura menakutkan, tapi ingin menolong Bilqis.


“Jalan, Ren!”


Brum


Akhirnya, Rendi memilih menekan pedal gas hingga Alex terpaksa menjauh dari kendaraan itu.


“Si*l,” umpat Alex yang hanya bisa melihat sang istri pergi dengan pria yang cukup Alex ingat, walau hanya satu kali pertemuan.


Alex hanya bisa menatap mobil itu pasrah sembari setengah berjongkok setelah mengusap wajahnya kasar.


“Mas, ayo naik!”


tiba – tiba bala bantuan datang. Radit dan motornya berhenti tepat di samping Alex.


“Ayo kita kejar, Mba Qis!”


Wajahnya langsung tersenyum. Memang, pria ini sangat bisa diandalkan. Sepertinya, ia akan memberikan Radit hadiah nanti.


“Ya, Radit lihat mobil putih yang bawa mba Qis tadi. Tenang, Mas. Kita akan kejar mobil itu.”


Radit kembali menggas kendaraannya hingga kecepatan motor itu pun bertambah.


Di dalam mobil Rendi, Bilqis masih was – was. Ia terus menengok ke belakang. “Ren, dia sudah tidak mengejar kan?” tanya Bilqis dengan tetap menatap ke belakang.


Di kursi kemudi yang di duduki Rendi, justru pria itu dapat melihat Bilqis dengan lebih jelas. Ternyata wanita yang ia sukai sejak SMA itu semakin cantik dan enak dipandang.


“Ren?” Bilqis bertanya lagi, membuat Rendi pun sontak tersadar.


“Ah, iya. Sepertinya dia tidak mengejar lagi,” jawab Rendi.


“Oh, Syukurlah.” Bilqis dapat bernafas lega sejenak. Ia tidak sadar jika motor sang adik tetap mengejar walau belum terlihat.


“Ah, si*l.” Rendi mengumpat, karena ia tidak berhasil menerobos lampu merah yang sudah beralih menjadi merah, saat masih berwarna kuning tadi.


Bilqis pun masih was – was. “Lampu merah di sini, tidak lama kan?”


“Biasanya sih tidak,” jawab Rendi yakin.


Biasanya lampu merah di daerah ini tidak se lama lampu merah yang ada di pusat jalan protokol. Bila di sana durasi lampu merah bisa sampai 720 detik, di lampu merah ini hanya 90 detik.


Dor … Dor … Dor


Bilqis terkejut, ternyata Alex menggedor jendela mobil itu.


“Rendi,” teriak Bilqis yang melihat Alex tiba – tiba muncul.

__ADS_1


“Bilqis, buka! Ayo sayang, jangan seperti anak kecil begini! Ayo kita bicarakan bersama!” teriak Alex yang sedikit di dengar Bilqis karena pintu dan kaca yang tertutup.


Bilqis melihat ke arah Radit yang duduk di atas motornya. Lalu, ia menengok ke arah Rendi.


“Ren, cepat jalan!”


“Masih lampu merah, Qis.”


“Rendi, tolong aku!”


“Aku tidak tahu masalah apa yang sedang kau hadapai dengan pria itu. Aku cukup mengenal pria itu. Dia pemilik K-Net kan? Partner perusahaan di tempatku bekerja. Selesaikan lah urusanmu. Lari bukan solusi,” ucap Rendi bijak.


Bilqis pun melirik ke arah Alex dan bergantian pada Rendi.


“Ya sudah. Kalau begitu, menepi setelah lampu merah.” Bilqis pun menyerah dan Rendi mengangguk setuju.


Rendi membuka kaca jendela dari pintu yang Bilqis duduki. “Aku akan menepi setelah lampu merah,” teriaknya.


Alex mengangguk. “Oke.”


Kemudian, pria itu kembali menaiki motor adik iparnya.


“Kok naik lagi, Mas. Mba Qis gimana?” tanya Radit.


“Sopir mobil itu akan memberhentikan Mba mu di sana!” Alex menunjuk halte yang ada setelah melewati lampu merah.


Tring


Lima detik kemudian, lampu lalu lintas itu berubah menjadi hijau. Mobil yang Bilqis tumpangi pun melajut, diikuti oleh kendaraan lain termasuk motor yang ditumpangi Radit dan Alex.


Lima ratus meter dari lampu merah tadi, Radi sudah menepikan motornya. Tak lama kemudian, terlihat mobil SUV berwarna putih itu pun memberi lampu sen dan ikut menepi. Bilqis keluar dari mobil.


“Sayang.” Alex langsung memeluk sang istri yang diam mematung tanpa ekspresi. “Aku sudah ingin menjelaskan hal ini padamu. Aku memang tahu lebih dulu, tapi demi Tuhan, aku tidak menjadikanmu pengganti dia. Kamu dan Tasya berbeda.”


Alex memeluk kepala Bilqis dan menempelkan ke dadanya. “Aku mencintaimu, Bilqis. Aku mencintaimu.”


Pernyataan cinta Alex disaksikan oleh dua pria, Radit dan Rendi. Radit mengusap wajahnya kasar. Hari yang di lalui sejak semalam, cukup berat. Sementara, Rendi hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sepertinya, ia harus mengubur perasaannya pada Bilqis sedalam mungkin, karena ia tidak akan bisa bersaing dengan pria seperti Alex.


Alex melonggarkan pelukan karena sedari tadi sang istri tidak merespon ucapannya. Ia pun menatap wajah itu.


Bilqis pun membalas tatapan Alex. “Boleh aku menenangkan diri sejenak? Aku butuh waktu untuk sendiri.”


Alex menggeleng.


“Aku mohon!”


“Aku tidak bisa,” jawab Alex.


“Tolong! Aku hanya ingin sendiri sebentar saja.”


“Dengan pria itu?” Alex menunjukkan tangannya ke arah Rendi.


“Dia teman SMA ku. Justru aku lebih aman pergi bersamanya dibanding orang lain,” jawab Bilqis. “Mengerti lah!”


Alex menatap wajah Rendi. Meneliti dari ujung kepala hingga kaki seperti sebuah mesin robot yang mendeteksi usia berapa, pekerjaannya apa, dan tinggal di mana.


Seketika Alex mengangguk. “Baik lah. Jika itu mau mu, akan aku turuti.”


Lalu, Alex mendekati Rendi dan berbisik. “Jaga istriku baik – baik, jika kau ingin keluargamu selamat!”

__ADS_1


Sontak, Radit yang mendengar bisikan itu pun tersenyum sembari menggosok janggutnya yang tidak berbulu, mengingat posisinya memang dekat dengan posisi Rendi yang sedang berdiri. “Gila! Asik juga gaya kakak ipar gue.”


__ADS_2