
Alex menengok ke arah pintu ruang kerjanya, sudah lebih dari tiga puluh menit, Bilqis tak kembali datang ke ruangan ini untuk mengantarkan kopi pesanannya. Namun, pekerjaan yang tanggung diselesaikan membuatnya tidak beranjak dari kursi itu, padahal ia ingin sekali menyusul sang istri ke dapur.
Rencananya, jika dalam sepuluh menit Bilqis tak kembali ke ruangan ini. Ia akan menemui istrinya ke bawah.
Dret … Dret … Dret …
Ponsel Alex berdering. Pria itu langsung melihat benda itu dan mengangkatnya.
“Halo, Pa.”
“Hai, Lex. Apa kabar?” tanya pria yang menelepon dari negara seberang.
“Baik. Bagaimana kabar Papa?”
“Baik juga.”
“Oh ya, sudah dapat kaabr dari Om Darwis, Pa?” tanya Alex antusias memberi kabar bahagia pada mantan ayah mertua yang kini menjadi ayah mertuanya lagi.
“Ya, Papa langsung dikabari oleh Darwis sendiri. Ada apa dengan kalian? Sepertinya kalian kompak sekali menikah. Tinggal di sana malah mendapatkan jodoh.” Ronal tertawa.
“Entah lah.” Alex menjawab singkat. Ia masih belum membuka semua tabir ini, karena ia merasa waktunya belum lah tepat.
“Pa, apa amnesia Papa tidak bisa disembuhkan?” tanya Alex mengingat kembali penyakit Ronal yang tak kunjung kembali normal setelah beberapa kali melakukan pengobatan.
Untuk amnesia yang dialami Ridho alias Ronal memang tidak ditutupi oleh Lenka. Hanya saja untuk ingatan Ridho atas Laila dan kedua anaknya, tidak diberitahukan sama sekali oleh wanita itu. Lenka membiarkan bagian ingatan itu hilang dan berharap memang tidak kembali. Kalau pun, Ridho sempat pulang untuk mengambil berkas – berkasnya, itu semua karena rekayasa Lenka yang memutarbalikan fakta. Lenka mengatakan pada Ridho bahwa Laila adalah istri kedua, Laila janda beranak dua yang telah merebut Ridho darinya. Oleh sebab itu, saat Ridho pergi, pria itu tidak menoleh sama sekali ke kedua anaknya yang sedang tidur, karena ia mengira bahwa kedua anak itu bukan anaknya. Ditambah posisi tidur Bilqis yang saat itu tengkurap dan tidak terlihat wajahnya, padahal wajah Bilqis sama seperti wajah putrinya yang diasuh Lenka.
“Kata Mama mu tidak,” jawab Ridho atau Ronal yang sudah pasrah dan tidak lagi mengobati amnesianya sejal sepuluh tahun lalu.
“Apa Papa tidak ingin mengingat masa lalu Papa?” tanya Alex.
“Masa lalu yang mana? Masa lalu Papa adalah Mama Lenka. Sejak remaja, wanita yang Papa pacari hanya dia. Papa tidak mungkin menyukai wanita lain.” Ronal berkata dengan tegas.
Entah lah bagaimana reaksi Ronal, jika nanti bertemu Laila. Akan kah mulutnya akan berkata sama?
“Papa akan ke Jakarta. Papa ingin menghadiri pernikahan Darwis. Papa ingin tahu wanita yang bisa membuat sahabat Papa itu move on.”
Ronal tertawa, sedangkan Alex hanya tersenyum. Alex hanya berkata dalam hati. “Wanita yang membuat Om Darwis move on adalah mantan istri Papa, ibu yang melahirkan anak - anak Papa,” gumamnya.
“Baiklah, kalau begitu sampai ketemu di Jakarta. Banyak kejutan yang harus Papa tahu di sini,” ucap Alex yang langsung diangguki oleh Ronal dengan anggukan yang tak terlihat Alex.
“Tentu saja.”
Ceklek
Bilqis membuka pintu ruang kerja Alex, setelah pria itu selesai berbincang sebentar dengan Ronal. Dengan segera, Alex meletakkan kembali ponselnya. Dan Bilqis melangkah mendekati meja kerja itu.
Alex menatap wajah sang istri yang terlihat datar, tidak manja seperti sebelumnya.
“Lama sekali,” ucapnya dengan menatap Bilqis yang tak menatapnya hingga cangkir itu di letakkan di atas meja kerjanya.
__ADS_1
Lalu, Bilqis baru membalas tatapan itu dan tersenyum tipis. “Tadi ada telepon dari Ibu, jadi baru membuatkanmu kopi. Maaf ya.”
Alex ikut tersenyum dan menarik pinggang Bilqis. “Ya, tidak apa.”
“Sayang,” panggil Alex yang tak kunjung mendengar jawaban dari Bilqis dan hanya tatapan saja.
“Qis.”
“Hm.” Bilqis baru tersadar.
“Kenapa? Hm? Ada yang menganggu pikiranmu?” tanya Alex.
Bilqis menggeleng dan menoleh.
“Tidak ada. Aku hanya memikirkan Ibu,” jawabnya bohong. “Kata Radit, Om Darwis akan membawa Ibu langsung ke Singapura setelah menikah.”
“Bagus dong.”
“Radit juga sudah mendapat kerja di sana,” ucap Bilqis. “Aku sendirian di sini.”
“Hei, kata siapa kamu sendirian? Ada aku. Ada Aurel.” Dekapan tangan Alex di pinggang Bilqis pun semakin erat.
“Hei, Jangan sedih! Lagi pula, kita juga nantinya akan kembali ke sana dan berkumpul lagi.”
Bilqis diam. Sebenarnya pikirannya tidak sedang ada dalam topik yang mereka bicarakan.
“Mas, pekerjaanmu masih banyak?” tanyanya yang langsung dijawab oleh anggukan kepala Alex. “Iya.”
“Baiklah.” Alex mengangguk. “Istirahat lah.”
Bilqis langsung membalikkan tubuhnya dan meninggalkan sang suami. Baru satu kaki, Bilqis melangkah ke arah pintu untuk keluar dari ruangan ini. Tiba – tiba Alex memanggil.
“Sayang.”
Bilqis belum menengok. Ia tetap berjalan menuju pintu.
“Sayang.”
Sontak, Bilqis menoleh. “Apa?”
“Sini!” Alex meminta Bilqis untuk menghampirinya lagi. “Aku belum menciummu.”
Dengan langkah gontai, Bilqis kembali menghampiri Alex. Setelah mendekat, Alex mengambil tengkuk Bilqis dan mengecup keningnya.
“Maaf, Sayang. pekerjaanku belum selesai.” Alex merasa bersalah karena sang istri harus tidur sendiri dulu. “Setelah ini, aku akan menyusulmu ke kamar.”
Bilqis mengangguk. “Oke.”
Wanita itu seperti robot yang hanya melaksanakan perintah. Pikirannya masih melayang memikirkan hal lain, memikirkan tentang isi dari kamar yang tak tersentuh orang lain kecuali Alex.
__ADS_1
Bilqis berjalan menuju kamar. Dengan langkah perlahan, ia memasuki kamar itu. sebelum masuk ke dalam kamar, Bilqis berpapasan dengan Maya yang baru saja keluar mengecek jendela serta pintu yang ada di lantai dua. Saat berpapasan dengan Maya, Bilqis tersenyum tipis dan masuk ke dalam kamar. Di sana, Bilqis tidak langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia malah duduk di meja rias sembari memandang wajahnya yang begitu mirip dengan wajah di foto yang ada di dalam ruangan yang Alex sebut gudang.
“Aku mirip sekali dengannya? Apa dia Mommy nya Aurel?” tanya Bilqis dalam hati sembari mengusap pipinya. Ia juga mengusap mata dan bibirnya, semua bagian wajahnya memang tampak sama seperti yang ada dalam foto dan lukisan di kamar itu, hanya tatanan rambutnya saja yang berbeda.
Tok … Tok …
Maya mengetuk ruang kerja Alex dan membukanya.
“Ada apa, May?” tanya Alex dengan arah mata yang tetap pada keyboard laptop.
“Kamar Nyonya belum dikunci ya, Sir?” Maya balik bertanya, membuat Alex loncat dari tempat duduknya.
“Masa sih? Sepertinya sudah,” ucap Alex.
“Belum, Sir. Tadi saya menekan handle pintunya dan terbuka.”
“Oh ya?” Alex langsung bangkit dan hendak menuju kamar rahasia itu.
Sebelum meninggalkan ruangan ini, Alex mematikan semua alat kerjanya dan Maya membantu merapikan meja itu.
Alex bergegas menuju kamar yang kata Maya belum terkunci itu.
Klek
Deg
Ternyata yang dikatakan Maya benar, pintu itu belum terkunci. Baru kali ini ia kecolongan. Karena menerima telepon dari Bima yang menanyakan pekerjaan dan harus Alex lihat dilaptop yang berada di ruang kerja, Alex terpaksa keluar dari ruangan itu dengan menutupnya saja tanpa sadar bahwa belum mengunci pintu itu kembali.
Alex menoleh ke arah Maya. “Apa Bilqis sempat memasuki kamar ini?”
Maya menggeleng. Ia memang tidak melihat Bilqis keluar atau masuk ke dalam ruangan ini. “Sepertinya tidak, Sir. Saya tidak melihat Nona Bilqis memasuki ruangan ini atau keluar dari sini."
“Benarkah? Kau yakin?”
Maya kembali mengangguk. “Ya, Sir. saya yakin.”
Alex dapat bernafas lega. Sebelumnya ia terasa tercekat. Sungguh, Alex tidak ingin menyimpan semua ini dari Bilqis. Ia ingin mengatakannya, tapi harus dimulai dari mana? Karena memang ketertarikan awal dengan Bilqis, bermula dari parasnya yang sangat mirip dengan Tasya.
Di kamar, Bilqis memejamkan mata. Namun, kepalanya masih berputar dengan foto yang mirip dengannya. Satu jam yang lalu, ia berhasil memasuki kamar itu tanpa sepengetahuan siapa pun. Bilqis juga menatap ke sekeliling dan sepertinya, Alex belum memasang cctv di sana. Dengan cerdik, Bilqis menutup kamar itu setelah kakinya sampai di dalam. Dadanya langsung berdebar kencang saat mendapati semua foto yang begitu mirip dengannya. Foto wanita itu yang sedang sendiri, berdua dengan Alex, dan bertiga dengan Aurel yang masih bayi. Di dalam foto itu, Alex selalu terlihat tertawa hingga jejeran giginya yang rapi pun tampak. Terlihat jelas di foto itu bahwa Alex sangat bahagia.
Grep
Mata Bilqis semakin sengaja dipejam, karena tangan Alex yang melingkar di pinggangnya. Alex ikut merebahkan diri di samping tubuh Bilqis yang terbaring miring. Pria itu pun memeluknya dari belakang dan hendak ikut tidur.
“Aku sayang kamu, Qis,” bisik Alex dengan mengecup kepala Bilqis.
Satu Kegiatan yang selalu Alex lakukan ketika akan tidur. Pria itu selalu mengatakan sayang padanya sebelum tidur. Awal – awal, Bilqis senang dengan perlakuan ini. Tapi setelah melihat kamar itu, ia ingin meminta lebih. Bilqis ingin mendengar Alex mengucapkan kata cinta.
“Apa kata cinta itu hanya untuknya?” tanya Bilqis dalam hati.
__ADS_1
Tiba – tiba hati Bilqis terasa nyeri. Ia terlalu berekspektasi tinggi. Sungguh ia takut akan jatuh ketika sudah mendaki ke tempat yang tinggi.
Bilqis masih berusaha memejamkan matanya. Sementara, di belakang Bilqis, justru Alex sudah terlelap.