Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Bonchap 2 - labuan bajo


__ADS_3

Pertama, saya ucapkan Alhamdulillah. Bersyukur padaNya, karena Dia telah memberikan banyak anugerah. Terima kasih untuk para jajaran direktur, manajer, sekretaris, serta semua karyawanku yang dengan kesetiaan serta keloyalan kalian hingga perusahaan kita berada di titik seperti sekarang. Rasa syukur itu pula yang membawa saya untuk melakukan kegiatan ini bersama, berlibur bersama agar semakin kenal satu sama lain dan tercipta kerjasama yang lebih baik lagi setelah ini. Kedua, acara ini juga sekaligus wujud syukur karena istri saya, Bilqis …”


Alex menunjuk ke arah sang istri untuk mendekat. Bilqis pun bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Alex yang berdiri di antara para karyawannya.


Cup


Alex mencium kening sang istri saat Bilqis berdir di hadapannya. Sontak, para karyawan itu pun bersorak.


Pipi Bilqis merona. Sungguh, ia sangat malu. Apalagi Alex dengan bangganya memeluk pinggang Bilqis.


“Sedang mengandung buah cinta kami.” Alex melanjutkan kata – katanya yang menggantung.


“Uuuu …” Semua orang di sana kembali bersorak dan bertepuk tangan.


“Sungguh, tahun ini adalah tahun yang paling membahagiakan untuk saya.”


Alex menatap Bilqis dengan penuh cinta. Bilqis pun manatap suaminya dengan ekspresi yang sama. Senyum Bilqis terulas lebar dan sumringah. Terpancar kebahagiaan dari kedua insan yang tengah berdiri di depan ratusan karyawan yang hadir.


“Harapan saya, semoga kita makin kompak, makin sukses dan target saya, kita akan buat kantor lagi di Bangkok.”


“Yeeeeyyy …” seru ratusan karyawan yang berdedikasi sejak Alex meyakinkan diri untuk membuka kantor di kota ini.


Lalu, Alex menyerahkan mikrofon pada Bilqis agar istrinya ikut bicara.


“Sebagai mantan karyawan K-Nett, saya juga mendoakan yang sama,” ucap Bilqis.


“Uuuu …” sorak Tina, Saskia, dan Mira.


“Mantan karyawan yang jadi bu Bos, ya bu,” celetuk Saskia.


Bilqis tersenyum mendengar celetukan itu. Alex dan beberapa jajaran tingkat atas pun demikian.


“Ya, sepertinya tradisi di perusahaan ini setelah jadi sekretaris akan jadi istri. Oleh karena itu, saya melarang suami saya untuk memiliki sekretaris lagi,” kata Bilqis lagi, membuat semua tergelak.


Ratusan orang di hadapannya itu tertawa. Begitu pun para bos yang memiliki sekretaris, termasuk Alex yang juga tersenyum.


“Jadi tolong, Ibu Nina, Ibu Ayu, Dan Ibu Dewi. Tolong jaga suami – suaminya ya.” Bilqis menoleh ke arah istri Pak Dion, Pak Angga, dan Pak Wisnu. Yang kebetulan tidak memiliki affair seperti Ringgo dan Jhon.


Sontak, ibu – ibu para petinggi itu pun tersenyum. Sepertinya, mereka akan mendengarkan nasehat Bilqis dan akan menjaga suaminya lebih ekstra dari sekarang.


“Sekian dari saya. Sekali lagi, semangat, kompak terus, dan selalu sukses.” Dengan semangat Bilqis memberikan wejangan terakhirnya.


Ratusan orang itu pun bertepuk tangan. Malam ini, acara puncak kebersamaan perusahaan Aex yang sedang berulang tahun. Dengan gayanya yang santaiAlex berdiri di sana dan menyambut malam yang penuh suka cita ini dengan hati yang benar – benar bersuka cita.


Alex tampak tampan dengan balutan jeans biru laut dan sweater panjang dengan warna senada. Begitu pun dengan Bilqis. Ia memilih warna pakaian dan jenis pakaian yang sama dengan suaminya. Aurel yang bermain kembang api dengan Nia dan Maya di sana pun memakai pakaian yang sama dengan orang tuanya. Acara puncak ini di adakan dekat pantai, sehingga sebagian besar dari mereka menggunakan pakaian yang tertutup agar tidak kedinginan.

__ADS_1


“Uuu … Terima kasih untuk CEO dan istri,” kata MC yang merupakan panitia sekaligus bagian HRD.


“Ya, tepuk tangan untuk Sir Alexander dan istrinya, Bilqis.” Satu MC lagi menambahi.


Kedua MC itu pun mengajak audience untuk bertepuk tangan.Alex turun dari panggung dengan tetap menggandeng pinggang Bilqis. Ia juga menuntun Bilqis untuk berhati – hati saat menuruni tangga yang tidak banyak itu.


Sejak mengetahui kehamilan sang istri, Alex menjadi sangat posesif. Bahkan Bilqis tidak diperkenankan untuk sering naik turun di rumahnya.


Alex dan Bilqis kembali menduduki kursi yang semula mereka duduki. Tak lama kemudian, Aurel berlari mendekati kedua orang tuanya dan duduk di pangkuan Alex. Anak kecil yang imut itu serius menonton acara selanjutnya yang disiapkan panitia, yaitu sulap.


Baru sebentar berada di pangkuan sang ayah, Aurel kembali pindah pada Maya dan Nia yang duduk lebih depan.


Arah mata Alex juga tertuju pada panggung. Ia ikut bertepuk tangan saat acara selanjutnya dimulai. Bilqis pun ikut bertepuk tangan. Namun, mata Bilqis terarah pada Alex.


Alex yang merasa diperhatikan pun menoleh. “Kenapa?” tanyanya bingung melihat Bilqis yang terus menatapnya dengan senyum.


“Ada makanan di bibirku?” tanya Alex pada istrinya.


BIlqis menggeleng. “Ngga.”


Alex mengusap bibirnya. “Atau ada salah bicara?”


Bilqis kembali menggeleng. “Tidak juga. Justru, kamu hebat.”


Bibir Alex pun tersenyum lebar. “Come on, Sayang. jangan menggodaku!”


“Eum. Sayang. kalau begitu ayo kita kembali ke hotel!”


Dahi Bilqis mengernyit. “Ngapain?”


“Ngga ngapa – ngapain. Pengen berdua aja.”


“Terus Aurel?” tanya Bilqis dengan mengarahkan matanya pada gadis dikuncir kuda yang tertawa melihat atraksi sulap di panggung.


“Biarin Aurel sama Nia dan Maya.”


“Ish, kamu tuh. Kasian ah.” Bilqis tidak tega meninggalkan putrinya hanya bersama dua pengasuh.


“Tidak apa. nanti kalau dia bosan akan mencari kita. Yuk!” Alex menarik lengan Bilqis dan mengajaknya keluar perlahan dari acara yang dihadiri ratusan orang itu.


Mereka memilih menepi dan jauh dari acara yang sedang berlangsung.


“Kedinginan?” tanya Alex dengan memeluk Bilqis.


Mereka berjalan di atas pasir pantai sembari menikmati suara deburan ombak laut yang terkesan romantis.

__ADS_1


Bilqis mengangguk. “Sedikit.”


“Baiklah, aku akan memelukmu terus seperti ini.”


Bilqis menoleh ke wajah itu dan menghentikan langkahnya. Ia cukup lama menatap Alex hingga air matanya menetes tanpa kendali.


“Hei, kenapa menangis?” tanya Alex bingung, lalu mengusap pipi Bilqis yang basah.


“Entahlah. Aku merasa sangat bahagia.”


Alex tersenyum dan masih mengusap pipi itu.


“Aku tidak pernah merasa bahagia lebih dari ini.”


Senyum Alex semakin mengembang lebar. ia pun merasakan yang sama. Mereka berdiri menghadap laut yang luas dan tak berujung itu.


“Kita pernah berdiri seperti ini. tapi saat itu kita berdiri di danau. Dan dari sana aku sudah menyukaimu."


Bilqis menoleh, ia ingat momen itu. moment saat menjadi pacar semalam Alex dan saat melewaati batas waktu, Bilqis menghitung dengan membayar kelebihan waktu itu menjadi uang lemburan.


Bilqis tertawa. “Ya, aku ingat. Dan saat itu adalah kali pertama aku menangis di depan pria, lalu tidak marah saat dipeluk.”


“Karena kamu memang sudah menyukaiku juga.”


Bilqis mencibir. “Ngga.”


“Iya.”


“Ngga. Saat itu aku belum menyukaimu.”


“Jangan bohong! Jujur ga dosa kok.”


“Maaas,” rengek Bilqis karena Alex benar – benar menyebalkan.


Alex pun menarik lagi tubuh itu dan memeluknya. Ia mencium kening Bilqis. Ia juga sedikit membungkuk untuk mencium perut yang terlihat sedikit buncit. Lalu, kembali tegap dan meraih bibir ranum itu.


Amat sangat disayangkan jika Alex tidak mencium bibir itu juga. Mereka pun berpagutan. Semakin hari, Bilqis pun semakin liha berciuman.


Cukup lama berpagutan, Alex pun melepaskan bibir itu.


“Sayang, liat ke sana!” Alex menunjuk langit di atas laut.


Tiba – tiba terdengar suara petasan berulang hingga di langit itu membentuk tulisan.


“I love you, Bilqis.”

__ADS_1


“Eum …” Bilqis merona dan memeluk erat suaminya. Ia pun berbisik tepat di telinga Alex. “I love you too, Daddy.”


Labuan bajo menjadi saksi ungkapan cinta Alex dan Bilqis untuk kesekian kali. Labuan bajo juga saksi kenakalan Bilqis pada suaminya. Labuan bajo, tempat yang menjadi tujuan Bilqis untuk menggoda Alex, hingga akhirnya mereka pun sama – sama tergoda dan membuahkan benih cinta yang bersemayam dirahim Bilqis, serta menantikan kelahirannya.


__ADS_2