Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Bonchap 6 - kecil kecil jadi manten


__ADS_3

Alex keluar dari kamar, kakinya langsung melangkah menuju dapur sembil mengancing lengan kemeja panjangnya. Ia tersenyum saat seorang wanita berperut gendut itu sedang berdiri di depan kitchen set dan menata makanan yang akan Nia bawa ke meja makan.


Jatah Alex dan keluarganya berada di Jakarta tinggal satu minggu lagi. Rencananya, minggu depan ia akan memboyong keluarga kecilnya kembali ke rumah utama miliknya yang ada di Singapura.


Laila juga masih berada di sini. Setelah memperingati tujuh bulanan kemarin bersama sang putri, ia masih tetap tinggal di rumah lamanya yang hanya ditinggali oleh sang putra. Kebetulan, Darwis juga ada urusan di sini beberapa hari dan Laila meminta pada suaminya untuk pulang bersama dengan Bilqis beserta keluarga. Darwis pun menyetujui itu.


Grep


Alex memeluk istrinya dari belakang.


Sontak, Bilqis protes. “Mas, pagi – pagi tangan kamu udah ke mana – mana aja.”


Pasalnya Alex bukan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Bilqis, melainka di dadanya.


“Kedua tanganku sudah tidak bisa melingkar di perutmu, Sayang. Jadi sekarang melingkarnya di dadamu saja,” sahut Alex dengan tak pernah merasa berdosa.


Bilqis pun langsung menurunkan kedua tangan itu, karena kedua tangan itu bukan hanya melingkar saja, tapi sedikit menekan pada dua benda kenyal yang seperti squishy.


“Pelit banget, sih.” Alex protes karena kedua tangannya ditampik oleh Bilqis.


“Mas, sana! Duduk di meja makan.” Bilqis menunjuk pada sebuah meja dan kursi.


Untung saja, Aurel belum keluar dari kamarnya. Anak kecil yang semakin hari semakin kritis itu tidak melihat kelakuan ayahnya di dapur.


Alex menggeleng. “Ngga mau, Mas mau di sini, menemanimu membuatkan sarapan.”


Bilqis menoleh ke arah suaminya. “Nemenin doang? Ada juga bantuin.”


“Ya, aku bantuin gangguin yang masaknya aja.” Lagi – lagi, Alex meluncurkan bibirnya untuk menyerang wajah dan leher bilqis.


“Mas,” rengek Bilqis semari tertawa. Antara suka dan tidak suka diperlakukan seperti itu, mengingat ia sedang memasak.


Alex mengecup leher itu berulang. Pasalnya meski Bilqis merengek meminta dilepaskan, nyatanya ia justru mendongakkan kepalanya untuk memberi akses sang suami mencumbui leher itu.


Ciuman Alex beralih ke pipi dan bibir Bilqis. Namun, saat sampai di bibir, Bilqis pn menghindar.


“Mas, aku lagi flu. Nanti kamu ketularan,” cegah Bilqis, karena sejak semalam ia memang sudah merasakan gejala itu.


“Biarin. Supaya kamu ga negrasain sakit sendirian.”


Bilqis membalikkan tubuhnya dan menatap lurus ke wajah sang suami. “Kalau aku yang sakit, aktifitas akan berjalan normal. Tapi kalau kamu yang sakit, aktifitas akan terhenti.”


“Kok gitu?” Alex mengernyitkan dahi.


“Ya, iya. Soalnya kalau kamu yang sakit, pasti udah kaya bayi yang ga mau ditinggal dan aku ga bisa ngapa – ngapain.”


Sontak, Alex pun tersenyum dan menoel ujung pinggang Bilqis, membuat wanita itu terkejut seperti terkena aliran listrik. Bagian pinggang adalah salah satu bagian sensitif Bilqis. Jika disentuh sedikit, ia akan merasa kegelian dan berteriak tertawa.


“Aaa … Mas. Tangannya diem!”


Alex tertawa dan mengulang kembali, jarinya mengelitiki pinggang itu. “Masa baru dipegang begini aja, geli sih.”


“Mas,” rengek Bilqis karena lagi – lagi tubuhnya terhentak.

__ADS_1


Alex tertawa. “Tubuhmu bergerak semua, Sayang.”


Bilqis yang tak mau kalah, memegang kuat jerry kebanggan Alex. Hingga yang punya pun berteriak. “Aaa … “


Bilqis tertawa. “Rasain.”


“Awas ya, tunggu pembalasanku.” Alex berusaha mengejar. Namun sang istri sudah berlindung di belakang tubuh mungil Aurel yang kebetulan sudah terlihat mendekati.


“Daddy,” tegur Aurel pada sang ayah. “Daddy apaain Mommy?”


Alex menggeleng. “Tidak ada. Daddy justru sedang mengajak Mommy untuk duduk di meja makan.”


Alex mendekai sang istri dan mengandengnya dengan senyum menyeringai. “Ayo, Mommy!”


Bilqis langsung memonyongkan bibir membuat Alex tertawa gemas.


Alex merasa beruntung. Walau kelakuan istrinya terkadang absurd, tapi hal itu justru yang membuat rumah besar ini terasa ramai. Kehadiran Bilqis seperti membawa puluhan orang di rumah ini. dan Alex menyukai itu. Rencananya ia juga menginginkan anak yang banyak, sehingga setiap harinya ia direpotkan oleh anak dan istri. Sungguh, hal itu adalah sesuatu yang menyenangkan baginya. Ia merasa hidupnya penuh arti karena menjadi tempat bergantung orang – orang yang dicintai.


****


Tok Tok Tok


“Masuk.”


Alex duduk di singgasana kursi kerjanya. Ia masih datang ke kantor untuk beberapa kali lagi, sebelum ia benar – benar melepaskan kantor ini pada Jhon dan hanya akan datang untuk memantunya satu kali dalam dua bulan atau tiga bulan.


Seorang pria membuka ruangan Alex. Alex pun menoleh ke arah pintu yang terbuka.


“Hai, Dit. Ada apa?” tanyanya saat melihat adik iparnya datang.


Alex berdiri untuk menyambut kedatangan Radit. Mereka pun saling berpelukan.


“Mas, aku ganggu ga?” tanya Radit.


“Ngga lah. Ada apa memang? Sepertinya ada hal serius yang ingin kau bicarakan.”


Alex mengajak Radit untuk duduk di sofa. Ia juga membuka lemari es kecil yang ada di sana dan memberikan soft drink pada Radit.


“Makasih, Mas.” Radit menerima minuman itu. ia melihat Alex duduk di depannya dengan melipat kedua kaki. Memang seperti itu cara duduk kakak iparnya. Elegan. Namun, Radit tidak bisa mengikuti.


“Ada yang bisa Mas bantu?” tanya Alex.


“Eh, kok mas tahu sih, kalau aku ingin meminta bantuan?” Radit balik bertanya dan Alex hanya tertawa.


“Ya sudah, katakan! Apa?’


“Hm …” Radit berkata ragu, pasalnya kini ia masih berusia dua puluh empat tahun. “Mas, radit pengen nikah.”


“Good! Bagus kalau begitu. Kapan dan siapa wanita beruntung itu?”


Radit menunduk malu. Dan sedetik kemudian mengangkat wajahnya, lalu nyengir. “Hehehe … Maya, mas.”


“What? Jadi benar?” sontak, Alex pun tersenyum lebar.

__ADS_1


Radit menganggukkan kepalanya.


“Kau memang gentle, Dit. Kau langsung melamarnya tanpa berpacaran lebih dulu?’


Radit menggeleng. “Ngga, Mas. Kalau pacaran dulu, Radit takut khilaf.”


Jawaban Radit, membuat Alex kembali tertawa. Kini, tawanya cukup keras.


“Mas, motor yang Mas kasih itu buat Radit kan?” tiba – tiba Radit bertanya, membuat Alex menghentikan tawanya.


Ayah dari Aurel dan istri dari kakak Radit itu mengangguk. “Tentu saja.”


“Jadi, motor itu boleh Radit apain aja kan? Kalau pun Radit jual buat modal nikah, boleh?”


Alex tersenyum dan mengangguk.


“Yes. Itu salah satu alasan Radit datang ke sini, Mas. Kedua, Radit minta tolong Mas Alex buat temenin radit ketemu orang tuanya Maya. Mau kan?”


Alex menatap adik iparnya. “Masih ada Papa Ridho dan Papa Darwis. Aku tidak ingin melangkahi mereka, Dit.”


“Mereka juga akan radit beritahu, tapi Mas yang mewakilkan, karena Maya kan karyawannya Mas Alex, jadi kalau Mas yang kinta pasti orang tuanya tidak akan menolak.”


Alex kembali tertawa. “Dasar licik.”


“Kan adik iparnya Mas Alex.”


“Si*l,” umpat Alex sembari menyeringai.


Kedua pria itu sudah tidak lagi seperti adik dan kakak ipar, tapi lebih seperti adik dan kakak kandung, karena Alex begitu menyayangi Radit, mengingat ia tidak memiliki saudara laki – laki. Begitu pun Radit, ia sangat menyayangi dan mengidolakan kakak iparnya itu.


Tiga hari kemudian, Radit datang bersama Alex. Tapi ternyata bukan hanya Alex sebagai media yang akan berbicara langsung dengan kedua orang tua Maya, melainkan Darwis dan Ridho yang juga datang. Mereka juga ditemani oleh Laila, Bilqis, dan Aurel. Keluarga inti Radit hadir di sana untuk meminta Maya menjadi keluarga mereka.


Keluarga Maya tidak menyangka, terlebih kedua orang tuanya. Mereka tidak pernah membayangkan berbesan dengan keluarga kaya. Walau Laila tetap terlihat sederhaa, tapi derajat Laila saat ini tidak lagi seperti dulu. Begitu pun dengan Radit, apalai Bilqis. Tuhan mengangkat derajat keluarga sederhana yang sabar dan tidak mengeluh dalam menjalani hidup.


“Saya serahkan keputusan pada Maya,” ucap ayah Maya usai mendengar penuturan Alex tentang makud mendatangi rumah mereka hari ini.


Maya tampak malu. Gadis yang akan berusia sembilan belas tahun dan baru memasuki bangku kuliah itu pun tersenyum dan sesekali melirik ke arah Radit yang sedang menunggu jawaban.


Radit mengerutkan keningnya. Ia menanti jawaban Maya. Tak lama kemudian, kepala Maya pun mengangguk pelan.


“Iya, Ayah, Ibu. Maya menerima lamaran Mas Radit.”


Radit langsung menghempaskan nafasnya kasar. Rasanya lega mendengar jawaban iya dari mulut Maya.


Semua yang ada di ruangan itu pun bersorak.


“Alhamdulillah,” ucap Laila.


“Kecil – kecil jadi manten,” celetuk Bilqis.


Menurut Bilqis, Radit dan Maya masih terlalu muda untuk menikah, mengingat ia pun saat menikah sudah berada di usia dua puluh enam yang akan menginjak dua puluh tujuh. Tapi begitulah jodoh, tidak bisa diminta datang di usia keberapa, karena itu adalah hak-Nya yang sudah ditetapkan saat janin berusia seratus dua puluh hari atau empat bulan berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.


Radit dan Maya saling bertatapan malu.

__ADS_1


Maya tidak ragu untuk menerima lamaran Radit, padahal ia baru saja menjadi mahasiswa baru di kampus impian dari hasil tes ujian mandiri yang dilakukan enam bulan lalu. Hidup itu adalah pilihan dan pilihan Maya adalah berumah tangga bersama Radit. Ia mengenyampingkan cita - cita yang semula ingin mengejar karir dulu. Menurutnya, Radit adalah pria langka dijamannya yang sayang untuk dilewatkan.


__ADS_2