Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Malam pertama part 1


__ADS_3

Alex, Bilqis, dan Laila mengantar kepulangan Darwis, satu-satunya tamu terakhir yang akhirnya pamit untuk pulang.


“Lain kali, boleh kalau saya main lagi ke sini?” tanya Darwis pada Laila yang tinggal berdua karena Laila melangkah lebih dekat ke mobil Darwis, sementara Alex dan Bilqis cukup berjarak.


Laila mengangguk. “Boleh.”


“Terima kasih,” ucap Darwis yang kemudian beralih ke arah Alex dan Bilqis, lalu kembali melambaikan tangan hingga masuk ke dalam mobil.


“Daah … Om. Hati – hati! Kata Bilqis sembari berdiri di apit oleh Alex dan Radit, yang tiba-tiba menghampiri dan berdiri di sana.


Alex merangkul bahu Bilqis, sementara Radit memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sembari memperhatikan interaksi sang ibu dengan pria asing itu. Radit menyebutnya pria asing, karena mereka memang baru mengenal Darwis hari ini.


Radit cukup menilai baik pria paruh baya itu dan cukup tahu jika pria itu sepertinya memperhatikan sang Ibu. Ia pun tidak mempermasalahkan jika sang Ibu memiliki teman pria lagi untuk menemaninya saat kedua anaknya nanti pergi meninggalkan untuk hidup dengan pasangannya masing-masing. Saat ini, Bilqis yang pergi dibawa oleh suaminya, bisa jadi nanti Radit juga pergi untuk menjemput cita-citanya dengan bekerja di luar kota atau di luar negeri mungkin.


Laila membalikkan tubuhnya saat melihat mobil Darwis yang sudah melesat pergi.


“Nak Alex menginap di sini dulu kan malam ini?” tanya Laila pada menantunya.


“Hm.”


Alex tampak berpikir. Sejujurnya ia ingin langsung membawa Bilqis ke rumahnya sendiri, mengingat rumah Bilqis tidak memiliki kamar yang banyak. Sedangkan jika menginap, otomatis Aureldan pengasuhnya akan menginap juga.


“Aurel dan Maya, biar tidur di kamar Ibu aja. Ga apa-apa.” Laila seolah mengetahui pikiran Alex yang ingin berduaan saja dengan istrinya. “Pokoknya, Ibu bisa pastikan Aurel tidak akan mengganggu malam pertama kalian.”


Radit pura-pura batuk dan Alex malah tersenyum.


"Terima kasih, Bu. Ibu memang pengertian.” Kini, Alex merangkul Ibu mertuanya dengan manja.


“Ih, lagian ga apa-apa kok bu kalau Aurel mau tidur di kamar Bilqis,” sahut Bilqis yang tidak ingin berduaan dikamar dengan Alex saja.


“Ya ngga lah. Ibu ngerti kok.”


Bilqis pun menoleh dan mencibir. Sementara Radit menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari membayangkan tentang malam pertama.


Keempat orang itu berjalan untuk memasuki rumah. Di dalam rumah, mereka melihat Aurelyang sudah tertidur di atas karpet.

__ADS_1


Dengan sigap, Alex langsung menghampirisang putri dan menggangkatnya, lalu merebahkan tubuh mungil itu di atas tempat tidur milik Laila.


“Maya, kamu juga tidur di kamar ini ya. Kita bareng-bareng aja,” ucap Laila apda pengasuh Aurel yang masih sangat muda.


Maya menggeleng. “Tidak usah, Bu. Saya tidur diluar saja.” Maya menunjuk ruang televisi yang tata letaknya sudah kembali normal sebelum di rubah menjadi dekorasi resepsi pernikahan sederhana.


“Eh jangan! Tidurnya di dalam kamar aja, May. Ga enak anak perawan tidur di luar,” sahut Laila yang ingat memiliki anak laki-laki yang sering kekuar kamar jika tengah malam. Bahkan Radit juga sering menonton televisi hingga larut.


“Iya, bener.” Bilqis menyambungi sembari melirik ke arah adiknya.


“Apa sih? emangnya aku predator,” ucap Radit kesal. Ia memang dikenal selengeyan dan agak playboy. Walau Maya berwajah manis, tapi Radit juga memiliki kriteria sendiri dalam memilih wanita.


Laila dan Bilqis pun tertawa. Sedangkan Alex hanya tersenyum. Keluarga istrinya memang hangat dan hal itu yang membuat Alex bersemangat untuk cepat-cepat meminang Bilqis. Rasanya ia memiliki keluarga baru di sini.


Waktu menunjukkan pukul tujuh tiga puluh malam. Maya berada di dalam kamar Laila dan tidur bersama Aurel di sana. Sementara Bilqis dan Alex pun sudah memasuki kamar milik Bilqis. Lalu, Radit dan Laila masih duduk di sofa ruang televisi. Hari ini memang melelahkan tapi mereka tak kunjung segera ingin tidur. Ibu dan anak itu masih bersantai sembari menonton acara tivi yang menyuguhkan live show komedi.


Di dalam kamar, Bilqis kesusahan untuk membuka resleting kabaya yang ia kenakan. Padahal kedua tangannya sudah ke belakang untuk meraih resleting itu.


Di belakang Bilqis, Alex memasuki kamar dengan membuka pintu itu perlahan. Ia baru saja selesai membersihkan dirinya.


Tiba-tiba seseorang meraih resleting itu dan membukanya. Bilqis terkejut dan membalikkan tubuhnya dengan menutup bagian dada yang terbuka karena resleting yang sudah Alex buka hingga pinggang.


“Mas.” Bilqis membulatkan matanya.


“Dibantuin malah melotot. Harusnya terima kasih,” ujar Alex santai dan kembali mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambut sembari duduk di tepi ranjang.


“Ish, kamu tuh ya bikin kesel aja.” Bilqis hendak berlari keluar kamar menuju kamar mandi yang memang berada di luar kamarnya.


Bruk


Tiba-tiba kaki Bilqis terkilir dan jatuh, karena gerakan kakinya sendiri yang begitu cepat sehingga tak disadari melangkah dengan posisi yang tidak pas.


“Ah.”


Alex pun langsung menoleh. Namun entah mengapa pria itu tampak santai dan tidak menghampiri seolah istrinya tidak apa-apa.

__ADS_1


“Aww … Sakit …” Bilqis mengeluh dan ingin dihampiri atau ditanya oleh Alex sebagai bentuk perhatian.


Bilqis menoleh ke arah Alex. “Mas sakit.”


Alex pun menatap istrinya dan belum beranjak dari tempat duduk. “Jadi, kamu benar-benar terkilir?”


"Kamu pikir aku bohongan? Buat apa?” Bilqis balik bertanya dengan nada kesal. Apalagi posisi pakaiannya saat ini sedang tidak memungkinkan.


Alex tersenyum dan menghampiri. Ia berjongkok di depan Bilqis dan mengangkat tubuh itu. “Kalau mau minta digendong itu bilang. Ga perlu membuat kakimu terkilir.”


“Ish, apa sih?” Bilqis memalingkan wajahnya dengan kesal. Sementara Alex malah mengembangkan senyum.


Dengan perlahan, Alex menurunkan tubuh Bilqis di atas ranjang yang tak besar itu. Alex hanya memakai kaos dalam dengan lengan berwarna putih dan boxer hitam. Setelah merebahkan istrinya di sana, ia langsung menghampirilemari Bilqis dan mengambil pakaian. Alex memilih tangtop dan celana pendek, kemudian mendekati istrinya lagi.


“Mau apa?” tanya Bilqis saat Alex merangkak mendekatinya.


“Mengganti pakaianmu dengan ini.” Alex memperlihatkan satu stel pakaian tidur Bilqis.


“Aku bisa memakainya sendiri, minggir!” ujar Bilqis yang ingin mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi.


“Yakin? Katanya kakimu terkilir. Sudah ganti saja di sini.”


“Tapi kamu keluar,” jawab Bilqis.


“Buat apa?” tanya Alex yang pura-pura tidak tahu maksud Bilqis.


“Mas, ingat perjanjian kita." Bilqis kembali mengingatkan alex dengan perjanjian pra nikah yang sebenarnya sudah mampu Alex lumpuhkan saat ini juga.


“Aku tidak melanggar perjanjian kita,” jawab Alex dengan mengangkat bahunya.


Bilqis pun menarik pakaiannya yang ada di tangan Alex dengan mengerucutkan bibir.


“Atau mau aku yang menggantikan pakaianmu?” tanya Alex sembari menyeringai.


“Mas Alex,” teriak Bilqis kesal.

__ADS_1


__ADS_2