Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Belajar bermacam gaya


__ADS_3

“Ya ampun, Tin. Gimana ini? Kasihan kan Bilqis.”


“Iya, aku ga tega nih sama Bilqis.”


Saskia dan Mira bingung memikirkan nasib Bilqis yang baru saja diskors oleh bosnya. Mereka pasti berpikir bahwa Bilqis akan mendapat potongan gaji atau parahnya pemecatan secara tidak hormat.


“Tina, gimana nih? Jangan diam aja,” ujar Saskia lagi.


“Iya, aku juga lagi mikir. Aku juga merasa bersalah karena yang dapat hukuman Cuma Bilqis, padahal ide itu adalah ideku,” jawab Tina yang sedari tadi diam dan tengah memikirkan bagaimana caranya agar sang sahabat terbebas dari hukuman Alex.


Ketiga wanita itu menaiki lift, mereka menekan tombol angka sesuai dengan lantai ruangan tempat kerjanya masing – masing.


“Kasihan Bilqis kalau sampe di pecat. Cicilan mobilnya masih dua tahun lagi tuh dia,” ucap Mira. “Bilqis kan ngambil mobilnya bareng sama aku.”


“Killer banget sih tuh, Bos. Heran deh,” ketus Tina.


“Iya. Sebenernya gue juga tadi males banget minta maaf. gayanya itu loh. Bossy banget,” sahut Saskia.


“Tapi emang dia bos, kan? Kalau si Arga yang lagaknya nge-bossy, itu baru kamvret,” tambah Mira dengan memberi contoh salah satu karyawan yang suka perintah ini itu.


Padahal pria itu posisinya hanya karyawan biasa. Hanya saja, dia bekerja lebih lama dari Mira. Arga lebih dulu bekerja di perusahaan ini tiga bulan sebelum Mira dinyatakan diterima dan bergabung menjadi keluarga besar K-Net System.


Ketiga wanita itu sangat lucu. Ternyata persahabatan mereka bukan receh dan hanya karena sebuah posisi. Itu terbukti karena dengan kejadian ini, Tina, Saskia, dan Mira tidak lepas tangan. Mereka juga tidak ingin kesalahan yang dilakukan bersama hanya ditimpakan pada Bilqis saja.


Bilqis sangat beruntung memiliki teman kerja yang tulus seperti ketiga wanita itu.


Di ruangan berbeda, suasana mulai panas.


“Mas, Jangan di sini!” Bilqis menahan dada Alex yang sudah mengungkungnya.


Tubuh Alex yang lebar, mampu dengan mudah membekap tubuh mungil itu.


“Lalu di mana?” tanya Alex.


“Di rumah saja.”


Alex menggeleng. “Di kamar kita?”


Bilqis mengangguk.


“itu sudah pernah. Aku ingin bercinta di tempat yang berbeda,” ucap Alex.


“Tapi tidak di sini, Mas. Aku malu.”


“Ruangan ini kedap suara, Sayang.”


Bilqis tetap menggeleng. “Bagaimana kalau Pak Bima masuk?”


Alex tertawa. “Dibawah meja ada central lock untuk mengunci ruanganku sendiri dengan otomatis. Suamimu in ahli teknologi, sayang. Apa kamu lupa? Perusahaan kita juga bergerak dibidang secure system."


Bilqis mati kutu. Ia tidak mampu berkata lagi. Ia pun pasrah. Terserah Alex akan memperlakukan dirinya bagaimana, Bilqis menyerah. Ia kesal karena selalu kalah pada pria itu. Hingga saat bercinta pun, Alex menang. Pria itu mamu membuat tubuhnya meledak hingga berkali – kali.


“Ah, Bilqis. Kau belum menaklukkan bos killer ini,” gumamnya dalam hati.


Bilqis memejamkan mata, saat wajah Alex mendekat tanpa jarak. Hembusan nafasnya pun sudah dapat Bilqis rasakan. Kini, Bilqis hafal dengan deru nafas ini. Deru nafas yang menandakan tingkat kegairahan. Deru nafas yang kemudian membuatnya terbang ke langit ke tujuh.

__ADS_1


Kring … Kring …


Pesawat telepon di meja Alex berbunyi. Padahal ia baru saja ingin menempelkan bibirnya dengan bibir Bilqis. Posisinya saat ini sudah sangat pas. Bilqis duduk di sofa dan Alex berlutut di depan Bilqis, lalu mengungkung tubuh itu dengan kedua tangannya.


Bilqis membuka matanya. “Mas, telepon.”


Alex tahu. Semula ia ingin mengabaikan bunyi pesawat telepon itu, tapi bunyi itu tidak berhenti. Alex langsung mendengus dan bangkit. Alex melangkah menuju pesawat telepon yang membuat aktifitasnya terganggu.


Bilqis dapat bernafas lega. Akhirnya ia selamat, tapi hanya hitungan detik.


“Jangan ganggu aku dalam satu jam ke depan!” Alex langsung menutup lagi telepon itu dan menghampirinya.


“Sebentar sekali,” ucap Bilqis saat Alex mendekat. Ia tahu bahwa telepon itu datang dari Bima, asistennya.


“Mas, pasti Pak Bima mau memberi informasi penting tentang pekerjaan atau tende baru kita. Apa kita harus abaikan?” tanya Bilqis dengan menatap Alex yang kini wajahnya sudah mendekat tanpa jarak.


Alex kembali dengan posisinya semula saat belum bangkit meninggalkannya karena deringan telepon itu.


“Pekerjaan bisa dikerjakan nanti,” jawab Alex.


“Apa semua pria seperti ini? Tidak pernah bisa menunda hasratnya?” pertanyaan Bilqis membuat Alex tertawa.


“Ya.”


Alex mulai mencium bibir ranum itu. Sekarang, Bilqis sudah terbiasa dengan aktifitas ini. hampir setiap hari dan semau yang pria itu mau, Alex mencium bibirnya. Bilqis sudah bisa mengimbangi permainan lidah Alex.


Alex sengaja memainkan bibir itu dengan tidak langsung berciuman lama. Ia menarik ulur bibir itu membuat Bilqis yang justru ingin memakan bibir Alex sekarang.


Alex tertawa melihat kelakuan Bilqis. “Nakal ya.”


Bilqis malu. Pipinya merona, tapi ia memang ingin kembali berciuman dengan Alex. Tubuhnya meminta lebih dari itu.


Alex kembali memajukan wajahnya dan mencium bibir ranum itu lagi. Bilqis pun langsung menerima serangan itu dengan siap.


“Ah.”


Seperti biasa, sebelum memulai pada intinya. Alex akan lebih dulu mencumbui seluruh tubuh itu sembari membuka satu persatu pakaian yang meleka di tubuhnya dan tubuh lawannya.


“Mas … Eum.”


Bilqis mulai melenguh, gairahnya semakin naik karena ulah Alex yang kini tenggelam di sebuah goa setelah sebelumnya bersusah payah mendaki gunung.


“Mas …”


“Hm.”


Alex mulai mempermainkan gairah Bilqis. Ia menghentikan aktifitasnya saat Bilqis akan meledak.


“Mas,” rengek Bilqis.


Alex menatap wajah sang istri. “Apa.”


“Ayo!’


“Ayo, apa?”

__ADS_1


“Mas, jangan berhenti!”


Alex tersenyum lebar. “Kamu mau apa? Ayo katakan!”


“Aku mau kamu, Mas. Aku mau pisang.”


Sontak, Alex pun tertawa. Istrinya benar – benar ajaib. Sungguh, Alex tidak ada kata menyesal menikahi wanita ini.


Alex langsung mengeksekusi. Ia pun mempraktekan apa yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Bercinta di kantor pun menjadi kenyataan. Kini, Bilqis bukan lagi fantasinya, tapi hidup nyatanya. Sekarang, bahkan ia dengan bebas menjamah tubuh itu dan menggunakannya sebanyak yang ia mau. Lagi pula, Alex memang sudah rindu mendengar tangis bayi.


Alex mencoba beberapa gaya sembari memberi pengajaran pada sang istri bahwa bercinta itu memiliki teknik. Dengan polosnya, Bilqis menurut. Seperti yang diwejangkan sang ibu, seorang istri harus pintar melayani suami. Bilqis pun melakukan itu.


Terkadang, Laila juga sering menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian sang suami. Ia merasa mungkin suaminya pergi karena ia tidak bisa melayani dengan baik. Dahulu, Laila memang gadis polos yang tidak jauh berbeda dengan Bilqis sekarang. Ia cukup tabu dalam hal ranjang dan tidak pernah mau bergaya aneh – aneh saat bercinta. Katanya, laki – laki tidak akan pergi jika terpenuhi dua hal, pertama perut dan kedua di bawah perut. Dan, sepertinya hal itu yang diajarkan Laila pada putrinya saat sang putri meninggalkan rumah untuk tinggal di rumah suaminya.


“Aarrrg …” Alex berteriak dengan mengunci bibirnya.


Teriakan Alex diiringi oleh lenguhan Bilqis. Akhirnya, keduanya dapat menuntaskan hasrat itu dengan maksimal dan durasi yang cukup lama. Kegiatan mereka pun berakhir tepat di setengah jam sebelum waktu makan siang.


Dret … Dret … Dret …


Giliran ponsel Alex yang berdering. Untungnya, deringan telepon itu berbunyi usai mereka bercinta. Alex melepaskan penyatuan itu dan memakai kembali boxernya. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya.


“Halo.” Alex mengangkat telepon itu dengan deru nafas yang belum teratur.


“Hei, sedang apa kau? Apa kau habis bercinta?” tanya suara pria di alat komunikasi itu.


“Hm.” Alex hanya menjawab dengan deheman.


“Hello … di Singapura pukul dua belas tiga puluh. Pasti di Jakarta pukul sebelas tiga puluh. Apa kai tidak bekerja? Dasar pria bucin.” Ledek lawan bicara Alex.


“Sudah jangan basa basi. Ada apa meneleponku? Menganggu aktifitasku saja.”


“Come on! Kau yang menyuruhku untuk menyelidiki mertuamu yang hilang dan mantan mertuamu kan?” ucap pria yang tak lain adalah Zavier.


“Kau sudah mendapat informasi tentang itu?”


“Hm. Sekarang baru saja kau membutuhkanku. Baiklah, akan ku tutup teleponnya dan kembali nikamti aktifitasmu.”


“Zav.” Alex menahan Zavier yang ingin menyudahi komunikasi itu.


Zavier pun tertawa.


“Zav, aku serius.”


“Aku juga serius.”


Di sofa, Bilqis hanya melihat ke arah Alex yang sedang menelepon dengan jarak yang cukup jauh. Ia hanya mendengar Alex memanggil nama sahabat yang pernah dikenalkan padanya. Bilqis pun tidak memperhatikan dengan jelas perbincangan Alex dan Zavier karena ia juga sibuk untuk memakai pakaiannya kembali.


“Apa? Kau yakin?” tanya Alex terkejut.


“Seribu persen yakin. Uncle Ronal dan mertuamu yang hilang adalah satu orang yang sama. Aku akan mengirimkan bukti konkritnya padamu melalu email. Oke see yiu.”


Tut … Tut … Tut …


“Zav. Tunggu!” Alex ingin menahan sambungan telepon itu lagi, tapi nada sambungan itu sudah terputus. “Ah, si*l.”

__ADS_1


Zavier sengaja memutuskan sambungan itu sepihak agar terkesan Alex yang membutuhkannya.


Bilqis mendekati Alex. Ia penasaran dengan apa yang terjadi pada suaminya. “Ada apa, Mas?”


__ADS_2