
“Dit, gimana penampilan Ibu? Bagus ga?” tanya Laila pada putranya.
Laila berdiri tepat di depan gorden sembari mengarahkan penampilannya pada sang putra yang duduk di sofa ruang televisi.
Radit langsung menoleh ke arah sang Ibu. Mata Radit menelaah sosok sang Ibu yang sudah tampil rapi dengan dres brokat panjang berwarna cokelat muda dengan paduan jilbab menggunakan warna yang sama.
“Perfecto,” jawab Radit semari membuta lingkaran pada jarinya.
“Perfecto apa to?” tanya Laila lagi, membuat sang putra tertawa.
Radit yang semula merebahkan tubuhnya di sofa, kini bangkit sedikit menjadi duduk. “Perfecto itu, perfect Ibu. Artinya, sem … pur … na. Ibu cantik.”
“Masa sih?’ tanya Laila malu.
Radit tertawa lucu melihat ekspresi sang ibu. Kepalanya pun menggeleng. “Jiah, baru dipuji sama Radit aja udah malu, apalagi nanti kalau dipuji sama Om Darwis.”
Laila berjalan mendekati sang putra dan memukul bahunya. “Radit, jangan bikin ibu malu!”
Radit kembali meledek sang Ibu dan tertawa. Sang Ibu sepertinya memang benar – benar sedang mengalami puber kedua. Namun Radit lega, untung saja ibunya jatuh cinta pada pria yang tepat menurutnya.
Ting … Tong
Laila dan Radit langsung menoleh ke arah pintu utama.
“Noh, Om Darwis sudah datang,” ujar Radit.
“Duh, Ibu deg deg an nih, Dit.”
Radit tertawa dan segera bangkit. “Ya udah, biar Radit yang bukain pintu.”
Anak laki – laki Laila yang bisa diandalkan itu segera melangkah menuju pintu dan membukakannya. “Hai, Om.”
“Assalamualaikum.”
Radit nyengir mendengar salam Darwis, kemudian menjawabnya. “Waalaikumusalam.”
“Ibumu sudah siap?” tanya Darwis sembari melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah itu.
“Sudah. Sudahdari tadi malah,” jawab Radit santai. “Duduk, Om. Radit panggilin Ibu dulu.”
Darwis mengangguk. Belum sempat Radit memanggil Ibunya, Laila pun datang.
“Nah, itu dia Ibu. Belum dipanggil udah muncul,” kata Radit membuat Darwis tersenyum.
Seketika, Darwis terpana oleh penampilan Laila. Wanita yang menjadi objek mata Darwis pun tersipu malu, sementara Radit hanya melihat interaksi romantis dari sepasang lawan jenis yang sudah tidak lagi muda.
“Ekhem.” Radit berdehem, membuat tatapan Darwis pun buyar.
“Oh, ya. Kalau begitu Om jalan ya, Dit.” Darwis yang baru saja mendudukkan tubuhnya di sofa tamu itu segera bangkit dan menepuk bahu Radit.
“Oke, Om. Nanti pulangnya jangan malem – malem ya, Om.” Radit seperti seorang ayah yang tengah melepas anak gadisnya pergi bersama sang pacar.
Darwis tertawa dan kembali menepuk bahu Radit. “Beres. Pokoknya, Om akan bawa ibumu pulang dengan utuh.”
__ADS_1
Radit tertawa. “Iya lah utuh, emang Ibu mau Om makan di jalan.”
“Pada ngomongin apa sih?” tanya Laila menyela. “Memang siapa yang mau makan Ibu, Dit?”
Sontak kedua pria itu pun tertawa. Radit dan Darwis benar – benar kompak.
“Ibu mu memang polos,” ujar Darwis yang diangguki Radit. “Ya, sebelas dua belas dengan Mba Qis.”
Darwis kembali menangguk. Sejak pertama bertemu dengan keluarga ini, Darwis memang sudah nyaman. Bersama keluarga ini, ia seperti bukan orang lain. ditambah wajah Bilqis yang familiar, membuat Darwis semakin tidak canggung.
“Ayo!” Darwis mengajak Laila untuk pergi.
“Dit, Ibu pergi dulu ya,” ucap Laila pada sang putra.
Radit mengangguk. “Ya, Bu.” Lalu, Radit beralih pada Darwis. “Hati – hati, Om.”
“Oke.” Darwis menyahut dengan menaikkan ibu jarinya ke atas.
Radit terus menatap sang Ibu. Rasanya lega melihat senyum bahagia yang terukir di bibir yang selama ini selalu sendiri. Radit pun manatap mobil yang dibawa Darwis hingga melaju dan tak terlihat lagi. Ia pun tersenyum, lalu kembali ke dalam rumah dan menguncinya.
Di dalam mobil, Darwis terus melirik ke arah Laila, membuat wanita yang perangainya lugu itu tersipu malu.
“Kenapa, Mas? Penampilanku jelek ya? Tapi tadi kata Radit perfecto,” ujar Laila membuat Darwis tertawa.
“Ya, memang perfecto,” jawab Darwis sembari mengangguk.
“Benar kah?” tanya Laila yang memang tidak pernah percaya diri.
“Benar Laila. Kamu sangat cantik.”
Laila yang semula menatap Darwiws, langsung memalingkan wajah dan menunduk. Darwis pun menoleh lagi ke arah Laila dan tersenyum. Keduanya merasa sama – sama bahagia. Laila merasa seperti ada kupu – kupu yang terbang, sementara Darwis merasakan sesuatu yang tidak bisa diartikan, sesuatu yang sudah lama hilang sejak hilangnya sang istri karena takdir.
Suasana di mobil itu pun mendadak canggung. Laila bingung untuk mencara perbincangan apa, begitu pun dengan Darwis. Namun, Darwis bisa mengendalikan suasana dengan berbasa basi menanyakan tentang Bilqis.
“Akhirnya, kita sampai juga,” ucap Darwis yang kali ini mengemudi mobil sewaannya itu sendiri.
“Di sini Mas, acaranya?” tanya Laila melihat ke gedung tinggi yang tertulis nama sebuah hotel yang cukup terkenal. Hotel ini merupakan hotel bintang lima yang ada di Jakarta.
“Iya.” Darwis mengangguk dan keluar dari mobil lebih dulu.
Pria itu langsung mengitari kap mobil dan membukakan pintu untuk Laila. Sedangkan, dari kejauhan, tepatnya dari lobby hotel, seseorang tengah menatap sepasang sejoli yang tengah jatuh cinta ini.
Dari kejauhan Ronal tersenyum melihat Darwis keluar dari mobil dan tengah menggandeng seorang wanita yang ia yakini adalah calon istrinya. Namun, semakin lama senyum di bibir Ronal pun pudar saat melihat sosok wanita yang di gandeng Darwis.
Wanita itu tampak menunduk sambil berjalan untuk memperhatikan penampilannya. Sementara di sana, Ronal terus menatap Laila hingga keduanya semakin mendekat dan semakin Laila mendekat membuat jantung Ronal semakin berdetak kencang. Entah apa yang ia rasakan. Detakan jantung ini sama seperti saat ia memasuki rumah seorang wanita yang Lenka bilang adalah seorang janda beranak dua yang selalu menggodanya dan meminta uang padanya.
“Wanita itu,” gumam Ronal mengingat seorang wanita yang menangis meraung kepergiannya hingga ia sempat tidak tega saat sudah berada di dalam mobil Lenka waktu itu.
Waktu itu, usai mengambil berkas – berkas yang ia perlukan di rumah Laila, Ronal langsung pergi meninggalkan wanita yang sedang menangis itu. Bahkan saat Ronal sudah berada di dalam mobil, ia tetap menatap Laila yang meraung untuk meminta dirinya tetap tinggal. Ada rasa sedih di hati Ronal saat itu. Namun, amnesia yang membuat Ronal tidak mengenal Laila, menguatkan hatinya untuk pergi dan tinggal bersama Lenka.
“Hai, Ron. Kau sudah di sini,” sapa Darwis riang. “Aku mengajakcalon istriku.”
Seketika, wajah Laila yang sedari tadi menunduk untuk melihat gaun bagian bawah dan sepatunya itu pun langsung mengangkat kepalanya.
Deg
__ADS_1
Jantung Laila serasa ingin copot saat melihat wajah Ronal.
“Laila, ini sahabatku. Namanya Ronal.” Darwis memperkenalkan Ronal pada Laila.
Laila dan Ronal saling menatap. Ronal menatap tajam ke arah Laila, sedangkan Laila justru menatap pria itu dengan sedikit takut.
“Ron, biasa aja dong natap calon istriku. Kalau ada Lenka, bisa abis kamu,” kata Darwis meledek.
Mendengar nama Lenka, sontak Laila menoleh ke arah Darwis. “Lenka?”
“Ya, Lenka. Sahabatku ini sudah punya istri. Namanya Lenka.”
Jedar
Kepala Laila langsung pusing. Ternyata pria yang ada di depannya ini bukan orang yang mirip Ridho, tapi benar – benar Ridho.
“Mas, boleh kita pulang saja?” tanya Laila pada Darwis.
“Loh, kita baru saja sampai Laila.”
“Ta .. pi ..”
“Tidak, apa. ayo masuk!” ujar Darwis menanangkan Laila.
Lalu Darwis menepuk bahu Ronal. “Ron, calon istriku takut padamu. Jangan menatapnya seperti itu!”
Ronal pun mengalihkan pandangan dan menjawab, “rasanya aku familiar dengan wajah calon istrimu.”
“Ya, aku juga familiar dengan wajah putri Laila yang menikah dengan Alex.”
“Maksudnya” tanya Ronal pada Darwis, saat Laila pamit menuju kamar kecil.
“Kau belum melihat istri Alex kan? Wajahnya sangat mirip dengan Tasya putrimu,” ujar Darwis lagi.
Lalu, perbincangan mereka terpotong oleh kedatangan kolega mereka, karena kebetulan pertemuan ini memang pertemuan ikatan dokter se Asia. Di sana, Darwis langsung sibuk dengan beberapa orang yang menyapanya.
Ronal mencari keberadaan Laila. Wanita itu belum juga kembali setelah meminta pamit ke kamar kecil tadi. Ronal yang tidak sabar ingin bertemu lagi dengan Laila pun menyusul wanita itu ke sana. Ronal melangkah menuju kamar kecil hotel bintang lima yang ada di lobby.
“Ah.” Laila terkejut saat membuka pintu kamar menadi itu dan menampilkan sosok Ronal alias Ridho yang tengah berdiri.
“Ronal pun mendorong Laila dan mereka masuk ke dalam kamar kecil itu.
“Mau apa kamu?” tanya Laila sembari menahan dada Ronal yang menghimpitnya ke dinding. memang suasan di lorong kamar kecil ini sangat sepi.
“Kau menggoda Darwsi karena ingin membalaskan dendammu padaku?” tanya Ronal dengan tatapan mematikan.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”
“Aku ingat kamu,” ujar Ronal tepat di waja Laila. “Kamu janda beranak dua yang aku tinggalkan dua puluh satu tahun lalu kan?”
Deg
Laila ingat saat – saat suaminya meninggalkannya malam itu.
“Jadi benar? Kamu Ridho?” tanya Laila.
__ADS_1
Kedua mata itu pun bertemu dan saling menatap. Entah perasaan apa yang Ronal rasakan saat ini. namun, ia merasa kesal saat wanita ini digandeng oleh sahabatnya.