
“Kamu telepon siapa?” tanya seorang wanita yang menghampiri pria sebagai lawan bicara Alex di telepon.
Pria itu menutup speaker dan berkata pada istrinya, “ini Alex. Dia akan menikah hari ini.”
“Dengan siapa? Apa dia tidak izin pada kita? Keterlaluan,” ucap wanita yang statusnya adalah istri pria itu.
Pria yang dipanggil Papa Ronal oleh Alex pun menggeleng. Ia tidak setuju dengan pertanyaan istrinya tadi.
“Lex,” panggil Ronal lagi di telepon yang masih tersambung pada Alex.
“Ya, Pa.”
“Maaf, tadi Mama Lenka mengajak bicara.”
“Oh ya, titipkan salamku untuk Mama Lenka, Pa,” ujar Alex.
“Ya. Akan Papa sampaikan,” jawab pria yang menjadi lawan bicara Alex.
“Baiklah, lanjutkan aktifitasmu. Papa hanya bisa mendoakan kalian dari jauh,” kata pria itu lagi.
“Terima kasih, Papa Ronal,” jawab Alex yang di dengar oleh Bilqis, karena saat ini wanita itu tengah berada di sampingnya untuk di dandani.
Sembari menunggu Alex yang sedang menerima telepon, Bilqis pun langsung membersihkan diri lalu bersiap untuk didandani oleh MUA yang sudah disiapkan Alex.
Alex menutup sambungan teleponnya, usai mengucapkan salam penutup. Kemudian, ia menoleh ke arah Bilqis dan menatap wanita itu dengan senyum.
“Apa?” tanya Bilqis yang tidak mau Alex menatapnya saat sedang didandani seperti ini.
“Cantik.”
“Hoek.” Bilqis malah menjulurukan lidahnya, seolah tidak percaya jika dirinya memang cantik.
“Sana! Bersihkan dulu tubuhmu. Nanti gantian di make up,” ucap Bilqis pada Alex yang justru malah duduk di depannya dengan menyilangkan kedua kaki sembari berpangku tangan.
Alex menggeleng.
“Sana, Mas!” Bilqis masih mengusir pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
“He em.” Alex masih menggelengkan kepala.
“Ish, dasar keras kepala. Sekarepmu,” kata Bilqis pelan.
“Apa?” tanya Alex yang tidak mengerti bahasa terakhir yang Bilqis katakan tadi.
Bilqis mengeleng. “Ngga.”
“Tadi kamu ngomong apa?” tanya Alex lagi.
__ADS_1
“Tidak ada.”
“Ada.” Alex masih penasaran.
“Yang mana?”
“Yang tadi. Apa? Se … Se … apa?” tanya Alex.
“Semaumu,” jawab Bilqis.
“Bukan, tadi bukan seperti itu ucapannya.”
“Ish, terserah deh,” sahut Bilqis kesal. “Udah sana! jangan diliatin! Aku malu.”
Bilqis menutup wajahnya dengan kedua tangan yang diberi jarak, yang penting alex tidak dapat menatapnya.
Alex pun tersenyum melihat kelakuan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu. Ia menggelengkan kepala dan bangkit dari tempat duduk itu menuju kamar mandi yang berada di luar kamar itu.
“Mas, jangan lupa bawa kimononya, di sana!” Bilqis menunjuk ke arah atas tempat tidurnya.
Ia tidak ingin Alex keluar kamar mandi hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya dan membiarkan dada bidangnya itu terekspose, mengingat letak kamar mandi itu ada di luar sedangkan saat ini diluar sana cukup ramai orang, bahkan ada tetangga Bilqis yang sudah datang untuk membantu ibunya.
Catat, tetangga Bilqis yang tidak julid tentunya.
Alex pun mengambil benda itu dan keluar dari kamar. Biasanya, Alex bisa berlama-lama di kamar mandi, tapi kini ia hanya lima belas menit saja berada di sana. Usai membersihkan diri sebentar, ia kembali ke kamar Bilqis untuk didandani sebagai mempelai pria.
“Dit, kamu siapkan?” tanya Laila yang hampir selesai didandani.
“Ya, siap ga siap, Bu,” jawab Radit pasrah.
“Jawabannya jangan terpaksa gitu ong, Dit.” Laila tampak sedih. Bukan sedih karena jawaban Radit, tapi ia lebih sedih karena sebentar lagi putri yang selama ini tinggal bersamanya akan tinggal di rumah suaminya. Rumah ini pasti akan sangat sepi karena kehilangan satu anggota.
“Ya ampun Ibu. Kok sedih sih? Radit Cuma becanda.” Putra kesayangan Laila pun mengahampiri ibunya.
“Ibu sedih, Dit.” Airmata Laila pun tak terbendung.
“Yah, Ibu kok nangis sih? Make up nya jadi berantakan deh!” protes asisten MUA itu.
Radit pun menoleh ke arah wanita yang merias Laila. “Maaf ya, Mbak. Ibu saya emang melow.”
“Ibu sedih karena sebentar lagi kakakmu akan pergi. Pasti rumah ini akan sepi,” ujar Laila.
“Kan masih ada Radit, Bu. Radit akan selalu menemani Ibu.” Radit pun memeluk Ibunya.
“Bener ya, kamu tidak akan meninggalkan Ibu. Kalau kamu menikah, kamu dan istrimu harus tinggal di sini.”
“Iya, Ibu.” Radit mengangguk patuh. Walau ia tidak tahu akan bagaimana nanti. Namun untuk menikah, ia rasa ia akan lama untuk memikirkan hal itu, apalagi wanita yang ia sukai sejak SMA juga sudah menikah. Sedangkan Radit sosok pria yang sulit jatuh cinta, tidak jauh berbeda dengan kakaknya.
__ADS_1
Di Singapura, pria yang ditelepon Alex tadi pun termenung. Satu minggu terakhir ini ia baru saja kembali ke rumah tinggalnya setelah sebelumnya melanglang buana ke negara-negara tetangga untuk menghadiri workshop pertemuan para dokter spesialis bedah untuk memperdalam ilmu dan pengalamannya.
“Kamu kenapa? Kok setelah menelepon Alex, jadi diam?” tanya istri Ronal.
Pria itu menggeleng. “Tidak apa. Papa hanya penasaran dengan calon istri Alex.”
“Kamu bicara dengannya?” tanya wanita yang bernama Lenka.
“Ya.” Ronal mengangguk.
“Bagaimana karakternya menurutmu? Biasanya kamu bisa menilai seseorang dari hanya mendengar suaranya.”
“Suaranya, mirip seseorang,” ucap Ronal.
“Siapa?” tanya Lenka serius dengan menghadapkan posisi duduknya ke arah sang suami.
“Tasya.”
Lenka pun mengernyitkan dahi.
“Dan, satu lagi suara yang terdengar mirip,” ucap Ronal lagi.
“Wanita yang memanggilku di supermarket Jakarta.”
Deg
Janutng Lenka pun seolah berhenti sejenak.
“Maksudmu?” tanya Lenka.
“Sudahlah. Tidak penting,” sahut Ronal dengan gelengan kepala.
Saat di supermarket waktu itu, Ronal dapat mendengar jelas seorang wanita yang memanggilnya dengan panggilan Ridho. Namun, Ronal tak sempat menengok ke belakang karena Lenka langsung menariknya keluar dan menaiki mobil.
“Sayang. Di supermarket itu, ada yang memanggilku dengan sebutan Ridho.”
Deg
Lenka langsung terdiam. Ia tahu betul siapa yang memanggil suaminya. oleh sebab itu, ia langsung menarik Ridho dari sana.
“Ada beberapa kali orang yang memanggilku dengan panggilan itu. siapa Ridho?” tanyanya yang belum mendapat jawaban dari sang istri.
“Itu semua masa lalu. Jangan diingat! Nanti kepalamu pusing,” jawab Lenka.
Ronal memang divonis amnesia permanen. Ia sudah melakukan segala macam pengobatan. Namun tidak berhasil. Lenka pun sudah mendampingi suaminya dan mengenalkan orang-orang di masa lalunya kecuali Laila dan anak-anaknya. Lenka hanya memperkenalkan saudara-saudara Ronal yang berada di Malang. Itu pun setelah saudara Ronal dikondisikan, mengingat saat kejadian itu mereka membutuhkan biaya untuk pengobatan ayah Ronal dan perusahaan keluarga Ronal yang hampir bangkrut.
Ya, dokter Ronal Bastian dengan gelar spesialis bedah dibelakangnya itu memiliki nama asli dokter Ridho Dharmawan, ayah kandung Bilqis dan Radit.
__ADS_1
Paska meninggalkan rumah saat melihat Laila dengan mantan pacarnya yang sedang memperbaiki AC itu, Ridho kecelakaan hingga hilang ingatan. Dan, sayangnya saat itu terjadi yang berada di samping Ridho adalah Lenka. Sehingga Lenka pun memanfaatkan keadaan. kondisi keuangan keluarga Ridho yang sedang tidak baik pun memaksa mereka menuruti kemauan Lenka dan merubah semua jati diri Ridho menjadi Ronal Bastian. Lenka pun langsung memboyong Ridho ke Singapura dan menetap di sana, sembari mengulang kembali ilmi kedokteran yang sudah Ridho miliki sebelumnya, sebelum kecelakaan itu terjadi.