Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Bonchap 7 - pernikahan Radit dan Maya


__ADS_3

Pernikahan Radit siap digelar. Alex dan keluarga terpaksa menunda keberangkatan satu minggu lagi, begitu pun dengan Laila.


Radit dan Maya hanya diberi waktu satu minggu untuk mempersiapkan pernikahan. Keduanya memang sepakat hanya menikah di Kantor urusan agama saja. Selain karena lagi trending, waktu juga yang tidak memungkinkan, mengingat Radit akan segera mengajak Maya terbang dan tinggal di Singapura. Butuh waktu yang panjang untuk mempersiapkan sebuah resepsi.


“Ya ampun, Dit. Masa ga ada resepsi? Apa kata keluarga Maya? Tetangganya juga? Kalian nanti di kira meried by accident,” ucap Laila yang tetap ingin mengadakan resepsi walau hanya kecil – kecilan dan sederhana.


Radit tertawa. “Eh, ibu udah bisa bahasa inggris?” Pria yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya itu malah menggoda sang Ibu.


Bugh


Laila memukul lengan putranya. “Ibu lagi serius, masih aja kamu ajak becanda.”


Radit tertawa, begitu pun dengan Maya yang duduk di sampingnya. Siang ini, Radit berada di rumah sang ibu. Rumah yang sebentar lagi akan ditinggalkan dan dikelola oleh keluarga Laila.


Bilqis juga berada di rumah itu dan Aurel masih beberapa hari lagi ke sekolah sambil menunggu pembagian raport semester. Kepindahan mereka tepat saat Aurel menaiki tingkat sekolah.


“Ibu benar, Dit. Adakan lah resepsi sederhana, kaya mba dulu.” Bilqis ikut bicara sembari membawakan minuman untuk Radit dan Maya.


“Ya ampun, Mba. Malah bikin minuman. Maya jadi ga enak.” Kini, maya memanggil Bilqis dengan sebutan yang sama seperti Radit.


Bilqis tersenyum usai meletakkan gelas ke depan Maya. “Santai aja, May. Sekarang kan kamu tamu, bukan pekerjaku lagi.”


Maya ikut tersenyum.


“Kalau Mba Qis, kemarin mah ga sederhana, Bu. Radit tahu berapa biaya yang dikeluarkan Mas Alex. Dan Radit kan bukan Mas Alex.”


“Lagian, Maya juga ga keberatan, Bu. Yang penting kita nikah. Iya kan, Sayang?” Radit menoelh ke arah Maya sembari menggenggam tangannya.


“Uhuk … Uhuk … Uhuk …” Tiba – tiba Laila tersedak dan Bilqis mengelus punggung sang ibu. “Belum nikah udah panggil sayang aja.”


“Biarin sih, Bu. Ibu juga gitu,” sahut Radit.


Laila hanya menggeleng. “Ya sudah terserah kamu. Tapi Ibu sama orang tua Maya tetap akan mengadakan resepsi kecil – kecilan.”


“Ngga usah, Bu.” Radit bersuara.


“Iya, Bu. Ga usah. Ga apa – apa.” Maya menimpali.


“Ngga, sebagai orang tua, ibu ingin bertanggung jawab penuh pada anaknya,” sahut Laila. “Jadi, kalian tidak perlu pusing memikirkan resepsi. Biar semua ibu yang urus.”


“Ya, Mba Qis juga pasti bantuin. Tenang!” Bilqis tersenyum sembari menaik turunkan alisnya.


Maya melarang Radit menjual motor sportnya. Kalau pun motor itu nantinya tetap dijual saat mereka berangkat ke Singapura, Maya meminta Radit untuk menyimpan uang itu sebagai modal awal mereka hidup di negara orang. Walau mereka memiliki kakak ipar dan orang tua yang kaya, Maya mengingatkan pada Radit bahwa sebisa mungkin mereka harus berdiri di kaki sendiri. Cukup motor sport pemberian Alex sebagai pertama dan terakhir modal yang diberikan keluarga. Dan, radit pun sangat setuju. Ia semakin yakin meminag Maya, karena walau gadis itu masih usia beli, tapi cara berpikirnya cukup dewasa.


“Terima kasih, Bu,” ucap Maya pada Laila sembari memegang kedua tangan wanita itu.

__ADS_1


“Makasih, Bu. Radit sebenernya ga minta loh, Bu.”


Laila tersenyum pada Maya, tapi hilang saat melirik Radit. “Ya, kamu memang tidak minta apa – apa sama Ibu. Dari dulu selalu begitu, tapi wajah melasmu membuat Ibu peka dan ga tega.”


Sontak, Bilqis tertawa. Tawa Bilqis diiringi Maya dan Laila, sedangkan Radit hanya tersenyum kecut.


****


Hari yang dinanti tiba. Alex, Darwis, Bilqis, Laila, dan Aurel berada di kampung Maya. Mereka tiba sejak pagi.


Laila dan Bilqis berhasil membuat dekorasi minimalis di rumah itu. untung saja rumah Maya cukup luas sehingga dekorasinya pun terlihat cukup mewah. Keluarga Maya menyerah dengan konsep resepsi sederhana yang diinginkan Laila, karena bagi mereka ini bukanlah resepsi sederhana.


“Sah … Sah … Sah …”


Radit mengucapkan janji suci tepat di gedung kantr urusan agama terdekat di tempat tinggal Maya. Semua orang di sana mengangkat kedua tangan saat penghulu membacakan doa setelah Radit mengucapkan dengan lantang ijab qobul itu tanpa ada kesalahan. Radit hanya mengucap kalimat itu satu kali dengan satu tarikan nafas. Sungguh, ia sudah benar – benar siap menjadi nahkoda untuk Maya.


“Hai, akhirnya kau jadi laki – laki.” Alex memeluk adik iparnya.


“Aku belajar darimu Mas,” jawab Radit membalas pelukan itu.


Alex pun tertawa. Ya, Radit memang mengidolakn Alex. Bahkan pernikahannya yang kilat sekarang, ia dapat ilmunya dari Alex dulu yang langsung mengikat Bilqis.


Kedua pria beda usia itu berpelukan cukup laa. Bahkan Bilqis melihat mereka tertawa dan berbisik.


“Ngomongin apa sih? Sampe bisik – bisik?” tanya Bilqis saat mendekati kedua pria yang ia sayangi itu.


“Aku lagi ngajarin Radit untuk malam pertama,” celetuk Alex.


“Mas, kamu jangan ngajarin yang engga – engga ya!”


“Engga – engga gimana? Lagian Maya mau dimodusin dan di engga – engga in juga ga apa – apa. iya kan, Dit?” Alex tertawa, sedangkan Bilqis mengerucutkan bibir.


“Bener, Mas. Setuju!” Radit malah mengangkat ibu jarinya ke atas.


“Dasar, kalian sama – sama edan.” Bilqis kesal dan meninggalkan dua pria yang sepertinya sang adik akan tertular mesum seperti suaminya.


Radit dan Alex pun kembali tertawa.


Tak lama kemudian, Saskia datang bersama Ringgo. Bulan depan, wanita malah akan segera melahirkan. Namun, untuk menghormati undangan yang diberikan Bilqis langsung padanya, ia membela datang ke tempat ini.


Saskia langsung disambut oleh Bilqis.


“Kia …”


“Bilqis …”

__ADS_1


Kedua wanita hamil itu berpelukan. Di belakang mereka, Alex pun mendekat, ia menyambut kedatangan Ringgo, mantan orang kepercayaan di divisi Marketing. Ia akui, Ringgo memiliki keahlian dalam berkomunikasi dan jaringan yang luas.


“Apa kabar, Pak Ringgo?”


“Baik, Sir.”


Kedua pria itu berpelukan sebentar.


“Ah, jangan panggil saya Sir lagi. Kau sudah bukan karyawanku. Atau mungkin beberapa tahun lagi, kau juga akan seperti aku.”


Ringgo tertawa. Ia memang baru memulai bisnisnya dan awalan itu pun sudah mulai terlihat baik. “Aamin, semoga,” jawabnya.


Ringgo memang membuka dealer pembelian dan pembiayaan kendaraan beroda empat.


“Tina belum datang?” tanya Saskia pada Bilqis.


“Belum.” Bilqis menggeleng.


“Tapi dia datang kan?” Saskia bertanya lagi.


“Bilangnya sih gitu, tapi ga tahu.”


Di pelaminan, Radit terus menempel pada Maya. Pria itu serasa ingin hari ini langsung malam. ia ingin mempraktekkan apa yang diajarkan kakak iparnya.


Saat keduanya berdiri untuk menyambut para tamu yang mengucapkan selamat, kedua mempelai itu tersenyum sumringah. Terlihat jelas bahwa pengantin itu bahagia. Kemudian, saat tamu sudah menuruni pelaminan, tangan kanan Radit berselancar di belakang tubuh istrinya dan berakhir menean keras bagian belakang tubuh Maya yang membulat.


“Mas.” Maya langsung menoleh ke arah Radit dengan senyum.


Radit pun tersenyum.


Hanya dengan waktu lima menit yang Radit lakukan saat ijab qobul, wanita itu tidak marah lagi ketika tangan Radit meremas gemas bagian itu.


Resepsi berjalan sesuai rencana. Bersyukur hari ini langit begitu cerah, sehingga pesta itu pun berjalan dengan lancar dan khidmat.


Alex sudah menyiapkan hotel terdekat untuk mereka inapi satu malam, usai psta ini selesai. Ia juga memesan penginapan untuk Laila dan Darwis. Rencananya, keesokan harinya, keluarga Maya akan ikut mengantarkan putrinya ke rumah Laila sebagai bentuk upacara ngunduh mantu.


“Radit, keluar! Ada temanmu datang.” Laila berteriak diluar kamar pengantin.


Ternyata masih saja ada teman Radit yang datang ke rumah itu, malam – malam. Radit pun tidak segera membuka kamarnya. Ia masih asyik memainkan dua gunung kembar milik Maya.


“Mas. Udah dulu. Ibu diluar manggil,” kata Maya pada suaminya yang sudah terlihat tidak tahan.


“Ck. Siapa sih yang masih namu malam – malam begini?”


Maya tersenyum. “Kata ibu tad teman kamu, Mas.”

__ADS_1


Maya menggelengkan kepala. Ternyata benar, laki – laki kalau sudah selesai resepsi, tidak bisa menunggu, rasanya sudah ingin menerkam saja.


__ADS_2