
"Bilqis, aku pasti akan merindukanmu.”
“Aku juga, Tina. Terima kasih untuk semuanya.”
Bilqis dan Tina berpelukan. Tina dan Jhon mengantar Alex dan keluarga ke bandara. Hari ini, Bilqis akan mengikuti suaminya dan menetap di Singapura. Ia juga akan melahirkan di sana.
“Terima kasih untuk apa?” tanya Tina yang tidak pernah merasa direpotkan oleh Bilqis. “Aku malah tidak enak karena tidak datang di acara Radit. Padahal Saskia dan Mbak Mira aja datang.”
Bilqis tersenyum. “Ish masih bahas itu aja. Tidak apa, kok Tina. Aku ngerti kondisimu waktu itu.”
Tina masih kesal jika mengingat Jhon yang saat itu hanya memberi harapan untuk menjemput tapi nyatanya tidak ada kabar.
“Aku berterima kasih padamu, Tina. Karena kamu selalu mau jadi pendengar setiakudan selalu meminjamkan aku tas – tas branded saat kondangan.”
Tina tertawa, begitu juga dengan Bilqis.
“Itulah gunanya sahabat,” jawab Tina
“Ya.” Bilqis mengangguk. “Dan untuk hadiah kemarin. Aku tidak suka dikembalikan.”
“Tapi, Qis. Itu terlalu mahal.”
Bilqis memberikan jam tangan yang sangat berharga pada Tina, sebagai kado perpisahan. Walau nantinya, mereka mungkin akan bertemu kembali, karena Jhon juga sahabat Alex. Dan di akhir tahun, biasanya Alex akan berkumpul bersama teman – temannya itu termasuk Jhon. Lagi pula, Jhon yang saat ini memegang penuh cabang Jakarta, juga sewaktu – waktu akan memberi laporan langsung pada Alex di Singapura.
“Kalau nanti aku ga punya uang, terus aku jual, jangan marah ya,” ucap Tina lagi pada Bilqis.
“Itulah gunanya sahabat,” sahut Bilqis.
Tina tersenyum dan merengek manja. “Hm. Bilqis.”
Tina kembali memeluk sahabatnya yang bar – bar tapi polos dan baik hati. “Aku benar – benar akan merindukanmu nanti.”
“Kalau begitu temui aku di Singapura,” jawab Bilqis. “Lagi pula, kamu memang harus menjenguk keponakanmu saat lahir nanti.”
Bilqis mengelus perutnya.
“Ah, iya. Itu pasti.”
Kedua wanita itu kembali tersenyum dan berpelukan untuk terakhir kali.
“Sudah belum?” tanya Alex pada istrinya yang sedari tadi hanya berdua bersama Tina.
“Iya, Sayang. Udah kok,” jawab Bilqis pada Alex dan langsung melingkarkan tangannya pada lingkaran tangan Alex yang kekar.
“Oke, Jhon. Gue tinggal ya.” Alex menepuk bahu Jhon. “Kalau ada apa – apa hubungi gue dan jangan lupa kirim laporan tepat waktu.”
“Siap.” Jhon mengangguk.
__ADS_1
Kemudian, Alex menggandeng Bilqis untuk memasuki ruang boarding. Sore ini, mereka pun berangkat menuju Singapura berdua. Laila, Darwis, Radit, Maya, dan Aurel malah sudah berangkat kemarin. Mengingat ada pertemuan yang tak bisa ditunda, maka Alex memilih menunda keberangkatan menjadi hari ini.
“Lex, kabari aku kalau keponakanku lahir,” teriak Jhon.
Lalu Alex menoleh ke belakang dan diikuti Bilqis. Alex mengangkat ibu jarinya ke atas. “Oke.”
Bilqis pun mengembang senyum ke arah itu. kemudian, mereka kembali berbalik dan terus berjalan hingga kedua hilang dari pandangan Jhon dan Tina.
Jhon menggandeng tangan Tina menuju parkiran. Mereka tidak kembali ke kantor lagi, karena matahari sudah tidak memancarkan cahaya terangnya. Cahaya itu mulai redup, seperti Tina saat ini. keceriaannya pun mulai redup, sejak Jhon melupakan janji untuk mengantarnya memenuhi undangan pernikahan adik Bilqis waktu itu.
Tina kesal karena sudah berpakaian rapi tapi Jhon tak kunjung datang. hingga sampai pukul delapan malam, Jhon tak memberi kabar dan sekalinya memberi kabar sudah keesokan hari.
“Hei, masih marah?” tanya Jhon dengan menoleh ke arah Tina sambil mengemudi menuju apartemen Tina yang dibelikan olehnya.
Tina diam. Wanita itu tak menjawab.
“Ayolah, Sayang. Sudah satu minggu kamu mendiamkanku.”
Tina tetap menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Jhon. Seperti saran Bilqis waktu itu, ia juga tidak memberi jatah pada kekasihnya ini.
Kiiik
“Ah,” pekik Tina.
Tiba – tiba, Jhon menepikan mobilnya dan berhenti mendadak. Untung saja, mereka masih berada di area bandara dan belum memasuki jalan bebas hambatan menuju pusat kota, karena apartemen Tina yang dibelikan oleh Jhon itu memang berada di pusat kota dan dekat dengan K-Net coporate.
“Kenapa berhenti mendadak?” tanya Tina ketus. Ia pun harus menoleh ke arah Jhon.
Tina kembali meluruskan pandangan dan meluruskan tempat duduk sembari melipat kedua tangannya di dada.
“Michelle sakit. kamu sudah aku bertahu kan? Kalau Michelle kena leukimia.”
Michelle adalah anak Jhon dari mantan kekasihnya yang pergi meninggalkannya. Ternyata, kekasih Jhon meninggalkannya pada saat wanita itu hamil. Ia pikir Jhon tidak akan bertanggung jawab dan memilih pergi. Lalu, pada saat hati Jhon sudah terisi oleh Tina, wanita itu pun muncul dengan anaknya. Anak yang sudah di tes DNA ternyata benar anak Jhon.
Tina masih tidak bisa berkata. Walau sebenarnya ia pun mengerti akan kondisi itu. Tina sudah menerima masa lalu Jhon dan menerima Michelle. Pernah satu waktu ia pun bertemu dengan Michelle dan mengajak anak seusia Aurel itu untuk bermain. Tapi sayang, Michelle tidak menerimanya. Atau mungkin memang anak kecil itu sudah didoktrin sang ibu untuk tidak menerima Tina.
Jhon mencium leher Tina. “Apa kamu tidak merindukan sentuhanku?”
Tina menghindar. “Jhon jalankan mobilnya. Nanti kamu ditilang.”
Jhon tertawa. “Aku berhenti di tempat yang benar, Sayang.”
“Jalan, Jhon!” pinta Tina agar pria itu tidak menciumnya.
“Aku tahu n*fsumu besar, Tina sayang. Aku tahu kamu tidak bisa menahan bila aku sentuh.” Bibir Jhon masih mencumbui leher Tina, sedangkan tangan kanannya juga sudah mulai menggerayang ke balik rok levis sepan dengan panjang selutut yang digunakan Tina saat ini.
“Jhon, berhenti!” Tina menahan tangan Jhon yang mulai hendak melesak menuju bagian inti.
__ADS_1
Jhon tersenyum. “Come on, Sayang. Aku sudah tidak tahan.”
Tina dapat merasakan nafas Jhon yang mulai memburu.
“Atau kita mampir ke hotel dekat sini. Aku sudah mulai menggila karena kamu diamkan lebih dari satu minggu.”
Tangan dan bibir Jhon terus mempermainkan hasrat Tina yang memang besar. Entah mengapa sejak mengenal yang namanya bercinta. Tina seolah kecanduan akan hal itu dan kini, ia ingin menahannya dengan sekuat tenaga. Tina ingin berubah. Ia mencerna perkataan Bilqis waktu itu. Dan, ia ingin menghargai dirinya sendiri, mulai sekarang.
“Jhon. Please!” Tina mulai kehilangan akal untuk menyingkirkan Jhon dari tubuhnya. “Aku bilang jalan sekarang!”
Jhon pun menghentikan aktifitasnya. Ia menatap Tina yang tak seperti biasanya. Wanita itu terlihat dingin. Sejak satu minggu yang lalu, Tina tidak seperti wanitanya sebelumnya. Dia semakin berubah.
Jhon pun mengalah dan mulai menjalankan lagi mobilnya. Ia kembali mengemudikan kendaraan itu menuju apartemen Tina. Sepanjang perjalanan, mereka tak saling bicara. Keadaan hening seketika, hingga mobil itu sampai di basement apartemen.
Tina pun segera keluar dari mobil itu. Dan, Jhon pun sama. Ia segera keluar lalu mengejar kekasihnya.
“Tina.” Jhon menarik lengan Tina yang sudah berjalan lebih dulu.
“Pulanglah, Jhon!”
Jhon menarik nafasnya kasar. “Akhir – akhir ini, kamu sangat sensitif. Apa masa periodemu tidak teratur?”
“Bukan masalah itu,” jawab Tina.
“Karena aku belum menikahimu hingga saat ini?” tanya Jhon lagi.
“Kamu sadar kan?” Tina balik bertanya.
“Tina, Please! Kamu tahu posisi ku sekarang.”
“Kalau begitu, jangan temui aku kalau kamu belum siap!” ucap Tina.
“Tidak bisa.” Jhon menggelengkan kepala.
“Aku bukan pemuas nafs*mu, Jhon. Aku lelah, aku capek dan hanya dijanjikan saja. Aku ingin menghargai diriku sendiri.” Tina bergegas pergi dan meninggalkan Jhon yang mematung.
Jhon pun tak mengejar Tina lagi. ia juga memaki dirinya sendiri yang terlalu pengecut dan takut akan ikatan pernikahan. Belum lagi permintaan Michelle yang tidak menyetujui ayah biologisnya menikah dengan wanita lain selain Mamanya.
Waktu terus berjalan, hingga satu bulan berlalu dan hari kelahiran bayi yang dikandung Bilqis tinggal menghitung hari. Laila pun sama, ia dan Darwis juga tengah menantikan kelahiran buah hati. Jadwal mereka pun berbarengan.
“Sayang, bawaannya banyak sekali,”ujar Bilqis saat melihat suaminya membawa banyak pakaian salin untuknya dan calon twins.
“Memang harus banyak, Sayang. kamu pasti membutuhkan ini, ini, dan ini.” Alex menunjukkan semua barang bawaannya yang baru saja ia masukkan ke dalam tas.
“Itu pompa ASI-nya tidak di bawa?” tanya Bilqis melihat kardus pompa ASI baru yang tergeletak di sana.
“Tidak, perlu. Untuk pertama biar Daddynya saja yang melakukan.”
__ADS_1
Bilqis pun mengernyitkan dahi. “Urusan itu aja, kamu paling gercep.”
Alex yang sudah sangat fasih dengan bahasa Indonesia dan bahasa Bilqis, pun tertawa.