
Tepat pukul lima pagi, mata Aurel terbuka. Entah mengapa mata anak kecil itu bisa terjaga di sebelum matahari terbit hanya pada saat libur. Sedangkan saat harinya bersekolah, justru Aurel susah sekali dibangunkan. Entah itu adalah sebuah syndrome atau memang kebiasaan saja.
Aurel terbelalak saat melihat sang ayah tengah memeluk ibunya. “Daddy …”
Alex masih belum terbangun. Bahkan ia tidak mendengar panggilan Aurel yang cukup nyaring itu, karena terlalu lelap dan menikmati tubuh Bilqis yang sedang berada dalam dekapannya.
“Daddy … wake up!” Aurel mendekati sang ayah dan menggoyangkan bahunya.
Tubuh Alex yang sedang memluk erat Bilqis, membuat tubuh wanita yang berada dalam dekapannya itu pun ikut bergoyang.
Bilqis membuka matanya. “Aurel.”
“Mommy, Daddy curang karena telah tidur di kamar ini dan memeluk Mommy.”
Bilqis pun menoleh ke belakang dan melihat Alex yang tampal tenang dengan mata tertutup. Ia tidak terkejut karena sosok pria yang memeluknya sejak semalam itu karena ia memang sudah mengetahui modus ini.
Aurel mendekatkan mulutnya pada telinga sang ayah dan berteriak, “Daddy …”
Sontak, Alex langsung membuka matanya dan meringis karena suara teriakan yang tepat di telinganya itu. Rasanya telinga Alex saat ini berdengung. Suara lengkingan Aurel cukup membuatnya tuli sejenak.
“Aurel, apa yang kamu lakukan?” tanya Alex kesal dan langsung bangkit.
“Harusnya, Aurel yang tanya. Apa yang Daddy lakukan di sini?” Gadis kecil itu pun bertolak pinggang di hadapan ayahnya.
Alex menoleh ke arah Bilqis yang sedang menahan tawa.
“Daddy tidak bisa tidur di ruang kerja. Banyak nyamuk,” jawab Alex dengan nada biasa sambil mengusap wajahnya.
“Kenapa tidur di ruang kerja? Kan sudah Aurel bilang, tidur sama princes sofia aja.”
Sontak, Bilqis tertawa dan Alex ikut tertawa saat melirik sang istri yang sedang menutup mulutnya untuk menahan tawa itu.
“Sekarang, Daddy harus keluar dari kamar ini! Hukuman Daddy belum selesai,” ucap Aurel.
“Baik lah,” sahut Alex menyerah. “Tapi, izinkan Daddy untuk sholat subuh di sini. Oke!”
__ADS_1
Aurel menimbang dengan mengetukkan kepalanya. “Hm. Oke. Kalau untuk itu, Aurel perbolehkan.”
Alex menarik nafasnya kasar dan menggeser tubuhnya untuk beranjak dari ranjang itu. Lalu, Alex berlalu menuju kamar mandi untuk berwudhu.
“Sayang, jangan begitu sama Daddy.!Kasihan,” kata Bilqis pada Aurel sambil mengusap lembut rambut ikal dengan keriting di bagina bawahnya.
Bilqis membela Alex di depan Aurel ketika pria itu sudah memasuki kamar mandir. Namun ternyata, diam – diam Alex menguping pembicaraan ibu dan anak itu. Ia pun tersenyum.
“Habis, Daddy juga nakal sama Mommy. Daddy sudah bikin Mommy nangis.”
Bilis pun tersenyum haru dan memeluk anak kecil itu. “Terima kasih, Sayang. Mommy sayaaaang banget sama kamu.”
“Sama – sama, Mommy.” Aurel langsung membalas ucapan Bilqis. “Aurel juga sayaaaaang banget sama Mommy.”
Kedua perempuan beda generasi itu pun saling berpelukan. Di dalam kamar mandi, Alex ikut terharu. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ternyata, Tuhan menjawab doanya yang selalu meminta Ibu untuk sang putri. Kini, Aurel telah mendapatkan Ibu sambung yang tepat, karena Bilqis memang bukan orang lain. Ikatan darah dari Ibu yang melahirkan Aurel pun ada pada Bilqis.
Hanya sepuluh menit dari momen haru itu, Alex keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah karena basuhan air wudhu.
“Sayang. Ayo berjamaah!” ajak Alex pada Bilqis.
Aurel ikut mengangguk. “Ayo, Mommy.” anak kecil itu bangkit dari ranjang dengan antusias. Alex bisa mendengar suara tawa Aurel dan Bilqis di dalam sana dan ia pun ikut tersenyum. sembari menunggu anak dan istrinya selesai berwudhu, Alex pun menyiapkan perlengkapan untuk ibadahnya itu.
Usai berwudhu, Alex mengimami Bilqis dan Aurel. Pria itu berdiri di depan, sedangkan anak dan istrinya berdiri tepat di belakangnya. Sungguh, Alex tidak pernah gagal dari ketampanannya jika sedang berpenampilan seperti ini. Baju koko itu cocok untuk Alex yang biasa dipanggil koko oleh adik dan sepupunya, kecuali Damian, karena mereka seumur.
“Assalamulaikum warahmatullah.” Alex menoleh ke kanan dan mengucapkan kalimat yang sama saat menoleh ke kiri.
Mereka, baru saja menunaikan sholat subuh bersama, hati Alex pun tak bisa digambarkan oleh apa pun. Ia sangat bahagia. Bilqis juga merasakan hal yang sama. Apalagi ketika Alex memanjatkan doa dan diaaminkan olehnya, juga oleh gadis kecil yang duduk di sampingnya.
Sungguh, Bilqis tidak mengira akan memiliki kelurga kecil yang sempurna. Hanya saja, kesempurnaan kebahagiaannya ini terganjal oleh satu hal, kenangan dan cinta Tasya. Sepertinya, Bilqis memang harus berlapang dada untuk hal itu. Ia mencoba untuk mengerti, walau jika dijalani terasa sangat sulit. Entah lah? Mungkin waktu yang akan menjawab semuanya.
Usai berdoa, Alex membalikkan tubuhnya. Ia mengulurkan tangannya pada Aurel. Anak kecil itu mencium punggung tangan sang ayah dan Alex juga membalas dengan kecupan di kening Aurel. Lalu, Alex beralih pada Bilqis. Ia menatap wanita itu dengan senyum. Bilqis pun membalas dengan senyum tipis.
“Maafkan, Mas ya,” ucap Alex sembari mengulurkan tangannya di depan Bilqis.
Kini senyum Bilqis berubah menjadi manis. Ia mmenagngguk dan enerima uluran tangan Alex, kemudian mencium punggung tangan itu.
__ADS_1
Alex meletakkan tangannya di belakang kepala Bilqis agar wajah itu mendekat dan mencium kening itu. Alex kembali menatap Biqis dengan senyum dan arah mata yang sudah beralih pada bibir ranum Bilqis.
Alex lupa jika di sana masih ada bodyguard Bilqis, yaitu Aurel. Tanpa basa basi, Alex menunduk sedikit untuk mengecup bibir ranum itu, sedangkan Bilqis sudah pasrah dan memejamkan mata. Namun saat bibir Alex sudah menempel, ternyata bibirnya bukan menempel pada bibir manis Bilqis, melainkan tangan mungil Aurel.
Alex yang sebelumnya juga memejamkan mata sejenak saat ingin mencium bibir itu pun, langsung membuka mata. “Aurel …”
Anak kecil itu nyengir. “Daddy tidak boleh mencium Mommy, karena Daddy masih di hukum.”
“Oh My God, Aurel.” Alex menahan teriakannya itu sembari meremas kedua tangannya ke atas. “Anak siapa sih kamu?”
“Ya, anak Daddy lah.”
Bilqis kembali tertawa. Ia pun lupa dengan sakit hati yang semula ditorehkan Alex, karena ulah Aurel. Ditambah, Alex pun sudah berulang kali meminta maaf. Apa ia sudah memaafkan? Entah lah. Tapi satu yang pasti, ia tidak pernah bisa marah lama dengan bos killernya itu. Tidak tahu, mengapa?
Dret … Dret … Dret …
Usai melaksanakan sholat subuh, Alex mengajak anak dan istrinya untuk berjalan – jalan pagi. Mumpung hari ini hari libur dan waktunya untuk bersama keluarga. Langit pun sudah ingin menunjukkan matahari. Bilqis bersiap, Alex pun demikian. Sedangkan Aurel justru sudah lebih dulu rapi dan menggunakan setelan training dan kaosnya.
Bilqis juga menggunakan pakaian yang sama seperti Aurel. Lalu, ia menguncir rambutnya ke atas, sama seperti putri sambungnya itu. Namun, Alex langsung menahan gerakan tangan Bilqis yang sedang menguncir.
“No. Biarkan rambutmu tergerai seperti ini,” ucapnya posesif.
“Kenapa?” tanya Bilqis bingung.
“Kecantikanmu hanya untukku. Keindahan lehermu juga hanya untukku.” Alex menyampingkan rambut Bilqis yang tergerai dan mengecup leher itu.
Bilqis bisa merasakan sapuan bibir Alex yang hangat itu. Pria itu pun pergi setelah melakukan sesuatu yang membuat hatinya meleleh.
“Dasar killer!” umpat Bilqis dalam hati sambil menatap kepergian Alex yang sengaja lebih dulu keluar rumah untuk menyiapkan kendaraan.
Alex pun menoleh ke belakang ke arah sang istri dan mengedipkan matanya.
Dret … Dret … Dret …
Ponsel Bilqis berdering. Ia mengambil benda itu dan melihat nama yang tertera di sana. Ibu. Laila menelepon Bilqis untuk menanyaka keberadaan Radit, karena sejak anak itu pamit padanya semalam, ternyata dia tidak pulang.
__ADS_1