
Bilqis masih berada di rumah Alex, hingga malam menjelang sejak siang menjelang sore. Ia sulit sekali meninggalkan Aurel. Bahkan pamit pulang pun tidak diizinkan oleh gadis kecil itu. alhasil, saat ini Bilqis tengah memeluk Aurel hingga dia tertidur dan Bilqis pun ikut tertidur.
Bilqis masih menggunakan pakaian kerjanya. Ia tertidur dengan masih menggunakan rok sepan selutut seperti yang ia gunakan saat di kantor. Namun, blazer yang ia pakai untuk menutupi pakaian tank top nya itu dilepas. Kini, bagian atas tubuh Bilqis hanya berbalut kaos tank top tali. Pundak dan bahu Bilqis yang putih pun terekspose, apalagi saat tubuhnya tertidur miring dengan rambut panjang yang jatuh saat miring.
Alex memasuki kamar putrinya yang tidak terkunci. Sejenak ia menatap kedua wanita beda generasi itu dengan bibir tersenyum. Ia senang mendapati pemandangan ini. Bilqis layak seperti ibu kandung Aurel. Dan, ia bersyukur untuk itu. Lalu, Alex mendekat, hingga sengaja mengambil kursi belajar Aurel dan duduk di di samping tubuh Bilqis yang miring membelakanginya.
Alex memajukan tubuhnya dan menopang dagu di atas tempat tidur itu. tidak ada jarang antara kepalanya dengan bahu Bilqis yang tengah tertidur miring. Sejenak, ia menghirup aroma parfum yang melekat khas di tubuh itu. Walau katanya, Bilqis menggunakan parfum murah, tapi Alex menyukainya.
Bibir Alex pun mendarat di bahu mulus itu dan ternyata si pemilik tubuh itu pun tidak menyadari. Bilqis masih belum terusik karena sentuhan itu.
Alex mengulangi perbuatannya. Ia kembali mencium bahu itu.
Namun, tiba-tiba tubuh Bilqis bergerak. Sontak, Alex pun memberi jarak pada tubuh dan kursi yang sedang ia duduki.
“Jam berapa sekarang?” racau Bilqis setelah bangun.
“Jam sepuliuh.” Alex menjawab. Mendengar suara bariton itu, Bilqis pun langsung menoleh.
“Mas.” Bilqis memanggil dengan keadaan rambut yang berantakan dan satu tali tank top yang jatuh ke bahu dan tidak lagi berada di pundaknya.
Ah, pemandangan itu membuat sesuatu yang Alex miliki meronta. Sungguh, Bilqis begitu sexy dan menggoda. Ia tak mungkin bisa tahan untuk tidak menyentuh wanita itu setelah menikah. Untung saja, sewaktu Bilqis mengajukan perjanjian pra nikah, ia langsung memiliki ide untuk menggagalkannya.
Alex pun tersenyum sembari melipat kedua kaki dan kedua tangannya di dada dan tetap duduk si kursi belajar Aurel.
“Kenapa senyjum – senyum?” tanya Bilqis bingung.
Lalu, Bilqis sadar dengan baju yang ia kenakan. “Ah, ya ampun.” Ia baru menyadari kalau dirinya hanya menggunakan tank top tanpa blazer.
“Dasar mesum!” hardik Bilqis kesal.
Padahal yang membuat Alex tersenyum adalah surat perjanjian itu, tapi otaknya pun memang mesum juga.
Bilqis bangkit dan mendekati Alex untuk mengambil blazer yang ia letakkan di punggung kursi belajar yang Alex duduki.
“Hei yang mesum itu kamu, bukan aku,” ucap Alex melihat Bilqis melangkah mendekati hingga tak ada jarak seperti sedang menggoda.
“Ish, apaan? Aku mendekati kamu karena mau ambil ini.” Bilqis yang sedang berdiri di depan Alex, langsung menyambar blazer yang disampirkan di punggung kursi tempat Alex bersandar.
“Ah.” Bilqis terkejut karena Alex memeluk pinggangnya hingga akhirnya mereka menempel.
“Mas, lepas!”
“Tanggung,” jawab Alex dengan wajah yang super menyebalkan.
Bilqis pun langsung mendorong dada Alex hingga terlepas. Lalu ia berlari meninggalkan kamar ini.
Alex pun bangkit dan tersenyum sembari mengejar Bilqis. Ia ikut keluar dari kamar dan mengikuti langkah Bilqis, lalu menarik lengan itu dari belakang. “Mau ke mana?”
“Pulang.”
Alex menarik lagi lengan itu agar berhadapan. “Sudah malam. Menginap saja.”
Mereka berdiri dan saling berhadapan dekat.
__ADS_1
Bilqis menggeleng. “Tidak. kita belum menikah. Apa kata orang? Apa kata orang-orang yang bekerja di rumahmu?”
“Kamu pikir mereka peduli?” Alex balik bertanya sembari menaikkan alisnya dan tersenyum menyeringai.
Memang benar. Alex tinggal di komplek yang sepertinya tidak saling tahu tentang hidup mereka satu sama lain. tidak seperti kompleks tempat Bilqis tinggal. Walau Bilqis juga tingga di perumahan tapi perumahan tanggung yang kayanya juga tanggung. Tidak seperti Alex, yang benar-benar tinggal di perumahan elit dengan para tetangga yang memilki segudang aktifitas dan jangan kan memperhatikan orang lain, untuk memperhatikan keluarganya sendiri pun tidak ada waktu.
“Menginap di sini! Aku bingung kalau nanti Aurel bangun dan mencarimu,” ucap Alex lembut. Ia mengeluarkan tangan yang semula berada di kantong sakunya. Lalu, memegangtangan Bilqis. “Tidurlah di kamar tamu. Ayo!”
Alex menarik tangan Bilqis dan mengajaknya ke tempat itu. sesampainya di epan pintu kamar yang Alex bilang, Alex membuka pintu itu.
“Istirahatlah! Jika ingin sesuatu, kamu bisa mengambilnya sendiri di dapur.” Alex menunjuk letak dispenser dan makanan ringan di toples yang biasa ia sediakan di tempat yang tersedia.
Bilqis mengangguk. sebenarnya ia tidak ingin menginap di sini, tapi ia juga ingat kalau di rumahnya tidak ada siapa pun. Bilqis juga takut untuk tidur sendirian di rumahnya sendiri. Alhasil ia pun tidak menolak permintaan Alex.
“Besok kita berangkat ke kantor bersama dan langsung ke PT Antariksa.”
Bilqis mengangguk. Ia tidak lupa jadwal bosnya yang memang sudah ia dengan tangannya sendiri di buku agenda khusus.
Alex tersenyum dan pergi dari depan kamar itu. Bilqis akui, walau Alex mseum dan terkadang mencuri-curi kesempatan, tapi pria itu tahu batasan. Dia tidak pernah menyentuh bagian lain selain bibirnya.
Bilqis pun tersenyum dan memasuki kamar. Matanya menatap ke seluruh penjuru untuk menelisik merk barang dan kisaran harga barang yang menghiasai kamar ini.
“Uh, jam dindingnya aja merknya rolex? Sayang banget,” gumam Bilqis sembari berjalan ke arah tempat tidur yang besar itu.
“Ya, ampun bisa buat guling-gulingan ini mah.” Bilqis tertawa sembari mengayunkan tubuhnya di atas tempat tidur empuk itu. Ia juga langsung merebahkan diri dan berguling-guling seperti perkataannya tadi.
Bilqis langsung mengeluarkan ponselnya dan berselfie ria dengan backround kamar sultan. Tanpa Bilqis sadari, seseorang mengintainya dari kamera yang tergantung kecil di sudut gipsum.
Tok … Tok … Tok …
Seseorang mengetuk pintu kamar itu. Bilqis langsung bangkit dan menghampiri suara ketukan itu.
Ceklek
Bilqis melihat Alex tengah berdiri.
“Ini pakaian gantimu. Ada pakaian tidur dan baju kerja untuk besok,” ucap Alex sembari mengulurkan barang yang dibutuhkan Bilqis.
Bilqis pun mengernyitkan dahi.
“Aku tahu, paper bag mu tertinggal di kantor karena tergesa-gesa ke sini. Jadi aku siapkan ini.”
Bilqis menerima benda itu. “Terima kasih.”
“Aku yang terima kasih, karena kamu telah membuat putriku bahagia hari ini.”
Bilqis tersenyum dan mengangguk. “Semoga Aurel segera sembuh ya, Mas.”
Alex menampilkan ekspresi yang sama. “Aamin.”
Pria yang dikenal tak banyak bicara, dingin, dan kaku itu membalikkan tubuhnya hanya dengan jawaban satu kata. Alex meninggalkan kamar Bilqis. Bilqis pun kembali menutup pintunya.
Di dalam sana, ia membersihkan diri dan berganti pakaian. Pakaian tidur yang diberi Alex pun bukan pakaian yang aneh, hanya setelan kaos dan celana pendek berbahan katun dengan corak bali.
__ADS_1
Setelah terasa segar, Bilsi kembali merebahkan tubuhnya. Ia teringat dengan telepon sang ibu sore tadi. Sejenak Bilqis pun berpikir tentang ayah dan keluarganya.
Penat dengan pikiran itu, Bilqis beralih keluar. Ia ingin mengambil minum untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Namun, setelah mengambil minum di dapur, justru Bilqis tidak langsung kembali ke kamar. Kakinya tertahan saat melewati kolam renang. Air yang tenan dan pemandangan malam di langit, membuatnya merasa tenang.
“Hei, belum tidur?” bisik seseorang dari belakang.
Bilqis langsung menoleh hingga air minum yang ia pegang mengenai dada Alex. Bilqis tidak tahu jika Alex berdiri di belakangnya dengan sangat dekat.
“Maaf, Mas.” Bilqis menyentuh dada Alex.
Gerakan tangan Bilqis yang menyentuh lembut dada itu, membuat darah Alex berdesir.
“Stop!” Alex menahan tangan Bilqis. “Tidak apa. Sudah jangan dibersihkan!”
“Tapi …” Bilqis menenggak dengan raut wajah bersalah.
“TIdak apa. Airnya juga hanya tumpah sedikit.”
“Sekali lagi, Maaf,” ucap Bilqis.
“It’s oke.” Alex menjawab dengan senyum.
Kemudian Bilqis kembali pada posisi semula dan Alex berdiri di sampingnya dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celana training berwarna abu tua.
“Mengapa belum tidur?” tanya Alex dengan menoleh ke arah Bilqis.
Bilqis pun ikut menoleh. “Entahlah. Hanya belum bisa tidur. Sore tadi, Ibu telepon katanya keluarga ayah tidak ada yang tahu ayah di mana.”
“Jadi?” tanya Alex yang juga belum bisa mendeteksi keberadaan Ridho.
“Sepertinya, Radit yang akan menjadi wali.”
Alex langsung berdiri sempurna menghadap ke arah Bilqis. “Kalau begitu, besok kita akan menikah.”
“Besok?” tanya Bilqis terkejut.
Alex mengangguk. “Semua sudah disiapkan. Surat-surat pun sudah selesai. Sesampainya dibandara, sopirku akan menjemput Ibu dan adikmu dan langsung ke rumah. Besok pagi rumahmu akan di dekorasi. Kita akan menikah sore dan paginya kita masih bisa hadir presentasi terlebih dahulu.”
Bilqis tercengang mendengar rangkaian rencana mendadak yang diutarakan Alex. “Apa harus secepat ini?”
“Tentu,” jawab Alex yang memang sudah kepingin kawin.
Apalagi melihat bahu mulus Bilqis tadi. Ah, rasanya ingin segera menghalalkan wanita itu dan mengungkungnya berhari-hari dalam pelukan. Walau hal itu harus perlahan.
“Kenapa? Aku tidak sedang hamil dan akan melahirkan besok kan?” tanya Bilqis dengan pertanyaan absurd membuat Alex tertawa.
“Memang menikah cepat harus karena seperti itu?”
“Lalu?” tanya Bilqis bingung.
“Karena aku ingin segera menjadikanmu istriku. Apa itu salah?”
Seketika, Bilqis pun tak bisa bicara.
__ADS_1