
Di dalam mobil, Bilqis terus menempel pada suami. Usai menghadiri rapat dan mendapati sesuatu yang mengejutkan, bibir Bilqis tak henti terulas. Ia merasa sangat bahagia dengan pengumuman yang diberikan Alex tiba – tiba. Walau semula ia berpikir sang suami akan memberinya hukuman atau mempermalukannya depan umum karena keterlambatan itu. Namun, Bilqis malah diberikan sebuah kejutan menyenangkan.
“Kamu senang?” tanya Alex sembari memegang punggung tangan Bilqis yang melingkar di lengannya.
Wanita itu memeluk lengan Alex sambil menyandarkan kepalanya pada bahu lebar itu. Alex dan Bilqis duduk di kursi penumpang belakang. Kendaraan itu disupiri oleh Bima menuju kediaman Alex.
Alex menggerakkan tangan yang sedari dipeluk Bilqis untuk merubah posisi. Tangan itu merengkuh tubuh mungil Bilqis dan menjadikan dada bidangnya sebagai tempat bersandar kepala Bilqis.
Bilqis menengadahkan kepalanya sedikit dan tersenyum pada Alex sebelum masuk ke dalam dada bidang itu. “Terima kasih.”
Alex pun membalas senyum itu, lalu mengecup kepala Bilqis. “Sama – sama.”
Bilqis kembali mengingat saat pulang tadi. Ia melewati para kayawan julid yang sering memberikan komentar pedas soal kedekatannya dengan Alex. Para karyawan itu pun seketika bungkam. Mereka tidak lagi berani bergunjing. Apalagi saat Bilqis dengan terang – terangan memegang langan Alex dengan posesif ketika mereka keluar gedung lewat lobby. Biasanya Bilqis sengaja meminta Alex untuk pulang atau datang dari pintu basement agar tak bertemu orang banyak. Tapi mulai sore ini, ia akan pulang dan datang lewat pintu lobby.
“Mengapa sebelumnya tidak bilang kalau rapat ini untuk mengumumkan status kita?” tanya Bilqis dengan memainkan jarinya di dada bidang itu.
Jari Bilqis berputar searah jarum jam di dada Alex, membuat si pemilik tubuh itu pun mulai bereaksi.
“Jika bilang, namanya bukan kejutan,” jawab Alex dengan menghindari jari Bilqis yang memutar di dadanya.
“Tapi aku sangat terkejut.” Bilqis mengangkat kepala untuk melihat wajah Alex. “Aku kira, kamu akan memarahiku di depan semua orang karena hari ini aku melakukan indisipliner. Makan siang di waktu kerja dan kembali dalam keadaan terlambat.”
Alex tersenyum. “Memang apa yang kamu lakukan dengan ketiga temanmu itu, sampai berjam – jam?”
Alex bertanya seolah ia tidak tahu apa yang dilakukan istrinya. Padahal tidak ada satu kegiatan pun terlewat oleh pantauan seorang Alexander Kenneth.
“Hmm … Aku menghabiskan banyak uangmu hari ini.” Bilqis nyengir hingga ia menutup mulutnya sendiri.
“Nakal.” Alex menjepit ujung hidung Bilqis.
Wanita itu pun masih nyengir. “Maaf, aku hanya ingin memberikan sesuatu untuk Mbak Mira, Tina, dan Saskia. Karena dulu, mereka juga sering memberikan sesuatu padaku.”
Alex tidak mempermasalahkan itu. Ia tidak keberatan jika sang istri menggunakan fasilitas yang ia berikan.
“Lalu, apa lagi yang kamu lakukan?” tanya Alex.
“Hanya berkeliling Mall, usai menikmati makan siang. Ke counter tas branded, aksesoris, dan counter khusus sofia untuk Aurel.”
“Untukku apa?” tanya Alex manja.
“Aku juga membelikan sesuatu untukmu. Nanti di rumah ya.”
“Oke,” jawab Alex antusias.
Saat itu, Bilqis meminta saran pada ketiga temannya untuk membelikan sesuatu yang Alex sukai. Dan, ketiga temannya itu justru memberikan saran ekstrim. Lingeri. Ya, Tina, Saskia, dan Mira menyarankan sebuah lingeri yang dipakai Bilqis nanti malam untuk sang suami. Semula Bilqis menolak karena lingeri yang dipilihkan Tina diluar nalarnya. Tidak pernah terbayang di kepala Bilqis jika ia memakai gaun malam super sexy seperti itu. se sexy – sexy nya Bilqis jika tidur, ia hanya menggunakan tangtop dan celana pendek, sedangkan gaun malam itu hanya menutupi area sensitifnya saja. Selebihnya, bahan itu menerawang seperti sebuah kain jaring – jaring untuk mengukus nasi.
Namun, Bilqis tetap mengikuti saran itu. Ia membeli lingeri yang dipilihkan Tina. Dan, ia juga membeli sesuatu sebagai kejutan yang lain.
“Mommy …” Aurel langsung memeluk sang ibu saat Bilqis dan Alex tiba.
Bilqis lebih dulu masuk ke dalam rumah dan bertemu Aurel. Ia pun langsung membentangkan kedua tangannya dan menerima Aurel ke dalam pelukan.
“Hm. Wangi. Aurel sudah mandi?”
“Sudah.” Gadis kecil itu mengangguk.
Hari semakin sore. Sedari tadi, Aurel memang menunggu kepulangan kedua orang tuanya.
“Dari tadi, Aurel nungguin Ibu,” kata Maya yang kini merubah panggilannya pada Bilqis, karena Bilqis sendiri yang meminta dipanggil Ibu. Rasanya panggilan Nona tidak pantas lagi tersemat padanya.
Kini, Alex juga meminta para pelayan dirumahnya untuk memanggilnya Bapak, karena panggilan Tuan sepertinya juga tidak cocok ketika sang istri dipanggil dengan sebutan Ibu. Kesederhanaan Bilqis, juga menular pada Alex. Sebaliknya, kemesuman Alex menular pada Bilqis yang semakin hari semakin liar.
BIlqis membawa Aurel menuju sofa. Gadis kecil yang imut itu duduk di pangkuan Bilqis dengan tubuh yang saling berhadapan.
“Maaf tadi siang Mommy tidak menjemputmu.”
“Tidak apa. kata Daddy, Mommy lagi banyak kerjaan.”
Bilqis mengangguk. Walau pekerjaannya hari ini, lebih banyak ketawa ketiwi bersama ketiga temannya saja.
“Mommy janji, besok Mommy yang akan mengantar dan menjemputmu.”
“Janji.” Aurel mengangkat jari kelingkingnya.
__ADS_1
“Janji.”
Kedua jari kelingking yang berbeda ukuran itu pun saling mengait.
“Daddy juga janji.” Tiba – tiba, Alex datang dan memeluk Bilqis dari samping sembari mengaitkan kedua jari yang menyatu itu.
“Ish, Daddy tuh ikut – ikutan aja,” protes Aurel.
Alex nyengir. Akhir – akhir ini ia memang sering mendapat semprotan dari sang putri. Gadis kecil itu tampak sudah mampu membuat seorang Alex kalah.
Kemudian, tiba – tiba Alex juga mencium pipi Bilqis.
“Daddy, jangan cium Mommy!” Aurel kembali protes. “ini Mommy Aurel.”
Gadis kecil itu langsung memeluk Bilqis dengan posesif.
“Ini juga istri Daddy.” Alex tak mau kalah. Ia malah menenggelamkan kepalanya pada cerug leher Bilqis.
Bilqis menjadi rebutan ayah dan anak yang super posesif itu.
“Ish, pada kenapa sih?” tanya Bilqis bingung dengan sikap Alex dan Aurel. “Ga tahu apa kalau Mommy itu belum mandi. Baru pulang dan abis wara wiri ke sana kemari. Mommy itu bau tau.”
Bilqis mengangkat satu tangannya ke atas dan mendekatkan ketiaknya pada ayah dan anak itu.
“Hoek.”
Sontak Alex dan Aurel pun langsung menjauh dari Bilqis.
“Nih, mau coba cium aromanya? Mantap.” Bilqis mengepakkan tangannya ke dalam ketiak itu dan menyodorkan pada Aurel.
“Mommy …” teriak Aurel menghindar dan berlari ke kamarnya.
Lalu, Bilqis juga menyodorkan tangannya pada Alex. Alex pun menghindar.
Bilqis tertawa lebar. Ia senang karena bisa menjahili ayah dan anak itu. Kelakuan Bilqis benar - bear bar bar. Ia langsung melenggang menuju kamar untuk membersihkan diri.
“Mommy jorok,” ucap Aurel yang hanya dibalas oleh cengiran dari Bilqis dan tetap melenggang ke kamar.
“Mommy itu unik,” sahut Alex dengan tersenyum ke arah sang istri.
Setelah makan malam, Alex dan Bilqis menikmati kebersamaan dengan sang putri. Bilqis membantu Aurel memasang leggo sofia and family yang Bilqis beli saat di mall dengan ketiga rekannya itu. Alex pun ikut membantu, walau hanya sebentar karena matanya lebih tertarik dengan pertandingan premier league yang disiarkan langsung dari Arsenal, klub kesayangan Alex.
Alex ikut duduk bersama Bilqis dan Aurel di karpet berbulu tebal yang ada di depan televisi besar itu. Tubuh Bilqis yang membelakangi sang suami dan menghadap ke Aurel itu pun tetap menjadi santapoan Alex. Dengan mata yang tertuju pada layar televisi, tangan Alex masih saja meraba area sensitif Bilqis dari belakang.
Plak
Bilqis memukul tangan besar Alex yang meremas ***********. Ia pun melirik ke arah Aurel. Untung saja, anak itu sedang fokus pada lego-nya.
Bilqis menoleh ke belakang. “Mas, bisa ga tangan kamu dikondisikan?” tanyanya berbisik.
Alex nyengir dan menggeleng. “Ga bisa. Tubuh kamu candu,” jawabnya dengan mendekatkan bibirnya pada belakang telinga Bilqis.
Kini, Alex justru merengkuh pinggang itu. Namun, sesaat terlepas karena Aurel menengadahkan kepalanya ke arah Bilqis.
“Mommy, sudah selesai.”
“Ah, ya. Bagus sekali.”
Aurel tampak senang.
“Lalu, apa hadiah untuk Daddy?” tanya Alex pada Bilqis.
“Nanti,” jawab Bilqis membuat Alex penasaran.
Hari semakin malam, Aurel yang kelelahan dan merebahkan kepalanya di pangkuan Bilqis pun tertidur. Sedangkan Bilqis menyandarkan kepalanya di bahu Alex.
“Mana hadiah untukku?” tanya Alex lagi.
“Ish, kamu tuh dari tadi tanya hadiah terus.”
“Iya, aku penasaran, Sayang.”
“Kalau begitu, bawa Aurel ke kamarnya dan aku menunggu di kamar.”
__ADS_1
“Oke,” jawab Alex dengan mengangkat ibu jarinya ke atas.
Sebenarnya ia tahu benda yang dibelikan sang istri, sesuai informasi dari orang yang membelikan gaun itu. Bahkan, Tina juga mengirimkan foto lingeri yang dibeli istrinya. ia pun langsung sumringah.
Sembari menunggu Alex membawa Aurel ke kamarnya, Bilqis pun memakai gaun malam super sexy itu. Bilqis tidak tahu bahwa Alex sudah berada di dalam kamar dan duduk di tepi ranjang. Pria itu menunggu sang istri keluar dari walk in closet.
Tak lama Bilqsi pun keluar dari sana, ia melihat Alex dan tersenyum. Seketika, Alex pun terkesima. Tubuh Bilqis yang semakin sintal, membuat wanita itu lebih sexy dengan gaun malam yang hampir memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya itu.
Alex menggigit bibir bawahnya, saat Bilqis berjalan mendekat sembari meliuk – liukan tubuhnya.
“Ini hadiah untukmu karena aku sudah menghabiskan uangmu,” ujar Bilqis membuat Alex semakin menyeringai.
Ternyata sang istri mengetahui isi kepalanya. Alex pun langsung meraih pinggang itu saat Bilqis mendekat dan tidak ada jarak.
“Lalu, apalagi yang kamu tahu?” tanya Alex dengan suara yang mulai parau. Gairahnya mulai tersulut karena kelakuan sang istri.
“Semuanya tidak ada yang gratis kan!” jawab Bilqis.
Alex tertawa. Sekeretarisnya itu memang pintar.
“Lalu?” tanya Alex lagi.
“Aku akan membayarnya,” jawab Bilqis lagi dengan sengaja membuka tali yang ada di tengah kedua bukit kembarnya yang menjulang.
Bruk
Bilqis mendorong Alex hingga tubuh pria itu terlentang. Ia pun mulai naik ke atas tubuh itu dan memberi rangsangan hingga Alex memejamkan mata. Jangan ditanya bagaimana kondisi jerry, yang pasti sudah siap meluncur dan terbang bebas ke udara.
“Eum.” Alex melenguh saat Bilqis aktif mencium leher, dada, dan hampir ke bagian bawah tubuh itu.
Namun, Bilqis menghentikan aksinya. Kedua mata Alex pun terbuka karena tiba – tiba sensasi yang ia rasakan menghilang.
“Kenapa berhenti?” tanyanya.
“Aku lupa, ada satu lagi kejutan untukmu.” Bilqis langsung bangkit dan mengambil tasnya. “Ini dia, tangkap.”
Bilqis melempar sesuatu ke Alex dan dengan refleks Alex pun menangkap benda yang Bilqis berikan.
“Aaa …” seketika, Alex menjerit saat membuka tangannya dan mendapati sebuah kecoa di tangan itu.
Sontak, Alex langsung menghindar dan berguling hingga tubuhnya jatuh ke lantai. Bilqis pun tertawa terbahak – bahak. Ia mendekati ranjang dan mengambil kecoa yanh terbuat dari karet itu.
“Ini mainan, Sayang.” Bilqis kembali tertawa. Sungguh ekspresi ketakutan Alex tadi membuat tertawa geli.
Alex yang terguling ke lantai pun langsung bangkit dan menatap sang istri yang tengah tertawa bahagia atas penderitaannya.
“Kamu sudah membangunkan macan tidur. Awas ya! Aku tidak akan mengampunimu.”
Dengan geram, Alex bangkit dan menerkam Bilqis.
“Aaa … tolong.”
“Tidak ada yang bisa menolongmu.”
“Mas.” Bilqis tertawa, karena Alex menggelitikinya.
Puas menggelitiki pinggang itu, Alex pun langsung menyerbu tubuh Bilqis dengan ciuman maut bertubi – tubi.
“Mas.”
“Apa?”
“Jangan digigit!”
“Biarin.”
“Mas.”
“Apa?”
“Sekali aja ya.”
“No. aku akan melakukannya hingga pagi.”
__ADS_1
“Maaaaas,” teriak Bilqis.
Ia menyesal telah mengerjai suaminya habis – habisan dan sekarang ia pun dikerjai suaminya habis – habisan.