
“Hei, kenapa bengong?” tanya Alex pada istrinya.
Alex menoleh ke arah Bilqis yang duduk tepat di sampingnya. Kini, mereka berada di dalam mobil bertiga untuk melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah besar Alex. Aktifitas mereka hari ini cukup melelahkan. Selain mengunjungi Ridho di dalam sel, mereka juga mengunjungi Lenka di rumah sakit jiwa.
Darwis menemani istri, kedua anak sambung, dan menantu yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Bahkan sebelum ia mengenal Bilqis dan Radit. Aurel juga mengikuti kedua orang tuanya. Begitu pun dengan Maya yang setia menemani anak majikannya itu, walau Maya berangkat dan pulang menggunakan motor bersama Radit.
Dan malam ini, Alex membawa pulang keluarga kecilnya. Mereka masih berada di dalam mobil, sedangkan Aurel sudah tidur di pangkuan Bilqis. Terlihat wajah Aurel yang sangat lelah.
Alex mengusap rambut istrinya dn bertanya lagi saat Bilqis hanya membalas tatapannya tanpa menjawab pertanyaan itu.
“Kenapa?” tanya Alex lagi dengan tetap fokus menyetir.
Bilqis menggeleng. “Tidak apa. Aku hanya kasihan melihat ayah dan istrinya.”
Alex tersenyum dan kembali mengusap rambut itu. “Aku tahu hatimu lembut. Kamu tidak akan tega melihat mereka seperti itu, walau mereka sudah sangat menyakitimu.”
Bilqis tersenyum ke arah Alex. Alex pun menyambut senyum.
“Terima kasih,” ucap Bilqis.
“Hei, seharusnya aku yang berterima kasih,” sahut Alex.
“Tapi kalau kamu tidak masuk dalam hidupku. Ibu tidak akan mengenalmu. Ibu juga tidak akan pernah tahu kalau ternyata Ibu pernah hamil anak kembar dan aku juga tidak pernah tahu kalau kemiripanku dan Tasya bukan kemiripan yang tak sengaja. Semua tabir terungkap semua. Dan aku lega karena bisa memaafkan ayah.”
Tiba – tiba, Biqis menjadi sedikit melow.
“Hei, jangan menangis!” Alex kembali mengelus Bilqis. Namun, kini bukan rambutnya tapi pipinya. “Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi membuatmu meneteskan air mata.”
Bilqis mencibir. “Masa?”
“Iya.”
“Tapi semalam kamu membuatku menangis.”
Kiiik
Alex langsung menekan rem mendadak. Kebetulan memang ia sudah sampai di depan rumahnya.
“Ah. Ya ampun, Mas. Kenapa rem mendadak sih?” tanya Bilqis sengit.
“Tunggu!” Alex memutar sedikit tubuhnya hingga berhadapan dekat dengan Bilqis yang masih memangku Aurel yang sedang tidur di dalam dadanya.
“Kapan aku membuatmu menangis? Semalam?” Alex balik bertanya. Setahu dirinya, semalam ia tidak membuat sang istri menangis.
Bilqis mengangguk.
“Kenapa? Memang aku salah apa?” tanya Alex lagi dengan raut wajah bingung.
Alex kembali meluruskan tubuhnya dan menjalankan mobil setelah penjaga rumahnya membuka gerbang besar itu.
Bilqis hendak keluar dari mobil, sesaat setelah mobil itu berhenti sesuai posisi.
“Hei, tunggu!” Alex menahan lengan Bilsqis. “Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi.”
BIlqis menjawab dengan senyum.
“Hei, aku butuh penjelasan.”
Bilqis membuka pintu mobil dan Alex menyesal seharusnya saat ia memberhentikan mobil dan mematikan mesin kendaraan itu, ia tidak langsung menekan kunci sentral agar Bilqis tidak keluar lebih dulu. Alhasil, Alex dengan cepat hendak mendahului gerakan Bilqis.
Di depan pintu Bilqis yang terbuka, Nia sudah berdiri. Asisten rumah tangga yang selalu beekrja sama dengan Maya untuk mengasuh serta merawat rumah ini pun segera mengambil tubuh mungi Aurel dari gendongan Bilqis.
__ADS_1
“Maya sudah pulang, Ni?” tanya Bilqis pada Asisten rumah tangg Alex.
Nia menggeleng. “Belum, Non.”
Bilqis mengernyitkan dahi. Pasalnya, Maya justru lebih pulang lebih dulu darinya. Lalu, Bilqis menoleh ke arah Alex yang sudah berdiri di sampingnya. “Radit bawa Maya ke mana?”
Alex mengangkat bahu. “Tidak tahu, tapi biar saja. Mereka sudah dewasa.”
“Belum. Maya itu baru delapan belas tahun.”
“Tapi sudah punya KTP kan?” Alex tak mau kalah.
“Iya, tapi dia terlalu polos.”
“Adikmu juga polos.”
“Kata siapa? Radit itu ga polos. Cuma pura – pura polos.”
Sontak, Alex tertawa. “Seperti kamu.”
“Ih, apaan sih.” Bilqis tak terima dan lanjut melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah itu.
“Eh, sayang. pembahasan kita belum selesai,” kata Alex dengan mengejar langkah sang istri.
“Pembahasan apa?” tanya Biqis yang lupa dengan pertanyaan Alex sebelum ia keluar dari mobil.
“Tadi, aku tanya kenapa kamu menangis semalam?”
Bilqis menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Alex yang sudah berdiri dekat di depannya. “Mau tau aja, apa mau tau benget?”
Bilqis meledek dan kembali berjalan, membuat Alex bertambah geram. Dari belakang, Alex langsung menyambar tubuh itu dan menggendongnya.
“Ngga. Sebelum kamu jelaskan pernyataan kamu tadi.”
“Mas,” rengek Bilqis.
Alex mengabaikan rengekan itu dan tetap melangkah menuju kamar. Sementara Aurel sudah berada di dalam kamarnya dengan Nia.
“Mas.” Bilqis kembali memohon agar tubuhnya diturunkan.
Sesampainya di dalam kamar, Alex pun menurunkan tubuh Bilqis. Lalu, Ia duduk di sofa yang tak jauh dari sana.
“Hei, mau ke mana?” Alex kembali menahan lengan Bilqis saat wanita itu hendak meninggalkannya.
“Aku mau ke kamar mandi.”
“Bukannya di rumah Ibu, sudah mandi.”
“Memang kenapa kalau aku ingin mandi lagi?” tanya Bilqis dengan mengerucutkan bibir.
Dengan cepat Alex menarik tubuh itu hingga Bilqis duduk di pangkuan Alex.
“Ayo jelaskan maksud pernyataanmu tadi!” Alex mengajak Bilqis untuk menjawab pertanyaannya yang belum terjawab.
“Baiklah.”
Bilqis merapikan duduknya. Posisi yang semula duduk menyamping di atas kedua paha Alex itu pun berubah menjadi berhadapan. Persis seperti gaya Bilqis yang sedang memimpin saat bercinta.
“Ah. Nempel, Sayang.”
Plak
__ADS_1
Bilqis memukul bahu Alex, karena suaminya itu terlampau mesum. Padahal mereka masih berpakaian lengkap dan ya, masing – masing milik mereka hanya bersentuhan saja.
“Apaan si, Mas? Ya udah ah, ga jadi ngejelasin aja.” Bilqis hendak bangkit dari pangkuan itu. namun, Alex menahannya lagi.
“Maaf, Sayang.” Alex kembali membuat Bilqis duduk dipangkuannya seperti tadi. “Sekarang katakan!”
“Semalam, aku menangis karena kamu,” jawab Bilqis.
“Karena aku? Kenapa? Kita tidak bertengkar. Malah justru aku membuatmu keenakan?” Alex membantah tudingan itu.
“Ya, kamu membuatku melayang sampai aku menangis,” jawab Bilqis malu dengan wajah merona.
Alex pun langsung tersenyum lebar dan menoleh ujung hidung Bilqis. “Nakal.”
Bilqis tertawa.
“Kalau begitu malam ini aku akan membuatmu kembali menangis.”
Sontak, Bilqis pun menggelengkan kepala. “Jangan!”
“Jangan ragu – ragu,” lanjut Bilqis, membuat Alex tertawa.
Dengan atau tanpa lampu hijau dari Bilqis, Alex memang ingin memakannya lagi. Entah mengapa, rasanya ia tidak pernah puas dengan tubuh itu. rasanya ia selalu ingin mengecap dan mengecap madu itu setiap malam. Bahkan sepanjang hari jika mereka tidak memiliki aktifitas.
“Mas,” panggil Bilqis manja.
“Apa, Sayang?”
“Aku ingin mecoba itu di sini.” Bilqis menunjuk ke arah jerry , lalu menunjuk bibirnya. Sepertinya ia ingin merasakan sensasi yang lain.
Alex langsung menyeringai. “Hei, sejak kapan kamu jadi nakal seperti ini?”
“Sejak lama. Hanya saja, baru kali ini aku punya partner.”
Senyum Alex tak henti terulas. Ia senang mendapatkan pelayanan ekstra dari sang istri, karena biasanya ia yang melakukan ini untuk istrinya dan sekarang ia pun mendapatkan jackpot itu.
“Uh, kamu semakin pintar, Sayang.”
“Ya, seperti itu. Benar, Eum.”
“Benar, Sayang. Ah. Ya, seperti itu.”
Bilqis teringat kata – kata Mira, “istri itu memiliki peran ganda. Dia harus bisa menjadi bagian keuangan, menjadi koki, menjadi guru saat anak – anak punya PR, dan menjadi pel*c*r saat di ranjang.”
Dan Kini, Bilqis pun menerapkan ilmu itu. Belum lagi ilmu dari Tina dan Saskia tentang bagaimana memuaskan pasangan. Alhasil, semua ilmu itu membuat Alex semakin jatuh terperosok dalam pesona sekretarisnya.
“Sekarang giliranku,” ucap Alex setelah berhasil dipuaskan oleh Bilqis dengan gaya yang lain.
“Tidak usah. Aku hanya ingin memuaskanmu saja.”
Alex menggeleng. “Tidak. Aku juga ingin kamu merasakan yang sama.”
Bilqis menggeleng. “Tidak, aku mau langsung ke kamar mandi.”
“Ayo lah, Sayang!”
Hap
Alex langsung menangkap tubuh itu dan mengungkungnya hingga membuat Bilqis yang semula hanya bermain – main saja, menjadi terbuai dan akhirnya membiarkan sang suami untuk melakukan lebih selebih – lebihnya.
Bilqis salah jika Alex akan membiarkannya untuk sekedar bermain – main saja. Walau Alex puas dengan cara yang baru Bilqis praktekan tadi. Tapi ia tidak akan melewati acara inti.
__ADS_1