Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Bonchap 12 - welcome in the world, Aarash dan Aariz


__ADS_3

"Mas, kamu tungguin aku kan?” tanya Bilqis yang hendak di bawa ke ruang operasi dari ruang perawatan.


“Iya, Sayang. Tentu saja, Mas ga akan ke mana – mana. Mas akan nemenin kamu sampai bayi kita lahir." Alex terus menggenggam tangan Bilqis saat tempat tidur yang membawanya di dorong oleh perawat.


“Jangan stres! Jangan takut! Semua akan baik – baik saja,” ujar Alex untuk memberikan ketenangan pada Bilqis.


Pasalnya sejak kemarin tensi darah Bilqis tiba – tiba naik drastis. Dan, baru turun sore ini. seharusnya Bilqis sduah masuk ruang operasi sejak siang tadi.


Bilqis mengangguk dan kembali bertanya pada sang suami. “Ibu sudah masuk ruang operasi?”


“Ya, sepertinya sudah. Atau mungkin sudah selesai. Radit masih di sana.”


“Aurel di mana?” tanya Bilqis.


“Masih bersama Maya.”


“Sayang, jangan pikirkan yang lain! Pikirkan kamu saja. Oke.” Alex mengelus rambut Bilqis dengan lembut, membuat wanita itu pun mengangguk dengan senyum.


Entah apa jadinya jika ia tidak menikah dengan pria ini. Selama kehamilan, Alex begitu sabar menghadapi Bilqis yang sering berubah mood. Terkadang marah, sensitif, pencemburu, atau menangis tanpa alasan. Alex yang sudah pengalaman, mampu menghadapi hormon ibu hamil yang tidak menentu.


Tempat tidur yang membawa Bilqis pun tiba di dalam ruang operasi.


“Selamat sore, Bilqis. Kamu siap?” tanya dokter Nabila dengan bahasa Melayu, karena dokter itu berasal dari Malaysia.


“Sore, Dok. Insya Allah siap.”


Dokter Nabila mengangguk.


“Bisa di cek kembali tekanan darahnya, Bil?” tanya Alex yang khawatir tekanan darah sang istri masih tinggi.


“Tentu saja, Lex. Kami akan periksa ulang, sebelum tindakan.”


Alex mengangguk. Ia pun ikut tegang. Ia melihat para dokter dan tim nya sedang menyediakan perlengkapan untuk operasi. Sang istri pun mulai diberikan tindakan.


“Dok, jangan perlihatkan jarum suntik pada istrinya. Istri saya sangat takut dengan jarum suntik.”


Dokter yang lain untuk bagian anastesi itu mengangguk. “Baik, Sir.”


Dokter anastesi tengah siap – siap menyuntikkan obat itu pada Bilqis hingga membuat separuh tubuhnya mati rasa.


“Dok, jangan sampai istri saya kesakitan! Kalau bisa anastesinya ditambah.”


“Baik, Sir. Semua tergantung tubuh pasien,” jawab dokter anastesi itu dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


“Dok, kalau bisa …”


“Iya, Sir Alex. Tenang.”


Bilqis menahan tawa. Rupanya dibalik ketenangan yang sedari tadi Alex tampilkan, justru pria itu lebih panik. Alex seperti mode bos yang pertama kali Bilqis temui. Suka perintah, banyak maunya, dan tidak bisa dibantah. Ia pun melakukan hal yang sama pada dokter dan tim yang berada di ruangan ini.


Untung saja, Alex adalah satu satu pemegang saham rumah sakit ini, membuat dokter anastesi yang jua berjenis kelamin perempuan itu hanya menarik nafasnya kasar. Berbeda dengan Nabila yang memang teman Alex, Nabila hanya tersenyum karena ia tahu persis bagaimana posesifnya Alex, jika menyangkut dengan wanitanya.


“Sayang, tenang! Semua akan baik – baik saja.” Alex berada tepat di depan wajah Bilqis yang kini sedang berbaring.


Para dokter mulai melakukan keahliannya. Dan Bilqis memang sudah benar – benar pasrah. Di dalam hati, ia hanya terus berdoa melafazkan keagungan yang maha kuasa.


Alex mengelus rambut Bilqis, hingga wanita itu pun memanggil suaminya.


“Mas.”


“Hm.”


“Terima kasih,” ucap Bilqis.


“Untuk apa?”


“Semuanya.”


Alex menempelkan keningnya pada kening Bilqis. “Aku yang seharusnya terima kasih, karena kamu mau menerimaku. Duda beranak satu.”


“I love more,” jawab Alex dengan mengecup kening itu.


Alex mengajak Bilqis berbincang agar sang istri tidak bosan selama operasi persalinan berjalan. Hingga beberapa detik kemudian, suara tangisan bayi pun terdengar.


“Oek … Oek … Oek …”


“Sayang, anak pertama kita lahir.” Alex langsung mendekati Nabila yang sudah mengangkat satu bayi yang masih berlumur darah dan diberikan kepada perawat untuk segera dibersihkan.


“Oek … Oek … Oek …” selang delapan detik, satu bayi pun kembali diangkat oleh Nabila.


“Alhamdulillah, Lex bayimu tampan – tampan,” ucap Nabila pada temannya.


Senyum Alex langsung merekah. Ia menatap haru kedau bayi laki – laki itu.


“Alhamdulillah,” ucapnya.


Alex kembali menghampiri Bilqis. “Sayang, bayi kita sudah lahir. Mereka sangat tampan.”

__ADS_1


“Sepertimu,” sahut Bilqis.


Alex tersenyum lebar. “Ya. Sepertiku.”


Alex menangkup wajah Bilqis dan mencium waajh itu.. Kini seluruh wajahnya tak luput dari bibir Alex. Dengan bahagia dan penuh rasa senang, Alex menciumi seluruh wajah Bilqis dari mulai kening, kedua pipi, hidung, bibir, dan dagunya.


Bilqis yang melihat suaminya bahagia pun ikut bahagia. Bahkan kebahagiaan itu tidak bisa digambarkan. Bilqis baru melihat Alex se senang dan se bahagia ini. Walau senyum sumringah itu juga terbit saat mereka menikah waktu itu. Tapi hari ini, senyum itu lebih dari waktu itu. dan, Bilqis rela untuk kembali hamil dan melahirkan demi melihat kebahagiian dari wajah Alex ini.


“Silahkan diadzankan, Lex!” Dokter Nabila menyerahkan bayi tampan itu pada ayahnya.


Alex dengan sumringah mengambil bayi itu dari tangan dokter yang membantu persalinan sang istri. Ia mengumandangkan adzan di telinga baby twins itu bergantian.


Air mata Bilqis menetes. Air mata bahagia.


“Kamu beri nama mereka apa?” tanya Bilqis pada Alex yang masih menggendong dua bayinya dan memperlihatkan pada sang istri.


“Aarash dan Aariz,” jawab Alex yakin, walau ia belum menemukan nama belakang untuk melengkapi nama itu. Namun, ia sudah menemukan nama depannya.


Bilqis tersenyum. “Bagus.”


Alex mengecup pipi dua bayi laki - lakinya bergantian. "Welcome in the world, Aaras dan Aariz."


"Semoga kalian tidak menyebalkan seperti Daddy kalian," sahut Bilqis.


Alex tersenyum lebar. "Menyebalkan tapi ngangenin, Sayang."


Bilqis mencibir, walau pernyataan itu ia akui benar.


Di ruangan berbeda, Laila justru sudah melahirkan putranya sedari tadi. Bahkan ia sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


“Bagaimana Bilqis, Mas?” tanya Laila pada suaminya yang sedari tadi terlihat senang dan tidak ingin melepaskan sang buah hati dari gendongan.


“Kata Radit, Bilqis udah berada di ruang operasi sejak tiga jam lalu.”


“Berarti bayinya sudah lahir?” tanya Laila lagi.


Darwis mengangguk. “Ya, sepertinya begitu.”


Darwis meletakkan bayinya di dalam box yang berada persis di samping Laila. “Boleh aku tinggal dulu sebentar? Aku akan menemui Alex dan Bilqis.”


Laila mengangguk. “Ya, Mas. Tidak apa. lagi pula ada Maya di sini.”


Arah mata Laila menunjuk pada Maya yang berada di sofa dan menjaga Aurel yang tertidur di sana.

__ADS_1


Darwis pun mengangguk dan sebelum meninggalkan sang istri, ia mengecup kening itu terlebih dahulu.


Laila pun tersenyum. ia ikut bahagia melihat suaminya bahagia. walau melahirkan di usia yang tak lagi muda, tapi ia sangat bersyukur karena telah memberikan Darwis keturunan. Sebuah anugerah terindah yang tak di sangka – sangka, kebahagiaan yang dirasakan Darwis di penghujung usia senja sekaligus kebahagiian yang kembali di rasakan Laila setelah puluhan tahun silam.


__ADS_2