
Tina berdiri di depan kitchen set sembari menunggu ie rebus yang masih berada di atas tungku itu matang.
Grep
Tiba – tiba sepasang tangan kekar melingkar di pinggangnya. Seketika, Tina pun menoleh. Siapa lagi orang yang memeluknya dari belakang kalau bukan Jhon.
“Hei, kenapa tadi pulang duluan?” tanya Jhon tepat di belakang telinga Tina.
“Karena pekerjaanku sudah selesai,” jawab Tina yang masih miris melihat keadaan dirinya sendiri di tengah kebahagiaan yang teman – temannya tadi.
Tina membalikkan tubuhnya, usai menuangkan bumbu ke dalam mangkuk. Lalu dengan cepat, Jhon mendekatkan wajahnya pada wajah sang kekasih. Jhon berniat ingin mencium bibir kekasihnya. Namun, wajah Tina langsung berpaling.
“Mie ku matang, Jhon. Awas sebentar!” Tina justru melepas tangan Jhon yang mengungkungnya dan memberi jarak pada pria itu.
Jhon menyandarkan tubuhnya pada marmer kitchen set sembari melipat dada. “Kamu kenapa sih? Suah satu bulan ini cuek banget. Bahkan aku tidak pernah lagi dapat jatah.”
Tina tidak menoleh ke arah Jhon. Ia memilih diam dan tetap melanjutkan aktifitasnya yang sedang memasak mie. Tina mematikan kompor dan menuangkan isi panci bergagang itu ke dalam mangkuk.
Jhon menarik nafasnya kasar dan kembali mendekati Tina. Ia kembali memeluk kekasihnya dari belakang. “Kamu tahu, aku sangat merindukanmu.”
Jhon menghirup aroma tubuh Tina lewat leher jenjangnya. Bibir itu mulai mencumbu titik kelemahan Tina. Jhon menelusuri leher dengan tangan yang mulai bergerilya. Bahkan tangan dan jari itu sudah menelusup ke bagian bawah tubuh kekasihnya.
“Jhon. Jangan!”
Lebih dari satu bulan, Tina berusaha menolak keinginan Jhon. Sejauh ini, ia mampu menahan gejola dan berhasil menahan gairahnya yang cukup tinggi, seperti yang dikatakan Jhon waktu itu, gairah Tina yang tinggi memang benar adanya. Dan hal itu yang membuat Jhon menyukai Tina, walau saat pertama wanita itu begitu lugu, tapi kini Tina begitu liar dan selalu membuat Jhon terpuaskan. Ditambah sifat baik dan ketulusan cinta yang diberikan Tina padanya, membuat Jhon sangat mencintai wanita itu. hanya saja keadaan yang membuat Jhon belum bisa sepenuhnya bertanggung jawab pada Tina. Saat ini, Jhon masih fokus memberi tanggung jawab pada putri semata wayangnya yang lahir dari hubungan dirinya dan mantan kekasihnya dulu.
“Eum.” Tina melenguh. Kedua tangannya mencengkeram ujung marmer kitchen untuk menahan gejolak yang saat ini ia rasakan.
Tangan Jhon sangat ahli. Bibirnya pun mampu membuat tubuh Tina meremang.
“Jhon.”
“Hm. Kamu ingin lebih? Katakan, Sayang!”
Kepala Tina menggeleng. “Jhon lepaskan tanganmu.”
__ADS_1
Kepala Jhon pun menggeleng. “Tidak. aku rindu ekpresi wajahmu yang seperti ini, Sayang. sangat sexy.”
Suara Jhon yang berbisik dan berada tepat di telinga Tina, membuat wanita itu tak kuasa.
“Aku ingin berubah, Jhon. Aku tidak ingin melakukannya lagi sebelum kita menik – kah .. Ah.”
“Itu tidak mungkin, Sayang. Aku sangat mengenalmu. Aku tahu sebulan ini kamu pasti tersiksa karena menahan gairah ini.”
“Jhon. Ah. Jauhkan tanganmu! Ah.” Tina semakin melenguh seiring putaran jari Jhon di sana yang membuatnya ingin meledak.
“Lepaskan, Sayang. Jangan ditahan!” lagi – lagi, jhon membuat Tina semakin tak kuasa.
“Jhon.”
Jhon tersenyum menyeringai melihat ekpresi Tina yang sudah terselimuti gairah, hingga sesuatu di sakunya berbunyi.
Dret … Dret … Dret …
Jhon pun langsung menarik tangannya dari sesuatu yang hampir membuat Tina meledak.
Tangan kiri Jhon memilih mengambil ponsel dari dalam sakunya dan mengangkat telepon. Sembari menerima panggilan telepon itu, Jhon mencuci tangan kanannya di wastafel.
“Iya, besok aku ke sana, Grace. Aku akan melihat keadaan Michelle. Tenang lah!”
Tina mendengar sedikit percakapan Jhon sembari meletakkan mangkuk yang sudah berisi mie itu ke atas meja mini bar. Ia menarik kursi dan duduk untuk menikmati mie rebus ayam bawang yang baru saja ia buat tadi. Sungguh, Tina kesal dengan Jhon tadi, pasalnya tubuhnya baru saja akan meledak tapi pria itu memilih mengangkat telepon dari mantan kekasihnya. Tina semakin merasa tidak dipentingkan, karean Jhon memang seringkali memilih mendahulukan Grace dan Michelle daripada dirinya.
Jhon menerima panggilan telepon dari mantannya hingga mie di dalam mangkuk Tina tersisa beberapa sendok saja.
Hap
Jhon langsung menarik tangan Tina dan memasukkan sendok terakhir itu ke mulutnya. “Mana mie untukku? Kamu habiskan semua?”
“Ini mie untukku. Aku tidak mmbuatkannya untukmu,” jawab Tina yang kemudian bangkit dan hendak membawa mangkuk kotor itu ke tempat cucian piring. Lalu, mencucinya.
Jhon kembali mendekatkan Tina dan memeluknya dari belakang. “Maaf, tadi aku membuatmu kesal.”
__ADS_1
Tina diam. Ia mencuci tangannya dengan bersih setelah mangkuk dan panci itu bersih. Lalu, Jhon membalikkan tubuh Tina.
“Ayo kita ulangi lagi yang tadi.”
“Yang mana?” tanya Tina dengan dahi mengernyit.
“Tadi kamu hampir saja meledak, tapi aku lepaskan karena Grace menelepon.”
“Sudah lah, Jhon. Lebih baik kamu pulang.” Tina menjauhkan tangan Jhon yang memeluk tubuhnya. “Aku lelah, Jhon. Aku ingin istirahat.”
Tina melangkahkan kakinya menuju pintu dan membuka pintu apartemen itu. “Keluarlah, Jhon.”
Jhon mengernyitkan dahi. “Kamu mengusirku?”
“Entahlah. Aku sedang tidak mood meliahtmu,” jawab Tina tanpa menoleh ke wajah Jhon.
Jhon mendekati wajah wanitanya yang sedang marah dan menangkup wajah itu. “Berapa kali aku bilang, aku sudah tidak memiliki rasa pada Grace. Hubunganku dengannya hanya karena Michelle.”
Tina tetap memandang ke sembararng arah. Kemudian, Jhon menarik wajah itu untuk menatapnya.
“Lihat mataku! Aku sangat mencintaimu. Aku akan menikahimu, jangan khawatir! Tapi beri aku waktu untuk mengurus Michelle. Kata dokter usianya tidak lama lagi.”
Tina masih diam. Ingin rasanya air mata itu luruh.
Lalu, Jhon mengecup kening Tina. “Aku tidak akan mengganggu waktu istirahatmu. Tidurlah! Sampai jumpa besok.”
Jhon keluar dari apartemen yang ia hadiahkan untuk sang kekasih saat wanita itu berulang tahun yang ke dua puluh enam kemarin. Jhon memang royal pada kekasihnya. Sudah banyak benda berharga yang Jhon berikan untuk Tina.
Pria itu tak lagi menoleh ke belakang hingga Tina menutup kembali pintu itu.
Tubuh Tina merosok di balik pintu apartemen yang tertutup. Ia menangis sejadi – jadinya, Andai ia tidak terjerumus terlalu jauh dalam hubungan ini, mungkin ia sudah pergi. Tapi ia butuh Jhon untuk bertanggung jawab sebagai orang yang pertama menyentuhnya.
“Apa diluar sana, masih ada pria yang menerima wanita sepertiku?”
Tina menangis tersedu. Ia menyesal karena telah terbuai dengan kenikmatan sesaat. Walau Jhon terlihat begitu mencintainya, tapi sampai kapan ia akan digantung seperti ini? Tina menyesal karena atas nama cinta, ia rela menyerahkan begitu saja kebanggaannya untuk orang yang belum bertanggung jawab atas dirinya.
__ADS_1