Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Merasa lebih cerdas


__ADS_3

“Sedang apa kamu di sini?” tanya Alex sembari mengernyitkan dahi.


Bilqis yang kembali mempermalukan dirinya sendiri pun segera menggeleng dan hendak menghilang dari hadapan pria itu.


“Tidak sedang apa-apa, Sir. Hanya ingin memastikan saja apa Sir sudah datang atau belum.”


Alex memperhatikan Bilqis yang sedang memberi alasan dengan menaikkan alisnya.


“Eh, ternyata Sir juga baru sampe,” sambung Bilqis sembari nyengir.


Alex masih memperhatikan sekretarisnya sembari melipat kedua tangannya di dada. Baru saja ia ingin meminta penjelasan tentang kata ‘pisang’ yang didengarnya tadi, Bilqis pun langsung pamit.


“Hei, mau ke mana?” tanyanya pada Bilqis yang langsung pergi dengan langkah cepat.


“Buatkan Sir kopi,” jawab Bilqis setelah menoleh.


“Untuk apa? Waktu minum kopi sudah lewat, ini waktunya makan siang.”


Bilqis melihat jam di tangan kanannya. Waktu makan siang tingga tiga puluh menit lagi. memang bukan jadwalnya lagi si bos meminum kopi.


Alex melepas lipatan kedua tangannya yang ada di dada dan beralih memegang handle pintu.


“Masuk ruanganku!” titahnya sembari melebarkan pintu dan masuk ke dalam ruangan itu.


Bilqis mengacak-acak rambutnya kesal, karena lagi-lagi ia melakukan hal bodoh dan mempermalukan diri sendiri di hadapan pria killer itu.


Sebelum mengikuti perintah Alex, Bilqis berpikir bagaimana caranya agar pria itu tidak membahas kejadian tadi? Ia pun memilih mengambil buku agenda yang berisi jadwal-jadwal Alex.


Bilqis memasuki ruangan itu sembari memegang buku yang cukup besar dan Alex duduk di kursinya sembari membuka laptop. Mata Alex tertuju pada Bilqis saat sekretarisnya itu duduk di depannya.


“Oh ya, Sir. pasti anda ingin bertanya tentang agenda anda hari ini. Ehem, saya akan bacakan,” ucap Bilqis dengan suara ceria.


Alex tersenyum dan beralih menatap Bilqis sembari menopang dagu. Padahal semula, ia ingin langsung fokus dengan laptopnya.


“Untuk hari ini, anda ada pertemuan dengan Mr. Tan pukul empat belas nol nol bersama Mr. Jhon dan Pak Bima. Besok, anda ada agenda presentasi ke PT Antariksa pukul sepuluh pagi. Lalu, berlanjut menemani makan siang dengan Tuan Salman dari Dubai dan sorenya anda bertemu Ustadz Abdullah.”


Alex mengangguk. “Oke. Dari agenda presentasi ke PT Antariksa dan selanjutnya, kamu yang menemaniku.”


Bilqis mengernyit. “Saya?” Ia menunjuk dirinya sendiri. “Tidak dengan Pak Bimo saja, Sir?”

__ADS_1


“Kau mengaturku?” tanya Alex dengan tatapan intimidasi.


Bilqis langsung menggeleng. “Tidak. Tidak. bukan begitu, tapi …”


“Tidak ada tapi-tapi.” Alex langsung menyela.


Bilqis pun manarik nafasnya pasrah. “Baiklah.”


Alex tersenyum. Ia senang jika melihat Bilqis seperti ini, selalu membuat Bilqis tidak punya pilihan selain memilihnya.


“Kau tidak bertanya untuk apa aku bertemu Ustadz Abdullah?” tanya Alex dengan menyebut nama Ustadz kondang yang sering wara wiri di layar televisi.


Bilqis menggeleng. Namun, ia tetap menyahut, “anda ingin konsultasi tentang agama?”


Alex pun menggeleng, lalu beralih mengangguk. “Ya, itu juga benar. Tapi inti pertemuan itu, aku ingin meminta waktu beliau untuk menikahkan kita dan menjadi pemberi tausiah setelah ijab qobul selesai.”


Bilqis terkejut. ia tidak menyangka bahwa keinginan bos killernya ini benar dan tidak main-main. Bilqis pikir, keinginan Alex untuk menikahinya hanya selingan karena saat ini mereka tengah tersudutkan oleh kejadian yang tidak disengaja dan kepergok oleh tetangganya


“Sir yakin ingin menikahi saya?” tanya Bilqis.


“Kamu pikir untuk apa Ibumu berangkat hari ini? Hm?”


Bilqis terdiam. Ia belum siap untuk menikah cepat. Lagi pula, labuan bajo sudah menanti bulan depan. Tina sudah membeli tiket dan akomadasi untuknya. Ah, Bilqis ingin bersenang-senang dengan ketiga temannya.


“Akomodasi?” tanya Bilqis terkejut, pasalnya Radit tidak pernah menyinggung hal ini. Bilqis pun memang tidak bertanya darimana uang Radit untuk memesan tiket dan hotel selama berada di kota kelahiran ayah biologisnya itu.


“Ya, saya sudah meminta pada adikmu untuk mengurus semua keperluan pernikahan kita. Sementara, Bimo mengurus surat-surat pencatatan negara. Dan, kita harus mengagendakan untuk membeli perhiasan sebagai mas kawin. Aku sudah bertanya pada Ibumu untuk hal itu, tapi Ibumu memintaku bertanya padamu.”


Bilqis blank. Pernikahan yang sudah di depan mata membuatnya tidak berpikir. Sungguh, ia merasa belum siap untuk menjalin sebuah ikatan, apalagi langsung ikatan resmi yang tercatat oleh agama dan negara.


“Qis,” panggil Alex yang melihat Bilqis diam.


“Bilqis.” Alex memanggil sekretarisnya kembali.


“Sir, saya belum …”


“Kamu mau reputasi keluargamu buruk? Apa kata tetanggamu, Hm! Mereka mengira kita sudah melakukan sesuatu dirumahmu.” Alex mendoktrin Bilqis.


“Tapi Sir …”

__ADS_1


“Mas.” Alex menyela. “Kamu lupa, kalau kamu harus memanggilku dengan sebutan itu ketika kita hanya berdua?”


Alex harus mengingatkan Bilqis lagi, karena sedari tadi wanita itu terus memanggilnya dengan sebutan Sir.


“Ah iya Mas,” jawab Bilqis dengan bibir cemberut.


“Kosongkan jadwalku di hari berikutnya, karena kita harus ke toko perhiasan,” ucap Alex.


“Hari berikut dari jadwal yang saya jelaskan tadi memang kosong, Mas. Karena hari itu hari libur,” sahut Bilqis.


“Good. Kita akan ke toko perhiasan di mall xxx bersama putriku. Dia ingin sekali bertemu denganmu,” jawab Alex.


Bilqis pun menyerah. Ia memang sudah terjebak dengan pria ini, bos killer yang ditakuti seantore gedung. Entah akan jadi apa hidupnya nanti karena harus memiliki pasangan seperti Alex? Memikirkan itu, membuat kepala Bilqis pusing.


Setelah berinteraksi dengan Alex, Bilqis pamit dan mulai bekerja. Ia sengaja tidak keluar untuk makan siang, mengingat ia juga baru datang satu jam sebelum jam itu.


Ceklek


Bilqis langsung menoleh ke ruangan Alex yang terbuka. Alex membuka pintunya dan menghampiri Bilqis sembari membawa kotak makanan.


“Ini untukmu. Aku membelinya sebelum sampai di sini.” Alex meletakkan bos makanan dengan merk restoran siap saji yang Bilqis sukai.


Bilqis pun tersenyum. “Terima kasih, Mas.”


“Apa?” tanya Alex yang suka mendengar tanggapan Bilqis tadi.


“Terima kasih,” ucap bilqis lagi.


“Tadi kalimatnya tidak seperti itu. Ada yang kurang,” sahut Alex.


Bilqis yang mengerti maksud si bos itu pun mengulang perkataannya lagi dengan lengkap. “Terima kasih, Mas Alex. Calon imamku, calon suamiku.”


Bilqis yang kesal pun tanpa berpikir lagi malah menambahi ungkapan terima kasihnya dengan embel-embel yang membuat Alex tersenyum lebar.


Mendengar kalimat terakhir dari Bilqis tadi membuatnya senang dan rasanya menenangkan.


“Sama sama, Sayang. Habiskan makan siangmu! Pisangnya menyusul sore, setelah aku pulang bertemu Mr. Tan. Oke!” bisik Alex dengan mengedipkan matanya.


Bilqis pun melongo dan bergidik ngeri. Wajahnya yang imut dan sengaja dibuat lembut saat berterima kasih pada Alex tadi pun, tiba-tiba hilang dan berubah menjadi ekspresi takut. Duda memang meresahkan. Ia tidak terbayang semesum apa Alex nanti saat mereka sudah menikah. Tapi untung, Bilqis sudah membentengi dirinya terlebih dahulu dengan perjanjian pra nikah. Ia jumawa karena memiliki ide sebrilian itu.

__ADS_1


“Bilqis dilawan,” gumamnya bangga. “Semesum apa pun kamu nanti, tetap tidak akan bisa menyentuhku, walau kita sudah menikah. Hahahaha …” Bilqis tertawa sembari memberikan kemenangan pada otaknya yang cerdas.


Bilqis tidak tahu bahwa kecerdasan itu tumbang dengan satu poin yang ditambahkan Alex dengan tulisan tangan ala dokter.


__ADS_2