Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Si jerry ga mau turun


__ADS_3

Akad nikah Laila dan Darwis semakin dekat. Beberapa jam lagi, status suami istri akan tersematkan pada pasangan ini. Laila masih berada di dalam bersama dengan MUA yang sama saat putrinya menikah.


Dalam hidup bertetangga memang ada yang tulus dan nyinyir. Beruntung tidak semua tetangga yang Laila miliki seperti Asti yang kebetulan rumah mereka bersebelahan dan berdempetan. Justru tetangga yang berjarak yang lebih peduli dengan keluarganya. Tetangga yang peduli itu pun sudah berada di rumah Laila sejak siang untuk membantu apa pun yang diperlukan, walau semua hal yang diperlukan di acara ini sudah dilakukan oleh orang yang profesional.


Radit tampak sudah rapi dengan setelan jas berwarna hitam. Ketampanan adik Bilqis itu mulai terlihat hingga ibu – ibu tetangga Laila yang baik pada keluarga mereka pun meledek Radit.


“Dit, udah punya pacar belum?” tanya wanita paruh baya yang merupakan tetangga Laila sekaligus teman satu pengajian di ibu – ibu kompleks itu.


Radit tersenyum. “Belum, Bu. Kenapa?”


“Ya udah sama anak ibu aja. Si Dita.”


“Jangan, Dit. Dita itu tomboy. Ga suka laki – laki,” ledek salah satu ibu yang duduk di samping ibu yang menwarkan putrinya pada Radit.


“Enak saja,” Ibu yang menawarkan putrinya untuk Radit itu pun menyanggah. Ia tidak terima anaknya dibilang tidak menyukai laki – laki.


“Sama Nesya aja, Dit. Si Nesya udah lulus juga tuh, dia udah ngebet banget pengen kawin,’ sahut Ibu yang lain yang juga menawarkan putrinya.


“Bisul kali, ngebet,” sahut ibu yang lain yang membuat semua tertawa.


Radit ikut tertawa mendengar para ibu – ibu berlomba menawarkan putri mereka. kepalanya menggeleng melihat kelakuan para ibu – ibu itu.


“Gimana, Dit? Mau yang mana nih? Dita apa Nesya?” tanya ibu yang menawarkan putrinya yang bernama Dita.


Radit hanya menanggapi dengan senyum. Lalu berkata, “Radit belum kerja, Bu. Masih nganggur. Nanti kalau nikah mau dikasih makan apa?”


“Yah, itu mah bisa sambil – sambil Dit. Nanti juga dapet kerja.” Ibu itu masih serius menjadikan Radit menantunya.


Radit menggelengkan kepala dan berusaha untuk keluar dari lingkaran para ibu – ibu itu.


“Radit,” panggil Bilqis, membuat Radit langsung menoleh ke arah itu.


“Maaf ya, Bu. Radit dipanggil Mba Qis. Permisi! Radit langsung meninggalkan lingkaran yang menjebaknya itu.


Ah, rasanya lega akhirnya Radit bisa keluar dari lingkaran para wanita paruh baya yang cukup agresif.


“Ya, Mba.” Radit menghampiri sang kakak.


“Om Darwis sudah sampai mana?”


“Sudah di jalan. Dari tadi Radit dan Om Darwis udah teleponan.”


Bilqis mengangguk. Smua persiapan sudah dirasa cukup. Radit bergabung bersama sanak saudaranya. Rumah ini sudah dipenuhi oleh saudara – saudara Laila. Di sana, Alex juga terlihat berbincang dengan kakak lelaki Laila satu – satunya yang akan menjadi wali nikah nanti. Sedangkan Radit bergabung dengan sepupu – sepupunya, termasuk salah satu sepupunya yang menjadi teman bermain Radit waktu kecil sekaligus teman bertengkarnya.

__ADS_1


Laila anak kedua dari tiga bersaudara. Ia memliki kakak laki – laki dan adik perempuan. Kedua saudaranya pun hadir hari ini untuk menyambut kebahagiaannya yang telah lama hilang. Anak – anak dan istri serta suami saudaranya ikut hadir di sini. Mereka menjadi saksi betapa beratnya kehidupan Laila dahulu paska ditinggal Ridho. Mereka juga orang – orang yang sering direpotkan Laila ketika anak – anaknya belum bisa membantu perekoniannya.


Bilqis tersenyum melihat keluarga yang tengah berbahagia. Sungguh rasanya tidak bisa digambarkan oleh apa pun.


Bilqis menatap Laila dari balik cermin rias, wajah itu terlihat sumringah. Ia juga melihat Aurel tertawa di pangkuan Radit bersama sepupu – sepupunya yang senang menanggapi celotehan spontan anak kecil itu. Ia juga melihat Alex bercengkerama dengan paman dan bibinya. Rasanya kebahagiaan itu terasa lengkap.


Bilqis berbalik menuju kamarnya sendiri. Ia hendak merapikan lagi penampilannya, mengingat acara akan segera di mulai karena menurut Radit, Darwis sebentar lagi akan tiba. Di sana penghulu juga sudah hadir.


Bilqis membuka pintu kamarnya dan menutup kembali. Ia berdiri di depan cermin sembari menatap diinya sendiri. Bilqis tampak cantik dengan menggunakan kebaya berwarna putih, sama seperti kebaya yang dipakai oleh adik kandung Laila. Rambut Bilqis disanggul dan menyisakan sedikit anak rambut di depan telinganya dan dibentuk keriting kecil di ujungnya. Bilqis juga mengenakan waran bibir merah muda serta blush in tipis dengan warna senada seperti bibirnya.


Sempurna, satu kata untuk tampilan Bilqis saat ini. Alex pun sedari tadi memperhatikan sang istri, hanya saja Bilqis tidak menyadari.


“Cantik,” ucap seseorang tepat di belakang telinga Bilqis.


Sontak, Bilqis menoleh ke kanan karena suara itu tepat di kanan telinganya. Namun, Alex menghindar seolah yang Bilqis dengar hanya suara saja tanpa wujud orangnya di sana.


Bilqis menoleh ke kiri dan Alex kembali bersembunyi di belakang tubuh itu, hingga wanita itu pun membalikkan tubuhnya. Dan, Alex langsung menangkap pinggang Bilqis, membuat tubuh itu tiba – tiba sudah dalam pelukan Alex.


“Jahil.”


Alex tertawa. “Biarin.”


Alex sedikit menundukkan kepala agar sejajar dengan wajah Bilqis yang porsi tinggi badannya lebih rendah dari Alex.


Alex memperhatikan sang istri yang sedari tadi tersenyum. Ia cukup senang melihat ekspresi itu. walau Bilqis dikenal sebagai wanita ceria, tapi kali ini keceriaan lebih dari yang sebelumnya terpancar.


“Hm. Bahagia ga ya?” Bilqis pura – pura berpikir sembari mengetuk – ngetukkan dagunya, membuat Alex gemas.


Pria itu sampai menggigit bibirnya sendiri karena gemas melihat ekspresi sang istri.


“Menurutmu?” tanya Bilqis dengan menatap mata Alex yang tak berjarak dengannya.


“Kebiasaan,” jawab Alex tersenyum. “Setiap kali aku bertanya, selalu malah membalikkan pertanyaan.”


Bilqis tertawa dan menangguk. “Baiklah kalau begitu aku akan menjawab, aku bahagia.”


Alex ikut tertawa. Ia memeluk erat tubuh sang istri dan Bilqis menerima pelukan itu. Bilqis menyandarkan kepalanya di dada Alex hingga dagu Alex terasa menyentuh bagian atas kepalanya.


“Aku mencintaimu Mas.”


“Aku juga. Bahkan lebih dari yang kamu tahu,” jawab Alex.


Bilqis pun melonggarkan pelukan itu. “Oh, ya?” tanyanya atas pernyataan Alex tadi.

__ADS_1


Alex mengangguk. “Ya. Dan aku melakukan salah satu sebagai bukti cinta aku padamu.”


“Apa?” tanya Bilqis.


“Memberi surat resign ke bagian HRD. Kamu mengundurkan diri.”


Bugh


Sontak, Bilqis memukul dada bidang itu. “Apaan? Bilang saja supaya aku dua puluh empat jam ada di rumah dan bisa melayanimu setiap saat dan kapan pun kamu mau. itu mau mu!”


Alex tertawa. Kali ini, tawanya cukup membuat bahunya bergoyang. Alex tak kausa menahan gelak tawa ini.


“Mas nyebelin.” Bilqis kembali memukul suaminya.


Kali ini tangan Alex yang kekar menjadi santapan empuk pukulan Bilqis yang tidak terasa bagi Alex. “Aku masih ingin bekerja, Mas.”


“Ya, kamu sudah bekerja denganku kan,” jawab Alex santai. “Di rumah.”


“Mas akan menggajimu sebesar yang kamu mau,” sambung Alex lagi.


Bilqis menggeleng. “Tidak sama.”


“Sama Saja. justru karena aku sangat mencintaimu dan tidak ingin membuatmu kelelahan dengan memiliki tanggung jawab di rumah dan di kantor. Mas membebaskan satu tanggung jawab itu. Keren kan?”


“Keren, mbahmu.”


Alex kembali tertawa. Jika kesal, Bilqis kerap memberikan umpatan yang tak dimengerti Alex. Namun, pria itu tetap tertawa karena ekspresi Bilqis yang menurutnya lucu.


Bilqis pun hendak meninggalkan sang suami. ia lebih baik kembali keluar dan bergabung bersama saudara – saudaranya di sana. Bersama Alex, membuatnya selalu kesal.


“Hei, mau ke mana?” tanya Alex dengan menahan lengan Bilqis.


“Keluar lah. Kumpul sama sepupu – sepupu aku dibanding sama kamu, bawaannya snewen terus. Lama – lama aku bisa darah tinggi.”


Lagi – lagi, Alex tertawa. “Tapi nanti langsung pulang ya?”


“Emang kenapa?” tanya Bilqis bingung.


“Kamu ga lihat dari tadi si jerry ga mau turun.” Alex menunjukkan si jerry di balik celana bahan panjang yang berwarna hitam, senada dengan jas yang ia kenakan.


Sontak, mata Bilqis mengikuti arah mata Alex. Ia melihat sesuatu yang mengembang dari balik kain berbahan katun itu.


“Ya ampun, Mas. Dari tadi seperti ini?” tanya Bilqis malu. Bukan Alex yang malu, justru Blqis yang merasa malu membayangkan orang lain melihat ke arah itu.

__ADS_1


Alex mengangguk. “Tadi kan belum tuntas, Sayang.”


“Ya salam, punya suami gini amat yak!” Bilqis menepuk keningnya.


__ADS_2