Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Bonchap 16 - Jhon dan Tina


__ADS_3

Hari ini kamu pulang, Qis?” tanya Tina pada Bilqis.


Bilqis mengangguk. “iya. Tuh semuanya udah diberesin Mas Alex.”


Tina mengikuti arah mata Bilqis yang tertuju pada beberapa tas yang terjejer di sana.


“Ya ampun, suami siaga banget si dia.” Sejenak Tina menjadi sedikit iri. Andai saja, Jhon bisa seperti sir Alex, pikirnya.


“Jhon juga akan seperti itu jika kamu melahirkan,” ledek Bilqis, membuat bibir Tina manyun.


“Katamu aku harus nikah dulu.”


“Ya, iya lah nikah dulu. Emang kamu mau melahirkan dulu baru nikah?” tanya Biqis tertawa.


Tina menggeleng. “Ngga lah. Kasihan nasib anakku nanti.”


“Nah itu tahu.”


“Udah, Ah, Qis. Aku ga mau bahas itu lagi.”


“Iya, iya,” jawab Bilqis.


Ceklek


“Sayang, ini coffee latte pesananmu.” Tiba – tiba Jhon membuka pintu dan menghampiri kekasihnya, lalu memberikan secangkir kopi kesukaan Tina.


Alex pun datang setelah Jhon. Ayah dari baby twins itu baru saja menyelesaikan administrasi.


“Sayang, kamu pulang bareng Bilqis dan Alex ya. Aku mau melihat Michelle,” ucap Jhon pada Tina.


“Aku juga belum menjenguk putrimu,” sahut Tina dengan mendongakkan kepalanya karena posisinya yang duduk dan Jhon yang sedang berdiri.


“Tidak sekarang juga tidak apa. kamu belum istirahat.” Jhon mengusap pucuk kepala Tina dengan lembut. “Atau mau aku antarkan dulu ke hotel, supaya kamu istirahat?”


Tina menggeleng. “Ngga, aku ikut Bilqis aja. Aku masih ingin mnggendong Aarash dan Aariz.”


“Satu jam dua ratus dollar ya,” celetuk Alex sembari tersenyum.


“Dasar otak bisnis. Anaknya digendong aja minta bayaran,’ cibir Jhon yang tahu bahwa pernyataan Alex tadi hanyalah candaan.


Alex pun tertawa. Begitu pun dengan Bilqis. Mereka da[at melihat cinta dan kasih sayang yang Jhon berikan pada Tina, tapi entah mengapa Jhon terlalu lama mengambil keputusan untuk menikah padahal semua orang tahu dan dapt terlihat bahwa Jhon begitu mencintai kekasihnya.


“Ya sudah, sana jalan. Pasti Michelle sudah menunggumu.”


Jhon mengangguk dan tersenyum pada kekasihnya.


“Ibunya Michelle juga pasti sudah menunggumu,” celetuk Tina lagi, tapi kali ini tidak membuat Jhon tersenyum.


“Sayang, jangan mulai!” ucap Jhon yang kemudian menarik kepala Tina dan mengecup kening itu. “Aku tidak akan pulang malam.”


Tina pun mengangguk. Lalu, Jhon pamit pada Alex dan Bilqis.


“Titp Tina ya, Qis. Nanti malam aku jemput,” ujar Jhon yang langsung di angguki Bilqis.


“Jangan macem – macem di sana, Jhon!” ledek Alex.


“Si*l, jangan jadi provokator au, Lex.”


Alex pun tertawa. Lalu, mereka berpelukan dan Jhon pun keluar dari ruang VVIP itu.


Satu jam setelah kepergian Jhon, Tina pun ikut mengantar Bilqis pulang. Mereka pulang bersama Alex dan sopir yang mengemudi mobil itu. Sementara di ruang perawatan berbeda dan tidak jauh dari Bilqis, Laila sudah pulang lebih dulu. Laila yang tidak bisa mencium aroma rumah sakit meminta pulang lebih cepat satu hari sebelum Bilqis.

__ADS_1


“Rumahmu dekat dengan rumah Ibumu, Qis?” tanya Tina saat duduk bersama Bilqis di kursi penumpang belakang. Sedangkan Alex duduk di sebelah pengemudi yang ada di kursi depan.


“Iya, dekat dengan rumah Radit juga,” jawab Bilqis.


“Wah, enak dong.”


Bilqis mengangguk. “Ya, jadi kaya komplek keluarga gitu.”


Tina tersenyum dan mengangguk. ia memang sengaja ingin ikut ke rumah Bilqis karena ia pun ingin menjenguk adik sekaligus paman dari Aaras dan Aariz. Paman yang seusia dengan keponakannya.


“Lucu ya, Qis. Kamu melahirkan, ibumu juga. Berarti nanti Aarash dan AAriz punya Om sepantaran.”


Bilqis mengangguk. “iya.”


“Bahkan mereka akan satu sekolah nantinya,” celetuk Alex membuat Bilqis tertawa dan Tina pun juga. Tidak bisa dibayangkan keponakan dan paman satu sekolah, satu kelas, atau mungkin satu genk.


“Kalau tahun depan, istri Radit melahirkan. Mereka jadi empat sekawan.”


Tina kembali tertawa. “Loh, emang Maya lagi hamil?”


“Belum sih? Tapi namanya digempur terus, ga lama lagi juga jadi.”


Lagi – lagi, Tina tertawa. “Bahasamu, Qis. Emang siapa yang perang ampe harus ada gempuran senjata segala.”


“Aku belajar darimu, Tin. Ini kan bahasa kamu,” sahut Bilqis.


Di depan, Alex hanya tersenyum dan menggeleng mendengar bagian kursi belakang ramai, padahal hanya ada dua wanita itu saja. tidak bisa dibayangkan bagaimana hebohnya wanita – wanita ini jika bertemu berempat dengan Saskiya dan Mira.


****


“Selamat ya, Bu. Duh, putranya ganteng banget.” Tina menggendong bayi yang juga baru dilahirkan Laila.


“Ah, ibu bisa aja,” jawab Tina malu.


“Iya, kan Ibu pernah liat Nak Jhon. Ganteng, gagah, dan tinggi besar. Pasti senjatanya juga besar.”


“Senjata siapa, Bu?” tanya Tina pura – pura tidak mengerti.


“Ah, kok Ibu ngomongnya ngelantur ya,” jawab Laila nyengir. “Kalian kan belum menikah, jadi pasti kamu ga ngerti.”


Tina pun nyengir dan tersenyum getir. Andai sejak dulu ia mendengar nasehat Bilqis, mungkin ia tidak akan terjerumus dalam keadaan seperti ini.


Sudah pukul delapan malam, Jhon belum juga menjemput Tina di rumah Bilqis. Padahl semula, ia berjanji akan menjemput kekasihnya pukul lima sore.


“Udah bisa ditelepon, Tin?” tanya Bilqis pada temannya sembari menggendong Aariz.


Tina menggeleng. “Masih belum diangkat.”


“Mas, coba kamu telepon Jhon. Kasihan nih pacarnya nungguin.”


Alex meletakkan Aarash di dalam box dan mengambil ponselnya.


Tut … Tut … Tut …


Alex mencoba menelepon Jhon hingga tiga kali tapi tetap tidak diangkat.


“Mungkin, Michelle drop lagi, jadi Jhon sibuk dan melupakan ponselnya.” Alex mencoba menenangkan Tina.


Tina pun mengangguk. ini bukan kali pertama, setiap kali bertemu putrinya, Jhon memang susah dihubungi.


“Ya sudah, kamu diantar supirku saja, Tin,” tawar Alex pada sahabat istrinya sekaligus pacar sahabatnya.

__ADS_1


Tina pun mengangguk. “Iya, deh. Lagian udah malam. kalian pasti ingin istirahat.”


“Ya, terutama kamu. Kamu juga pasti ingn istirahat. Dari bandara tadi langsung ke rumah sakit dan menjengukku ‘kan?” tanya Bilqis yang langsung diangguki Tina.


“Ya udah, sana pulang. Jangan berpikir negatif, Tina!”


Tina mengangguk. “Iya, terima kasih, Qis.”


“Aku yang terima kasih. Makasih udah datang jauh – jauh untuk menjenguk dua jagoanku.”


Kedua wanita itu pun berpelukan. Setelah meletakkan Aaras dan Aariz yang sudah telelap di box masaing – masing, Alex dan Bilqis mengantarkan Tina hingga depan teras. Tina masuk ke dalam mobil Alex dan duduk di kursi penumpang belakang. Setelah melambaikan tangan ke arah pemilik rumah mewah itu, mobil Alex pun melaju ke hotel yang udah di pesan Jhon.


Sesampainya di hotel, Tina langsung membersihkan diri dan merebahkan tubunya di ranjang.rasanya hari ini sangat melelahkan tapi membahagiakan ketika melihat sahabatnya bahagia. Apalagi melihat keponakannya tampan – tampan, Tina pun ingin sekali memiliki buah hati seperti Bilqis.


Tina mengelus perutnya sendiri. “Maaf ya, Sayang. Mama selalu membunuhmu dengan meminum pil itu, karena Mama belum siap. Mama janji tidak akan melakukannya jika tidak siap. Mama tidak akan membunuh kalian lagi.”


Tina mengelus perutnya sembari meneteskan airmata. Rasanya sedih, apalagi di tengah keheningan malam dan kesendiriannya saat berada di kamar hotel VVIP yang cukup besar dan mewah.


Tina pun tertidur pulas saat Jhon pulang. Jhon memang sengaja memesan satu kamar dan Tina tidak mengetahui hal itu. Tina pikir, Jhon memesan dua kamar.


Jhon tersenyum melihat kekasihnya tidur terlelap. Wajah Tina selalu cantik dalam keadaan apa pun menurutnya. Ia mendekati wajah itu dan mencium kening serta pipi Tina yang basah. Rupanya wanita itu menangis hingga terlelap.


“Maaf, Sayang. Aku meninggalkanmu cukup lama. Tadi Michelle tidak ingin ditinggal, membuatku tidak bisa menepati janjiku padamu.”


Jhon kembali mengecup kening Tina dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tina pun terbangun saat Jhon sudah hilang ke dalam ruangan itu.


“Putrimu tidak menyukaiku dan hal ini pasti akan terus terjadi. Kamu memang tidak pernah bisa menepati janji,” ujar Tina dengan senyum getir.


Keesokan paginya, Tina pun bangun dengan seorang diri. saat bangkit dari ranjang, ia hanya menemjkan secarik kertas.


“Sayang, maaf meninggalkanmu lagi. Tadi Grace telepon, Michelle menyeut terus namaku. Jadi aku harus ke rumah sakit pagi – pagi.”


Tina menarik nafasnya kasar. Memang, selain menjenguk anak Alex, Jhon memiliki tujuan lain yaitu menjenguk putrinya. Sedangkan Tina hanya memiliki satu tujuan di sini, yaitu menjenguk Bilqis. Sehingga, kini ia merasa diabaikan oleh Jhon. Bahkan Jhon tidak mengajaknya ke rumah sakit dan mendekatkan dirinya dengan sang putri.


Tina pun tak ingin mengambil pusing, ia segera beranjak dari sana dan membersihkan diri. Jhon memang sangat perhatian. Selain kertas, di sana pun sudah tersedia sarapan untuknya. Akan tetapi, Tina jga membutuhkan hal lain selain perhatian. Ia hanya ingin kepastian, itu saja.


Usai membersihkan diri dan sarapan, Tina pun berpakaian casual. Dengan paduan setelan pakaian sederhana seperti celana jeans panjang berwarna biru langit dan kaos oblong putih, Tina tetap terlihat cantik. Rambutnya pun sengaja dikunir kuda, membuat wanita itu semakin elegan dan anggun.


Tina berniat untuk menjenguk Michelle. Ia cukup tahu letak rumah sakit itu, karena ini bukan kali pertama Tina berada di Singapura. Sebelum sampai di rumah sakit, Tina sengaja mampir ke toko bunga dan membeli sebuket bunga cantik untuk putri kekasihnya. Ia ingin mengambil hati Michelle.


Sesampainya di rumah sakit, Tina pun bertanya pada petugas letak ruang perawatan Michelle.


“Daddy, aku ingin kalian bersama. Sebelum Tuhan menjemputku, tolong kabulkan permintaanku, Dad.” Michelle merengek.


Rengekan ini bukan kali pertama. Jhon sering mendengar putrinya meminta permintaan yang sama, akan tetapi ia sulit mengabulkan permintaan itu.


Sungguh, Jhon memang sudah tidak memiliki hati lagi untuk Grace. Walau dahulu, ia begitu mencintai wanita yang melahirkan putrinya, tapi sekarang tidak. Keterpurukan saat Grace menghilang, membuat Jhon menambatkan hati pada wanita lain yaitu Tina.


Di seberang Jhon, Grace hanya menunduk dan menangis. Kedua orang dewasa yang merupakn orang tua Michelle itu hanya terdiam.


“Ayolah, Dad!”


Jhon menatap ke arah Grace yang masih menunduk.


“Ya, Daddy akan menikahi Mommy.”


Jedar


Tina yang sedang berdiri di pintu itu pun mendengar jelas percakapan ketiga orang yang tidak sedang melihatnya. Michelle tersenyum senang ke arah kedua orang tuanya dan Jhon beserta Grace memunggungi tempat Tina berdiri.


Tina hanya bisa melihat kebahagiaan seorang anak kecil yang divonis hidupnya tak akan lama lagi. ia pun segera berlari meninggalkan tempat itu. Tina berlari sekencang – kencangnya sembari sesekali mengusap pipinya yang basah. Ia langsung memesan tiket untuk pulang ke Jakarta.

__ADS_1


__ADS_2