
"Assalamualaikum, Bu.”
“Waalaikumusalam.” Laila yang sedang memegang vacum cleaner dan menggosokkan ke karpet ruang tamu itu pun menoleh. “Bilqis.”
Wanita paruh baya itu langsung meletakkan alat pembersih itu dan menghampiri putrinya yang masih berdiri di pintu. Laila memeluk Bilqis.
“Ibu kangen banget sama kamu.”
“Sama, Bu. Bilqis juga kangen.”
Laila melonggarkan pelukan dan menatap sang putri. “Semalam Ibu bilang sama Mas Darwis buat anter Ibu ke rumah kamu. Eh, ga tau nya kamu ke sini.”
“itu namanya sehati,” sahut Bilqis.
Kedua wanita beda generasi itu pun tertawa. Laila mengajak Bilqis masuk.
“Wah, beberapa hari aja ga ke sini, ternyata ada saja yang berubah,” ledek Bilqis pada ibunya yang semakin hari semakin ceria.
“Berubah apa nya? Ngga ada.” Laila mengeleng.
“Ini, banyak bnget bunga di sudut ruangan.” Bilqis menunjuk pada bunga – bunga yang ada di pojok itu.
“Ini permintaan Mas Darwis. Dia suka bunga dan selalu memberikan Ibu bunga kalau dia pulang kerja.”
“Hmm … so sweet,” ucap Bilqis yang kembali meledek dengan bibirnya. “Perasaan Mas Alex ga pernah kaya gitu.”
Bilqis kembali meledek ibunya.
“Masa sih?” Laila pun malu dan pura – pura mengelak, membuat Bilqis tertawa.
“Oh ya, Bu. Tadi Mas Alex bilang katanya Ayah akan bebas nanti sore. Ibu mau ke sana?”
Laila mengangguk. “Ya, Mas Darwis juga sudah bilang. Iya Qis, Ibu mau ke sana. kamu juga kan?”
Bilqis ikut mengangguk. “Iya bu.”
Lalu, Bilqis berjalan ke dalam rumah. Ia menghampiri meja makan dan membuka tutup saji. “Wah, ibu masak rendang?”
“Iya, makanya semalam Ibu minta Mas Darwis buat anter Ibu ke rumah kamu. karenaIbu masak rendang. Kalau masak rendang, Ibu ingat kamu.”
“Hmm … makasih, Ibu.” Bilqis memeluk Ibunya dari samping.
Ia mengambil sendok dan mulai mencicipi makanan kesukaannya itu. Tapi baru saja piring besar itu ia dekatkan, rasanya perutnya kembali tidak bersahabat.
“Hoek.”
Bilqis langsung berlari ke kamar mandi.
“Hoek.”
Laila yang mendengar putrinya muntah pun, langsun menghampiri. “Qis, kamu kenapa?”
“Ga tau, Bu. Dari adi pagi perut Bilqis ga enak. Masuk angin kali ya. Soalnya keramas terus.”
Laila tertawa melihat kepolosan putrinya.
“Udah telat belum?” tanya Laila.
“Telat apa?”
“Datang bulan kamu,” sahut Laila.
“Bukannya memang sudah biasa telat ya?” tanya Bilqis polos.
Pletak
Laila menyentih dahi putrinya. “Kalau sebelum menikah, kamu terlambat datang bulan, ya santai ga apa – apa. tapi sekarang kamu sudah menikah. Kalau terlambat datang bulan, ya periksa. Gimana sih?”
Bilqis terdiam sembari membersihkan mulutnya.
“Kalian aktif berhubungan ‘kan?” tanya Laila menyelidik.
Bilqis keluar dari kamar madi dengan bibir cemberut. “Bukan aktif lagi, malah capek keramas terus.”
Laila tertawa. Wanita paruh baya itu tertawa terbahak – bahak. “Bagus dong, itu artinya Nak Alex suka dengan semua yang ada di diri kamu.”
“Ck. Ibu bisa aja. Jangan – jangan Ibu dan Om Darwis juga begitu kan? Hayo ngaku.” Kini, Bilqis yang meledek ibunya.
“Iya, ibu mah ngaku. Habis enak.”
Sontak, Bilqis pun tertawa. Baru kali ini ia melihat sang ibu berkata vulgar.
“Nanti jadi loh.”
Sontak, Laila terdiam. Ia kembali mengingat terakhir masa periodenya datang.
“Sekarang tanggal berapa, Qis?” tanya Laila yang langsung melihat kalender.
“sudah tanggal ua puluh tujuh.”
__ADS_1
“Ya ampun.” Laila menepuk keningnya. “Ibu juga sudah telat dua minggu.”
Bilqis pun tertawa. “Terus, aku dan Radit akan punya adik gitu, Bu?”
Laila langsung menggeleng. “Ngga. Ngga.”
“Dih, kok ngga. Nyatanya ibu udah telat,” ledek Bilqis.
“Ngga. Ini pasti Cuma telat aja. Bulan kemarin Ibu juga telat kok. Tapi ngga.”
Bilqis kembali tertawa. “Nyuruh orang jangan cuek, tapi sendirinya juga.”
“Kalau Ibu mah udah tua. Udah bukan masa produktif. Jadi, bisa jadi bisa ngga,” sanggah Laila. “Kalau kamu kan masih usia produktif. Jadi, sudah pasti jadi.”
“Ck. Ngeles aja kaya bajaj,” sahut Bilqis tersenyum. ia tidak bisa membayangkan jika ternyata sang ibu juga benar – benar hami. Padahal pernikahan sang ibu dan ayah sambungnya baru berjalan dua bulan.
“Kalau Ibu jadi, berarti Om Darwis tokcer banget ya.” Bilqis kembali meledek.
“Ck. Kamu tuh negeledekin Ibu aja. Pokoknya ngga. Ibu ngga hamil.”
Bilqis tertawa. Reancananya, sebelum menjemput Aurel ke sekolah, ia akan mampir ke apotik dan membeli alat tes kehamilan. Ia juga penasaran dengan yang dikatakan semua orang, termasuk suaminya yang memiliki firasat yang sama.
“Apa benar aku hamil?”
Di dalam kamarnya, Bilqis bercermin. Sambil berdiri, ia memperlihatkan bentuk tubuhnya dengan menggeser ke kanan dan kiri.
“Ah, belum keliatan. Bentuk badanku tidak ada yang berubah.”
Bilqis mengelus perutnya dengan posisi yang sama.
Dret … Dret … Dret …
Tiba – tiba ponselnya berdering. Ia melihat nama yang tertera di sana dengan tulisan honey. Nama itu dibuat langsung oleh Alex di ponsel sang istri.
“Halo.”
“Sayang, lagi apa?”
“Lagi di kamar. Kamu bukannya ada meeting dengan Mr. Ammar?”
“Nantu, satu jam lagi,” jawab Alex.
“Oh, ya. Anto sudah aku suruh ke rumah Ibu. Mau jemput Aurel kan?”
Bilqis mengangguk. “Iya.”
“Ya udah, hati – hati ya. Nanti malam, aku pulang terlambat, karena Mr. Ammar akan mengajakku makan malam dengan kementrian komunikasi dan Informatika.”
Mendengar kata sayang dari mulut Bilqis membuat Alex senang.
“Sukses ya makan malamnhya nanti. Maaf aku tidak menemani,” kata Bilqis.
“It’s oke, Beib. Ada Bima yang menemaniku.”
Bilqis tersenyum.
“Kamu hai – hati ya,” kata Alex pada Bilqis yang akan menjemput putrinya.
“Ya, kamu juga.”
“Love you,” ucap Alex.
“Love you too.” Bilqis membalas kalimat cinta itu dan mematikan sambungan telepon.
Bibirnya tersenyum saat panggilan itu terputus da menatap layar ponselnya. Ia tidak pernah membayangkan sedikitkan akan semua yang terjadi dan berada di titik ini. sungguh, ia amat bersyukur.
“Bilqis,” panggil Darwis pada putri sambungnya yang baru saja keluar kamar.
“Om sudah .. eh, Papa sudah pulang?”
Darwis langsung tersenyum mendengar putri sambungnya memannggil Papa, sedangkan Radit belum melakukan itu. Bilqis hanya menghargai seseorang yang telah membuat ibunya bahagia.
Darwis mengangguk dan tersenyum. Laila yang berada di samping Darwis pun ikut tersenyum senang mendengar panggilan itu.
“Oh, ya. Papa melihat mobil Alex di depan,” ucap Darwis.
Laila pun langsung menoeh keluar, begitu pun dengan Bilqis.
“Oh, ya. Bilqis mau jemput Aurel dulu ya, Pa. Bu.”
Darwis dan Laila mengangguk bersamaan.
"Oh ya." Bilqis menoleh lagi ke arah sang ibu. "Dari tadi, Bilqis mau tanya Radit. Di mana dia, Bu?"
"Radit sudah bekerja," jawab Laila.
"Di mana?" tanya Bilqis lagi.
"Di kantor temannya."
__ADS_1
"Padahal ayah kalian sudah mewariskan rumah sakit itu. Dan Papa sudah bilang pada Radit untuk mengelola rumah sakit ini bersama," sambung Darwis. "Tapi adikmu tidak mau."
"Itu artinya, Ibu, Radit, dan Papa akan pindah ke Singapura?"
Laila fan Darqis mengangguk.
"Papamu akan habis masa tugasnya disini satu minggu lagi."
"Heum .." Bilqis menampilkan wajah sedih.
"Sayabg, jangan sedih begitu!" ujar Laila. "Nanti juga kalian akan menyusul kami di sana."
Bilqis terdiam. "Lalu, Radit?"
"Terserah dia mau gimana. Adikmu sudah besar. Ibu percaya dia akan melakukan yang terbaik untuk dirinya."
Bilqis mengangguk setuju. Kemudian ia kembali pamit pada Laila dan Darwis, lalu memasuki mobil suaminya. Sedari tadi, Anto sudah menunggu.
Di jalan, Bilqis mampir ke sebuah apotik. Ia membeli alat tes kehamilan yang akurat dan kapan pun bisa digunakan, tidak harus menuggu pagi.
Usai dari apotik, Bilqis kembali menuju sekolah Bilqis.
"Mommy ..." teriak Aurel senang saat sang Ibu sudah ada di depan sekolah.
Aurel berlari menghampiri Bilqis dengan riang, karena ia membawa sesuatu ditangannya. Bilqis pun menangkap tubuh mungil putrinya.
"Dari siapa ini?" tanya Bilqis pada Aurel yang memegang bingkisan aneka cokelat yang dibungkus seperti bunga.
"Ini dari Bu guru. Aku menjadi siswa teladan bulan ini."
"Wah, hebat." Bilqis bertepuk tangan. " Anak Mkmmy memang hebat."
Aurel tertawa senang dan bahagia sembari memeluk sang ibu. Rasanya kebahagiaan Aurel berlipat ganda karena kini orang tuanya sudah lengkap.
****
Sesampainya di rumah, Bilqis hendak.mencoba alat tes kehamilan itu.
Usai menjemput Aurel tadi, ia sengaja mengajak sang putri untuk makan kesukaannya sebagai reward dari prestasi yang Aurel capai di sekolab tadi. Puas mengajak Aurel makan dan jalan - jalan sebentar, mereka pun pulang.
Sebelum makan malam, Bilqis sudah menyiapkan makanan dan membersihkan diri.
Dadanya dag dig dug menunggu hasil yang ditunjukkan pada alat itu.
"Beneran hamil ga sih?" gumam Bilqis sembari menatap alat tes yang sedang berproses.
Garis merah terlihat satu. Bilqis menunggu proses alat itu lagi. Benar, ternyata garis merah kedua pun muncul. Seketika, bibirnya tersenyum. Detak jantungnya semakin cepat.
Garis dua berwarna merah itu semakin kentara.
"Aku hamil?" tanyanya senang.
"Aaa ..." Bolqis berteriak, membuat Maya yang kebetulan melewati kamar itu pun panik.
"Ibu, kenapa?" Maya yang langsung menghampiri Bilqis di dalam kamar mandi pun bertanya.
Maya panik melihat Bilqis menangis histeris. Tak lama, Nia dan Aurel datang.
"Mommy ... Mommy kenapa?" tanya Aurel.
Bilqis masih tidak bisa menjawab. Ia hanya menangis.
Aurel panik dan langsung menelepon ayahnya. Di dalam kamar mandi, Bilqis duduk di teoi bathup dengan menggunakan handuk kimono putih.
"Daddy ..."
"Ada apa, Sayang?" tanya Alex panik karena mendengar suara putrinya yang panik.
"Mommy, Daddy. Mommy."
"Kenapa Mommy?"
"Daddy harus segera pulang," ucap Aurel.
"Tapi Daddy ada pertemuan dengan ..." ucapan Alex terpotong, tidak ada yang lebih menting dari istrinya, walau pertemuan ini juga penting.
"Baiklah, tunggu Daddy," kata Alex lagi pada putrinya dan menutup sambungan telepon itu.
Di dalam mobil menuju restoran untuk pertemuan dengan orang - orang penting, Alex memilih Bilqis.
"Bim, turunkan saya di halte depan. Saya naik taksi, kamu wakilkan saya bertemu Mr. Ammar dan yang lainnya di sana. Bawa mobil ini agar kau tidak diremehkan." Alex memberi perintah pada asistennya.
"Lalu, anda Sir?" tanya Bima tidak enak menurunkan Alex di halte.
"Saya akan naik taksi."
"Tapi ..."
"Sudah cepat. Saya ingjn segera pulang."
__ADS_1
Bilqis adalah segalanya. Bahkan ia meninggalkan semua hal yang penting hanya untuk Bilqis. Padahal di rumah, Bilqis tengah menangis bahagia.