Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Mengorek masa lalu


__ADS_3

“Wis, aku tunggu di apartemenmu. Banyak hal yang ingin aku bicarakan.”


Ronal mengirimkan pesan pada Darwis tepat di saat pria itu berpamitan pulang.


Darwis yang melihat gelagat calon istrinya yang tidak betah berada di pertemuan itu, membuatnya memilih untuk pulang lebih dulu dibanding tamu undangan yang lain. Pria itu berusaha untuk memberikan kenyamanan pada Laila.


Selang empat puluh menit kemudian, mobil Darwis tiba di depan pagar rumah Laila. Laila pun hendak membuka pintu mobil itu. Namun, Darwis lebih dulu membukakan pintu itu untuknya.


“Terima kasih,” ucap Laila tersenyum pada calon suaminya itu.


Rencananya, lusa adalah hari pernikahan mereka.


“Sama – sama.” Darwis membalas senyum itu dan mengangguk. Untuk memenuhi janjinya pada Radit, Darwis pun mengantarkan Laila hingga ke dalam rumah.


“Mas mau minum dulu?” tanya Laila berbasa – basi.


Darwis menggeleng. “Tidak perlu. Aku buru – buru kembali ke apartemen karena Ronal menungguku.”


Deg


Jantung Laila seakan terhenti sejenak mendengar pria yang berwajah Ridho dengan nama Ronal itu menemui calon suaminya.


“Untuk apa, dia datang malam – malam?” tanya Laila lagi.


“Entah lah.” Darwis mengangkat bahunya. “Tidak biasanya memang. Entah hal penting apa yang ingin ia katakan.”


Laila terdiam sejenak. Ia memikirkan beberapa kemungkinan. Ia juga khawatir pria itu akan menjelakkan dirinya di depan Darwis. Entah mengapa Laila juga berpikir negatif pada pria yang ia yakini sebagai mantan suaminya tapi dengan nama berbeda.


“Mas.” Laila menahan lengan Darwis yang hendak pamit pulang.


“Ya.” Darwis menoleh dan berkata, “oh ya. Maaf jika malam ini membuatmu tidak berkesan dan ingin cepat pulang. Pertemuan dengan kolega- kolega ku memang membosankan.”


Laila menggeleng. “Bukan, bukan karena itu. aku tidak bosan dengan berada di pertemuan itu. tapi …”


Laila menjeda ucapannya, membuat Darwis penasaran.


“Tapi?” tanya pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu. Mungkin saat muda, Darwis sangat tampan, hal itu terlihat di usianya yang sudah menginjak kepala lima tapi tetap mempesona.


“Aku tidak suka dengan temanmu yang bernama Ronal.”


Sontak, Darwis tertawa. Ia lucu melihat ekspresi Laila. “Ya, aku tahu. Aku sudah melihatnya sedari tadi.”


Tawanya pun memudar dan Darwis kembali berkata, “aku juga heran, mengapa dia seperti itu padamu. Padahal setahu ku, Ronal bukan tipe pria penggoda.”


Laila masih diam. Ia mencari keberanian untuk mengatakan tentang teman calon suaminya itu berdasarkan versinya.

__ADS_1


“Mas,” panggil Laila seperti ingin mengatakan sesuatu.


Darwis melihat gelagat itu. “Kamu ingin mengatakan sesuatu?” tanyanya.


Laila mengangguk. “Aku ingin mengatakan bahwa mantan suami yang meninggalkanku begitu saja, dia adalah temanmu.”


Sontak, Darwis terkejut. “Maksudnya?”


“Entah lah. Aku tidak tahu. Dia begitu membenciku dan mengatakan aku wanita murahan. Janda beranak dua yang telah menggodanya. Aku tidak mengerti apa salahku padanya?”


Tiba – tiba Laila menangis dan dengan cepat Darwis mendekat pada Laila, lalu memeluk tubuh itu.


“Hei, jangan menangis!” Darwis berusaha menenangkan Laila dan mengusap air mata yang jatuh di pipinya.


“Dia menghilang dan tiba – tiba datang ke rumah hanya untuk mengambil berkas – berkas penting saja. kemudian dia pergi begitu saja. masuk ke mobil yang aku yakini adalah mobil Lenka,” ucap Laila lagi sembari sesegukan.


“Lenka?” tanya Darwis.


Laila menganggukkan kepala. “Seharusnya, aku yang sakit hati karena dia telah menikahi mantan pacarnya.”


Laila pun menceritakan semua kenangannya bersama Ridho, termasuk pertemuan mereka dan menikah lalu memiliki dua anak, Bilqis dan Radit. Laila juga menceritakan tentang Ridho yang membohonginya dengan menikahi wanita lain sejak masih mengandung Bilqis. Namun, pernikahan kedua Ridho terungkap jelas setelah Radit lahir dan berusia delapan bulan.


“Saat itu, aku ikhlas dimadu, Mas. Aku menerima Mas Ridho yang telah menikahi Lenka. Tapi malam itu, dia pergi. Benar – benar pergi dan tidak kembali.” Air mata Laila kembali luruh.


Walau Laila telah melupakan rasa sakit hatinya pada Ronal dan Lenka, tapi tetap saja air matanya kembali luruh ketika harus menceritakan kejadian menyakitkan itu.


Di dalam rumah. Radit mendengarkan perketaan sang Ibu yang menjelaskan kronoligis masa lalunya dengan sang ayah. Tadinya, Radit berniat ingin membukakan pintu untuk sang ibu setelah mendengar derungan suara mobil Darwis di depan rumahnya. Tapi pada saat membuka sedikit pntu itu, justru Radit mendapati ibunya sedang menangis di pelukan calon ayah sambungnya sembari bercerita.


“Mas,” panggil Laila dengan mendongakkan kepalanya untuk menatap Darwis.


“Hm.” Darwis ikut membalas tatapan itu.


“Kamu percaya padaku kan? Aku bukan wanita murahan seperti yang dituduhkan Mas Ridho dan Lenka.”


“Ssttt …” Darwis menutup bibir Laila dengan jari telunjuknya. “Jangan berkata seperti itu! Kamu jauh dari kata itu. justru kesan pertama yang aku lihat terhadapamu adalah satu, kamu wanita hebat.”


Seketika, bibir Laila tersenyum. “Benarkah?”


Darwis mengangguk. “Tidak ada orang yang bisa mendoktrin hati dan pikiranku, karena aku memiliki pandangan sendiri untuk itu. Tenang saja. Oke!”


Laila kembali mengangguk dengan bibir yang masih tersenyum.


“Apa pun yang terjadi, tidak akan merubah rencanaku yang akan menikahimu, lusa. Kamu mengerti!”


Lagi – lagi, Laila menganggukkan kepalanya. “Terima kasih.”

__ADS_1


“Sekarang, masuk lah! Tidur lah! Maaf karena aku membuatmu lelah,” ujar Darwis.


Di balik pintu, hati Radit merasa sangat lega. Darwis memang pria yang tepat untuk membahagiakan sang ibu di hari tuanya nanti.


Ceklek


“Ibu.” Radit membuka pintu itu dan memanggil ibunya.


Sontak, Darwis melepaskan pelukan dan Laila menjauhkan tubuhnya dari Darwis sembari mengusap pipinya yang basah.


“Sudah pulang?” tanya RAdit berbasa – basi seolah ia baru berada di sana. padahal sudah sedari tadi Radit di sana dan mendengarkan percakapan itu.


Percakapan tentang kronoligis pertemuan sang ibu dengan ayahnya yang kemudian menikah lalu ditinggalkan. Radit tidak mengira bahwa pria yang ia temui di bandara adalah ayah kandungnya. Syok. Radit benar – benar syok.


“Ya, sudah,” jawab Darwis pada Radit. “Om memenhi janji Om kan? Om memulangkan ibumu dalam keadaan utuh.”


Darwis nyengir diikuti oleh senyum Radit. “Terima kasih, Om.”


“Baiklah, kalau begitu Om pamit,” sambung Darwis yang diangguki Radit dan Laila.


Radit dan Laila berdiri sembari melihat Darwis yang memasuki mobil hingga mobil itu pun melesat pergi. Laila sudah tidak peduli dengan omongan tetangga. Kali ini, ia tidak peduli dengan nyinyiran orang – orang di sekeliling rumahnya tentang dirinya yang katanya gatal dan sudah tua ingin menikah lagi.


“Dit, Ibu masuk kamar duluan ya. Ibu capek,” ujar Laila pada putranya dan meninggalkan sang putra yang masih mematung.


Radit mengangguk dan baru beberapa kali Laila melangkah, sang putra memanggil.


“Bu.”


“Ya.” Laila menoleh.


“Radit ada perlu sembentar. Radit keluar dulu ya, Bu,” pamit sang putra yang ingin mengikuti mobil Darwis dan membuntuti hingga ke apartemennya.


Radit ingin bertemu Ronal. Tangannya sedari tadi mengepal, rasanya ia ingin menghajar wajah pria tidak bertanggung jawab itu.


Radit langsung ke kamar untuk mengambil jaket dan kunci motonya.


“Dit, jangan malam – malam ya!” ucap Laila yang tidak tahu dengan niatan sang putra.


Radit mengangguk. “Iya, Bu. Ibu tidur aja duluan. Jangan nungguin Radit, Radit bawa kunci sendiri.”


Laila mengangguk. Tidak ada kecurigaan apa pun pada Radit karena memang terkadang Radit keluar rumah dan pulang malam. Itu pun terjadi jika ia ingin berkumpul bersama teman – temannya di slaah satu rumah temannya itu.


Dengan hati dongkol, Radit melajukan motornya. Ia menjalankan motor itu dengan kecepatan cukup tinggi hingga berhasil menemukan mobil Darwis dan membuntutinya.


“Apakah Pak Ronal itu bapak Ridho yang terhormat? Ayahku?” tanya Radit dengan keadaan hati yang sulit diartikan.

__ADS_1


Radit berjanji akan memberi pelajaran pada pria yang telah membuat keluarganya menderita, apalagi sang ibu.


__ADS_2