
“Dit, Mba mu ke mana?” tanya Laila pada putranya. Sedari tadi ia belum melihat Bilqis.
“Mba qis keluar sama Mas Alex. Katanya sebentar, tapi udah satu jam lebih belum pulang – pulang,” jawab Radit kesal. Pasalnya ia harus ketumpuan Aurel yang saat ini sedang tidur dalam pangkuannya.
“Ya, ampun. Cucu Ibu sampe ketiduran begni,” sahut Laila dengan mengelus wajah Aurel yang terlelpas di dada Radit.
“Tau nih, orang tuanya ke mana. Ga tanggung jawab banget,” kesal Radit pada Bilqis dan Alex yang menghilang sudah sangat lama.
“Ada apa?” tanya Darwis dengan menghampiri Laila dan Radit.
“Ga ada apa – apa,” jawab Laila pada suaminya. “Aku cuma nanyain Bilqis sama Nak Alex ke mana, karena dari tadi aku tidak lihat mereka.”
“Aku lihat mereka keluar,” ucap Darwis. “Memang mereka belum pulang?”
Radit menggeleng. “Belum. Katanya sih mau ke mini market sebentar. Tapi sampai sekarang belum pulang.”
Tiba – tiba Darwis tertawa. Ia tahu betul kelakuan Alex. Apalagi beberapa kali ia juga melihat bagian celana Alex yang mengembang.
“Mungkin mereka mampir ke suatu tempat,” ungkapnya lagi.
“Ke mana?” tanya Laila dan Radit bersamaan.
Darwis pun hanya mengangkat bahunya sembari menatap Laila dan Radit bergantian. “Tidak tahu,” ucapnya bohong atau khawatir salah.
Laila dan Radit menarik nafasnya lemah.
“Aku kira, Mas tahu mereka di mana,” sahut Laila.
“Sudah lah. Mereka sudah besar. Nanti juga pulang,” jawab Darwis.
“Ya, masalahnya mereka meninggalkan anaknya sama Radit. Radit jadi ketumpuan ini.”
Darwis tertawa. “Hitung – hitung latihan jadi Bapak, Dit.”
Maya yang baru saja selesai membantu Nia di dapur, langusng berlari ke arah Radit, Laila, dan Dariws. Akhirnya, acara selesai. Saat ini sudah tidak ada lagi tamu yang datang. Hanya tersisa sebagian sanak saudara saja. itu pun mereka akan pamit.
“Maaf, saya tadi bantu Nia di belakang. Non Aurel tidur ya,” ujar Maya yang mendekati Radit untuk meraih Aurel dan menggendongnya.
“Nah, kalian sudah seperti ayah dan ibu Aurel kan,” ledek Darwis pada Radit dan Maya.
Sontak, Radit menoleh ke arah Maya yang secara spontan pun menatap Radit.
“Apaan sih, Om?” tanya Radit malu.
Jika dilihat – lihat, Maya memang cantik. Usianya juga masih sangat terbilang muda. Maya baru berusia delapan belas tahun. Belum lama ini, Maya baru menyelesaikan sekolah Menengah Atas lewat kejar paket C yang diberikan Alex, karena bagi alex pendidikan itu penting, karena dengan bersekolah seseorang bukan hanya mendapatan ijazah tapi ilmu yang akan membentuk kepribadian dan cara berkomunikasi yang baik. Terlebih, Maya adalah pendamping putrinya, yang secara tidak langsung ikut andil dalam mendidik Aurel, sehingga hal itu pun penting untuk Alex.
__ADS_1
Kala itu di sebuah klub malam, Alex menemukan Maya yang hendak diperlakukan tidak senonoh oleh salah satu pengunjung klub itu. Di sana, Maya adalah seorang pelayan yang lulusan SMP dan tidak memiliki keluarga. Ia mengatakan dirinya dibuang. Alex tidak banyak bertanya tentang keluarga Maya. Ia pun menjadikan Maya sebagai pengasuh Aurel, yang saat ini baru mulai membawa sang putri menetap di negara ini. Sekarang, sudah genap tiga tahun Maya menjadi pengasuh Aurel dan bekerja dengan Alex di rumah itu.
Darwis tertawa melihat ekspresi wajah Radit. Laila pun sama. Baru kali ini, ia melihat putranya malu. Kemudian, mengajak sang istri meninggalkan Radit berdua dengan Maya.
“Sini, Mas. Biar Aurel sama saya aja.”
Baru kali ini, Radit dipanggil Mas oleh seorang wanita. kalau pun Radit pernah dekat dengan wanita, biasanya ia dekat dengan wanita seusianya dan selalu memanggilnya dengan nama saja tanpa embel – embel sebuat Mas di depannya. Radit pernah dekat dengan sepupunya, yaitu anak pertama dari adik perempuan Laila. Ia juga pernah berpacaran dengan teman sekelas saat SMA hingga kuliah dan berakhir wanita itu dinikahkan oleh ornag tuanya. Kedua wanita itu memiliki usia yang tidak jauh berbeda dengan Radit.
“Biar aku yang gendong. Aurel lumayan berat,” ucap Radit yang kini berdiri dan hendak membawa kepnakannya ke kamar.
“Aku taro Aurel di kamar Mba Qis aja ya,” kata Radit lagi yang diangguki Maya.
Maya mengikuti langkah Radit. Sesampianya di depan pintu kamar Bilqis ternyata pintu itu terkunci. Bilqis memang mengunci pintu kamarnya dari luar saat ia hendak menemani suaminya pergi. Mengingat banyak barang – barang penting di dalam kamar itu dan banyak orang lalu lalang di rumahnya, membuat Bilqis yang terbiasa hati – hati dan waspada itu kemudian mengunci pintu kamarnya.
"Yah, kebiasaan nih Mba Qis. kamarnya suka dikunci terus," gumam Radit yang didengar Maya. Lalu, Radit menoleh ke arah Maya. “Kalau begitu di kamar aku aja ya.”
“Hm. Emangnya ga apa – apa?” tanya Maya ragu.
“Ya, ga apa. emang kenapa?” tanya Radit cuek. “Di sini kamar cuma ada tiga, kalau kamar Mba Qisdikunci, ya mau ga mauke kamar aku. Memang kamu mau nemenin Aurel tidur di kamar Ibu? Kamar pengantin.”
“Ya, enggak lah.” Maya tertawa dan Radit baru melihat senyum mengembang dari bibir Maya yang terlihat manis.
“Lumayan juga,” batin Radit saat menatap wajah ayu Maya yang sedang tersenyum lebar.
“Dit, gue pulang ya,” ucap wanita yang tiba – tiba menghampiri Radit. Wanita itu sepupunya, anak dari adik perempuan Laila yang dekat dengan Radit sedari kecil. Bahkan mereka sering menjadi bahan ledekan karena terlalu dekat dan akrab.
“Lah, balik? Katanya nginep?” tanya Radit pada sepupunya.
Maya hanya menjadi penonton dan berdiri di sana mendengarkan interaski Radit dengan yang Maya tahu adalah sepupunya.
“Ngga. Ternyata Mama ngajak balik. Jadi ngikut semua aja di mobil Papa.”
Rencananya adik perempuan Laila yang biasa radit panggil Bibi itu, akan menginap satu malam lagi dan membiarkan suami serta dua anak laki – laki yang merupakan adik Winda itu pulang duluan. Tapi ternyata malam ini semua sudah selesai dan Bibi Radit sepertinya tidak perlu menginap lagi karena usai acara, rumah Laila tampak sudah rapi kembali.
“Oh, ya udah.” Radit mengangguk dan tidak menahan Winda.
Winda yang memang memilik rasa pada Radit sejak kecil pun, enggan untuk meninggalkan rumah ini. sejujurnya ia ingin menginap dan bercengkerama lebih lama dengan sepupunya itu.
“Oke, bye. Dit.” Winda yang ingin Radit menahan kepergiannya itu pun terpaksa pergi karena Radit tidak menahannya.
“Bye, Win. Hati – hati!” ujar Radit membalas lambaian tangan itu.
Winda pun pergi dan kembali menoleh ke arah Radit yang tidak menolehnya karena pria itu sudah kembali berjalan menuju kamarnya. Sementara, Maya melihat Winda yang menoleh lagi ke arah mereka.
“Mas, kayanya Mba Winda minta dianter Mas Radit pulang, deh.” Tiba – tiba Maya bersuara.
__ADS_1
Radit menoleh dan merebahkan tubuh mungil keponakannya di atas ranjang miliknya. “Radit mengernyitkan dahi.
“Mba Winda itu, kayanya suka sama Mas Radit.” Maya berceletuk lagi.
Radit yang barus aja menyelimuti tubuh keponakannya itu pun menatap ke arah pengasuh keponakannya itu. “Sok tahu. Anak kecil tau – tauan suka – sukaan. Sekolah dulu yang bener.”
Radit tau berapa usia Maya dan ia tersenyum pada gadis itu. Gadis berwajah cantik dan imut.
“Dah ya, aku tinggal keluar. Jagain Aurel di sini,” ucap lagi yang hendak meninggalkan Maya dikamarnya.
“Saya ga apa – apa di sini?” tanya Maya malu berada di kamar laki – laki.
“Ya, ga apa – apa. sorry kamarnya berantakan. Maklum laki – laki,” kata Radit santai.
Kemudian, Radit bangkit dan hendak keluar dari kamar ini. “Ditinggal ya. Kalau ada suara – suara aneh cuekin aja. Soalnya penghuni kamar aku suka ganggu kalo sama cewek cantik,” ledek Radit membuat Maya tersipu malu.
Radit pun tersenyum jahil. Tiba – tiba ia senang meledek Maya dan membuat wajah itu memerah.
Maya melihat Radit pergi. Bibir Maya tersenyum mendapati punggung Radit menghilang dari balik pintu yang kembali pria itu tutup saat keluar. Tiba -tiba detak jantungnya berdenyut tak karuan.
Di mobil, bibir Bilqis terus cemberut. Ia kesal karena sudah hampir tengah malam, Alex baru mengajaknya pulang. Alih – alih akan melakukan cepat, nyatanya sang suami malah meminta dua kali.
“Sayang, jangan cemebrut gitu dong!” ujar Alex lirih sembari mengemudi.
“Kamu ga liat kondisi sih. Orang rumah pasti nyariin kita. Terus Aurel, pasti nangis karena kamu dan aku ga ada.” Bilqis terus memarahi suaminya.
“Ngga, Sayang. Aurel ga akan nangis. Kan ada Pamannya, ada Maya, ada nenek dan kakeknya juga.”
“Ya, tapi kan Ibu lagi sibuk. Masa penganten di suruh gendong cucu. Kamu tuh ya, nyebelin banget.” Bilqis masih kesal.
“Ya, kamu juga yang bilang jangan berhenti! Jadi aku ga berhenti.”
“Siapa? Emang aku bilang begitu?” tanya Bilqis tidak merasa mengatakan itu saat bercinta tadi.
“Dih, dia lupa. Mata kamu tuh sampe sayu – sayu gitu. Keenakan kan?” Alex meledek, membuat Bilqis malu.
Bugh
Bilqis langsung meninju lengan kekar yang sedang menyetir itu bertubi – tubi. “Nyebelin … nyebelin … nyebelin.”
Sontak, Alex terkikik geli dan meraih kepala Bilqis lalu mencium kening itu sembari memeluknya dengan satu tangan, sementara satu tangannya lagi tetap berada di kemudi setir.
“Aku cinta banget sama kamu,” ucap Alex yang kembali mencium kening Bilqis dan menoleh sekilas ke wajah itu sembari tetap fokus menyetir kendaraan dengan kecepatan rendah.
“Aku juga,” balas Bilqis yang juga tersenyum ke wajah suaminya dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Alex.
__ADS_1