
“Mas. Eum”
Tangan Alex menekan lembut dua gunung yang kenyal bagai squishy. Seperti tengah memainkan mainan yang sering dimainkan Aurel, Alex pun membuatnya demikian.
Dengan tangan yang tidak bisa diam dan bergerilya ke mana pun pria itu suka, Alex menggigit lher Bilqis dan memberikan kismark yang semula ada dan hampir hilang.
“Mas,” panggil Bilqis lirih. Ia hanya bisa memegang dinding karena posisi tubuhnya yang menghadap dinding shower. Sementara di belakang tubuhnya, aksi Alex tak bisa dihentikan.
Lagi – lagi, tangan Alex membuat tubuh Bilqis melemah, karena kini jemari itu sudah berada di bagian paling sensitif.
“Sayang, aku sangat rindu,” ucap Alex serak dengan jemari yang tak berhenti memainkan bagian yang paling dirindukan si jerry.
Alex membalikkan tubuhnya. Tubuh Alex masih belum polos. Ia masih mengenakan kain yang menutupi miliknya. Sementara wanita yang sedang dalam pelukannya sudah seperti yang dia inginkan. Kepolosan tubuh Bilqis sama seperti pesona yang pertama kali Alex lihat, polos dan lucu. Hari – hari bersama Bilqis di kantor membuat wajah yang biasanya datar, berubah. Senyum dan tawa semakin terbit dari wajah Alex yang dijuluki killer dan pemarah.
Alex tersenyum, saat tubuh Bilqis berbalik dan menghadapnya. Mereka saling bertatapan tanpa jarak karena Alex tidak membiarkan ada jarak diantara tubuh mereka. Alex sengaja menarik pinggang Bilqis agar tubuh mereka menempel.
“Kamu tidak merindukanku?” tanyanya dengan sorot mata tajam.
Bilqis menggeleng sembari menggigit bibirnya.
“Jadi benar, kamu tidak merindukanku sama sekali?” tanya Alex sekali lagi.
Jawaban Bilqis pun tetap sama. Kepalanya menggeleng, walau sebenarnya hatinya tidak seperti gerakan kepalanya tadi.
Alex menempelkan keningnya dengan kening Bilqis. “Jangan membuatku terluka, Sayang! Katakan, kamu merindukanku. Katakan kamu juga mencintaiku!”
Alex yang pemaksa, ingin mendengar Bilqis mengatakan cinta dan rindu padanya, karena selama mereka bersama, Bilqis memang belum pernah mengatakan itu. Ia meminta Alex mengatakan cinta tapi dia sendiri belum pernah melakukan yang sama.
Bilqis menggeleng.
“Apa kamu masih membentengi hatimu?” tanya Alex yang dijawab lagi dengan kepala tapi kali ini kepala Bilqis tidak menggeleng, melainkan mengangguk.
Alex menarik nafasnya kasar. Ia sedikit menunduk hingga kembali mensejajarkan kepalanya dengan Bilqis.
“Kama rahasia itu sudah tidak ada.”
Bilqis menatap mata Alex yang sedang berkata, seolah bertanya kenapa.
“Saat ini dan seterusnya, yang aku cintai hanya kamu. Yang aku mau hanya kamu, Bilqis Talitha.”
Bilqis terharu dan memeluk Alex. Setelah menyadari dan menerima takdir, ia tidak berharap kamar rahasia itu dihilangkan. Ia menyadari bahwa memang ada sosok Tasya sebelum Alex mengenalnya. Ia juga sadar bahwa Aurel juga harus mengenal ibu kandungnya. Belum lagi Laila yang ingin melihat sosok anak yang dilahirkan tapi tidak pernah dia rasakan kehadirannya.
Namun ternyata, cinta Alex yang cukup besar menghancurkan benteng itu. Kekukuhan Alex yang semula meminta Bilqis untuk tidak memintanya menghapus jejak Tasya dari hati dan kenangan yang ia buat dalam sebuah kamar khusus, kini Alex lepaskan. Demi siapa? Demi Bilqis, karena sepertinya cinta Alex pada mantan adik iparnya ini lebih besar.
__ADS_1
Alex merasakan hal berbeda bersama Bilqis. Jika dulu, ia bisa kuat ditinggal Tasya berhari – hari karena urusan pekerjaan atau hadir di satu acara yang tidak memungkin membawa Tasya, Alex bisa. Tapi dengan Bilqis, hanya semalam saja, Alex tidak bisa. Entah mengapa matanya tidak bisa terpejam jika belum memeluk dan mencium aroma tubuh Bilqis.
“Aku mencintaimu,” ucap Bilqis yang masih melingkarkan kedua tangannya di leher Alex.
Senyum Alex langsung melebar.
“Aku mencintaimu dan aku merindukanmu.”
Sontak, tubuh polos Bilqis langsung terangkat. Alex menggendong tubuh itu dan membawanya menuju ranjang yang ditaburi banyak bunga.
Bruk
Alex menghempaskan tubuh Bilqis di atas sana.
“Mas, ini ranjang pengantin Ibu.”
Alex tersenyum menyeringai. “Tidak apa. Kita gunakan dulu sebelum Ibu dan Om Darwis.”
Bilqis menggeleng dengan jejeran giginya yang terliat rapi. “Tidak, kamu gila.”
“Ya. Aku memang sudah gila,” jawab Alex dengan berlutut di depan tubuh Bilqis yang sudah terlentang.
“Jangan! Ini tidak benar.” Bilqis mencoba menghalau kegilaan sang suami. “Nanti Ibu marah loh.”
“Jangan!” Bilqis masih menggeleng dan meminta Alex untuk tidak bercinta di kamar pengantin sang ibu.
“Aku sudah tidak tahan, Sayang. kau membuatnya kedinginan.” Alex melirik ke bawah ke bagian yang sedang menjulang bagai monumen nasional.
Sontak, Bilqis tertawa.
“Oh, Jerry. Jadi semalam kamu kedinginan?” tanya Bilqis sembari menyentuh pusaka keramat itu.
“Eum … jangan di tanya seberapa dinginnya si jerry. Ayo lakukan sekarang, Sayang!” pinta Alex yang hasratna sudah di ubun – ubun.
“Lakukan apa?” tanya Bilqis sengaja meledek suaminya
“Sayang,” panggil Alex dengan nada tak sabar.
Bilqis kembali tertawa. “Aku lupa caranya.”
“Bilqis,” rengek Alex yang kesal dengan aksi istrinya yang begitu lambat. “Jangan paksa aku untuk berbuat sesuatu yang bisa menyakitimu! Ayo lakukan!”
Alex ingin Bilqis yang memulai penyatuan itu, karena jika dirinya yang mengawali, ia khawatir akan melakukannya dengan tidak lembut dan membuat Bilqis sakit.
__ADS_1
“Kalau begitu lakukan lebih dulu. Aku ingin melihat bukti dari ucapanmu.”
Hap
Alex memakan bibir ranum Bilqis. Wanita itu terlalu banyak bicara dan lambat. Ia pun langsung membungkam bibir Bilqis hingga wanita itu terlena dan tanpa sadar si jerry pun berhasil berada di sarangnya.
Dua malam tidak bercinta, membuat Alex harus kembali melakukan penitrasi. Perlahan tapi pasti, Bilqis menerima miliknya walau agak sulit.
“Oh, Sayang. rasamu tidak ada duanya.” Alex meracau menikmati kenikmatan surgawi yang selalu ia nanti.
“Eum.” Bilqis pun melenguh. Ia juga merasakan knikmatan yang sama.
Keduanya hanyut dalam penyatuan yang baru berjalan lima menit.
Dor … Dor … Dor …
Tiba – tiba seseorang menggedor pintu kamar itu.
“Mommy … Daddy …”
“Ya, Tuhan. Aurel.” Tubuh Alex langsung melemah, membuat Bilqis yang semula berada di langit ke tujuh pun tersadar dan tertawa melihat ekspresi pria killer yang sedang menindihnya.
“Mommy … Daddy … aku ingin ke dalam.” Teriakan Aurel kembali terdengar dan menggagalkan suasana romantis yang sedang tercipta di dalam kamar ini.
“Mas lepas!” pinta Bilqis untuk menyudahi penyatuan yang baru berselang lima menit itu.
“Hah!” Alex semakin lemas. Apalagi mendengar gedoran pintu yang kian intens dan teriakan anak kecil itu.
Jika sebelumnya ia pernah merasakan tanggung seperti ini saat ingin menjebol pertahanan Bilqis pertama kali, tapi hari ini tanggungnya tak tanggung – tanggung.
“Sepertinya kita harus honeymoon,” ucap Alex setelah mau tidak mau ia melepaskan sesuatu yang sudah nyaman berada di tubuh Bilqis.
Bilqis langsung bangkit dan mengambil piyama pendek yang sebelumnya berada di atas kursi rias sang ibu, sebelum ia ke kamar mandi ketika Alex belum berada di kamar ini.
“Mas, cepat pakai bajumu! Aku akan membuka pintu,” kata Bilqis pada suaminya.
Alex ikut bangkit dan mengambil pakaian yang ia tanggalkan saat hendak ikut ke dalam kamar mandi yang di dalamnya sudah ada sang istri tadi.
“Kapan kita akan meneruskannya lagi?” tanya Alex sembari memakai pakaiannya cepat, karena Bilqis sudah siap membuka pintu itu.
Bilqis mengangkat bahunya. “Kapan – kapan.”
“Hah! Jawaban yang tidak memuaskan,” sahut Alex ketus, membuat Bilqis kembali tertawa.
__ADS_1
Rasanya senang mempermainkan gairah Alex. Seperti membalas perlakuannya yang sering semena – mena dan pemaksa.