Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Bonchap 3 - keluarga bar bar


__ADS_3

Di rumah sakit jiwa, Ridho duduk sendiri di taman. Ia baru saja menyuapkan istrinya makan. Walau sang istri belum mengenalnya dengan baik paska kejadian memilukan saat di sel. Namun, Lenka mau menerima kehadiran Ridho. Sehingga suster pun tidak lagi kerepotan mengurus pasiennya.


Kini, Lenka lebih terlihat tenang dengan perawatan Ridho.


Ridho yang baru meminta pertemanan di sosial media milik mantan istri dan diterima oleh Laila, melihat aktifitas yang diunggah mantan terindahnya itu. Di sana terlihat kebahagian Laila bersama sahabatnya. Ditambah perut Laila yang membuncit. Ia tahu, saat ini Darwis sedang sangat berbahagia, mengingat bersama mendiang istrinya dulu, pria itu belum memiliki anak.


"Laila, kau tampak bahagia." Ridho menarik nafasnya kasar melihat foto unggahan itu. Senyum merekah Laila tercetak jelas di sana.


Dada Ridho pun begitu nyeri. Ia menatap langit yang cerah seraya berkata lirih, "Lailaku."


Di tempat lain, keadaan memang jauh berbeda dari apa yang dialami Ridho.


"Sayang, bangun!”


Darwis mencium pipi Laila beberapa kali, tapi kedua mata Laila masih terpejam.


“Sayang, ayo bangun! Sudah jam sepuluh, kamu belum sarapan, belum minum susu. Kasihan anak kita.” Darwis kembali berkata dengan nada lembut sembari mengelus pipi itu.


Lima detik kemudian, Laila perlahan membuka mata. Dengan sayup – sayup, ia berkata “memang sudah pagi?”


Darwis tersenyum. Padahal dari jendela kamar, sinar matahari terpancar jelas. Pria yang tak muda dan tetap terlihat sisa – sisa ketampanannya saat muda itu pun mengangguk. “Malah sudah tidak pagi lagi, Sayang. Ini sudah siang.”


Laila langsung membuka matanya sempurna. “Memang sekarang jam berapa?”


Laila menoleh ke arah jam yang ditempel di dinding. “Ya ampun, Mas. Kok ga bangunin aku dari tadi?”


Laila bangkit dan duduk di atas tempat tidur sambil menutupi dadanya dengan selimut tebal berwarna grey. Usai subuh berjamaah, ia mendapatkan serangan tiba – tiba.


“Kamu terlihat lelah. Jadi aku ga bangunin,” ucap Darwis.


“Tapi akmu belum buat sarapan, Mas. Kamu pasti belum makan. Radit juga pasti kelaparan.”


Darwis tersenyum dan mengusap rambut Laila. “Sudah, aku dan Radit sudah makan. Ini aku bawakan sarapan untukmu. Aku bawakan susu juga untuk nak kita.”


Bibir Laila tersenyum lebar. Ia menatap piring berisi nasi goreng lengkap dengan telur dadar dan susu putih di sebelahnya. Susu yang memang dikonsumsi Laila sejak mengandung dan diminum setiap pagi dan malam.


Darwis mengambil susu itu, lalu menyerahkannya pada Laila dan Laila menerima gelas itu.


“Siapa yang memasak ini?” tanya Laila dengan menunjuk piring yang berisi nasi goreng. “Buatan Radit?”


Darwis menggeleng. “Ini buatanku. Saat di Singapur, aku juga sering membuat ini sendiri.”


“Oh ya?”


Darwis kembali mengangguk dan mengambil piring itu. “Ayo sekarang di makan nasi goreng buatanku! Aaa …”


Darwis memberikan suapan pada Laila dan Laila pun langsung membuka mulutnya. Masa trimester pertama yang sudah lewat, membuat n*fsu makan Laila meningkat.


“Hm. Enak. Ternyata kamu jago masak juga ya,” ucap Laila sumringah.


“Ngga juga. Aku cuma bisa masak nasi goreng, karena dulu …” Darwis menjeda ucapannya. Ia ingin mengatakan jika dahulu, istrinya juga sering membuat nasi goreng dan ia pun belajar membuat makanan ini dari mendiang sang istri.


“Karena dulu kenapa?” tanya Laila yang penasaran mendengar kelanjutan ucapan yang menggantung itu.

__ADS_1


“Karena dari dulu aku juga suka makan nasi goreng. Jadi aku berusha untuk bisa membuatnya sendiri.”


“Oooo.” Laila membulatkan bibirnya.


Wanita polos itu mengangguk dan tersenyum tanpa berpikir hal yang macam – macam. Sesederhana itu memang Laila.


Darwis pun ikut tersenyum. Baginya, Laila memang berbeda. sikapnya sering membuat gemas. Contohnya seperti saat ini. Mulut wanita itu masih penuh dengan nasi goreng suapan Darwis tadi, tapi sebelum kosong, ia meminta Darwis untuk menyuapkan makanan itu lagi ke mulutnya.


“Telan dulu yang ada di mulutmu, Sayang.”


“Aaa … Mas.” Laila tetap meminta disuapi lagi.


Darwis tertawa dan menggelengkan kepala.


“Om Radit …” teriak Aurel dari luar. Anak kecil itu baru saja keluar dari mobil sang ayah.


Radit yang sedang membersihkan motor kesayangannya itu pun menoleh dengan ekspresi senang. “Eh, ada kuda poni.”


Bibir Aurel langsung cemberut. “Kok kuda poni sih, Om?”


Radit berjongkok di depan Aurel sembari mengusap poni Aurel yang lucu. “Abis, kamu tuh rambutnya dikuncir kuda, terus poninya lucu. Jadi kan kuda poni.”


Radit tertawa.


“Ah, jelek. Ga mau. Ga mau dipanggil itu.” Aurel merajuk dan Radit pun memeluk, lalu menggendong keponakannya.


Kemudian, ia mencari keberadaan seseorang yang tak terlihat. “Mba Maya mana?”


Sejak sampai Jakarta dari labuan bajo semalam, Maya memang sedikit demam, mungkin karena kelelahan.


Pagi ini, tepat hari sabtu. Bilqis meminta suaminya untuk mengantarkannya ke rumah sang ibu. Selain membawakan oleh – oleh, Laila juga sudah sangat rindu pada cucunya dan Bilqis pun rindu pada ibunya.


“Dit, Ibu mana?” tanya Bilqis setelah memasuki rumah.


Alex langsung menuju dapur. Jika ia akan datang ke rumah ini, Laila pasti sudah membuat kue kesukaannya. Entah mengapa Alex sangat menyukai rainbow buatan sang ibu mertua.


“Ibu masih di dalam kamar. Dari pagi belum keluar – keluar,” jawab Radit cemberut.


“Ibu sakit?” tanya Bilqis lagi.


“Ngga tahu.” Radit mengangkat bahunya. “Sakit karena kebanyakan kali.”


“Kebanyakan apa?” tanya Bilqis bingung. sementara Alex hanya tersenyum melihat kakak dan adik yang sedang berinteraksi itu.


“Kebanyakan nana ninu.”


“Nana ninu apaan lagi? Ga jelas kamu, Dit,” ujar Bilqis.


“Ck. Pura – pura ga tahu.”


“Radit ngomong apa sih, Mas?” Bilqis bertanya pada Alex.


Alex tidak menjawab dengan mulutnya, karena mulutnya sedang dipenuhi kue rainbow. Ia hanya menyatukan dua ujung jari telunjuknya kepadas sang istri.

__ADS_1


Plak


Bilqis langsung memukul kepala Radit. “Mesum kamu. Belum nikah udah mesum, gimana kalau udah nikah?”


“Aww … sakit, Mbak.” Radit meringis dengan mengusap kepalanya yang baru saja dijitak.


Sontak, Alex tertawa.


Lalu, Bilqis mendekati suaminya yang duduk di meja makan. “Mas, kayanya kita harus segera nikahin Radit sama Maya. Bahaya nih kalau mereka pacaran lama.”


“Ish, emang aku cowok apan, Mbak.” Radit protes.


“Kamu udah kebanyakan tahu.”


“Lah, kan emang Radit udah gede, Mbak. Masa gituan aja ga tahu. Seusiaku malah mungkin Mas Alex udah begituan.”


“Uhuk … Uhuk … Uhuk ..” Alex pun tersedak. Bahkan memang seusia Radit, Alex lebih dari itu.


Bilqis langsung menuangkan minum untuk suaminya. “Mas minum dulu.”


“Tuh, kan. Radit bener. Buktinya, Mas Alex tersedak.” Radit menyeringai.


Mengajak ribut, rupanya adik iparnya itu. kemudian, Alex bersuara. “Momtor kamu ada yang rusak?”


Radit nyengir. “Iya, Mas. Bannya udah agak licin.”


“Mau diganti?”


“Iya,” jawab Radit sumringah.


Tring


Beberapa detik kemudian, ponsel Radit pun berdering notifikasi uang yang masuk ke dalam rekeningnya.


“Tapi aku akan seperti Mas Alex. Kalau udah nikah, Cuma setia sama wanita, yaitu istri,” celetuk Radit membuat Bilqis memonyongkan bibir ke arah Alex.


Alex pun tersenyum. “Kesetiaanku tidak diragukan lagi, Dit. Cintaku cuma sama kakakmu yang satu ini.”


Alex menatap Bilqis sembari menaik turunkan alisnya. “Ya, kan. Sayang!”


Bilqis menjulurkan lidahnya sembari tawa yang tertahan. “Tau ah.”


Bilqis memalingkan wajahnya ke arah lain. Lalu, kembali pada sang suami. “Kerjasama kamu dengan Bu Adel ga jadi ‘kan?”


“Ya, engga lah. Dari pada jatahku berkurang.”


Bilqis semakin memonyongkan bibirnya.


“Nenek …” teriakan Aurel tepat di depan pintu kamar Laila, Membuat ketiga orang yang ada di luar kamar itu menoleh. “Nenek kok ga pakai baju?”


Sontak Bilqis menepuk keningnya dan menggeleng. “Ya ampun, apalagi ini?”


Alex tertawa. “Benar – benar keluarga bar – bar.”

__ADS_1


__ADS_2