Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Mencari keberadaan Ridho


__ADS_3

“Ciye, yang mau nikah. Sumringah banget,” ledek Radit pada sang kakak yang baru saja bergabung di meja makan.


“Memulai pagi itu memng harus dengan senyuman,” sanggah Bilqis sembari mendudukkan diri di kursi yang baru saja ia geser tepat di samping adiknya.


“Masa? Biasanya kalo mau kerja, mukanya bete banget. Sekarang ngga ya? Karena bos killer sudah ada dalam genggaman.”


Bilqis mentoyor kening sang adik. “Sok tahu.”


Radit pun tertawa.


Lalu, Laila datang membawa tiga piring nasi goreng. “Udah jangan berdebat pagi-pagi! Nanti ujung-ujungnya kalian berantem.”


“Iya, terus Mbak Qis nya nangis dan ngadu sama Ibu,” sahut Radit yang masih meledek Bilqis.


“Ye … emangnya aku masih kecil?” Bilqis tak mau kalah.


“Emang. Pacaran aja belum pernah.”


“Biarin, tapi kan udah mau nikah we …” Bilqis membalas sang adik dengan menjulurkan lidahnya. “Dari pada tetangga sebelah pacaran mulu, ga nikah-nikah terus udah hamil baru dinikahin.”


“Hus … Bilqis.” Laila memperingatkan mulut putrinya agar tidak membuka aib orang lain.


“Lah, kan Bilqis ngomongnya cuma sama keluarga doang, Bu.”


“Ya, tetap saja, itu aib orang lain. tidak boleh diumbar,” jawab Laila.


Bilqis pun mengerucutkan bibirnya sambil meraih nasi gorang yang tersaji. Laila selalu menutupi air anak-anak Asti, tetangga sebelah mereka, tapi Asti sama sekali tidak melakukan hal serupa. Bilqis kesal karena tetangganya itu justru selalu mencari celah kesalahan dirinya.


Laila, Radit, dan Bilqis menikmati sarapan mereka dengan sepiring nasi goreng ala rumahan dengan toping sosis dan telur dadar. Tidak lupa, Laila menyelipkan ketimun dan emping di sampingnya.


“Oh, ya Mbak. Minggu depan, aku sama Ibu mau ke Malang.”


Bilqis mlihat ke arah sang adik yang baru saja selesai bicara. Dengan mulut yang masih mengunyah dan kedua tangan yang masih memegang alat makan, Bilqis menanggapi perkataan sang adik. “Mau ngapain?”


“Loh, kok ngapain? Ya nyari ayahmu. Kamu kan mau menikah, siapa yang akan jadi wali nikahmu kalau bukan ayahmu nanti.”


“Kan bisa diganti Radit, Bu,” jawab Bilqis sesuai yang ia tahu.

__ADS_1


“Iya, betul. Radit memang bisa menggantikan, tapi setelah kita mencari keberadaan ayahmu dulu. Ibu juga sudah tanya ini pada Ustadzah Zahra.” Laila menyebut nama guru ngaji yang menjadi ketua pengajian ibu-ibu di kompleknya.


“Kaatanya, kalau tidak ditemukan atau berada di tempat yang jauh, maksimal delapan puluh dua kilometer dari tempat tinggal kita, baru diwakilkan oleh kakek ayahmu, pamam ayahmu, atau adik lelakimu,” sambung Laila.


“Ya, ampun. Ribet amat Bu. Itu dia, kenapa Bilqis tidak mau menikah. Ribet. Ini semua memang karena kesalahan si Tuan Ridho yang terhormat itu.”


Radit mengangguk, menyetujui perkataan sang kakak sambil tetap mengunyah.


“Bilqis, tidak boleh begitu.” Laila masih ingin menyelamatkan reputasi Ridho di depan kedua anaknya, tapi reputasi Ridho sebagai ayah biologis Bilqis dan Radit sudah roboh sebelum Laila mencoba mempertahankan. Dan itu semua karena ulah pria itu sendiri.


“Lagian Mbak, Biar saja wali hakim yang menikahkanmu. Aku masih fasik. Sholatku masih bolong-bolong,” celetuk Radit saat membayangkan akan menjadi wali untuk sang kakak.


“Loh, sholat kamu masih bolong-bolong memangnya, Dit?” tanya Laila tak percaya.


Radit pun nyengir. “Hehehe … Maaaf, Bu. Kalo lagi ga sengaja aja.”


“Alesan tuh, Bu.” Bilqis sengaja mengompori. Kapan lagi bisa membully sang adik yang suka membully-nya.


“Bilqis liat juga setiap subuh, dia bangun kesiangan tuh Bu,” adu Bilqis pada sang Ibu lagi.


“Wah, bener-bener kompor,” kesal Radit pada sang kakak yang justru tengah senang melihat sang adik dimarahi ibunya.


“Kemarin doang, Bu. Pas lagi begadang nyelesaiin skripsi. Kalau sekarang ngga,” sanggah Radit.


“Bohong tuh, Bu. Subuh sama Isya, Radit masih suka ninggalin tuh.”


Sontak Radit pun membulatkan matanya ke arah sang kakak. Namun, Bilqis malah tertawa dan hendak pergi. Radit ikut ingin pergi dan hendak bangkit dari kursi.


“Eh, mau ke mana kamu, Dit?” tanya Laila yang ingin mentatar anaknya lagi.


“Ke kampus, Bu.”


“Ke kampus apaan? Bukannya kamu udah nunggu sidang aja. Sini dulu, ibu mau ngomong.”


Radit menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari nyengir, karena alasannya bisa ditebak sang ibu, karena Radit tahu setelah ini sang ibu pasti akan menceramahinya hingga dua jam ke depan.


Radit melihat ke arah sang kakak yang sedang tersenyum menang.

__ADS_1


“Dah adikku sayang …” Bilqis tertawa meledek adiknya sambil melambaikan tangan. Kemudian mengambil tas dan berangkat ke kantor.


“Awas ya, Mbak!”


Senyum Bilqis terus mekar. Hari ini ia mendapat mood booster dari sang adik.


****


Di gedung tinggi yang berada tepat di pusat kota, Alex duduk bersama Bimo.


“Kau sudah menelitinya lagi?” tanya Alex sambil melihat semua laporan yang di serahkan sang asisten.


Kali ini bukan laporan mengenai pekerjaan kantor, melainkan laporan dari hasil penyelidikan tentang ayah Bilqis yang diperintahkan Alex pada Bimo.


“Ya, saya tidak menemukan keberadaannya, Sir.” Bimo menggeleng. Ia sudah menelesuri jejak Tuan Ridho, begitu panggilan Bilqis dan Radit ketika Laila menyinggung tentang ayahnya.


“Catatan terakhir menunjukkan, Bapak Ridho dirawat di rumah sakit Kencana karena sebuah kecelakaan tunggal sekitar kurang dari dua puluh dua tahun silam. Lalu, setelah itu jati dirinya tidak ditemukan lagi.”


Tepat disaat Bilqis berusia empat tahun dan Radit, delapan bulan.


“Coba telusuri keluarganya?” tanya Alex lagi.


“Tidak ada akses yang menunjukkan keluarganya. Saya hanya menemukan info bahwa bapak Ridho lahir di kota Malang. Anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakak laki-lakinya meninggal tiga tahun lalu karena jantung koroner. Selanjutnya, saya belum menemukan lagi. itu pun saya mendapat info dari rekam jejak medis di rumah sakit xxx.” Bimo memberi keterangan tentang latar belakang Bilqis.


Sebelumnya, Alex memang tidak tinggal diam. Ia tahu ketika seorang anak perempuan akan menikah maka yang diperlukan adalah wali. Walau Alex memiliki darah chinese, tetapi untuk budaya dan agama lebih kental ke darah sang ibu yang keturunan melayu dari negeri Jiran.


Alex mengangguk, menerima semua laporan dan penjelasan dari Bimo. “Baiklah, terima kasih Bim.”


Ceklek


Tiba-tiba pintu ruangan Alex terbuka dan menampilkan sosok Bilqis yang sedang membawa kopi seperti biasa. Sontak, Alex dan Bimo melihat ke arah itu dan tidak lagi membicarakan topik yang semula mereka bicarakan. Pasalnya tiba-tiba orang yang dibicarakan datang.


“Ups, sorry. Ada orang ya. Maaf, Sir. saya lupa mengetuk pintu dulu,” ujar Bilqis sembari melirik ke arah Alex dan Bimo bergantina. “Kenapa sih? Kok mukanya pada tegang gitu? Apa ada tender yang gagal?” tanya Bilqis polos.


Alex langsung membereskan laporan itu dan meletakkannya di laci. “Oke, Bim. Kamu boleh ke ruanganmu.”


Bimo mengangguk. “Baik, Sir. Saya siap jika dibutuhkan sesuatu.”

__ADS_1


“Oke.” Alex mengangguk.


__ADS_2