
“Lex, istrimu benar – benar sudah tidur?” tanya Damian. “Irene penasaran dengan istrimu.”
“Ya, Lex. Kedatangan kita ke sini untuk memberi ucapan padamu dan istrimu,” sahut Zavier.
“Oke, akan aku kenalkan. Tapi kalian tidak boleh komentar,” ucap Alex.
“Memang kenapa? Kalau istrimu cantik, masa kita ga boleh komentar.” Kali ini Max bersuara.
Lalu, Alex menoleh ke arah belakang memastikan tak ada Bilqis di sana. kemudian ia menoleh lagi ke arah teman – temannya. “Dia memang mirip dengan Tasya. Tapi sumpah, aku menyukainya buka hanya karena dia mirip dengannya.”
Seketika suasana ruang tamu itu pun menjadi serius. Damian, Zavier, dan Max saling bertatapan. Lalu, Alex berdiri. “Akan aku panggilkan istriku. Sebentar!”
Alex meninggalkan ketiga tamunya dan bertemu maya, lalu meminta dibuatkan minuman untuk ketiga tamunya.
Alex memasuki kamar, ia melihat Bilqis yang sudah membaringkan tubuhnya dengan posisi miring membelakangi. Alex menarik nafasnya kasar saat memandangi bahu mulus yang terlihat kontras dengan warna baju itu. Bilqis mengenakan dres selutut berwarna hitam dan berbahan kaos dengan tali tangtop kecil di kedua bahunya.
Alex duduk di tepi ranjang dan mendekatkan kepalanya pada bahu mulus yang sedang miring itu. “Sayang, kamu sudah tidur?” tanyanya berbisik tepat di telinga itu.
Bilqis memang belum tertidur. Ia memejamkan matanya dengan paksa saat mendengar langkah kaki Alex yang hendak memasuki kamar ini. Sepertinya, Bilqis kembali menjaga jarak hanya karena mendengar bahwa dahulu Alex seorang mantan BadBoy. Ia sangat takut untuk sakit hati.
“Hei, kamu sudah tidur?” tanya Alex lagi dengan lembut. “Teman – temanku datang dari Singapur. Mereka ingin mengucapkan selamat pada kita.”
Kedua mata Bilqis pun mengerjap. Alex tersenyum, pria itu tahu bahwa Bilqis berpura – pura tidur, padahal ia melihat kelopak mata Bilqis yang bergerak-gerak, menandakan bahwa ia terpaksa memejamkan mata.
Bilqis membalikkan tubuhnya menjadi terlentang sembari merenggangkan otot seolah sudah tertidur pulas dengan waktu lama. Alex pun memberi ruang untuk wanita itu bergerak.
“Kau sudah pulas?”
“Hm … kamu tanya apa?” Bilqis balik bertanya dengan tidak membuka matanya penuh.
“Dasar wanita penuh drama,” ucap Alex.
“Drama apa?”
“Aku tahu kamu belum tidur.”
Bilqis pun membuka matanya penuh. “Aku sudah tidur. Kamu yang menganggu jadi aku terbangun kan.”
Alex tertawa. “Ya sudah. Intinya kamu sudah bangun kan? Ayo keluar! Teman – temanku ingin mengenalmu.”
Bilqis menggeleng. “Tidak perlu. Aku malu.”
“Kenapa malu?”
“Karena mereka temanmu.”
“Kamu pernah aku kenalkan dengan teman – temanku saat di pesta, tidak malu. Kenapa sekarang malu? Ayolah!” Alex menarik lengan istrinya.
Mau tidak mau, Bilqis pun mengikuti. “Tunggu! Aku belum menggunakan sandal.”
Langkah Alex terhenti dan menunggu Bilqis memakai sandal jepit rumahannya. Namun, kakinya agak sulit memasuki sandal itu karena terburu – buru dan karena kakinya yang masih besar oleh balutan perban elastis.
Alex langsung berjongkok dan menyelipkan jepitan sandal itu pada satu ruas jari kakinya. Bilqis memegang bahu Alex agar tak terjatuh saat dipasangkan.
__ADS_1
“Masih sakit?” tanya Alex dengan mendongakkan kepalanya.
Bilqis menggangguk. “Masih sedikit.”
Hal kecil yang Alex lakukan selalu saja membuat Bilqsi meleleh. Seperti apa yang dilakukannya sekarang. Rasanya Bilqis tidak ingin memberi jarak pada pria ini.
Alex selesai memakaikan sandal itu sempurna di kaki Bilqis. Lalu, ia memakaikan outfit dengan warna yang sama seperti dres itu pada tubuh Bilqis. Ia tidak rela jika bahu mulus itu dilihat kedua teman dan sepupunya.
Damian, Zavier, dan Max yang sedang menyantap makanan kecil yang diberikan maya tadi, Sontak terhenti saat melihat Alex dan Bilqis ke arah mereka dari kejauhan.
“Tasya?” tanya Max.
“Apa orang mati bisa hidup kembali?” Zavier pun menganga.
Sedangkan Damian malah tidak bisa berkata – kata. Ia terdiam sejenak hingga akhirnya bersuara. “Alex benar – benar tidak pernah bisa move on dari Tasya."
“Kalian ingin mengenal istriku kan?” tanya Alex pada ketiga temannya saat ia sudah berada di ruangan itu.
Damian, Zavier, dan Max hanya menatap ke arah Bilqis, membuat wanita itu merasa malu dan canggung.
“Namanya Bilqis. Dia sekretarisku. Karena Aurel menyukainya. Aku pun begitu.” Alex memperkenalkan Bilqis sembari menatap mata wanita itu.
Bilqis juga menoleh ke arah Alex dan teman – temannya bergantian dengan senyum malu.
“Hai, Bilqis. Aku Damian, sepupu Alex.” Damian mengulurkan tangannya ke arah Bilqis yang langsung disambut oleh istri Alex itu dengan senyum.
“Aku datang sebagai perwakilan keluarga Alex karena Irene sedang tidak bisa hadir. Karena kalian menikah terlalu mendadak.” Damian berkata lagi.
Bilqis tersenyum dan menoleh ke arah Alex. “Ya, terlalu mendadak. Aku tidak bisa menolak permintaannya yang memaksa.”
“Sifat pemaksa memang sudah mendarah daging dengannya,” celetuk Zavier.
Bilqis ikut tertawa kecuali Alex yang menatap ketiga temannya dengan dingin. Kemudian giliran Zavier yang mengulurkan tangan pada Bilqis, lalu berganti dengan Max.
“Apa kau memiliki saudara kembar?” tanya Max. Alex memberi isyarat dengan menggelengkan kepala ke arah temannya itu.
Untung saja, Alex berada di belakang bahu Bilqis. Wanita itu pun menggeleng. “Tidak. memang kenapa?”
“Tidak apa. hanya bertanya.” Zavier meluruskan pertanyaan itu.
“Nah, sesi perkenalannya sudah kan? Jadi kalian harus pulang,” ucap Alex membuat ketiga pria itu pun riuh dan Bilqis hanya menatap keempat pria itu bergantian dengan bingung.
“Apa kalian mau makan? Akan aku siapkan, kebetulan kami juga makan bersama keluarga tadi.”
“Tidak perlu, Sayang.” Alex menahan lengan Bilqis. “Ini sudah malam. Mereka tidak pernah makan malam karena takut gemuk.”
Bilqis mengernyitkan dahi. Mereka yang laki – laki saja takut gemuk dan tidak makan malam. Apa kabar dirinya yang sering membuat mie instans jam sebelas malam? OMG.
“Kalau begitu, aku kupaskan buah. Mau?” tanya Bilqis ramah.
“Ah, kamu membuat mereka betah, Sayang.”
Ketiga pria di depan Alex pun terkikik geli.
__ADS_1
“Ya, kami mau,” jawab Zavier.
“Mereka tamu, Mas dan kita harus memuliakan tamu,” jawab Bilqis membuat Alex memutar bola matanya malas.
“Setuju.”
“Good.”
“Kau benar sekali Bilqis.”
Zavier, Max, dan Damian menjawab bersahutan.
Bilqis pun dengan semangat beralih ke dapur dan meninggalkan suami berserta ketiga tamunya. Setelah Bilqis pergi, Damian langsung mendekati Alex, begitu juga dengan Zavier dan Max.
“Lex, apa kami tidak salah lihat?” tanya Max.
“Apa?” Alex balik bertanya.
“Dia. Dia mirip sekali dengan …” Hampir Zavier menyebut nama Tasya.
“Ssssttt …” Alex menempelkan jari telunjuknya di bibirnya yang mengatup. “Pelan – pelan, nanti dia dengar.”
“Jangan bilang kau belum move on hingga mencari istri yang mirip. Benar - benar seperti pinang di belah dua,” sahut Max.
“Awalnya ya.” Alex mengangguk. “Tapi sekarang tidak. aku memang benar – benar menyukainya. Mereka berbeda.”
“Apa kau tidak merasa ini aneh?” tanya Damian. “Apa kau tidak merasa mungkin mereka kembar?”
Alex mengernyitkan dahi. “Entahlah, sempat terbesit di dalam kepalaku seperti itu. tapi aku belum menemukan jawaban.”
Alex menceritakan asal usul Bilqis. Ia juga menceritakan tentang ayah Bilqis yang menghilang hingga jejaknya pun tidak bisa ditemui.
“Apa uncle Ronal adalah ayahnya yang hilang adalah satu orang?” tanya Max serius.
Alex menggeleng. “Aku juga belum tahu. Hasil penelusuranku belum sampai ke situ. Kemarin aku masih fokus untuk persiapan pernikahan dan belum fokus pada itu.”
Ketiga pria itu mengangguk.
“Jika kau membutuhkan sesuatu, katakan! Aku akan membantumu untuk mencari infromasi tentang ayah istrimu dan Om Ronal. Apa mereka orang yang sama atau tidak? akan aku telusuri,” ucap Zavier.
“Thank you, Zav. Ya, Aku membutuhkan itu. Segera beri aku informasi jika kau menemukan kejanggalan.” Alex menepuk bahu Zavier.
Zavier pun mengangguk.
“Berarti kedatangan kam bermanfaat kan?” tanya Max.
“Ya.” Alex mengangguk malas. “Tapi bukan brarti kalian akan lama berada di sini.”
Ketiga pria itu pun kembali lemas. Kemudian, mereka melihat Bilqis datan dengan nampan yang berisi buah yang sudah dikupas dan dipotong kecil – kecil.
“Sayang, jangan tawarkan mereka makanan lagi! Setelah ini mereka akan pulang,” ucap Alex yang tetap mengusir ketiga sahabatnya itu.
“Ya. Ya. Setelah ini, kami pulang.”
__ADS_1
Bilqis tersenyum. Ternyata memang sifat pemaksa itu sudah mendarah daging.