Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Hukuman Alex


__ADS_3

“Mommy,” teriak Aurel dari arah pintu utama.


Anak kecil itu masih memakai seragam sekolah lengkap dengan dasi dan jas kotak – kotak tanpa lengan sebagai balutan luar dari kemeja putih yang dipakai. Aurel langsung berlari menuju kamar Alex untuk menemui sang ibu yang menurut informasi dari pengasuhnya mengatakan bahwa sang ibu sambung tengah sakit hingga tidak bisa menjemputnya.


“Ups.” Alex langsung menangkap sang putri yang berlari kencang menuju kamarnya.


“Daddy, Aurel ingin ketemu Mommy. kata Nanny, Mommy sakit.” Aurel menatap mata sang ayah yang berjongkok untuk menyeimbangkan posisi tubuhnya.


“Ya, Mommy lagi sakit. jadi, Aurel jangan ganggu Mommy dulu ya! Biar Mommy istirahat.”


Aurel menggeleng dan merengek. “Tidak mau. Aurel mau ketemu Mommy.”


“Hei, Aurel kan anak Daddy yang pengertian. Yang baik dan selalu nurut. Bukan begitu?” Alex mencoba membujuk putrinya dengan lembut.


Aurel pun mengangguk.


“Pintar.” Alex mengusap rambut sang putri dan membenarkannya kunciran itu. “Jadi, sekarang Aurel sama Nanny dulu ya. Jangan ganggu Mommy! Oke.”


Bibir Aurel mengerucut. Sebenarnya ia tidak ingin menurut, tapi ia juga tidak pernah bisa membantah perkataan sang ayah.


“Aurel.” Tiba -tiba suara Bilqis terdengar dari balik punggung Alex yang berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan sang putri.


Sontak, Aurel menoleh ke arah Bilqis dan Alex pun bangkit lalu menoleh ke belakang.


“Loh, kok kamu bangun? Katanya pusing,” ucap Alex pada Bilqis yang cuek dan masih bersikap dingin.


“Sini, Sayang!” Bilqis justru mengajak Aurel untuk mendekat.


“Sayang, kamu kan sedang sakit. Biarkan Aurel dengan Maya. Kamu istirahat saja di kamar,” kata Alex menyela dan tetap diabaikan Bilqis.


“Mommy istirahat saja. Aurel tidak mau ganggu Mommy,” ucap anak kecil itu dengan nada lucu.


Seketika senyum di bibir Biliqs terulas tipis. Walau tipis, tapi cukup untuk membuat hati Alex lega melihatnya. Paling tidak Bilqis tak lagi muram.


“Kalau sama Aurel, Mommy tidak merasa terganggu,” ucap Bilqis sembari memeluk tubuh mungil itu, lalu beralih memandang Alex. “Kalau sama Daddy, Mommy baru merasa terganggu.”


“Memang apa yang Daddy lakukan ke Mommy? Apa Daddy nakal?” tanya Aurel lucu.


Bilqis mengangguk. “Ya, Daddy nakal.”

__ADS_1


“Daddy suka mencubit Mommy?” tanya Aurel yang sedikit membuat Bilqis kembali tersenyum.


Lalu Bilqis menatap lagi ke arah Alex setelah sebelumnya mengarahkan matanya pada Aurel yang sedari tadi berceloteh. “Ya, Daddy udah cubit hati Mommy.”


“Di sini?” tanya Aurel polos dengan memegang dadanya, karena yang ia tahu hati itu berada di dada.


Bilqis pun mengangguk.


“Daddy.” Aurel menoleh ke arah sang ayah sembari membulatkan mata dan bertolak pinggng. “Dicubit itu sakit.”


Alex hanya menganga melihat putrinya yang mulai galak terhadapnya. Padahal sikap ini tidak pernah dilakukan Aurel sebelumnya.


“Aku akan membalaskan sakit Mommy.” Aurel langsung mendekati sang ayah dan mencubit dada bidang itu.


“Aww … sakit Aurel,” ringis Alex dengan memegang dadanya.


“Sakit kan? Jadi mulai sekarang, Daddy ga boleh sakitin Mommy lagi. mengerti!”


Alex mengangguk. “Ya, mengerti.”


Bilqis tersenyum dan kembali merangkul sang putri yang sudah kembali mendekat.


“Loh, kok begitu?” tanya Alex terkejut.


“Ya, Daddy kan selalu bilang kalau selalu ada hukuman dari setiap kesalahan dan hukuman untuk Daddy, tidur di kamarku dan aku tidur di kamar Daddy untuk menemani Mommy. Deal!”


Bilqis tersenyum. kali ini, senyumnya cukup lebar. Gaya Aurel tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Dan, itu membuat anak itu menjadi semakin lucu menurutnya.


“Oke, deal! Hanya satu malam kan,” ujar Alex menerima uluran tangan sang putri yang baru berusia enam tahun itu.


“No.” Jari telunjuk Aurel bergoyang. “Bukan satu malam, tapi tiga malam.”


“What? Aurel …” panggil Alex geram pada putrinya yang mulai sok dewasa.


Bilqis tersenyum. namun saat Alex menatapnya, ia kembali memasang wajah ketus. Aurel pun mengajak sang ibu untuk masuk kembali ke kamar. Dan, Alex mengekori mereka.


“Eit, Daddy mau ke mana?” Aurel menahan gerakan sang ayah yang hendak ikut memasuki kamar.


“Daddy mau ikut ke dalam mengantarkan sup buatan Daddy untuk Mommy. Mommy mu belum makan dari tadi.”

__ADS_1


“No. No.” Aurel kembali menggoyangkan jari telunjuknya. “Pengantaran makanan cukup sampai di sini. Nanti, biar Aurel yang suapi Mommy. Aurel juga yang akan membawakan makanan untuk Mommy nanti.”


Alex semakin geram. Entah dari mana datangnya sikap sang putri ini. padahal sebelumnya Aurel begitu manis, tiba – tiba sekarang menjadi pengatur dan pemaksa.


“Ta … pi …”


Bruk


Aurel menutup kembali pintu kamar itu sebelum sang ayah selesai bicara, bahkan melangkah melewati pintu itu. Tak lama kemudian, pintu kamar itu kembali terbuka. Namun yang terlihat hanya tubuh mungil itu.


“Nanny, bawakan baju ganti untukku! Yang banyak karena tiga hari aku akan menempati kamar ini.”


Alex berdiri sembari melipat kedua tangannya di dada. Kakinya sedikit bergoyang sembari melihat kelakuan semena – mena sang putri terhadapnya.


Setelah memberi perintah pada Maya, Aurel kembali hendak menutup pintu itu. Namun, sebelum menutup pintu itu sempurna, Aurel menoleh ke arah sang ayah dan melambaikan tangan.


“Daah, Daddy.”


“Si*l,” umpat Alex setelah pintu itu tertutup.


Sementara di sana, Maya dan Nia terkikik geli melihat Alex yang kalah oleh anak kecil.


“Apa yang kalian lihat?” tanya Alex ketus pada Maya dan Nia. “Kembali bekerja!”


Alex langsung melepas apron dan melemparnya asal, lalu menggulung lagi lengan kemejanya hingga siku dan menaiki tangga untuk beralih ke ruang kerja. Alex berjalan sembari memijat keningnya. Rasanya kepalanya ikut pusing. Belum selesai urusannya dengan sang istri dan menjelaskan tentang Bilqis, Tasya, dan Ridho. Malah ia harus dihadapkan dengan sikap putrinya yang menjengkelkan.


Di sana, Maya dan Nia masih terkikik. Ditambah, Maya baru saja mendapatkan informasi tentang pertengkaran yang terjadi antara majikan dan nyonya barunya, karena saat pertengakaran berlangsung, Nia yang berada di luar kamar, cukup mendengar pertengkaran itu dan memang sengaja memasang telinga untuk mendengarkan apa yang terjadi saat itu.


Sesampainya di ruang kerja, Alex langsung mendudukkan kursi kebesarannya dengan kasar. “Ah, rasanya kepalaku mau meledak.”


Alex menyandarkan kepalanya pada punggung kursi itu. ia kembali memijat keningnya. Dan, ia kembali mengingat apa yang ia katakan tadi pada Bilqis saat mereka berdebat.


“Salah kah aku mengatakan itu padanya?” tanya Alex pada dirinya sendiri. “Seharusnya aku tidak bilang masih mencintai Tasya di depan Bilqis. Ah, bod*h!”


Alex memang berniat ingin berkata jujur pada Bilqis tentang apa yang ia rasakan, tapi rasanya Alex terlampau jujur. Seharusnya ia bisa menjaga hati Bilqis. Kalau pun ia tetap mencintai mendiang sang istri, cukup hanya dirinya dan Tuhan saja yang tahu. Hidup terus berjalan, apalagi saat ini ia juga sudah mendapatkan pengganti dari istrinya yang telah tiada. Cukup cinta dan kenangan itu hanya ada di hati dan memorinya saja tanpa harus diperlihatkan apalagi diucapkan dan membuat Bilqis sakit hati.


“Ck. Alex bod*h.” Pria itu memarahi dirinya sendiri sembari mengusap wajahnya kasar.


Ia tidak bisa membayangkan tidak tidur bersama Bilqis selama tiga hari. Ia tidak bisa bayangkan tidak memeluk tubuh itu saat tidur dan harus tidur di ruangan yang dipenuhi oleh princess bergambar sofia.

__ADS_1


“Ah, si*l.” Alex kembali menggerutu dan membayangkan kemungkinan ia tidak akan bisa menemui sang istri karena sabotase sang putri.


__ADS_2