
“Huft, akhirnya mereka pulang juga,” kata Alex sembari merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Untung saja, Aurel tidak terbangun karena kebisingan para tamunya itu. Dan, Alex berhasil membuat mereka pulang tepat satu jam setelah kedatangan mereka.
Bilqis membuka outfitnya dan melepaskan sepasang sandal rumahannya. Ia menempatkan posisi tubuhnya tepat di samping Alex.
Alex menoleh dan memandang wajah yang memang sangat mirip dengan mendiang istri. Lalu, Alex memiringkan tubuhnya dengan menyangga satu tangannya di kepala.
“Sepertinya mereka menyukaimu,” ucap Alex.
“Siapa?” Bilqis balik bertanya dengan menatap sang suami.
“Teman – temanku tadi.”
Ya, Bilqis memang mudah berbaur. Perbincangan para pria itu pun hidup saat Bilqis ada di tengah – tengah mereka.
Jika dilihat cara Bilqis berinteraksi. Wanita itu memang bukan orang pendiam, bukan juga yang tidak bisa bergaul, tapi anehnya Bilqis mengapa teramat polos dalam hal tertentu. Alex pun tersenyum menatap wajah itu.
“Kamu memang seperti bunga,” ucap Alex membuat dahi Bilqis mengernyit. “Selalu bisa menghidupkan suasana dimana pun ditempatkan.”
“Maksudnya?” tanya Bilqis bingung.
“Bunga itu akan selalu menghidupkan ruangan jika ditempatkan di sisi mana pun. Dan kamu, seperti itu.”
Blush
Seketika, wajah Bilqis merona. “Tunggu!” Bilqis mengambil ponselnya.
“Hei, untuk apa?”
“Merekam perkataanmu tadi.”
“Untuk?” Kini Alex yang bingung.
“Entahlah untuk apa? Tapi rasanya bos killer sepertimu, langka mengatakan itu,” jawab Bilqis dengan senyum meledek.
“Berani meledekku ya?”
Bilqis mengangguk. namun, sepertinya malam ini dia tidak selamat. Alex menggelitiki pinggang itu hingga bergerak tak karuan.
“Aaa … Mas …”
Alex tertawa. “Ini hukuman karena sudah berani meledekku.”
“Mas …”
Keduanya bercanda tawa di atas tempat tidur. Tubuh Bilqis pun berguling untuk menghindari Alex dan Alex mengejar lagi pinggang yang tengah digelitikinya hingga ia pun menindih tubuh itu.
“Hosh … Hosh … Hosh …”
Nafas Bilqis terengah – engah, walau Alex sudah tak lagi menggelitiki pinggangnya. Bilqis melihat tatapan mata Alex yang mulai berubah. Deru nafas itu pun terdengar sama seperti malam kemarin. Bilqis menyadari bahwa gairah Alex mulai naik.
“Qis.”
__ADS_1
“Eum.”
“Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. please!”
Bilqis menatap mata pria itu. Alex menindihnya dengan erat hingga kedua wajah itu pun bertatapan tanpa jarak.
“Aku takut.”
“Takut apa?” tanya Alex.
“Takut kamu mempermainkanku.”
“Apa aku terlihat suka mempermainkan wanita?” tanya Alex lagi dengan tetap menatap mata itu.
“Aku dengar begitu. Kau mantan badboy.”
Alex tertawa. “Jadi kamu menguping?”
“Apa saja yang kamu dengar?”
Bilqis menggeleng. “Hanya itu.”
“Baiklah, akan ku tunjukkan sesuatu.”
Alex bangkit dan berdiri di depan Bilqis. Ia hendak membuka celana panjangnya.
“Kamu mau apa?” tanya Bilqis yang khawatir Alex akan menampilkan pisang kebanggaan.
“Bahan ini gerah. Aku tidak terbiasa tidur dengan celana panjang.” Alex melepaskan bahan itu dan menyisakan boxernya yang sangat pendek dan cukup ketat, hingga terlihat sesuatu yang menonjol di sana.
“Aku belum membukanya sekarang. Tenang saja,” ledek Alex pada Bilqis yang sudah ketakutan.
Lalu, Alex membuka kaosnya dan menampilkan tubuhnya yang bidang dengan dada kotak – kotak.
“Kamu ingin menunjukkan apa? Dadamu yang kotak – kotak?” tanya Bilqis membuat Alex tertawa. Lalu mendekat.
“Ini bukti bahwa dahulu aku memang bukan pria yang baik.” Alex menunjukkan tatto di punggung belakang atas sebelah kirinya.
Semalam, Bilqis tidak melihat sama sekali tatto itu. Mungkin, karena ia terlalu menikmati sentuhan Alex. Bilqis pun menyentuh tatto berwarna hitam dengan gambar kupu kupu abstrak.
Alex membalikkan tubuhnya dan kembali bertatapan dengan Bilqis.
“Tapi itu dulu, sebelum aku menikah. Dan sekarang tidak lagi. Aku sudah cukup puas menikmati masa mudaku yang liar itu.”
Bilqis tidak menjawab. Ia hanya mampu menatap kedua mata itu. Tampak tidak ada kebohongan di sana.
“Percayalah padaku!”
Bilqis masih diam. Bibirnya kelu dan sulit untuk berkata.
“Aku menyukaimu. Aku akan membahagiakanmu dan aku tidak akan pernah menduakanmu. Percayalah! Aku penganut monogami dan tidak suka memiliki wanita lebih dari satu.”
Bilqis pun mencibir dan mengeleng sembari tersenyum.
__ADS_1
“Tidak percaya,” ucapnya bohong. Padahal Bilqis percaya dengan perkataan itu. Entah mengapa, ia terhipnotis dengan pernyataan Alex tadi.
“Masih tidak percaya?” tanya Alex kesal dan kembali mendekati Bilqis.
Bilqis menggeleng.
Alex menaiki ranjang dan merangkak untuk mendekati wanita yang semakin lama memundurkan tubuhnya untuk menghindar.
Cup
Alex mengecup bibir itu lembut. Jantung Bilqis kembali berdetak tak karuan saat Alex mulai mendekat dengan nafasnya yang memburu. Ia menginginkan itu. menginginkan sentuhan yang semalam. rasanya masih ada dalam ingatan.
Dengan lembut yang kemudian menjadi menuntut, Alex menyesap bibir itu. Bilqis pun membalas ciuman Alex hingga telapak tangan Alex memegang tengkuk itu agar ciuman mereka semakin dalam. Tanpa sadar, Alex juga telah meloloskan dres hitam itu dari kepala Bilqis dan menyisakan kain penutup di bagian intinya.
“Ah.” Bilqis melenguh saat kepala Alex sudah turun ke bagian lehernya.
Alex kembali mengigit leher itu. Ia melakukan pemanasan seperi yang dilakukannya semalam. Alex mencumbui seluruh tubuh Bilqis dari kepala hingga ujung kaki. Tidak ada bagian tubuh Bilqis yang selamat dari terpaan bibir Alex.
Alex kembali meloloskan satu – satunya kain yang melekat di bagian itu. Kini, tidak adal lagi kain yang melekat di tubuh itu.
“Ah, Mas. Eum …”
Untuk kedua kalinya, Alex mencumbui bagian inti itu hingga tak lama kemudian Bilqis berteriak. “Arrgggg …”
Alex menyeringai dan kembali mensejajarkan kepalanya dengan kepala Bilqis. Ia tersenyum saat kembali melihat mata sayu itu. Seketika wajah yang sering cemberut itu berubah. Bilqis sangat sexy jika sedang bergairah dan Alex sangat menyukai itu.
“Jangan mendorong dadaku, Please!” Alex memohon pada Bilqis. Ia masih mengingat bagaimana gagalnya malam pertama mereka kemarin.
Bilqis pun mengangguk.
“Janji?”
Bilqis kembali mengangguk. “Janji.”
Alex tersenyum. ia mengenalkan si jerry pada Bilqis. “Ini pisang yang kamu mau dan pernah kamu bayangkan kan?”
Bugh
Bilqis memukul dada Alex dengan wajah merona. “Cepat lakukan. Jangan banyak bicara! Atau aku akan berubah pikiran.”
Alex tertawa bahagia dan ….
“Aaa …” Bilqis menjerit saat kepala Jerry sudah di dalam pintu sebagian.
Alex langsung menyambar bibir itu dan menciumnya lagi untuk menenangkan Bilqis. Perlahan, dengan tetap memagut bibir itu.
“Ah. Sa … Ah.”
Alex menenggelamkan untuk lebih dalam.
Akhirnya, Alex dapat menembus pertahanan yang sulit itu dengan dua kali hentakan. Ia dapat merasakan darah per*w*n Bilqis yang mengalir.
“Maaf, Sayang.” Alex mengecup kening itu dan memeluknya. Di bawah sana, tubuhnya kembali bergerak setelah Bilqis tak lagi mengeluh sakit.
__ADS_1
Malam ini, si jerry benar – benar tidak kedinginan.