
“Tin, nanti malam aku nginep di apartemenmu ya.”
“Oke.”
Tak lama setelah mengantar adik dan ibunya hingga sampai di ruang bandara yang tak bisa lagi diantar oleh pengunjung, Bilqis mengirim pesan pada Tina yang langsung di balas oleh temannya itu.
Bilqis dapat bernafas lega. Ia tersenyum dan langkahnya sampai di parkiran untuk kembali melanjutkan aktifitas. Bilqis menyalakan mesin mobilnya dan melaju ke kantor.
Di kediaman yang cukup mewah, Alex Kenneth masih berada di rumah. Ia masih membujuk sang putri yang ingin ikut ke kantor.
“Hari ini kamu tidak sekolah karena sedang tidak enak badan. Masa mau ikut daddy kerja.” Alex mengelus pucuk kepala sang putri.
“Istirahat saja di rumah ya!”
Aurel menggeleng. Ia ingin sekali bertemu dengan Bilqis. Pasalnya hingga saat ini, sang ayah belum menepati janjinya. Aurel belum sempat bertemu Bilqis apalagi jalan-jalan bersama. Hari itu, Alex membatalkan acara mereka karena pekerjaan yang mendesak. Dan di saat keesokan harinya, justru Aurel yang tidak tampak sehat. Gadis kecil itu demam dengan tidak suhu yang tinggi, tapi mengingat Alex adalah seorang pria posesive apalagi pada orang yang disayang, Alex pun meminta putrinya untuk istirahat dan tidak mengajaknya keluar rumah, hingga ke sekolah.
“Aurel ingin bertemu Mommy.”
“Mommy sedang banyak pekerjaan, Sayang.”
“Kalau begitu, Daddy tidak usah ke kantor. Biar Mommy yang datang ke sini temuin Daddy.”
Alex tersenyum. Anak kecil itu sudah bisa mengaturnya. “Tidak bisa, Sayang. Siang nanti, Daddy harus bertemu rekan bisnis Daddy.”
Aurel cemberut sembari melipat kedua tangannya di dada.
Alex sudah kehilangan akal. Ia tidak ingin lagi berjanji karena khawatir tidak akan menepatinya seperti kemarin, karena ketika ia sudah berjanji, Aurel akan menagih janji itu dan tidak akan lupa.
"Ayo habiskan makananmu!” Alex masih memegang mangkuk kecil berisi bubur buatan Maya. Ia juga masih duduk di tepi tempat tidur sang putri.
Aurel menggeleng. “Aku tidak mau makan. Daddy tidak sayang Aurel.”
“Hei, apa yang kamu bilang?” Alex langsung meletakkan mangkuk itu dan mengambil putrinya, lalu mendudukan di pangkuannya. “Justru Daddy amat sangat menyayangimu. Daddy tidak ingin melihatmu sakit. Kamu tahu!”
“Aurel tidak sakit, Daddy,” ucap anak kecil itu dengan suara yang lucu.
“Semalam, badanmu masih demam, Sayang.”
Aurel yang masih duduk dipangkuan sang ayah kembali melipat tangannya di dada dan cemberut. “Daddy ga asyik.”
Alex tertawa. “Ya, Daddy memang tidak asyik. Buktinya dikantor orang takut pada Daddy.”
__ADS_1
Sontak, Aurel tertawa. Dan seperti biasa, gadis kecil itu tertawa sembari menutup mulutnya. Itu kebiasan Aurel ketika tertawa lebar.
Alex ikut tertawa. “Jadi, ayo kita makan! Dan buat tubuhmu kembali sehat. Oke!”
Alex kembali meletakkan putrinya di atas tempat tidur dan mengambil mangkuk.
“Dengan syarat,” ucap Aurel membuat Alex mendelik. “Ajak Mommy ke sini, Aurel akan menghabiskan makanan ini.”
Alex pun terdiam sejenak sembari berpikir bagaimana caranya membuat Bilqis datang ke rumah ini. Apa wanita itu mau ke rumah ini dengan alasan putrinya yang sedang sakit? Alex khawatir Bilqis tetap tidak mau datang ke sini, mengingat wanita itu selalu menjaga jarak padanya.
“Baiklah,” jawab Alex lirih.
“Janji.” Aurel mengangkat jari kelingkingnya.
Alex menatap jari mungil itu. lagi-lagi ia harus berjanji pada sang putri, janji yang diibaratkan seperti sebuah tuntutan yang harus ditepati, karena kalau tidak, ia akan terus mendengar rengekan itu.
“Janji.” Mau tidak mau, Alex mengaitkan jari kelingking itu.
Sontak, Aurel tersenyum. gadis kecil yang imut, lucu, dan menggemaskan itu langsung membuka mulutnya, meminta Alex untuk menyuapkan makanan itu.
Alex tersenyum dan mulai menyuapkan bubur itu ke dalam mulut Aurel.
“Wah, udah kaya bos aja kamu, Qis. Jam segini baru dateng,” celetuk Saskia saat melihat Bilqis yang baru mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya.
“Udah izin sama si bos. Aku kan abis anter Ibu dan Adikku ke bandara,” jawab Bilqis sembari meletakkan tas dan barang bawaannya.
“Oh iya.” Saskia baru ingat, pasalnya di grup Bilqis pernah menyinggung itu dan bingung ingin menginap di mana saat rumahnya sepi. Bilqis terlalu penakut untuk ditinggal sendirian di rumahnya sendiri.
“Emang Ibu sama adikmu ke mana?”
“Ke Malang. Ada acara keluarga.” Bilqis masih belum cerita tentang pinangan Alex.
“Oh.” Saskia hanya membulatkan bibirnya.
Lalu arah mata Saskia menangkap sebuah paper bag. “Ini apaan?” Saskia membuka paper bag itu dan terlihat satu stel pakaian kerja Bilqis.
“Terus, jadinya mau nginep di mana nanti malam?” tanya Saskia. “ Maaf ya, Qis. Soalnya nanti malam si ayang mau nginep.”
“Iya, gpp. Aku maklum. Lagian Pak Ringgo kan udah seminggu ditugasin ke Singapore. Pasti dia kangen banget sama kamu.”
Saskia mengangguk. “Bukan Cuma dia yang kangen, Qis. Gue juga kangen makan pisang-nya.”
__ADS_1
“Gila!” Bilqis menggeleng.
Sedangkan Saskia hanya tertawa dan berlenggang pergi tanpa dosa telah membuat pikiran gadis polos seperti Bilqis ternodai.
Bilqis bangkit dan hendak melangkahkan kakinya menuju ruangan Alex yang tidak jauh dari meja kerjanya. Bilqis sudah berdiri di depan pintu ruangan itu. Namun, ia ragu untuk mengetuk, karena ia hanya sekedar ingin melihat apa yang dilakukan Alex di dalam sana. Sejak interaksi terakhir mereka yang berujung ciuman keempat, Bilqis semakin memberi jarak.
Bilqis memutar knop pintu dan membuka sedikit seperti hanya ingin mengintip.
“Ekhem …” tiba-tiba suara orang berdehem terdengar jelas di belakang telinga Bilqis.
“Bentar, Pak Bimo. Saya cuma mau lihat Sir Alex di dalam lagi ngapain. Dari tadi ga keluar-luar,” ucap Bilqis tanpa menoleh ke belakang karena ia mengira bahwa yang berdehem itu adalah asisten Alex, mengingat saat ia tengah berbincang dengan Saskia tadi, Bilqis melihat Bimo kekuar dari ruangan dan hendak menghampirinya, tapi Bimo kembali masuk ke dalam ruangannya lagi.
Pikir Bilqis, Bimo kembali menghampirinya lagi. Tapi ternyata, pria yang di belakang Bilqis bukanlah Bimo.
Pria itu tersenyum dan sengaja membiarkan wanita itu mengintip ruangannya.
“Mana sih dia? Kok ga keliatan?” tanya Bilqis dengan suara yang cukup di dengar pria dibelakangnya
Pria itu mengulum senyum.
“Mungkin dia lagi di kamar mandi kali ya.” Bilqis kembali bermonolog sendiri, seolah diblakangnya tidak ada orang lain.
Ruangan CEO memang dilengkapi dengan kamar mandi di dalamnya, bahkan ruang tidur untuk istirahat.
Tiba-tiba Bilqis tertawa sembari menutup mulutnya. Ia membayang Alex yang sedang berada di dalam kamar mandi.
“Inget pisang yang dibilang Kiya tadi. Kira-kira pisangnya si bos seperti apa ya?”
“Uhuk … Uhuk … Uhuk …” Tiba-tiba pria yang dibelakang Bilqis pun terbatuk dan Bilqis baru menyadari bahwa sedari tadi memang ada orang dibelakangnya.
Sontak, Bilqis pun menoleh.
“Sir?”
Wajah Bilqis pun memerah. Ia tidak menyangka bahwa pria yang berdehem tadi itu adalah pemilik ruangan yang sedang ia intip ini.
“Si*l,” umpatnya dalam hati sembari meringis dan mengetuk-ngetuk keningnya sendiri.
Ia mengumpat kecerobohannya. Apalagi sedari tadi Bilqis bermonolog sendiri tentang pria ini, lalu tentang … “pisang”. Ah semua memang gara-gara pisang, otaknya jadi ikut terkontaminasi.
“Kiya ...” teriak Bilqis dalam hati.
__ADS_1