Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Ikhlas


__ADS_3

“Mas, sepertinya aku akan mencabut tuntutanku,” kata Laila pada suaminya, sesaat sebelum ia merebahkan tubuhnya di samping Darwis.


Siang tadi, ia menahan rasa cemburu melihat Ridho yang memeluk erat istrinya. Darwis berusaha untuk tidak egois. Sebagai pria yang sudah melewati usia dewasa, rasanya berlebihan jika harus merubah sikap dan menjadi diam karena kecemburuan itu. Namun kini, rasa cemburu itu kembali di uji dengan perhatian Laila beruba pencabutan tuntutannya terhadap Ridho yang telah membohonginya perihal kehamilannya yang kembar.


“Teserah kamu.” Darwis menanggapi pernyataan itu datar. Ia meletakkan ponselnya tepat di meja kecil yang ada di sebelahnya dan hendak tidur.


“Hm, kamu datar banget sih Mas.”


“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Darwis. “Aku tahu kamu memiliki hati yang lembut. Kamu pasti tidakk tega melihat orang menderita, apalagi dia adalah orang yang pernah kamu cinta.”


“Mas,” panggil Laila yang tidak ingin mendengar kalimat terakhir Darwis tadi.


“Kenapa? Yang dikatakan Mas benar kan?”


“Iya, tapi aku tidak tega bukan karena dia pernah menjadi orang yang aku cinta.”


“Lalu?” tanya Darwis dengan menatap mata sang istri.


“Karena aku tidak tega melihat Lenka. Wanita itu terpuruk dan hingga gila. Jika ada Mas Ridho di sampingnya, Lenka past tidak akan separah itu.”


Darwis mengernyitkan dahi. “Walau Lenka pernah membuatku menderita dan senang diatas penderitaanku. Tapi melihatnya tadi, membuat bulu kudukku merinding, Mas. Sebagai sesama wanita, aku tetap tidak tega.”


Bibir Darws tersenyum. “Sini!”


Darwis mengajak Laila untuk mendekat dan masuk ke dalam pelukannya. Laila yang semula masih duduk di bibir ranjang pun mendekat. Ia masuk ke dalam dada Darwis.


“Lalu, apa lagi yang membuatmu tergerak untuk tidak mempermasalahkan lagi masa lalumu?” tanya Darwis.


“Entah lah. Saat ini, aku merasa masa lalu itu tidak menyakitkan. Malah aku merasa hal itu tidak pernah ada. Apa itu yang dinamakan ikhlas?” tanya Laila lugu.


Darwis tersenyum dan mengangguk. “Ya.”


Laila pun membalas senyum itu dan menatap lekat kedua mata Darwis. “Ini semua karenamu, Mas.”


“Karena aku?” tanya Darwis bingung.


“Ya.” Laila mengangguk. “Karena kamu sudah mengubah hidupku. Kamu membuatku bahagia hingga lupa dengan penderitaan yang pernah aku rasakan.”


Sontak, Darwis pun tertawa. Ia tertawa karena senang dan karena ternyata Laila bisa menyusun kata yang membuat hatinya berbunga.


“Kok malah ketawa sih? Memangnya aku lucu?” tanya Laila.


Darwis masih tertawa. “Iya, kamu lucu.”


“Aku bukan badut.”


“Kalau gendut, mungkin akan menjadi badut.”


“Mas,” rengek Laila.


Darwis pun kembali tertawa. Apalagi melihat Laila yang tengah merajuk.

__ADS_1


“Mas jahat,” rajuk Laila lagi.


“Iya, iya. Maaf.” Darwis pun memelankan tawanya.


Ini yang ia mau. Selain karena kehebatan Laila yang mengurus kedua anaknya seorang diri, Darwis juga suka akan kepolosan yang membuat hari – harinya penuh warna. Walau, Laila tidak lagi bisa memberunya keturunan mengingat usianya yang tak lagi muda. Tidak mengapa. Darwis memang hnya ingin teman di usia senjanya. Teman tempat untuk bersenda gurau, bercengkerama, dan berbagi keluh kesah.


Laila masih merengutkan bibir. Darwis pun merengkuh tubuh itu dan memeluknya erat. “Lailaku, Sayang."


Laila meerima pelukan erat itu. “Mas Darwis, Sayang. jangan pernah meragukan cinta Laila, ya.”


Sontak, Darwis kembali meringis. Ia seperti anak muda yang lagi sayang – sayangnya.


****


“Mas, foto Tasya mana?” tanya Bilqis yang sempat memasuki sebentar kamar rahasia yang pernah menjadi sumber pertengkarannya bersama sang suami hingga pisah ranjang selama semalam.


“Apa?” tanya Alex yang ingin mendengar sekali lagi pertanyaan sang istri, karena takut ia salah dengar.


Pagi ini, Alex baru saja selesai mengenakan pakaian kerjanya. Setelan jas yang sudah Bilqis sediakan sesaat sebelum bertandang ke kamar rahasia itu.


Aurel baru saja berangkat ke sekolah dengan Maya dan Bilqis mengantar putrinya sampai teras, lalu beralih sebentar ke kamar rahasia itu dan kembali ke kamar.


Semalam, Bilqis tidak tahu jam berapa Maya pulang. Entah ke mana Radit membawa gadis itu pergi semalam, tapi yang pasti Radit tetap memulangkan Maya ke rumah ini.


“Kamar rahasia yang sempat membuat kita bertengkar. Semuanya sudah berubah?” tanya Bilqis sembari menjelaskan pertanyaannya tadi.


“Ya, aku sudah merubah kamar itu,” jawab Alex sembari mengambil dasinya dan diserahkan pada Bilqis. “Tolong pakai kan.”


“Mengapa dirubah?” tanya Bilqis dengan tetap menatap ke arah dasi. Namun, Alex tetap menatap mata sang istri.


Bilqis melihat isi kamar itu berbeda. Kamar rahasia yang sempat membuatnya sakit hati itu sudah tak lagi sama. Kini, ruangan itu disulap Alex menjadi ruang baca dengan foto – foto kebersamaannya bersama Bilqis. Alex memajang foto pernikahan mereka di sana. ia juga memajang fotonya hanya berdua di sebuah restoran dan saat di mall bersama Aurel. Entah, kapan Alex mengabadikan momen mereka saat itu, karena rasanya Bilqis tidak merasa. Namun, di sana jelas – jelas itu adalah foto dirinya, mengingat Tasya memiliki tahi lalat di pinggir kanan dagunya, sementara Bilqis tidak.


“Karena aku tidak ingin menyakitimu,” jawab Alex dengan tetap menatap mata itu. “Aku kan sudah berjanji untuk tidak membuatmu menangis lagi. Apalagi menangismu karena kamar itu.”


Bilqis tersenyum. “Jadi kalau kamu membuatku menangis karena hal lain, boleh? Begitu?”


“Tidak, Sayang. Cuma satu yang dibolehkan membuatmu menangis.”


“Apa?” tanya Bilqis lupa dengan pernyataanya kemarin.


“Menangis karena keenakan.”


“Mas.” Bilqis langsung mencubit pingga Alex.


“Aw … Sakit, Sayang. Sumpah, cubitanmu itu sakit banget.”


Bilqis tertawa melihat suaminya kesakitan. “Sukurin.” Ia pun berlari meningglkan Alex.


“Hei, mau ke mana? Dasi ku belum selesai,” teriak Alex melihat Bilqis yang hendak keluar dari kamarnya.


Bilqis menoleh. “Itu sudah selesai.”

__ADS_1


“Belum, Sayang. ini masih berantakan.” Alex menunjukkan kerah lehernya yang belum terlipat menutupi dasi.


“Ya ampun, tinggal kamu lipat aja. Susah banget.”


“Sekalian, Sayang. kalau kerja itu ga boleh setengah – setengah.”


“Biarin.” Bilqis meledek suaminya dan tetap keluar kamar.


Alex pun segera mengekori sang istri. Bilqis kembali menyambangi kamar itu. ia memasuki ruang itu lagi dan Alex pun mengikuti.


Sejenak, Bilqis melihat foto yang terpajang itu. Tanpa sadar di foto itu, ia menampakkan senyum semua, terutama foto pernikahan. Tidak tampak Bilqis terpaksa menikahi bosnya itu.


“Apa aku sebahagia itu saat menikah denganmu?” tanya Bilqis sembari melipat kedua tangannya di dada dengan menatap foto pernikahan yang terpajang.


“Ya. Hanya saja kamu tidak mengakui,” jawab Alex dengan menatap ke arah yang sama.


Bilqis pun menoleh ke arah Alex. “Kenapa kamu mencintaiku?”


“Karena kamu unik.”


Bilqis mengernyit. “Memangnya aku guci antik.”


“Ya, kamu memang antik. Kuat walau sebenarnya rapuh.”


Alex mendekati istrinya dan mengusap rambut itu lembut, lalu menyelipkan anak rambut di bagian depan wajah Bilqis ke belakang telinganya.


“Kamu itu seperti porselen yang harus dirawat hati – hati agar tidak pecah. Kamu ceria tapi didalamnya tersimpan luka menganga,” sambung Alex lagi.


“Maaf, karena aku sempet menambahkan luka itu,” kata Alex mengingat ia pernah mengatakan pada Bilqis untuk tidak memintanya melupakan Tasyan dan membuang jauh kenangan itu. Walau pun ia sudah menyimpan rapi kenangan itu dan memang tidak membuangnya.


“Kamu memang tidak oleh membuang kenangan itu, Mas. Karena Aurel berhak tahu ibunya,” ucap Bilqis. “Ibu juga ingin tahu putri yang tidak pernah dia gendong dan dia susui.”


Bilqis menunduk. Wajah itu terlihat sedih.


“Hei, sudah ku bilang jangan menangis!” kata Alex dengan menangkup wajah itu dan menjepit pipi itu dengan kedua tangan.


“Ngga tahu, aku gampang nangis akhir – akhir ini,” ucap Bilqis yang benar – benar melow, entah kenapa?


“Aurel tahu ibunya. Dia juga tahu bahwa kamu adik ibunya.”


Bilqis terkejut dengan pernyataan itu. “Oh ya? Kapan kamu mengatakan itu pada Aurel?”


“Sebelum kamu memasuki kamar ini.”


“Jadi benar. Hanya aku saja yang tidak tahu isi kamar ini?” tanya Bilqis yang kembali ingat betapa bodohnya ia saat itu.


Alex mengangguk.


“Jahat!” Bilqis memukul dada itu. Bibirnya manyun, membuat Alex tersenyum gemas dan mencium bibir ranum itu.


Setelah ini, Bilqis berniat untuk meminta pada suaminya agar satu foto Tasya terpajang di sini, agar sang ibu dapat melihat paras anak kembarnya yang tak dirawatnya itu dan Aurel juga tidak melupakan paras ibu kandungnya.

__ADS_1


__ADS_2