
Sesampainya di bandara dan turun dari mobil, Tina langsung mengambil kopernya yang lebih dulu dikeluarkan oleh sopir dari bagasi mobil. Sedangkan Jhon sedang menerima telepon dari Alex.
Tina langsung mengambil troli dan hendak mengangkat kopernya sendiri lalu meninggalkan Jhon yang masih berdiri di sana.
Namun saat tangannya hendak mengangkat koper, teralihkan oleh tangan Jhon. Sembari tetap menelepon ia mengangkat koper kekasihnya dan meletakkan di dalam troli yang Tina bawa. Setelah itu Tina pun langsung berlalu pergi.
“Tina,” panggil Jhon yang masih berdiri dan menerima telepon.
“Lex, sorry. Aku tutup teleponnya, oke! Aku dan Tina akan berangkat,” ucap Jhon di telepon pada Alex.
Setelah Alex mengucapkan iya, sambungan telepon itu pun terputus dan Alex kembali memasukkan benda pintar itu ke dalam saku.
“Tina.” Jhon memanggil sang kekasih sembari berlari menghampiri. “Tina, tunggu!”
Tapi sayang, Tina sudah berjalan jauh lebih dulu.
“Tina,” teriak Jhon lagi.
Namun, wanita itu tidak menghentikan langkahnya. Bahkan, Tina tidak menoleh saat Jhon berkali – kali memanggil, hingga pria itu dapat mengejar langkah itu dan akhirnya berjalan sejajar.
“Sini. Biar aku yang dorong.” Tiba- tiba tangan Jhon berada di gagang troli dorong yang besar itu.
“Sudah tidak apa, biar aku saja.” Tangan Tina pun masih berada di tempat yang sama. Ia masih bersikukuh untuk mendorong troli itu sendiri. Ia hanya ingin belajar untuk tidak bergantung pada Jhon lagi.
“Tina, biar aku yang dorong. Lagi pula isi troli ini masih sedikit.” Jhon kembali memaksa Tina untuk mengambil alih benda itu.
Tina pun menyerah. Ia menghentikan langkahnya dan melepaskan kedua tangannya dari sana. Lalu, Jhon mengangkat kopernya dan meletakkan di atas koper Tina. Koper mereka berada dalam troli yang sama, kemudian Jhon mendorongnya.
Tina terpaksa mengikuti Jhon dan mengikuti langkahnya. Mereka berjalan beriringan hingga masuk ke dalam bandara. Lalu menuju bagian pemeriksaan barang.
Jhon melirik Tina yang berjalan dengan pandangan lurus ke depan. “Masih marah padaku?’
Tina pun ikut melirik ke arah Jhon. “Marah untuk apa?”
Jhon mengangkat bahunya dan menggeleng. “Entahlah.”
Jhon memang tidak pernah merasa ada masalah dalam hubungan mereka. Ia sudah meyakinkan Tina bahwa hanya ada waita itu satu – satunya di hatinya. Ia juga meyakinkan Tina bahwa setelah fokusnya terhadap putrinya selesai, maka ia akan menikahi Tina. Tapi, wanita tidak bisa berpikir mudah seperti yang dipikirkan Jhon. Banyak ketakutan dan kekhawatiran di benak Tina.
Tina tersenyum tipis. “Kalau begitu lupakan.”
Sesuatu yang tidak berjalan dengan semestinya, tidak pernah Jhon anggap sebagai masalah. Berbeda dengan Tina, sesuatu yang tidak berjalan dengan semestinya itu adalah maalah. Baginya, Jhon adalah pria yang tidak peka. Padahal sepertinya memang jiwa seorang pria yang dapat membelah masalah dengan porsinya.
Seperti masalah mereka saat ini. padahal beurlang kali, Jhon berjanji akan menikahinya, tapi Tina masih belum puas dengan janji itu.
“Kalau tidak marah, mengapa masih mendiamiku?” tanya Jhon saat keduanya sudah duduk di dalam kursi pesawat.
“Aku lagi malas bicara,” jawab Tina.
“Excuse me.” Tiba – tiba seorang pramugari datang dengan membawakan makanan untuk Jhon dan Tina. “Enjoy your breakfast.”
“Thank you,” jawab Jhon dan Tina bersamaan.
Jhon dan Tina terbang ke Singapore menggunakan maskapai singapore airlines kelas bisnis dengan penerbangan pukul delapan pagi. Tina sudah tidak sabar ingin menjenguk keponakannya, sedangkan Jhon selain memiliki tujuan yang sama dengan Tina, ia pun ingin menjenguk putrinya yang drop dan kembali masuk rumah sakit beberapa hari lalu.
“Kamu juga malas makan?” tanya Jhon dengan melirik tempat makan Tina yang belum di sentuh.
Wanita itu masih senang menikmati pemandangan diluar jendela yang menyuguhkan langit cerah dengan warna biru dan putih.
“Kalau tidak dimakan, lebih baik aku yang makan saja,” ucap Jhon lagi sembari menarik tempat makan yang ada di depan Tina.
__ADS_1
Tina pun bereaksi. Ia menahan tempat makan itu. “Aku sedang malas bicara padamu, tapi tidak malas makan.”
Jhon pun tersenyum.
Tina memang wanita yang membuat hari – harinya selalu tersenyum dan tertawa. Tingkah polos dan bar – barnya yang sedikit mirip dengan Bilqis, membuat dirinya terpesona. Keempat sekretaris itu memang memiliki karakter yang tak jauh berbeda. Oleh sebab itu, daya pikat mereka mampu memikat para bosnya, kecuali Mira.
“Apa senyum – senyum?” Tina melirik dengan memasang wajah galak.
Jhon semakin tersenyum lebar. “Kamu cantik.”
“Gombal.” Tina mencibir dan mengerucutkan bibir.
“Sungguh, tidak wanita yang lebih cantik darimu. Bahkan ibunya Michelle sekali pun.” Jhon masih terus menggombal.
“Kau tahu ini apa?” tanya Tina dengan menunjuk cabai pada sisi tempat makannya yang sudah terbuka.
“Cabai,” jawab jhon mengernyit.
“Ya, kalau kamu masih menggombal. Maka cabai ini akan ada mulutmu,” kata Tina kesal.
Jhon menatap wajah Tina yang kesal dengan sangat dekat.
“Mengapa tidak mulutmu saja yang ada dimulutku?”
Cup
Jhon langsug mencium bibir itu dan melepaskan dalam durasi singkat.
“Jhon,” pekik Tina yang semakin kesal.
“Yes, Miss. Can I help you?” seorang pramugari langsung menghampiri kursi Tina saat mendengar pekikan dari arah sana.
“No, Miss. Thank you.” Jhon pun ikut membantu meluruskan, hingga pramugari itu pun pergi.
“Kamu menyebalkan.” Tina langsung mencubit lengan Jhon.
“Ah.” Jhon pun memekik pelan. “Sakit, Sayang.”
“Syukurin.”
Tina memalingkan wajah dan tersenyum dari balik kaca jendela pesawat yang terbuka dan menikmati lagi pemandangan indah di sana.
****
“Bilqis.”
“Tina.”
Tina berlari menghampiri sahabatnya dan berpelukan.
“Hm. Selamat ya, Sayang. Akhirnya, kamu jadi Ibu.”
“Terima kasih, Sayang. Semoga kamu pun cepat menyusul.”
Keduanya saling mendoakan dalam pelukan, hingga beberapa saat akhirnya pelukan itu pun terlerai.
“Aamiin. semoga Aku juga cepet jadi Ibu.” Tina melirik Jhon.
Alex yang baru saja berpelukan dengan Jhon pun ikut melirik teman bermain sekaligus teman kerjanya saat ini.
__ADS_1
“Come on, Jhon! Mau tunggu apa lagi. sepertinya Tina sudah sangat siap,” ledek Alex.
“Ya, aku pun siap. Dari dulu aku juga sudah siap menjadi ayah.”
“Tapi, tidak siap menjadi suami,” sahut Tina.
“Siap, Sayang. siapa bilang tidak siap.” Jhon masih saja mengelak, padahal hingga saat ini pria itu belum menemui keluarga Tina.
Tina pun mencibir. Bibirnya mengerucut. Sedangkan di sana, Alex dan Bilqis hanya tersenyum.
“Kalau begitu, kami tinggal menunggu undangan saja. bukan begitu, Mas?” Bilqis melirik suaminya yang mengangguk. “Betul.”
“Betul, betul, betul,” sahut Jhon membuat Alex tertawa. Pasalnya Alex tidak menyukai kartun dua anak kembar itu. tapi ternyata ia dihadapkan dengan kenyataan yang memiliki dua anak kembar laki – laki.
“Hahahaah … aku kena tulah, Jhon. Anakku kembar laki – laki seperti upin ipin.”
Jhon tertawa. “Hahahaha … Kamu selalu kesal melihat animasi itu karena kita tidak berhasil membelinya.”
Alex mengangguk. “Ya, saat itu kita tidak memiliki dana besar.”
Jhon tertawa sembari merangkul sahabatnya dan Alex pun tersenyum. Mereka teringat bagaimana jatuh bangun membangun perusahaan yang akhirnya terjun ke sebuah bisnis berbasis secure system.
“Mereka klop banget ya, Qis,” ucap Tina dengan melirik dua pria yang sedang bercengkerama di sofa.
“Ya.” Bilqis mengangguk.
Tina menggendong Arash sementari Aariz masih tertidur di boxnya.
“Aku yakin Jhon sangat mencintaimu, Tin. Beri dia waktu sedikit lagi.”
“Aku sudah banyak memberinya waktu, Qis.”
Tina berdiri di samping tempat tidur pasien yang diisi oleh Bilqis. Keduanya berbincang dengan suara pelan yang sudah pasti tidak terdengar oleh kedua pria yang duduk di sofa sana.
“Tapi kalian sudah tidak, hm … begini kan?” tanya Bilqis dengan menautkan kedua ujung ibu jarinya.
Tina tertawa. “Bercinta maksudmu?”
“Iya.” Bilqis mengangguk. “Kamu sudah bisa menghindar 'kan?”
Tina juga mengangguk. “Bisa. Sudah satu bulan ini aku berusaha menghindar jika dia ingin.”
“Bagus.”
“Tapi, bagaimana jika dia melakukannya dengan Grace, Qis? Bukan kah setiap laki – laki yang sudah pernah bercinta akan memproduksi setiap dua hari sekali?”
Bilqis tertawa. “Kamu terlalu serius saat pelajaran biologi, Tin.”
“Yang aku tahu begitu dan bagi pria memang hal itu adalah sebuah kebutuhan, bukan?”
“Ya, tapi kurasa, jhon bukan pria seperti itu. Dia pasti menahan hasratnya mati – matian selama kamu tidak mau.”
Tina tertawa. “Benarkah?”
Bilqis kembali mengangguk. “Mereka sebelas dua belas, Tin.” Bilqis melirik ke arah suami dan sahabatnya.
Tina piun mengikuti arah mata itu sekilas, tapi sayang sekilas arah matanya ternyata tertangkap oleh Jhon.
“Biarin aja. Syukurin,” sungut Tina.
__ADS_1
“Hei, kalian sedang membiacarakanku?” tiba – tiba pria yang sedang menjadi objek pembicaraan itu pun mendekat.