
Pagi ini adalah aktifitas Bilqis pertama setelah berstatus istri Alex. Pagi ini juga menjadi aktifitas pertama Alex sebagai suami Bilqis.
Aurel juga baru merasakan memiliki seorang ibu. Dahulu, saat ibunya masih ada, Aurel masih sangat kecil. Ia belum benar – benar merasakan kasih sayang seorang Ibu. Berbeda sekarang, ketika beberapa teman – temannya ada yang diantar jemput oleh ibunya ke sekolah, ke tempat les. Bahkan tidak jarang dari mereka juga sering memamerkan hasil makanan buatan sang ibu. Jika demikian, Aurel hanya diam dengan kesedihan yang tidak ia bicarakan.
“Mommy … nanti siang, Mommy akan menjemputku kan?” tanya Aurel di dalam mobil.
Aurel duduk di kursi belakang, sementara Alex di kursi kemudi dan Bilqis di samping Alex. Alex lenih suka menyetir mobilnya sendiri. Ia jarang menggunakan sopir, tapi sewaktu – waktu ia akan memberdayakan sopir pribadi operasional khusus disediakan untuknya di kantor.
Bilqis menoleh ke arah Alex. Untuk jadwal minggu ini, ia sudah memberitahukan semuanya pada Alex sebelum mereka berangkat tadi.
Alex mengangguk saat Bilqis menoleh untuk meminta persetujuan.
“Iya, Sayang. Mommy akan jemput,” jawab Bilqis dengan menoleh ke belakang.
“Mulai sekarang Mommy akan mengantar dan menjemput Aurel ke sekolah setiap hari kan?” tanya Aurel memelas.
Bilqis pun dapat melihat ekspresi itu.
“Aurel, kan ada Nanny dan Anton yang menjemput dan mengantarmu. Mommy juga akan mengantar dan menjemputmu di sekolah atau di tempat les, tapi tidak setiap hari.” Alex menjawab pertanyaan putrinya.
“Loh, kenapa?”
“Karena Mommy juga punya pekerjaan lain.”
“Pekerjaan di kantor Daddy?”
Alex mengangguk. Di samping Alex, Bilqis hanya menjadi pendekar percakapan antara ayah dan anak itu. Bilqis membiarkan Alex memegang perannya dan memberi penjelasan pada sang putri. Walau sebenarnya ia juga tidak keberatan untuk melakukan itu.
“Teman – temanku diantar dan dijemput oleh Ibunya. Aku ingin seperti itu, Dad,” rengek Aurel.
“Iya, sayang. Mommy nanti akan mengantar dan menjemputmu setiap hari,” ucap Bilqis yang langsung mendapat sahutan dari Alex. “No, tidak setiap hari.”
Alex memberhentikan mobilnya saat lampu merah jalan menyala. Ia pun menoleh ke belakang.
“Putri Daddy kan sangat pintar dan pengertian. Kasihan Mommy jika harus mengantar dan menjemputmu setiap hari. Belum lagi, Mommy harus memasak untuk kita, juga membantu Daddy di kantor. Kalau Mommy sakit, bagaimana? Aurel mau melihat Mommy sakit?”
Gadis kecil itu pun langsung menggeleng. “Tidak. Aurel tidak ingin melihat Mommy sakit. Aurel ingin Mommy selalu sehat supaya bisa main bersama Aurel.”
“Good. Jadi?” tanya Alex dengan mengangkat dahinya di depan Aurel.
“Baiklah, tidak perlu setiap hari.”
“Good.” Alex mengangkat telapak tangannya ke atas, mengajak Aurel untuk ber-tos ria.
__ADS_1
Bilqis yang mendengar penjelasan Alex, pembelaan Alex, membuatnya terharu. Ia pun tersenyum melihat kekompakan ayah dan anak itu. Alex mendidik Aurel dengan benar. Ia tidak melulu memberikan apa yang putrinya mau. Walau pada satu waktu, Alex pun melakukan itu. namun, di waktu yang lain, ia tegas untuk tidak memenuhi keinginan Aurel diiringi dengan alasan yang jelas.
Lima belas menit kemudian, Alex tiba di sekolah putrinya. Ia memberhentikan kendaraannya persis di depan lobby sekolah itu. Alex tidak turun dari mobil. Namun, Bilqis turun. Setelah mencium punggung tangan Alex, Aurel langsung keluar dari mobil bersamaan dengan Bilqis. Kemudian, Bilqis mengantarkan anak itu hingga depan gerbang dan mencium keningnya. Tak lupa, Aurel juga mencium punggung tangan Bilqis.
Alex menyaksikan, bagaimana Bilqis memberi kasih sayangnya dengan putrinya itu. Ia juga dapat melihat bahwa Bilqis menyayangi putrinya seperti anaknya sendiri.
“Daah.” Bilqis melambaikan tangan ke arah Aurel yang kian menjauh, namun tetap menoleh ke belakang untuk melambaikan tangan pada ibu sambungnya.
Setelah di rasa selesai dan Aurel masuk ke dalam kelas, Bilqis pun kembali jalan mendekati Alex dan masuk ke dalam mobil itu.
Di dalam sana, Alex hanya menatap wajah Bilqis, hingga wanita itu merasa canggung sendiri.
“Ayo jalan! Kenapa bengong?”
Alex tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Tidak apa.”
Lalu, ia memajukan tubuhnya untuk memasangkan seatbelt di dada Bilqis. Saat ingi mencium bibir itu, Bilqis sengaja menoleh ke arah lain dan Alex pun tersenyum.
Sebelum menjalankan mobil, Alex mengacak – acak rambut Bilqis.
“Terima kasih ya. Terima kasih karena sudah mau menjadi ibu sambung yang baik untuk Aurel.”
“Huft …” Bilqis meniup rambutnya yang kusut hingga rambut itu menutupi wajahnya akibat ulah tangan Alex tadi.
Alex tertawa. Ia melihat ekspresi Bilqis yang tidak senang. Ketika semua wanita menanti dirinya untuk memuji, tapi justru Bilqis serasa enggan untuk mendapat pujian darinya.
“Rambutku kusut, Mas.” Bilqis cemberut yang dijawab cuek oleh Alex dan langsung menekan pedal gas mobilnya.
“Mas.”
“Apa?” Alex menoleh sekilas sembari fokus menyetir.
“Tanggung jawab.”
“Ya, aku akan tanggung jawab kalau kmu hamil. Sekarang pun sudah tanggung jawab kan?”
“Mas, bukan itu,” ucap Bilqis kesal.
“Lalu, apa?”
“Rambutku.”
Alex tertawa menoleh lagi ke arah sang istri yang tampak berantakan.
__ADS_1
“Tidak apa. Aku suka kamu yang berantakan seperti ini. sama seperti saat di ranjang, rambutmu aut – autan ditambah suaramu yang .. ah, ih …”
“Diam.”
Bilqis memajukan tubuhnya dan langsung membungkam mulut Alex yang banyak bicara seperti perempuan.
Setibanya dikantor. Bilqis memilih berjalan pelan agar berada di belakang Alex. Namun, pria itu langsung menarik lengan Bilqis.
"Mengapa jalan di belakang? Ayo sini bersamaku!”
“Jangan, Mas! Nanti semua orang curiga.”
“Lebih baik curiga atau mereka tau status kita?” tantang Alex membuat Bilqis mengalah dan merengutkan bibir.
“Dasar pemaksa!”
Alex tersenyum melihat kepatuhan sekretaris sskaligus istrinya itu, walau selalu disertai dengan paksaan terlebih dahulu.
“Bilqis …” teriak Tina yang kebetulan tengah bersama Saskia.
Mereka masih berada di lobby. Alex sengaja turun di depan lobby dan mobilnya diambil alih menuju basement oleh petugasnya.
“Hai …” Bilqis membalas lambaian tangan kedua sahabatnya. Lalu, ia menoleh ke arah Alex. “Silahkan Sir naik lift lebih dulu.”
Alex kesal, ia menekan tombol di depan lift yang belum terlalu ramai itu. dari balik dinding lift, Bilqis menemui Tina dan Saskia.
“Loha ... guys …” tiba – tiba suara Mira pun terdengar.
“Hai, Mir.” Tina menyapa wanita beranak dua itu. kemudian keempat wanita ini saling menempelkan pipi.
“Tin, kamu udah beli tiket kan?” tanya Mira.
“Udah.” Tina mengangguk. lalu beralih menatap Bilqis.
Bilqis diam. Ia sudah tidak antusias lagi dengan taruhan itu. “Sepertinya aku ga jadi ikut deh. Tiketku dicancel aja.”
“Loh, kenapa? Padahal kamu udah menang taruhan loh. Kamu berhasil menaklukkan bos killer itu hingga sering terlihat jalan bersama.”
Saskia dan Mira mengangguk setuju dengan ucapan Tina.
“Ya, kamu juga udah ngasih bukti otentik berupa ciuman dan pelukan. Kamu berhak mendapatkan akomodasi dan tiket gratis Labuan Bajo dari kita.”
“Ekhem …” sontak keempat wanita itu berhenti bicara dan menoleh ke arah suara deheman itu.
__ADS_1
“Sir Alex.”