Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Kamar rahasia


__ADS_3

“Arrggg …” Alex berteriak.


Setelah sekian lama si jerry terkurung seorang diri. Kini, Akhirnya mampu terlepas kembali. Alex kembali merasakan nikmatnya surga dunia. Apalagi dengan mendapatkan wanita yang bersegel lagi. Entah amal apa yang sebelumnya ia lakukan, tapi ia merasa sangat beruntung dan ini adalah kenikmatan yang sangat ia syukuri.


A;ex merasa dirinya bukanlah orang yang suci. Ia juga pernah ada dikubangan dosa, tapi sang pencipta maha baik, karena ia diberikan kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik dan dilimpahi oleh segala anugerah.


Hosh … Hosh … Hosh …


Nafas Alex dan Bilqis saling memburu. Kedua dada mereka naik turun seperti lari marathon engan jarak ratusan kilometer.


Bilqis terkulai lemas. Begitu pun dengan Alex. Pria itu roboh di dada Bilqis. Ia bisa mendengar detak jantung wanita itu dan nafasnya yang tersengal.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Alex dengean tetap bebaring di atas dada Bilqis.


Bilqis mengangguk. Ia baru merasakan rasanya bercinta. Sebelumnya, ia hanya menjadi pendengar untuk Tina, Saskia, dan Mira saat mereka berceloteh tentang perbicangan dua puluh satu plus. Biaanya, ia hanya diam dan tidak menanggapi cerita serta candaan yang tidak ia mengerti itu. Namun sekarang, ia pun tahu.


Alex mengangkat kepalanya untuk melihat wajah sang istri. Sedetik pun ia belum melepas penyatuan itu. Rasanya hangat berada dalam tubuh Bilqis. Dan Jerry – nya pun terasa nyaman.


“Lelah?” tanya Alex dengan mengusap peluh di dahi itu.


Bilqis mengangguk. “Sudah boleh tidur?”


Pertanyaan Bilqis, sontak membuat Alex tertawa. Alex pun menggeleng. “Belum.”


“Kenapa?” tanya Bilqis polos.


“Karena aku belum ingin selesai.”


“Maksudnya?”


Alex tersenyum dan menjawab, “aku ingin sekali lagi.”


“Mas …” rengek Bilqis. Ia teringat ketika Tina pernah bercerita tentang Jhon yang berdarah bule. Jhon pernah menggempur Tina hingga pagi menjelang.


“Kamu akan menggempurku hingga pagi?” tanya Bilqis pada Alex.


Alex langsung tersenyum dan mengangguk. “Jika diizinkan. Kenapa tidak?”


“Hmm …” Bilqis kembali merengek dengan ekspresi yang ingin menangis. Padahal Alex tidak akan setega itu.


Alex pun tersenyum dan hendak mengulangi aktifitas itu untuk kedua kalinya. Hanya dua kali. Setelah ini, ia akan menyuruh istrinya untuk tidur. Alex juga tidak akan terburu – buru, masih ada malam esok, esoknya, dan esoknya lagi. Ia tidak ingin menyakiti istrinya dengan memaksakan kehendak. Apalagi ini adalah kali pertama sang istri bercinta.


“Eum …” Bilqis melenguh untuk kesekian kalinya.


Setelah di awal ia menolak dan sampai mendorong keras dada Alex. Kini, ia justru sangat menikmati.


“Lebih keras, Mas.”


“Seperti ini?”


“Iya.”


Alex tersenyum. Ia senang karena istrinya bisa menikmati apa yang ia lakukan.

__ADS_1


“Jangan dilepas, Mas!”


“Tidak, Sayang. Mas tidak akan lepas.”


Alex menatap wajah Bilqis dengan lekat, hingga ia pun menutup wajahnya.


“Hei kenapa wajahmu ditutup?” Alex membuka wajah itu.


“Malu.”


Alex tersenyum. wanita ini benar – benar lucu dan mampu membuatnya bahagia.


Satu jam kemudian, Alex pun menyudahi aktifitasnya. Ia melihat Bilqis yang sudah teramat lelah. Bahkan sudah tak terhitung berapa kali wanita itu melakukan pelepasan.


Alex memeluk tubuh polos Bilqis dengan sangat erat saat aktifitas itu selesai. Ia juga menarik selimut dan menutupi tubuh mereka yang polos.


“Lelah sekali, Mas.”


“Iya, Sayang. Maaf. sekarang tidurlah.”


Bilqis pun terlelap dalam dekapan dada itu. Tidak pernah terbayang di kepalanya jika ia akan sedekat ini dengan Alex, bos killer yang selalu membuatnya jengkel dan sulit tidur. Awal pertemuannya dengan Alex adalah awal kesi*lannya, tapi justru ternyata awal dirinya untuk memiliki masa depan dan mematahkan prinsip hidup yang telah ia bangun selama ini.


Tidak akan menikah dan terlibat cinta, itu adalah prinsip Bilqis. Ia bertekad untuk tidak akan terlibat cinta oleh pria mana pun dan ternyata, Alex mematahkan prinsip itu dengan nyata.


Bilqis mengangguk.


“Sekali lagi, terima kasih,” kata Alex lembut diakhiri dengan kecupan ringan di kening Bilqis.


Sungguh, tidak ada hal yang nyaman selain ini. Bilqis merasa nyaman dan aman di dalam pelukan itu. Hatinya pun terasa bebas dan tak ada beban. Seperti ada sesuatu yang melengkapi hidupnya. Ia pun tidak merasa sendiri lagi, sekarang. Entah apa yang kurang saat ia masih sendiri, padahal ada Ibu dan sang adik yang selalu ada untuk melengkapi hidupnya. Tapi dengan Alex, kelengkapan hidupnya berbeda, rasanya tidak seperti saat bersama Laila dan Radit.


“Sayang, bangun!” Alex mengusap pipi Bilqis dengan lembut.


Namun, Bilqis belum bergerak sama sekali.


“Sayang. Ayo bangun! Kamu belum sholat shubuh.”


“Hm …” Bilqis mulai bergerak. Ia mengucek kedua matanya.


Sedangkan mata Alex justru tertuju pada kedua gunung kembar Bilqis yang terlihat sempurna karena selimut itu turun akibat gerakan Bilqis sendiri. Bilqis pun mengikuti arah mata Alex dan langsung menaikkan lagi selimut itu.


“Apa yang Mas lihat?”


“Susu.”


“Mas, Ih.” Bilqis memukul lengan suaminya yang lengkap dengan memakai koko dan celana panjang.


“Mas udah sholat?” tanyanya.


Alex mengangguk. “Udah.”


“Kok ga bangunin aku.”


“Dari tadi juga udah dibangunin. Tapi kebluk banget, mana ngoroknya kenceng banget.”

__ADS_1


“Masa?” tanya Bilqis malu. “Bohong!”


“Iya, bohong.” Alex pun menjawab dengan cengiran.


Lalu, Bilqis bangkit dan duduk sebentar di atas ranjang itu untuk mengumpulkan nyawanya yang masih tiga perempat.


“Aku sudah siapkan air hangat di dalam bathub. Ayo!” Alex memasang kedua tangannya untuk menggnedong tubuh Bilqis.


“Ngapain?’ tanya Bilqis melihat kedua tangan Alex yang terbentang.


“Menggendongmu.”


“Memang kenapa?”


“Semalam kamu baru merasakan bercinta dan biasanya kakimu akan sakit jika berjalan.”


“Masa sih? Emang iya?” tanyanya tidak percaya. Bilqis dengan gagahnya berdiri.


“Terserah. Coba saja,” sahut Alex dengan menatap istrinya yang terlewat susah diberitahu dan keras kepala.


“Aww … Ssshhh … Sakit.” Tiba -tiba Bilqis mengeluh saat kakinya melangkah.


Sontak, Alex pun langsung mendekat. “Benarkan kataku. Makanya jangan keras kepala.”


Alex langsung menggendong tubuh istrinya dan membawa ke kamar mandi. Bilqis tidak menjawab, ia hanya memasang wajah polos sembari tersenyum tipis.


“Mommy … Mommy …” teriak Aurel.


“Sayang. Aku tinggal ya.” Alex meninggalkan Bilqis, setelah diturunkan ke dalam bathub. Kemudian, kakinya menuju ke pintu kamar untuk mendekati teriakan Aurel.


Ceklek


Alex membuka pintu dan mendapati tubuh mungil putrinya berdiri di depannya. Alex pun berjongkok. “Kamu sudah bangun?”


“He um.” Aurel mengangguk. “Mana Mommy? Semalam aku ingin tidur dengan Mommy tapi tidak dibolehkan Nanny.”


Alex tersenyum. Untung saja, ia sudah memberi pesan pada Maya untuk tidak menganggunya. Dan ternyata, pengasuh putrinya itu bisa diandalkan. Sepertinya, Alex akan memberikan tips tambahan pada akhir bulan nanti untuk Maya.


“Kata Nanny, Mommy lelah dan tidak boleh diganggu. Apa Mommy sakit?”


“Tidak.” Alex menggeleng. “Mommy tidak sakit. hanya kelelahan saja.”


“Sekarang di mana Mommy?” Mata Aurel mengedar ke dalam kamar sang ayah. Biasanya ia bisa masuk begitu saja ke kamar itu, tapi Kini sang ayah berdiri di depan pintu seolah menjaganya untuk tidak masuk.


Bagaimana Aurel tidak diperbolehkan masuk ke kamar itu. Kamar itu cukup berantakan, apalagi ranjang yang biasanya rapi. Aurel juga tidak boleh melihat bercak darah di sprei itu. Alex belum merapikan kekacauan semalam.


“Aurel bersama Nanny dulu. Nanti kalau Mommy sudah seesai mandi, Mommy akan ke kamarmu. Oke!”


“Oke!” Aurel ikut mengangkat ibu jarinya ke atas, seperti sang ayah tadi.


Alex tersenyum sembari menarik nafasnya tenang. Ia pun berjalan menuju sebuah kamar. Sebuah kamar yang hanya memiliki satu kunci dan hanya Alex yang memegang benda kecil itu.


Alex hanya meminta Nia untuk membersihkan kamar itu dua kali seminggu. Dan ia pun sudah berpesan pada seluruh asisten rumah tangga serta pengasuh Aurel untuk tidak memberitahu pada Bilqis tentang ruangan ini.

__ADS_1


Alex memasuki ruangan itu dan menguncinya kembali. Ia tersenyum menatap wajah di dalam foto itu. Hampir semua dinding ruangan itu dipenuhi oleh foto Tasya. Ada pose Tasya yang sendiri dan ada pula yang bersamanya juga bersama Aurel saat bayi. Tapi foto itu lebih banyak saat berdua bersama Alex. Semua momen kebersamaan mereka selalu Alex abadikan dalam sebuah foto.


“Sayang, aku sudah menemukan penggantimu. Aku sangat bahagia. Aku yakin, kau pun bahagia melihatku dan Aurel bahagia,” ucap Alex pada foto itu sembari memasukkan tangan kanannya ke dalam saku dan tersenyum.


__ADS_2