Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Bab 1 Cinta si Bule


__ADS_3

"Ummi …”


Wanita paruh baya yang menggunakan gamis berwarna cokelat lengkap dengan jilbab langsung berwarna sama itu pun menoleh.


“Masya Allah, Shabira. Agustina Shabira.” Mata wanita paruh baya itu pun berbinar. Ia membentangkan kedua tangannya untuk menerima tubuh sang putri yang telah lama meninggalkan rumah.


“Ummi.”


Tina berlari menghampiri sang Ibu dan langsung bersimpuh.


“Bangunlah, Nak!” Hasna, istri yang lembut dan ibu yang tak pernah mengeluarkan kata kasar untuk anaknya itu pun mencoba untuk mengangkat bahu Tina.


“Tidak, Ummi. Tina ingin sujud di kaki Ummi. Tina sudah banyak salah sama Ummi. Tina kabur dari rumah dan membuat Ummi selalu dimarahi Abi.”


Tina terus bersimpuh dan mengecup punggung kaki sang ibu


Hasna pun berjongkok. Ia memegang bahu putrinya. Bahu yang dulu begitu kokoh dan yakin bisa mengambil keputusan sendiri. Tapi kini, bahu itu terasa rapuh.


“Ummi yakin kamu akan pulang. Ummi yakin, suatu saat doa Ummi dikabul Allah.Dan hari ini adalah jawaban.”


Hasna tampak senang. Rona bahagia benar – benar terpancar di wajah itu. senyumnya mengembang saat melihat sang putri yang pergi selama lebih dari dua tahun itu pun kembali.

__ADS_1


Walau, Tina juga tetap berkomunikasi pada sang Ibu dan tetap menelepon saat hari raya, tapi tetap saja kehadirannya dibutuhkan kala itu. Dan, Tina tidak bisa menampakkkan batang hidungnya karena sudah pasti jika ia pulang, ia akan dicincang oleh sang ayah yang merupakan pimpinan pondok pesantren ini.


Airmata Tina mengucur deras. “Ummi, ampuni Tina.”


Kedua tangan Hasna membimbing bahu itu untuk berdiri. Isakan sang putri terdengar menyayat hati, membuat Hasna pun tak kuasa untuk tidak ikut menangis.


Kedua wanita yang berada di dapur itu pun berpelukan erat diiringi dengan isakan tangis. Tina tiba di rumah ini saat lima belas menit adzan isya akan berkumadang. Hasna pun berada di dapur dan hendak memasuki kamar mandi untuk berwudhu. Namun, ia dikejutkan dengan kedatangan sang putri dari pintu belakang.


“Allohu akbar, Allahu Akbar.”


Suasana haru itu semakin haru, saat pelukan sang ibu yang berada dalam tubuh putrinya itu disambut oleh suara adzan. Airmata Tina semakin mengalir deras. Keangkuhan di usia mudanya kala itu menghantarkannya menuju jalan yang salah. Ia terlena oleh kenikmatan dunia yang ditawarkan melalui keputusannya sendiri.


Tina, dengan nama lengkap Agustina Shabira adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Tina lahir dari keluarga yang taat agama. Sang ayah memiliki pondok pesantren. Pondok yang dibangun oleh kakek Tina dan kini ayahnya lah yang meneruskan kepemimpinan itu, dibantu oleh kakak sulung Tina yang berjenis kelamin laki – laki.


Kedua kakak Tina menikah melalui perjodohan. Ketika kedua kakaknya sudah menyelesaikan pendidikan dan siap menikah, maka sang ayah segera mencarikan calon untuk mereka. Begitu pun dengan Tina. Saat ia telah lulus kuliah, maka sang ayah segera mencarikan calon suami untukny. Hal itu, yang membuat Tina tak terima hingga mengambil keputusan untuk pergi dari rumah.


Tina merasa bahwa hidupnya selal di atur oleh sang ayah. Ia melihat dari bagaimana sang ayah mengatur hidup kedua kakaknya dan Tina tidak ingin menjadi seperti kedua kakaknya. Ia ingin mencari cintanya sendiri dan lepas dari rumah yang penuh dengan aturan. Tina belum menyadari bahwa yang dilakukan sang ayah adalah demi kebaikan dirinya sendiri. Dan kini, ia pun baru menyadari, ternyata dunia diluar begitu kejam. Keputusannya untuk pergi dari rumah dan tidak dalam pengawasan keluarga membuat hidupnya tak tentu arah.


Saat adzan masih berkumandang, pikiran Tina melayang mengingat semua dosa yang ia lakukan. Airmatanya terus mengalir deras. Di sini lah tempatnya pulang. Tidak ada orang tua yang menjerumuskan anak – anaknya ke jurang. Walau keras dan seperti selalu diatur, tapi ternyata hidup memang perlu sebuah aturan. Hidup memang perlu rambu – rambu agar seimbang dan Tina telah menerobos aturan itu hingga kini hidupnya pun tampak tak beraturan.


“Maafkan Tina, Ummi.” Tina kembali bersuara saat adzan selesai berkumandang.

__ADS_1


Hasna menatap mata penu sesal itu dengan sendu. “Ummi memaafkanmu, Sayang.”


Kedua tangan yang lembut itu menghapus airmata yang mengalir di pipi Tina. Tidak ada yang lebih menenangkan selain pelukan sang Ibu, apalagi ditengah hatinya yang sedang gundah gulana.


“Tina menyesal telah membangkang pada Abi. Apa Abi masih mau menerima Tina lagi di rumah ini?” tanya Tina sedih pada sang Ibu saat pelukan itu mulai terlerai.


“Abimu memang terlihat galak, tapi hatiny lembut, Nak. Dia seperti itu karena sayang padamu, sayang pada Mas Abid dan Mba Arafah.”


Hasna menarik nafasnya kasar sembari tersenyum. “Abi melakukan itu hanya ingin melihat anak – anaknya tetap pada garis yang dia yakini benar. Ummi dan Abi hanya ingin yang terbaik untuk kalian, walau mungkin cara kami dinilai salah.”


Tina mengangguk. ia baru menyadari bahwa semua aturan dan ketegasan itu adalah benar. Semua memang yang terbaik untuknya, hanya saja jiwa muda yang masih terselimuti nafs*, membuat Tina berpikiran lain. Saat sang ayah bersikap tegas dan keras, Tina justru malah berpikir bahwa dirinya bukanlah anak kandung sang ayah. pemikiran salah yang kini ia sesalkan setengah mati.


****


Masih ada yang belum nemu cerita ini?


Ada di karya baru nomor 37 ya guys. Aku juga baru liat tadi pagi. Ternyaa si bule nangkring di sana. Doakan semoga ada di sepuluh besar nantinya ya.


InsyaAllah up setiao hari, walau cuma satu bab. Diusahan untuk bisa double.


Mohon maaf lahir batin. Karena besok puaaa, jadi bab ++ nya hari ini 🤭

__ADS_1



__ADS_2