Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Akhirnya ...


__ADS_3

Hari semakin larut, Bilqis pun lelah menghadapi suaminya yang tak mau kalah. Ia dan Alex sudah dalam posisi yang siap tidur dengan membaringkan tubuhnya miring di atas tempat tidur yang tidak besar itu.


Alex ikut memiringkan tubuhnya dan merapatkan diri pada tubuh Bilqis yang membelakangi. Bilqis merutuki pilihan baju tidur yang Alex ambilkan tadi. Seharusnya ia mengambil sendiri baju tidrunya tadi dan tidak memakai tangtop serta celana pendek seperti ini. Ia kesal mengapa harus ada adegan terkilir, sehingga saat ini ia harus menuruti sang suami karena ia membutuhkan pria itu sekarang.


“Mas, masih belum tidur?” tanya Bilqis dengan tetap dalam posisinya dan tidak bisa memejamkan mata padahal rasa kantuk sudah cukup mendera.


Dari belakang, Alex mencumbui leher serta bahu Bilqis yang terbuka.


“Mas, kalau seperti ini kita ga akan bisa tidur,” kata Bilqis kesal karena Alex sedari tadi terus mengganggunya.


“Ini malam pertama kita, Qis. Biasanya memang kalau malam pertama itu tidak akan bisa tidur.”


Bilqis membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan pria killer yang si*lnya sekarang adalah suaminya.


“Memangnya begitu?” tanya Bilqis polos, membuat Alex tersenyum dan mengangguk.


“Lalu, apa yang mereka lakukan hingga tidak bisa tidur? Mencium leher dan bahu seperti yang kamu lakukan tadi?” tanya Bilqis membuat Alex tergelak.


“Apa kamu tidak pernah menonton film blue? Atau Film porn*?”


Sontak, Bilqis membekap mulut Alex. “Aku ga menyangka, bos se dingin dan se killer kamu ternyata sangaaaat … mesum!”


Bilqis pun membuka bekapan mulut itu sembari merengut. Ia memang pernah mendengar Alana bercerita tentang hubungan suami istri, ia juga pernah menonton film drama korea. Tapi di kepalanya tidak pernah membayangkan bagaimana proses bercinta.


“Tinggal jawab saja. Mengapa harus marah? Kalau pun kamu tidak pernah melakukan apa yang aku tanyakan tadi, berarti itu bagus.”


Bilqis memonyongkan bibirnya di depan Alex. “Ga ada waktu untuk menonton hal yang tidak berfaedah seperti itu. Waktuku sudah habis untuk bekerja dan mencari ilmu.”


Prok Prok Prok


Alex bertepuk tangan. “Hebat dong. Berarti tidak salah aku memilihmu menjadi ibu sambung untuk Aurel dan …”


Alex menjeda ucapannya dengan lebih dulu mendekatkan tubuhnya pada Bilqis dan berbisik. “Menjadi ibu dari anak – anakku nanti.”


Blush … Pipi Bilqis lansung merona.


Alex pun tersenyum melihat pipi Bilqis yang memerah. “Kok merah?”


“Apanya?” Bilqis balik bertanya.


“Pipi mu.”


Bilqis baru menyadari jika Alex menyadari pipinya yang merona akibat digombali. Ia langsung membalikkan lagi tubuhnya dan kembali memunggungi Alex.

__ADS_1


“Hei, kok berbalik?” tanya Alex yang meminta Bilqis untuk kembali menghadap ke arahnya.


Bilqis menggeleng. “Udah, Mas. Tidur! Udah malam tau.”


“Aku belum bisa tidur, Bilqis.”


Kali ini Bilqis tidak peduli. Ia tidak peduli dengan apa yang suaminya lakukan, yang penting ia ingin tidur.


“Qis … Bilqis,” Panggil Alex.


“Tidur, Mas.”


“Bilqis.”


“Hm,” jawab Bilqis tanpa bergerak dari posisinya yang membelakangi Alex.


“Qis.”


Bilqis pun kembali berbalik. “Apa sih, Mas?”


“Aku mau kiss.”


Sontak, Bilqis pun membeku. Tubuhnya kaku, dadanya berdebar kencang. Apalagi saat Alex mulai mendekati wajahnya.


Wajah Alex sudah mendekat. Kedua wajah itu berhadapan tanpa jarak. Bilqis dapat merasakan hembusan nafas Alex yang memburu. Lalu, Alex meraih kedua tangan Bilqis dan ia lingkarkan ke lehernya.


“Apa jika lebih dari kiss, kamu akan mengizinkannya?” tanya Alex.


Bilqis terdiam. Sungguh, ia sangat takut. Ini yang ia takutkan. Oleh karena itu ia membuat perjanjian pra nikah. Tapi sayang, perjanjian itu tidak berlaku sekarang karena sudah dipatahkan oleh pasal terakhir yang Alex tulis dengan tulisan tangan yang sengaja dibuat jelek dan tidak bisa terbaca. Bodohnya, Bilqis sama sekali tidak curiga dengan trik licik pria itu.


“Diam, itu berarti kamu belum siap. Dan aku akan menunggu sampai kamu siap.”


Bilqis yang semula menunduk pun langsung mendongak dan menatap wajah Alex. “A-pa … tidak apa – apa?


Alex tersenyum. “Tentu. Tidak apa. Sudah ku bilang. Aku hanya ingin bercinta dengan orang yang juga menyukaiku.”


Bilqis pun tersenyum. Senyum yang menurut Alex, sangat lah manis. Bahkan melebihi senyum manisnya sang mendiang istri.


Alex mulai lebih mendekatkan wajahnya hingga ia menempelkan bibirnya dengan bibir Bilqis. “Ini bukan ciumanmu yang pertama kan?”


“Ya bukan, karena ciuman pertamaku sudah diambil orang yang paling menyebalkan,” jawab Bilqis kesal.


Alex mengulum senyum. “Oh, ya? Dengan siapa?”

__ADS_1


Bilqis mengernyitkan dahi. Ia tahu Alex memang paling senang mempermainkannya. Ia pun mengikuti cara Alex.


“ Dengan Pria killer, yang ditakuti seantero kantor.”


Alex tertawa dan mengecup bibir itu sekilas. Ia melihat Bilqis yang hanya diam. Alex kembali memperhatikan wajah cantik itu dan …


Cup


Ia tidak lagi mengecup bibir itu sekilas, tapi memakan kedua bibir kenyal Bilqis di bagian atas dan bawah dengan sedikit brutal. Dan semakin brutal, karena Bilqis ternyata tidak diam. Wanita itu pun langsung menyambut pagutan itu. Alex senang karena beberapa kali mencium Bilqis, ternyata membuat wanita itu mengerti caranya berciuman.


Posisi mereka yang semula miring, kini terlentang. Tanpa melepas pagutan itu, Alex memutar tubuh Bilqis hingga terlentang. Bilqis pun mengikuti irama yang Alex mainkan. Entah mengapa tubuhnya tidak kaku seperti sebelumnya. Justru Bilqis sangat rileks hingga kedua tangannya memeluk erat leher Alex membuat pagutan itu semakin dalam. Bilqis dapat merasakan hangatnya lidah Alex, begitu pun sebaliknya. Mereka berciuman cukup lama hingga kedua tangan Alex yang semula berada di pinggang Bilqis pun merayap menggerayangi tubuh itu dan membuat pakaian atas yang Bilqis kenakan lolos dari kepalanya.


Bilqis ikut hanyut. Ia membiarkan tangan Alex meraba tubuhnya. Bahkan sekarang pagutan mereka pun terlepas dan bibir Alex beralih pada bagian leher.


“Eum …” Bilqis melenguh akibat sengatan listrik dari gigi Alex yang menggigit lehernya dan memberi tanda.


“Ah.” Ia kembali mengeluarkan suara sensual, saat mulut Alex beralih lagi ke bawah dan memainkan dua gunung kembar yang tak lagi berkain, karena sebelumnya Bilqis memang hanya mengenakan tang top tanpa bra. Seperti yang ia lakukan biasanya saat tidur. Ia memang selalu melepas alat penyangga itu.


Sungguh, ini adalah sensai yang belum pernah Bilqis rasakan. Kepalanya mendongak sembari berdesis dan menjambak rambut Alex saat kedua gunung kembarnya dimainkan bergantian.


“Mas,” rintih Bilqis yang terdengar merdu.


Alex menyukai rintihan itu. Ia pun semakin bersemangat untuk berselancar pada tubuh yang memang sudah ia sukai sebelumnya. Bahkan beberapa waktu, tubuh Bilqis sempat menjadi alat fantasinya saat harus menuntaskan hasratnya sendiri di dalam kamar mandi.


Kepala Alex terus berpindah ke bawah, hingga hampir seluruh tubuh itu sudah ia kecup bahkan diberi tanda di bagian yang ia mau.


Alex mencium perut rata Bilqis. Wanita itu pun tampak tak menolak. Bilqis benar-benar hanyut dalam sentuhan Alex. Kemudian, Alex menghentikan aksinya, kepalanya mendongak ke arah Bilqis.


“Boleh sekarang?” tanyanya pada wanita yang saat ini sudah sah menjadi istrinya.


Mata Bilqis yang sayu terlihat menatap sang suami. Bilqis terdiam sejenak, hingga akhirnya mengangguk.


Alex bersorak. Namun, ia tetap menjaga wibawanya.


“Kamu siap?” tanya Alex lagi.


“Apa akan sakit?”


“Sedikit. Kamu bisa menggigit atau mencakar pundakku jika sakit.”


Kepala Bilqis kembali mengangguk.


Ah, rasanya Alex sangat senang. Rasa senang itu tak bisa ia ungkapkan dengan apa pun. Hanya berkata dalam hati, “Akhirnya, si jerry ga kedinginan lagi.”

__ADS_1


__ADS_2