Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Malam pertama part 2


__ADS_3

“Mas tidur di sini?” tanya Bilqis dengan menoleh ke arah Alex yang tengah duduk santai sembari memainkan ponsel dan menyandarkan punggungnya pada dinding tempat tidur.


“Hm.” Alex hanya menjawab dengan deheman dan arah matanya tetap pada layar ponsel yang dipegang.


“Poin kedua, tidak ada kontak fisik.” Bilqis kembali mengingatkan perjanjian itu.


Alex pun menoleh. “Memang dengan satu tempat tidur harus ada kontak fisik?”


Bilqis mengangkat bahunya. “Siapa tahu kamu khilaf.”


Alex pun tertawa. “Walau aku menyukaimu. Tapi aku juga tidak bisa bercinta dengan orang yang tidak menyukaiku. Pasti rasanya akan sangat tidak enak. Iya kan?”


Bilqis menggeleng. “Mana kutangku. Eh salah, mana kutahu.”


Kebiasan bercanda dengan Tina, Saskia, dan Mira, membuat Bilqis berbicara pada Alex dengan menggunakan bahasanya bersama ketiga sahabatnya yang somplak itu. Aktifitas yang padat dan hidup yang berliku membuat ia dan ketiga rekan kerja yang sudah seperti saudara itu menjadi membuat mereka sedikit bar – bar.


Alex kembali tertawa sembari menggelengkan kepala. “Bilqis, kamu lahir dari planet mana sih.”


Sedangkan, Bilqis merengutkan bibir. Ia diam dan mulai mengangkat kakinya ke atas tempat tidur untuk berbaring.


“Aaah.” Bilqis meringis merasakan nyeri pada kakinya yang terkilir tadi saat digerakkan.


Alex kembali menoleh. “Masih sakit?”


“Masih.” Bilqis mengangguk. “Seperti besok aku akan minta tolong Ibu untuk mencarikan tukang urut.”


“Sini, aku lihat.” Alex bangkit dan mendekati sang istri.


“Jangan pegang!” ucap Bilqis saat Alex tengah memegang punggung kakinya.


“Bagaimana mau diobati kalau dipegang saja tidak boleh.”


Bilqis kembali merengut. Namun, ia tetap memberikan kakinya apda Alex untuk dilihat sejauh mana kondisi kakinya yang terkilir itu.


“Sedikit bengkak,” ucap Alex sembari melihat ke arah kaki Bilqis. “Ternyata memang benar – benar terkilir ya.”


“Ya, iyalah. Masa bohongan.”


Alex menoleh ke arah Bilqis dan tertawa. Lalu, ia melepaskan tangannya yang semula menyangga kaki itu untuk bangkit. Gerakan Alex yang cepat, tanpa sengaja membuat kaki yang sakit itu menjadi sakit.


“Ah, pelan - pelan, Mas.”


“Ups, sorry.” Alex nyengir dan hendak keluar kamar. “Aku punya obatnya di mobil.”


Di dalam mobil, Alex memang menyediakan P3K termasuk minyak herbal untuk menghilangkan kaki bengkak akibat kelelahan atau terkilir lengkap dengan perban elasisnya.


Sebelum Alex keluar kamar, di luar kamar itu terdapat du orang yang sedang menguping aktifitas pengantin baru. Siapa lagi kalau bukan Radit dan Laila.


Radit dan Laila memasang telinga tak jauh dari pintu kamar itu. Namun, saat terdengar gagang pintu yang bergerak dan pintu yang akan terbuka dari dalam. Mereka pun berlari ke sofa dan duduk manisdi depan televisi.

__ADS_1


Ceklek


Alex membuka pintu kamar dan keluar. Kebetulan kamar Bilqis tepat berada di tengah, tak jauh dari ruang keluarga. saat pintu kamar itu terbuka sudah langsung disuguhkan oleh layar televisi empat puluh inc yang menempel di dinding.


Alex melihat Ibu dan adik Bilqis yang memblakanginya dan duduk anteng di sofa. Lalu, Laila menoleh ke arah Alex saat hendak melintas.


“Mau ke mana, Nak?” tanya Laila pada Alex.


“Ke mobil, Bu. Ada barang Alex yang tertinggal di sana.”


“Oh.” Laila membulatkan bibir. Ia duduk di sofa sementara Radit dibawahnya.


Tak berapa lama, Alex kembali ke dalam rumah dan tersenyum saat melewati Laila dan Radit. Saat Alex melintas, Laila dan Radit memperhatikan benda yang digenggam duda tampan yang tak lagi berstatus duda. Radit mengira, itu adalah alat kontrasepsi, seperti yang pernah ditawarkan kasir mini market saat ia dan sang kakak berbelanja di tempat itu. Sedangkan, Laila mengira benda yang dipegang Alex adalah jamu penguat stamina, seperti yang pernah Ridho lakukan saat suaminya dulu ingin seharian bercinta dengannya.


“Alex ke kamar lagi ya, Bu,” pamit Alex pada Laila saat melintas dan hanya memberi kode anggukan pada Radit yang juga menjawab dengan gerakan yang sama.


Liam menit setelah Alex berada di kamar, terdengar suara Bilqis yang kembali teriak.


“Ah, Mas pelan – pelan.”


“Ini sudah pelan, Sayang.”


“Hmm … jangan kasar!”


“Ngga. Mas coba lagi ya.”


“Aaaw … sakit.”


Laila dan Radit saling bertatapan. Laila pun beranjak dari duduknya dan melempar bantal kecil yang biasa dijadikan pemanis di sofa itu untuk dilemparkan ke arah Radit.


“Sudah, sana tidur!”


“Tanggung. Belum ngantuk,” jawab Radit bohong. Padahal ia ingin mendengar aktifitas pengantin baru.


“Masuk kamar. Jangan nguping!” perintah Laila lagi pada putrany sembari bertolak pinggang.


“Siapa yang nguping sih, Bu?”


“Halah, Ibu tahu akal bulusmu. Sudah sana masuk kamar! Ga perlu tahu apa yang belum seharusnya kamu tahu. Nanti sudah saatnya juga kamu tahu.”


Radit pun bangkit dan mencibir sang Ibu. “Anak Ibu ini udah besar. Masa begitu aja ga tahu.”


“Radit,” teriak Laila pelan pada putranya sembari melotot.


Radit pun langsung berlari ke kamarnya sendiri.


Di kamar Bilqis, Alex sudah memberi obat pada kaki istrinya yang terkilir dan menutupnya dengan kain perban elastis.


“Besok jalannya pelan – pelan. Kalau masih sakit dipakai jalan, minta bantuan padaku. Nanti aku gendong.”

__ADS_1


Bilqis terrkesima. Ia pun terdiam sembari menatap Alex yang masih serius mengaitkan perban elastis itu agar terikat sempurna.


“Terima kasih,” ucap Bilqis, usai Alex mengobati kakinya.


“Hm.” Alex kembali menjawab dengan deheman dan anggukan kepala. Pria itu memang dikenal irit bicara. Bahkan saat menjawab pun lebih sering hanya dengan deheman saja, seperti saat ini.


Kemudian, Alex kembali memposisikan dirinya untuk tidur di samping Bilqis. Namun tiba-tiba guling yang semula menjadi pembatas antara mereka pun diambil oleh Bilqis.


“Kau tidak takut aku sentuh?” tanya Alex dengan melirik sang istri saat Bilqis mengangkat gulingnya.


“Tempat tidurku kecil. Kalau memakai pembatas seperti ini, kamu pasti tidak leluasa.”


Alex tersenyum kecil. “Good. Tapi jangan salahkan aku kalau tiba-tiba tanganku memegang sesuatu.”


“Memegang apa?” tanya Bilqis polos.


“Entah lah. Mungkin dadamu atau …” Alex menjeda kalimatnya dengan mengalihkan pandangannya padabagian bawah tubuh Bilqis.


Sontak Bilqis pun merapatkan kedua pahanya. “Dasar mesum!” Ia langsung membalikkan tubuhnya dan membelakangi Alex sembari memeluk guling yang diambilnya tadi.


Alex tersenyum. Ia ikut merebahkan tubuhnya dan berbaring miring sama seperti arah miring tubuh Bilqis. Kemudian, tangan Alex melingkar ke dada Bilqis dan kakinya naik ke atas paha Bilqis, hingga membuat tubuh wanita itu terkungkung.


“Mas, Apaan sih? Lepas!” Bilqis berusaha melepaskan tubuhnya dari kungkungan itu. namun, tidak bisa. ia hanya bisa mengerakkan kepalanya ke samping dan menoleh ke arah Alex.


“Kamu janji tidak akan melanggar perjanjian kita kan?” Bilqis tetap mengingatkan Alex pada janji itu. apalagi di sana juga tertera jika Alex melanggar perjanjian itu, maka mereka tidak akan tidur satu kamar selama yang Bilqis inginkan.


“Aku tidak melanggar. Ini tertera dalam pasal enam. Pasal yang aku tulis insidental.”


“Pasal dengan tulisan tangan yang tidak jelas itu?” tanya Bilqis.


“Yap betul. Kamu sudah baca isinya.”


Bilqis menggeleng.


“Baiklah akan ku bacakan isi nya.” Alex melepaskan kungkungannya dan membalikkan tubuh Bilqis hingga mereka pun saling bertatapan.


“Isi pasal terakhir itu berbunyi, semua pasal di atas sewaktu – waktu akan berubah atau berakhir sesuai dengan keinginan pihak kedua.”


Bilqis menggelang.


“Dan pihak kedua itu adalah aku,” sambung Alex, membuat kedua bulu mata Bilqis yang lentik ikut bergerak karena gerakan matanya yang berkedip pelan.


“Bohong.”


Bilqis tak percaya dan langsung meraih ponselnya, karena ia sudah mendokumentasikan surat perjanjian melalui ponselnya. Ia memperbesar layar ponsel itu untuk membaca dengan seksama tulisan yang dibuat Alex menjadi jelek.


"Hmm ... Dasar licik! Mesum! Umpat Bilqis yang ingin sekali menangis.


Sedangkan Alex malah memasang wajah menyebalkan dengan manaik turunkan alisnya.

__ADS_1


“Dasar Sir killer! Sepertinya aku salah mengiyakan semua permintaanmu.”


Alex tergelak mendengar ucapan Bilqis. Walau ia tahu Bilqis belum sepenuhnya mencintainya, tapi ia tidak akan bisa melepaskan mangsanya begitu saja malam ini. Mungkin ia akan mengawali aktifitas itu dengan sebuah pemanasan panjang sebagai awal pengetahuan Bilqis dalam bercinta.


__ADS_2