
Ronal duduk termenung sendiri di teras rumahnya. Ada sesuatu yang mengganjal di hati Ronal, tapi apa? Ia pun tidak tahu. Yang pasti, perasaannya tiba – tiba gundah saat melihat foto seorang wanita yang dikirim Darwis.
Semula, mereka saling bertukar informasi tentang pekerjaan. Lambat laun cerita, Darwis menceritakan tentang seorang wanita yang pria itu temui di pernikahan Alex. Ronal pun semakin antusias, karena ia cukup penasaran dengan wanita yang mampu menggantikan posisi putrinya, mengingat Alex adalah tipe pria yang sulit didekati setelah meninnggalkan masa lalunya yang kelam.
Keakraban yang terjalin antara Ronal dan Darwis bermula sejak mereka hanya menjadi karyawan dokter tetap di sebuah rumah sakit. Kemudian istri Ronal mendapatkan warisan dari keluarganya, lalu memberikan suaminya modal untuk membuka sebuah rumah sakit. Ronal pun mengajak Darwis. Mereka bekerjasama untuk memajukan rumah sakit itu hingga akhirnya rumah sakit milik Ronal dan istri berkembang dan semakin luas, peralatannya pun semakin canggih.
Darwis tidak lagi dibebani oleh jadwal praktek yang tinggi. Kini, Darwis justru lebih suka survei ke beberapa negara dan mengambil inovasi yang akan ia bawa untuk rumah sakit milik sahabatnya itu. darwis juga diberi gaji yang cukup besar di sana, ditambah saham sepuluh persen, saham itu diberikan Ronal karena saat merintis, tidak sering Darwis menerima gajinya. Saat itu, mereka benar – benar pahit. Oleh karena itu, Darwis sangat setia pada mendiang istrinya, karena di saat kondisi dirinya seperti apa pun, mendiang sang istri selalu menamani.
Dan, saat ini ia melihat karakter mendiang sang istri yang ada di diri Laila.
“Mas, tumben bengong. Ada apa?” tanya Lenka pada suaminya.
Ronal menggeleng. “Tidak apa – apa.”
“Kamu seperti sedang memikirkan sesuatu?” tanya Lenka menyelidik sembari menatap mata sang suami. Ronal memang tidak pandai berbohong. Wajahnya terlalu ekspresif hingga tidak bisa menyembunyikan sesuatu.
Kali ini, Ronal tidak ingin menceritakan tentang foto wanita yang dikirim Darwis. Entah mengapa ia tidak ingin cerita hal ini pada Lenka, mengingat istrinya adalah tipe wanita pencemburu. Lenka pernah memarahi, bahkan memecat salah satu manager di rumah sakit miliknya ketika mengetahui bahwa wanita itu mencoba mendekati suaminya. Padahal tidak terjadi apa pun antara Ronal dan manajernya itu. Lenka yang dahulu pernah mengambil suami orang, menjadi ketakutan sendiri saat suaminya di dekati oleh wanita lain.
“Benarkah?” tanya Lenka lagi. “Tidak ada yang kamu sembunyikan dariku?”
“Tidak. Memang apa yang pernah aku sembunyikan darimu?” Ronal kembali bertanya. “Semua hal selalu aku ceritakan padamu. Bahkan keuntungan rumah sakit sebesar apa pun kamu tahu. Aku tidak pernah mengambilnya sedikit pun tanpa sepengetahuanmu.”
Lenka tersenyum. hal itu memang benar. Selama ini, Ronal telah menjadi suami yang setia, jujur, dan baik untuknya. Lenka sangat bahagia untuk itu. Walau dahulu ia sempat merasa terabaikan karena menjadi istri kedua Ronal, tapi selama dua puluh satu tahun ini, ia menjadi satu – satunya istri untuk pria ini. Lenka memanipulasi identitas Ridho menjadi Ronal, paska kecelakaan itu.
Meralat usia. Saat ini, usia Bilqis adalah dua puluh tujuh tahun. Usia Bilqis lebih muda lima tahun dari Alex. Bos killer yang saat ini sudah menjadi suami Bilqis berusia tiga puluh dua tahun. Usia Alex yang masih terbilang muda saat ditinggal istrinya, membuat ia dijuluki hot duda oleh teman – teman sebayanya di Singapura.
Antara Bilqis dan Radit memiliki selisih usia empat tahun. saat Radit masih berusia delapan bulan, Laila mengetahui kejanggalan pada suaminya. Sebenarnya, Laila sudah menemukan kejanggalan itu sejak ia tengah mengandung Bilqis di trimester ketiga. Banyak rekan kerja dan kerabat mengatakan pernah melihat sang suami dengan wanita cantik. Rumor itu pun semakin terdengar di telinga Laila. Namun, hal itu selalu Laila tepis karena Laila tidak pernah kehilangan waktu kebersamaan dengan suaminya. Ridho hampir tidak pernah lembur atau kerja di luar kota. Ridho juga selalu menjadi suami siaga dan tidak pernah meninggalkannya apalagi di saat Laila tengah berperut besar dan memasuki usia hamil tua. Laila pun yakin bahwa suaminya tidak seperti itu. Ia yakin Ridho tidak memiliki wanita lain diliuaran sana. Ia pun menepis semua tudingan miring pada suaminya yang kala itu masih berstatus karyawan sebagai dokter tetap di sebuah rumah sakit swatsa di Jakarta. Hingga akhirnya, tepat saat Radit berusia dua tahun dan Bilqis enam tahun, Ridho pergi dan tak kembali.
__ADS_1
Di Jakarta, Alex menatap Bilqis bagai elang. Ia seperti si pemburu yang tengah memburu mangsanya. Keduanya masih duduk berhadapan. Alex di kursi kebesarannya, sementara Bilqis duduk di depannya seperti seorang tamu. Mereka hanya dihalang oleh meja besar beralas kaca hitam.
Bilqis mencoba menoleh ke arah pria yang sedang menatapnya itu. “Jangan melihatku seperti itu!”
“Kenapa? Karena merasa bersalah? Jadi kamu takut.” Alex masih dengan posisinya.
Pria itu dengan santai menatap Bilqis sembari duduk menyilang dan memainkan pulpen di tangan kanannya. Bilqis seolah tengah akan diinterogasi oleh pihak penyidik.
“Aku sudah minta maaf. jadi sudah lah.” Bilqis memasang wajah cemberut dengan bibir yang sengaja ditekuk.
“Jangan pasang wajahmu seperti itu. itu hanya akan menambah hukumanmu saja,” ucap Alex yang ingin sekali tersenyum. namun, ia menahan ekspresi itu dan tetap memasang wajah datar.
“Baiklah, kalau begtu aku akan terima apa pun hukumanmu,” ucap Bilqis.
“Oh ya? Kamu yakin akan melakukan semua perintahku?” tanya Alex menyeringai.
Sontak, Alex tertawa. Sungguh, ia tidak bisa lagi menahan tawanya. Bilqis benar – benar polos hingga tidak dapat menangkap maksud hukuman yang Alex inginkan.
“Ya, kamu diskorsing tiga hari dan itu mulai dari sekarang.”
“Maksudnya?” tanya Bilqis bingung.
Alex menatap arloji di tangan kanannya. “Mulai pukul sembilan lewat dua puluh menit, kamu di non tugaskan hingga tiga hari ke depan.”
Bilqis malah sumringah. “Benarkah? Jadi mulai sekarang aku tidak perlu bekerja?”
Alex mengangguk. “Ya.”
__ADS_1
Bilqis pun langsung berdiri.
“Hei, mau ke mana? Siapa yang menyuruhmu pergi? Aku belum selesai bicara.”
“Aku ingin ke sekolah Aurel dan menjemput putriku.”
Alex mengernyitkan dahi. “Aurel belum pulang sekolah. Ini masih terlalu pagi.”
“Tidak apa. Aku kan bisa jalan – jalan dulu atau ke salon itu. menggunakan kartu ini.” Bilqis menunjukkan kartu berwarna hitam yang diberikan Alex tepat saat malam pertama mereka.
Alex pun berdiri dan mendekati Bilqis. “Tapi sayangnya, kamu tidak diperbolehkan pergi dari sini.”
Kaki Bilqis ikut mundur seiring langkah Alex yang terus mendekat.
“Kamu harus melayaniku dulu di sini,” ucap Alex lirih.
“Maksudnya?”
“Sebagai hukaman pertama, kita akan bercinta di sini. Aku ingin merasakan bercinta di kantor dengan sekretarisku.”
“What?” tiba – tiba kepala Bilqis blank. Ia tidak pernah membayangkan aka bercinta di kantor bersama bosnya.
Ini terlalu mirip drama korea atau novel – novel yang ia baca.
“Mas … Jangan disini!” Bilqis mencoba menahan dada Alex saat pria itu hendak menerjangnya.
Bilqis sudah tak mampu kemana pun. Kakinya terbentur sofa hingga terjatuh duduk di sana. Posisi yang sangat pas untuk Alex karena pria itu memang sering membayangkan bercinta dengan Bilqis di sofa ini, bahkan saat sang sekretaris masih belum menjadi istrinya.
__ADS_1