Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Bertemu keluarga Ridho


__ADS_3

“Mommy …” teriak Aurel sambil berlari ke arah Bilqis.


“Sayang …” Bilqis membentangkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh mungil yang sedang berlari ke arahnya.


“Mommy.” Anak kecil itu tampak senang karena kehadiran Bilqis yang menjemputnya hari ini. Ia memang sengaja ingin memamerkan Bilqis pada teman – temannya.


Aurel keluar kelas tidak sendirian. Ia bersama seorang temannya. Dan ketika ia berlari untuk memeluk Bilqis, seorang temannya yang berjenis kelamin wanita itu berjalan mengikuti langkah Aurel yang sedikit berlari.


Aurel memeluk Bilqis dengan ceria. Usai berpelukan, Bilqis melirik ke arah teman Aurel. “Ini temanmu?”


Aurel mengangguk. “Iya, Mommy. Dia teman dekatku, namanya Michelle.”


Anak kecil yang seusia dengan Aurel itu pun menyalami Bilqis dengan mencium punggung tangannya.


“Mama Michelle mana?” tanya Bilqis yang tidak sadar bahwa ada seorang wanita yang sedang menghampirinya.


Michelle menunjuk ibunya yang sedang berjalan menghampiri. “Itu, Mama.”


Bilqis mengikuti arah mata Michelle dan tersenyum.


“Oh, ini mommy nya Aurel ya?” tanya seoang wanita yang merupakan Ibu dari salah satu teman Aurel itu.


“Ah, iya. Saya Mommy nya Aurel. Naman saya Bilqis.” Bilqis mengulurkan tangannya.


“Saya Sandrina, Senang berkenalan dengan Mommy nya Aurel.” Mama Michelle menerima uluran itu dan mereka pun berjabat tangan.


Bilqis mengangguk. “Saya juga senang berkenalan dengan Mama nya Michelle.”


“Kalau sedang tidak sibuk, sesekali ikut kumpul, Mom.” Mama Michelle kembali berkata. “Kebetulan, kita juga ada arisan loh, khusus untuk ibu – ibu di kelas kita aja.”


Bilqis hanya tersenyum. Ia bingung. Sebenarnya ia paling tidak suka dengan yang namanya arisan. Sejak di sekolah atau di kampus dan bekerja, ia paling menghindari kegiatan itu. Bilqis lebih suka menabung sendiri.


“Gimana ya, Mom?” tanya Bilqis sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Di sana, Aurel dan Michelle hanya menjadi pendengar dari obrolan dua orang dewasa ini.


“Ayolah, Mom. Supaya saling kenal. jadi tahu ini mommy Aurel.”


Mau tidak mau Bilqis pun tersenyum. Akhirnya, kepalanya mengangguk. “Ya, baiklah.”

__ADS_1


“Yeah.” Mama Michelle bertepuk tangan senang. “Mumpung arisannya baru dimulai satu kali. Jadi belum ketinggalan banget.”


Bilqis kembali tersenyum. “Iya, Mom.”


“Baiklah, kalau begitu saya duluan. Untuk acara arisan selanjutnya minggu depan ya Mom, di restoran xxx hari Rabu jam sepuluh sampai anak – anak pulang sekolah, supaya sekalian nunggu jemput anak – anak.”


Bilqis mengangguk setuju. Mama Michelle pun kembali pamit dan hendak pergil. Namun, Bilqis mengingat sesuatu, ia belum meminta izin pada suaminya untuk ikut acara ini.


“Oh, ya Mama Michelle,” panggil Bilqis membuat Mama Michelle menoleh.


“Iya, Mom.”


“Saya tanya Daddy nya Aurel dulu ya, Mom. Jika diizinkan dan oke, saya kabari melalui whats app.”


“Oke. Oh ya, kita bertukar nomor telepon dulu ya.” Mama Michelle mengeluarkan ponsel. Begitu pun dengan Bilqis.


Seiring dengan statusnya yang bukan lagi lajang. Bilqis juga harus menyiapkan mental untuk bergabung dalam komunitas ibu – ibu muda. Sungguh, rasanya waktu begitu cepat. Rasanya baru kemarin ia masih jomblo. Tapi, hari ini ia sudah menjadi seorang istri, bahkan ibu. Hari ini, ia sudah melayani suaminya dan menjadi sosok ibu untuk Aurel.


“Mommy,” panggil Aurel ketika Bilqis menggandeng anak itu menuju mobil.


“Ya.” Bilqis menoleh.


Bilqis tersenyum. “I love you too.”


Aurel sangat senang. Tiga hari menjadi status istri Kenneth, Bilqis sudah dihujami kata cinta dari Aurel sebanyak dua kali. Walau Alex belum mengatakan kata keramat itu, tapi Alex beberapa kali mengatakan suka dan sayang.


Aurel memasuki mobil yang dikendarai Bilqis sendiri. Bilqis mengandarai sedan mewah Alex yang berwarna hitam. Semula, Alex meminta istrinya untuk di sopiri sopir pribadi kantor, tapi Bilqis memilih untuk menyetir sendiri mobil itu. Strata sosial Bilqis sangat berbeda sekarang. Levelnya naik dengan pesat.


“Mommy, boleh mampir ke sana!” Aurel menunjuk sebuah toko kue. “Aku dan Daddy menyukai kue di toko ini. Kalau Daddy yang jemput, pasti Daddy akan mampir ke sini dulu.”


“Oh begitu.” Bilqis senang karena mengetahui lagi satu hal yang disukai suaminya.


Perlahan ia belajar mengenal Alex, setelah saat ini ia sudah belajar mencintai pria itu. Ya, Bilqis sepertinya memang sudah benar – benar jatuh cinta pada Alex.


Kemudian, Bilqis memarkirkan mobil mewah milik suaminya. Sebelum keluar dari mobil, Bilqis lebih dulu menggunakan kaca mata cokelat. Aurel juga hendak keluar dari mobil setelah Bilqis membukakan seatbelt untuknya.


Toko kue itu tampak penuh. Untung saja di parkiran itu terdapat satu tempat kosong untuk memarkirkan mobilnya. Sepertinya, toko kue ini memang rekomended.

__ADS_1


“Bilqis,” panggil seseorang menghampiri mobil yang terparkir di sebelah mobil mewah Bilqis.


“Ya.” Bilqis menoleh.


Seorang yang memanggil Bilqis tadi pun mengernyitkan dahi, seolah tak percaya bahwa orang yang ia lihat itu benar Bilqis, sepupunya. Wanita muda yang memanggil Bilqis itu adalah anak dari kakak lelaki Ridho yang saat ini sudah meninggal. Mereka salah satu keluarga yang sering menghina Laila dan menyebut Ibunya Bilqis dengan sebutan kampungan.


“Siapa, Ren?” tanya wanita paruh baya menghampiri wanita yang memanggil Bilqis.


Wanita itu pun melihat ke arah Bilqis yang sedang bersama anak kecil dan hendak mengunci mobil mewahnya dengan remot yang ia pegang.


“Bilqis.” Wanita itu memanggil dengan tatapan tak percaya karena Bilqis membawamobil sedan mewah Eropa keluaran terbaru.


Bilqis mengenal kedua wanita itu. Ibu dan Anak yang memiliki karakter sebelas dua belas. Bilqis tidak akan melupakan mereka, mereka yang sering mencemoohnya dan merendahkan keluarganya.


“Wah, ini mobil kamu?” tanya sepupu Bilqis yang bernama Sharen.


Mama Sharen yang secara tidak langsung adalah Bibi Bilqis pun mengernyit. “Ini mobilmu?” tanya wanita paruh baya itu dengan remeh.


“Iya.” Bilqis sengaa memancing emosi mereka. Ia ingin sengaja ingin memanas-manasi kedua orang yang selalu panas jika tersaingi.


“Mommy. Ayo!” Aurel menarik lengan Bilqis membuat wanita itu tersadar bahwa tidak seharusnya ia meladeni dua orang yang tidak berfaedah.


“Tunggu!” Wanita paruh baya itu menahan lengan Bilqis. “Ternyata, ini yang diajakan ibumu? Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kamu melont*?”


“Sembarangan. Jaga ya mulut, Tante.” Bilqis mulai emosi.


“Atau kamu, pengasuh anak ini?” tanya Sharen sinis.”


Bilqis pun ikut menatap dua orang itu dengan sinis sembari tetap menggandeng Aurel. Sebenarnya ia ingin menjambak atau memukul mulut Sharen dan Ibunya, tapi Bilqis menahan itu karena di sini ada Aurel. Anak se usia Aurel tidak pantas untuk menonton Ibunya yang mengamuk.


“Dia istriku, kenapa?” tiba – tiba suara itu datang.


Ketiga wanita itu menoleh ke sumber suara tadi dan satu lagi gadis kecil yang langsung menghampiri ayahnya.


“Daddy, Mommy dijahati mereka.”


Alex menatap dua wanita yang pernah ia temui sekilas, saat Ronal mengajaknya untuk menemui keluarga besarnya di Malang. Ketika itu, Alex dan Tasya masih menjadi pengantin baru.

__ADS_1


Kedua wanita itu pun saling bertatapan, seolah pernah mengenal Alex. Namun, lama tidak berjumpa dengan Alex, membuat kedua wanita itu pun merasa takut salah orang.


__ADS_2