Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Suara yang tak asing


__ADS_3

“Bu, kita dijemput siapa?” tanya Radit bingung, saat tiba di Bandara menuju rumahnya bersama sang ibu.


Namun, Laila tidak tampak bingung. Semalam, Alex memang sudah memberitahukan padanya tentang ini. Alex sudah meminta izin rumahnya untuk didekorasi dan Alex juga sudah meminta orang yang bekerja di rumah Bilqis untuk mencuci dan mensetrika pakaian keluarganya untuk membantu memberikan undangan sore ini kepada para tetangga. Pernikahan yang digelar sore nanti hanya akan ada akad, ramah tamah serta wejangan dari ustasd kondang. Alex memang belum merencanakan membuat resepsi pernikahan mewah. Ia hanya ingin mengikat Bilqis terlebih dahulu.


Lagi pula, Bilqis pun menginginkan ini. Ia belum siap dengan status barunya sebagai istri CEO, belum lagi anggapan miring orang kantor yang tidak menyukainya dan menganggap Bilqis sebagai wanita matre karena selam ini selalu menolak teman-teman sejawatnya di kantor tapi tidak menolak bosnya.


“Sudah masuk saja ke dalam mobil.” Laila mendorong putranya untuk memasuki mobil milik Alex.


“Sepertinya, mobil ini tidak asing, Bu.” Radit kembali dibuat bingung.


“Ya, memang tidak asing. Ini mobil milik Sir Alex. Dia akan menikahi kakakmu sore ini. jadi siapkan dirimu untuk menjadi wali.”


“What?” Radit terkejut.


Ternyata secepet ini ia memikul tanggung jawab, padahal baru semalam ia mengiyakan dirinya untuk mengemban tanggung jawab itu agar sang ibu tidak lagi repot mencari suaminya.


****


Hampir satu jam Laila dan Radit berada di perjalanan. Bilqis dan Alex pun masih berkutat dengan pekerjaannya. Karena sudah janji, meeka tetap melakukan persentasi di sebuah perusahaan rekanan.


Radit yang baru saja keluar dari sedan hitam merk eropa itu tercengang oleh rumahnya. Rumah itu tampak indah dengan dekorasi yang didominasi mawar putih kesukaan Bilqis. Laila pun tampak keluar dari mobil mewah itu. sejak pagi, keluarga Bilqis menjadi sorotan tetangga sekitar. Bahkan ada ibu-ibu yang sengaja berdiri di depan rumah itu untuk melihat para pekerja yang mendekor rumah tersebut.


Alex mengerahkan banyak orang untuk hari ini. Ia mewujudkan keinginan Bilqis yang tidak sengaja wanita itu lontarkan saat usai menjadi pacar semalam dan berakhir di sebuah pasar malam sembari mnikmati indahnya danau buatan seperti saat ia diajak oleh sang ayah ketika masih kecil.


#FlashBack On


“Kau tidak ingin menikah?” tanya Alex


Bilqis menggeleng. “Tidak ingin.”


“Kenapa?” tanya Alex menyelidik. Pasalnya ia memang belum mengenal keluarg sekretarisnya ini.


“Tidak apa. Hanya tidak ingin. Menurutku menikah itu rumit. Sir masih ingat Alana? Rumah tangganya rumit bukan?” Bilqis menoleh ke arah Alex yang juga sedang menatapnya.


“Tidak semua rumah tangga akan rumit seperti itu,” sanggah Alex yang tidak tahu betul tentang Alana, tapi ia pernah masuk menjadi orang ketiga secara tidak langsung.


Bilqis masih menatap wajah Alex. “Karena tidak ada pria yang setia.”


“Tentu ada,” sanggah Alex yang tak terima dengan pernyataan itu.


“Tidak ada.” Bilqis masih bersikeras dengan cara pandangnya. “Kalau pun ada pria yang setia, tetap saja jika ditinggal meninggal istrinya, dia akan menikah lagi.”


Jleb


Alex seolah medapat bogeman mentah dari Bilqis karena ia menjadi contoh dari pria yang Bilqis katakan tadi.

__ADS_1


“Itu, berbeda.”


“Apanya yang berbeda? sama-sama tidak setia kan? Kalau memang setia, ya harusnya tidak usah menikah dan besarkan anaknya saja. bukan begitu?”


Alex tersenyum. “Manusia itu, makhluk sosial. Dia tidak akan bisa hidup sendiri. Begitu pun denganmu. Memang, sekarang kamu belum merasakan itu, tapi nanti ada saatnya kamu membutuhkan seseorang sebagai tempat cerita, tempat bertengkar, dan berkeluh kesah.”


Bilqis mengernyitkan dahinya dan kembali ke arah danau buatan yang indah itu. sedangkan Alex, matanya masih tertuju pada gadis cuek yang memiliki cara pandang apatis.


“So, pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?” tanya Alex dengan pertanyaan aneh menurut Bilqis.


Namun entah mengapa, ia menjawab pertanyaan absurd itu. Pasalnya malam itu, mereka hanya sepasang kekasih palsu yang akan berakhir beberapa menit lagi.


“Hm. Aku tidak seperti wanita lain, yang ingin pernikahan mewah. Aku hanya ingin pernikahan sederhana yang dihadiri keluarga dan tetangga dekat. Hanya ijab qabul dan makan bersama sebagai wujud rasa syukur. Karena aku menyukai mawar putih, adi aku ingin dekorasinya dihiasi banyak bunga itu. Pokoknya nuansa pernikahanku harus berwarna putih,” jawab Bilqis antusias dan Alex pun hanya tersenyum mendengarkan.


“Hm, tapi dipadu juga dengan warna gold. Karena menurutku emas adalah lambang kesuksesan yang patut dihargai dan pernikahan adalah ikatan yang harus dihargai.”


Alex terkesima. Ia tak henti menatap gadis ceria itu. Dan itu, adalah kali pertama Alex mulai benar-benar terpesona oleh pribadi seorang Bilqis.


#Falshback off


Di depan gerbang, Laila dihadang oleh ibu-ibu kompleks yang gemar bergosip, siapa laghi kalau bukan Asti yang menjadi biangnya.


“Akhirnya, Bilqsi nikah juga ya Jeng,” ucap Asti mendahului.


“Ya, calon suami Bilqis yang minta segera menikah,” jawab Laila apa adanya karena memang Alex yang menginginkan pernikahan ini dipercepat.


“Bilqis belum di dp-in kan?” tanya ibu satunya lagi, membuat Laila jengkel.


“Saya paling tahu bagaimana anak-anak saya. Saya mendidik mereka dengan baik dan menanamkan agama sejak dini. InsyaAllah anak-anak saya tidak seperti itu. say percaya pada mereka. Justru mereka ingin cepat-cepat menikah supaya tidak terjadi hal-hal yang diinginkan seperti putri dan putranya Jeng Asti.”


Perkataan Laila, sontak membuat Asti terdiam. Keempat ibu-ibu di sana kini beralih dengan manatap wajah Asti. Laila seolah mengingatkan bagaimana kedua anak Asti menikah. Kedua anak Asti pun tidak lebih baik dari anaknya, pikir Laila.


Laila kesal dan langsung memasuki rumahnya. Di depan pintu, Radit bertepuk tangan.


“Hebat Ibu. Memang Ibu Radit tuh ga ada duanya. Wonder Woman.”


“Wonder Woman dari Hongkong,” sahut Laila yang masih diselimti emosi karena obrolan ibu-ibu tadi sembari masuk ke dalam dan menubruk bahu putranya.


“Wonder woman bukan dari Hongkong, Bu. Tapi Amerika.”


“Bodo, emang Ibu pikirin.”


Radit pun tertawa. Tak lama kemudian, ia melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang. Dan, tak lama dari itu, penumpang yang ada di dalam mobil pun keluar. Bilqis datang bersama Alex. Mereka sengaja pulang cepat untuk mempersiapkan diri. kedatangan mobil Alex juga beriringan dengan dua mobil di belakangnya. Mereka adalah rombongan yang datang dari Dubai, karena kebetulan Alex akan bertemu dengan Tuan Salman. Namun pertemuan itu ia alihkan menjadi di tempat ini dan Tuan Salman tidak keberatan untuk menjadi saksi pernikahan pria yang sudah ia anggap seperti anaknya karena kerjasama yang dijalin sudah cukup lama.


Dret … Dret … Dret …

__ADS_1


Ponsel Alex berdering dan menampilkan nama ayah mertua.


“Halo, Pa.”


“Alex, Papa baru melihat pesanmu. Kau ingin menikah?”


“Iya, Pa. Alex menikah sore ini. Maaf, Alex tidak sopan karena meminta izin melalui telepon.”


“Tidak apa, Nak. Yang penting kamu dan cucu Papa bahagia,” jawab pria yang menelepon Alex. “Apa cucu Papa menyukai calon ibu sambungnya?”


“Sangat. Aurel sangat menyukai calon istriku, Pa.”


Alex dan Bilqis menuju kamar untuk di dandani. Kamar yang menjadi basecamp mereka untuk make up adalah kamar Bilqis sendiri. Sedangkan di rumah Alex, Alex sengaja meminta orang untuk mendekor kamarnya sebagai kamar pengantin, walau Alex tidak yakin ia akan langsung bisa bermalam pertama, malam pertama untuk Bilqis bukan untuknya.


“Papa ingin berkenalan dengan calon istriku?” tanya Alex pada ayah mertua yang sudah ia anggap sebagai ayahnya setelah kedua oran tuanya pergi.


“Tentu. Papa ingin berkenalan dengan calon ibu sambung untuk cucu Papa.”


Alex beralih pada Bilqis dan berbisik. Bilqis pun bingung. Ia bingung ingin bicara apa dengan ayah dari mendiang istri Alex.


“Ha … lo.” suara Bilqis terdengar terbata-bata.


“Halo.”


Keduaya menyapa. Bilqis menangkap suara yang tak asing.


“Saya kakeknya Aurel. Saya senang Alex menemukan wanita lagi setelah sekian lama bersedih. Karena saya sudah menganggap Alex sebagai putra saya sendiri. Tolong, jaga cucu saya dengan baik dan maaf saya tidak bisa hadir di sana.”


“I-iya, Pak.” Bilqis canggung dan memanggil pria itu dengan sebutan Bapak. Walau Alex membisiki dirinya untuk memanggil pria itu dengan sebutan Papa, tapi lidah Bilwis tidak bisa mengucapkan itu.


“Baiklah, kalau begitu sambungkan teleponnya lagi pada Alex,” ucap pria yang menjadi lawan bicara Bilqis di telepon.


Bilqis pun memberikan telepon itu pada Alex.


“Calon istrimu kaku sekali,” kata pria yang dipanggil Papa Ronal oleh Alex.


Alex tertawa. “Tidak, Pa. Dia jauh dari kata kaku. Lucu mah iya.”


Alex berkata sembari melirik ke arah Bilqis yang sedang memonyongkan bibirnya.


“Sepertinya, kamu terdengar bahagia dan Papa juga turut bahagia. oh ya, sebenarnya, beberapa hari lalu Papa ada di Indonesia, tapi hanya satu hari karena Papa masih ada jadwal workshop di Penang.”


“Oh ya? Kapan?" tanya Alex. "Seharusnya Papa memberi kabar atau mampir ke kantorku sebentar."


“Maaf, Lex. Tidak sempat. Papa dan Mama hanya sempat ke supermarket. Itu pun terburu-buru dan Ibu mertuamu menarik Papa pergi.”

__ADS_1


Alex tertawa. “Mungkin Mama menarik Papa pergi karena Papa dihampiri wanita di sana. Mama kan sangat posesif.”


Pria itu terdiam. Ya, ia memang mendengar seseorang memanggil dan menghampiri, tapi orang itu memanggil nama dengan bukan namanya.


__ADS_2