Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Bonchap 5 - Tanggung jawab seorang pria


__ADS_3

Hai.”


Dari kejauhan Bilqis melambaikan tangannya ke arah Tina. Siang ini, ia memang janjian dengan Tina dan Saskia untuk makan siang bersama.


Kebetulan, hari ini hari Sabtu. Tina sedang libur bekerja dan Saskia memang sudah menjadi ibu rumah tangga sepulang dari labuan bajo. Gathering yang ia ikuti bersama teman – temannya di K-Net corp adalah hari terakhirnya bergabung dengan perusahaan yang dimiliki suai Bilqis. Suami Saskia yang merupakan salah satu bos di K-Net pun mengundurkan diri sejak tiga bulan yang lalu. Kemudian, Ringgo merintis usaha otomotif.


Bilqis sendiri baru saja mengantarkan Aurel latihan piano bersama orkestra ternama. Rencananya, anak sambung sekaligus kepnakannya itu akan tampil dengan beberapa jejeran penyanyi papan atas negeri ini. Aurel yang sejak usia lima tahun sudah menjuarai beberapa lompa piano dalam negeri dan beberapa negara tetangga, membuat salah satu orkestra ternama meminangnya. Hanya saja, Alex tidak melepas putrinya untuk lebih fokus pada dunia itu. Baginya, pendidikan adalah yang utama dan kemahiran Aurel di musik hanya sekedar penyaluran hobby saja.


“Sendirian? Kia mana?” tanya Bilqis, setelah memeluk Tina dan mencium pipi kiri kanannya.


“Biasa, tuh anak suka ngaret. Tadi gue telepon katanya baru jalan,” jawb Tina santai.


“Beuh, si Kia masih aja ga berubah. Tukang karet.”


Kedua wanita itu tertawa.


“Lu juga dulu tukang karet,” jawab Tina pada Bilqis. “Tapi berhubung sekarang dapet suami anti karet, jadi udah ga pernah telat ya, Bu.”


“Iya, sekarang aku nemuin karet yang baru.”


“Apaan?” tanya Tina bingung.


“Karetnya tahan lama banget, udah gitu je sampe jepretnya tepat sasaran sampe bikin perut aku besar sekarang.” Bilqis menunjukkan perutnya yang semakin bulat.


Sontak, Tina tertawa. “Itu mah namanya bukan karet, Qis. Tapi uler kadut.”


Bilqis ikut tergelak, diiringi Tina. Kedua wanita itu tampak riang dengan saling melontarkan candaan absurd.


“Bye the way, Mba Mira ga bisa datang, Tin?”


Tina menggeleng dan berkata setelah menyeruput sedikit minuman dingin dengan rasa taro itu. “Iya, katanya mertuanya mau umroh. Sekarang lagi ada pengajian. Apa deh namanya?”


“Walimatus safar,” jawab Bilqis.


“Nah iya, itu.”


“Ck. Gitu aja ga tau, makanya ngaji bu,” ledek Bilqis pada sahabatnya yang memang hanya islam KTP.


“Iya, kayanya ini gara – gara gue males ngaji dari kecil, makanya hidup gue rasanya gini banget.”


“Kenapa?” tanya Bilqis yang mulai serius.

__ADS_1


“Ga tahu, Qis. Kayanya gue udah mulai rgu sama Jhon.”


“Lah kok gitu? Bukannya kalian udah mau nikah?”


Tina menggeleng. “Mana, buktinya sampe sekarang dia ga pernah bahas tentang pernikahan. Setiap kali gue singgung itu, dia bilang dia lagi sibuk, nanti aja.”


“Terus jatahnya dia masih lancar?” tanya Bilqis menyelidik.


Tina mengangguk.


‘Ck. Bodoh,” kata Bilqis kesal sembari menekan kening Tina. “Udah tahu ga jelas, masih aja dia dikasih enak. Tina, kamu tuh cantik. Pinter lagi. kalau Jhon emang ga serius, udah tinggalin aja. Masih banyak cowok lain yang mau sama kamu.”


“Siapa? Aku udah rusak, Qis.” Tina menunduk. Rasanya airmata yang sejak tadi ditahan ingin segera terjun bebas.


Bilqis pun ikut merasa sedih. Ia yang semula duduk berhadapan dengan Tina pun bangkit dan duduk disamping wanita yang sedang sedih itu. Bilqis memerikan pelukan hangatnya pada sang sahabat.


“Jangan bilang begitu, Tin! Manusia memang tempatnya salah. Tapi idak ada kata terlambat untuk berubah.”


Tina menatap Bilqis, wanita yang selalu ia ledek dengan sebutan ‘kuper’ atau ‘cupu’ karena Bilqis yag tidak pernah berpacaran.


“Ternyata mending punya Paradigma seperti lu ya, Qis. Gue dulu suka ngeledekin lu. Eh, ternyata memiliki sikap seperti itu lebih baik. kalau seperti ini, gue trauma pacaran.”


Bilqis menarik nafasnya kasar. “Yang penting kamu tahu batasan, Tin. Jangan semuanya diserahkan sama orang yang belum tentu bertanggung jawab sama kita. Karena pria yang bertanggung jawab adalah pria yang dengan gagah berani mengajak pasanannya menikah dengan kondisi apa pun.”


Bertemu dengan Bilqis, membuat Tina seolah memiliki baterai baru. Ia kini mengerti apa yang harus ia lakukan nanti.


“Makasih ya, Qis,” ucap Tina disela pelukannya itu.


“Sama – sama, Tin. Mulai sekarang kamu harus tegas sama Jhon. Jangan beri apa pun yang merugikan kamu!”


Keapal Tina mengangguk. “Ya.”


Sebucin itu Tina terhadap Jhon. Tina memang tidak bisa menolak keinginan pria yang merupakan sahabat Alex sekaligus rekan kerjanya di kantor.


“Wah, ada apaan nih? Kok pada peluk – pelukan dah. Pake acara nangis segala.” Suara Saskia, sontak merubah suasana haru itu.


****


Perut Bilqis semakin besar. Usia kehamilannya sudah memasuki dua puluh delapan minggu, tepatnya tujuh bulan. Jika saat memasuki usia empat bulan, Bilqis sudah membuat pengajian di rumah Laila, saat ini pun ia juga mengadakan acara di rumah besar Alex.


Laila kembali ke Jakarta. Ia dan Bilqis mengadakan acara yang sama di kediaman Alex. Bukan karena irit biaya, tapi lebih ke efisiensi waktu, karena setelah ini Alex dan keluarganya juga akan pulang ke Singapura.

__ADS_1


Alex sudah melepaskan kantor cabang di Jakarta kepada Jhon. Ia kembali memegang kantor pusat yang ia dirikan di Singapura. Entah kapan ia akan kembali ke kota ini, tapi yang pasti, Bilqis akan melahirkan di sana bersama sang ibu, di rumah sakit yang dikembangkan oleh Darwis dan Ridho. Rumah sakit yang kini sudah dipindahtangannya menjadi milik Bilqis, Radit, dan Darwis, karena Alex telah membeli saham Lenka untuk istrinya.


Ridho pun sudah memulai hidup baru bersama sang istri dari hasil penjualan saham yang dibeli Alex itu. Walau saat ini Lenka belum sembuh, tapi Ridho tetap menemani wanita yang telah membuat hidupnya sengsara. Ridho menerima takdirnya. Darwis dan Radit pun tetap memberikan keuntungan dari hasil rumah sakit itu pada Ridho, karena Radit tetap tidak ingin memiliki harta itu sendiri.


“Dit, kamu juga ikut Papa ke Singapura setelah ini kan?” tanya Darwis pada putra sambungnya.


“Hm. Gimana ya, Pa?” Radit ragu. Ada hal yang membuatnya ingin tetap menetap di kota ini.


“Ayolah! Kita kumpul di sana. Ridho sudah mempercayakan sahamnya padamu. Tunjukan kalau kau bisa diandalkan.”


Radit terdiam dan berpikir. Ia juga tidak rela ditinggal sendiri di sini. Walau ada wanita yang tetap memberi perhatian padanya tapi kehadiran kakak dan sang ibu tetap membuatnya rindu. Beberapa bulan berada di rumah sendiri membuatnya sangat sepi.


“Nanti, Radit pikirkan, Pa,” ucap Radit.


“Secepatnya, Nak. Ambil keputusan, kami akan menunggumu di sana.”


Radit mengangguk. Setelah itu, Darwis menepuk bahu Radit dan meninggalkan anak muda sendiri. Radit menoleh ke arah Maya. Wanita itu tampak sibuk mengurus makanan dan memastikan hidangan di sana tidak ada yang kurang.


Radit melangkah mendekati wanita itu dan menarik lengannya. “May, bisa kita bicara.”


Maya mengangguk. ia terlihat bingung tapi tetap mengikuti langkah Radit. Radit membawa Maya ke taman belakang. Wanita itu didudukkan di kursi taman itu, lalu Radit duduk di sampingnya.


“Setelah Mas Alex dan Mba Qis pindah ke Singapura, kamu ke man? Kamu ikut juga dengan keluarga Mas Alex?” tanya Radit serius.


Setiap kali bertemu, mereka memang ingin membicarakan hal ini tetapi selalu saja tidak tepat waktunya.


Maya menggeleng. “Ngga, Mas. Lagi pula Aurel sudah besar, sepertinya dia sudah tidak perlu pengasuh lagi."


"Terus kamu?" tanya Radit lagi.


“Cari kerja lagi,” jawab Maya yang tetap berusaha semangat. Walau rasanya sulit mendapat pekerjaan se-enak bersama Alex dan keluarganya.


“Bagaimana kalau kamu kerja sama aku,” ucap Radit membuat dahi Maya mengernyit.


“Maksudnya? Aku jadi pembantu kamu?” tanya Maya polos.


Radit pun tertawa. “Ya, tapi tugasmu bukan hanya melayani kebutuhanku, tapi juga melayani hasratku.”


“Mas Radit,” panggil Maya dengan mata membulat.


Radit kembali tertawa. Dan tak lama kemudian, ia pun memelankan tawanya, lalu memegang kedua tangan Maya. “Jadilah istriku, May. Kita akan tinggal di Singapura dan memulai hidup baru di sana.”

__ADS_1


“Aku menyukaimu. Dan aku memilihmu.”


Maya tercengang. Ia pikir hubungan mereka hanya sebatas teman, karena Radit tidak pernah mengungkapkan cintanya, walau pria itu sangat perhatian padanya. Dan hari ini, Radit bukan hanya mengungkapkan cinta, melainkan tanggung jawabnya sebagai seorang pria.


__ADS_2