Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Mempertanggungjawabkan perbuatan


__ADS_3

Alex menglihkan pandangannya pada Bilqis yang semula menatap ke arahnya saat ia sedang berbisik pada Rendi. Namun, Bilqis mengalihkan pandangannya ke sembarang arah sembari melipat kedua tangannya di dada.


Alex tahu, sang istri memang membutuhkan waktu. Sejak awal pertemuannya, ia memang memanfaatkan kemiripan wajah itu untuk mengobati kerinduannya pada sang istri. Walau lambat laun, ia bukan hanya menyukai wajahnya yang mirip dengan paras sang istri karena ternyata mereka kembar, tapi Alex memang terpesona oleh karakter Bilqis yang berbeda dari saudara kembarnya itu.


Dan, semakin hari Alex justru lebih menginginkan Bilqis. Setiap kali bercinta pun, Alex tidak pernah membayangkan Tasya. Yang ia ingat hanya wajah Bilqis yang menlenguh sexy. Walau mereka kembar, di atas ranjang ekpresi mereka pun sangat berbeda dan ternyata Alex lebih menyukai ekspresi Bilqis. Jika Tasya lebih pasif dan tidak banyak berbicara saat bercinta, Bilqis berbeda. Wanita yang Tuhan pertemukan di kantornya itu lebih sering menyebut namanya dengan dayu suara yang merdu saat merintih. Alex menyukai itu, sensaninya berbeda. Hal itu semakin memacu adrenalin Alex untuk melakukan lebih dan lebih untuk mereguk kenikmatan surgawi yang dihalalkan.


Alex melangkang mendekati lagi sang istri. Sebelum ujung kakinya tepat berada di ujung kaki Bilqis, Alex membuka hodie hitam yang ia kenakan. Lalu, memakaikannya di tubuh sang istri. Kedua tangan Bilqis yang semula terlipat di dada pun terlepas.


Gerakan Alex yang pelan membuat Bilqis terlena dengan aroma maskulin yang menjadi kesukaannya itu. Sejak menjadi sekretaris Alex, diam – diam Bilqis mengagumi aroma parfum yang sering digunakan sang bos.


"Aurel pasti akan merindukanmu. Jangan lama – lama menyendiri! Karena aku sudah tidak biasa sendiri.” Alex tersenyum dan menangkup wajah sang istri.


Jika boleh jujur, Alex ingin egois dan tanpa pedulia perasaan Bilqis, ia akan membawa sang istri pulang ke rumah dan mengurungnya di kamar. Namun, Alex takut hal itu justru akan membuat sang istri semakin jauh, karena Bilqis bukan Tasya yang penurut dan tidak akan membangkang jika ditekan. Bilqis wanita keras kepala yang terbentuk oleh kerasnya kehidupan yang justru akan melawan jika ditekan. Dan, Alex sadar itu.


Saat kedua netra mereka bertemu, Bilqis tidak mampu untuk menatap lama mata itu. ia tahu, Alex sengaja melakukan ini agar membuatnya luluh. Biilqis pun mengalihkan pandangan ke arah dua pria yang tengah menatap mereka. Ia hanya tersenyum pada Radit dan mengangguk pada Rendi untuk mengajaknya kembali masuk ke dalam mobil. Sepertinya, Bilqis akan tinggal sementara di apartemen Tina, karena hanya Tina teman dikantornya yang mengetahui bahwa dirinya sudah menikah dengan sang bos.


Bilqis hendak meninggalkan pria itu. Namun, Alex yang masih tidak rela, tetap menahan lengannya. Padahal, Alex tahu bahwa sang istri tidak akan pergi jauh, karena ia akan selalu memantau orang – orang yang ia sayangi dengan caranya.


Alex menarik syal yang Bilqis gunakan. Syal yang selalu wanita itu gunakan sejak menjadi istrinya untuk menutupi tanda kepemilikan yang selalu ia buat. Dan, sebelum kejadian hari ini, semalam Alex juga sudah membuatnya lagi, walau dengan caa mencuri di sela – sela tidurnya Aurel dan Bilqis yang ternyata sayup – sayup menikmati.


“Mas,” panggil lirih Bilqis saat syal itu terlepas dari lehernya.


Alex tersenyum dan menempelkan benda itu ke hidungnya. “Ini untukku.”


Bilqis menggeleng dan membuka pintu mobil yang di dalamnya sudah ada Rendi menduduki kursi kemudi dan iap mengantarnya.

__ADS_1


“Antarkan istriku ke mana pun yang dia mau,” kata Alex dengan menatap tajam ke arah Rendi.


Rendi menjawab dengan anggukan kepala. Lalu, Alex kembali menghampiri Radit.


“Mba Qis ga diajak pulang, Mas?”


Alex menggleng. “Mba mu tidak akan bisa dikerasi.”


Radit mengangguk, ia setuju dengan pernyataan itu. Kemudian, Alex dan Radit kembali ke rumah sakit. Di sana, banyak hal yang belum mereka urus.


“Lepas!” teriak Lenka. “Mas, bilang pada mereka , jangan membawaku!”


Ridho diam. Dia tidak membela istrinya.


“Apa yang kau lakukan sangat fatal, Len. Kau harus mempertanggungjawabkannya,” ucap Darwis.


Lenka meronta saat kedua tangannya sudah di tahan oleh petugas. Namun, tubuhnya terus meronta hingga pegangan itu terlepas dan Lenka kembali menubruk tubuh Ridho yang kini terduduk di atas tempat tidur pasien.


“Ronal.”


“Namaku bukan Ronal,” ucap Ridho dengan membalas tatapan Lenka yang menatapnya memelas.


“Aku melakukan ini karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak relakau memilihnya.” Lenka menunjuk ke arah Laila yang sedari tadi tetap berada di samping Darwis.


Melihat Ridho bersama Lenka, hatinya pun tidak terluka. Rasanya berbeda saat dua puluh satu silam, rasanya hatinya remuk redam mengetahui sang suami yang menikah lagi dan terpaksa menerima, lalu berakhir dengan ditinggalkan walau kenyataannya ternyata Ridho tidak benar – benar meninggalkannya dengan sadar. Tapi semua sudah Laila maafkan, ia juga sudah merelakan takdirnya. Itu terbukti dengan suasana hatinya sekarang.

__ADS_1


Laila marah bukan karena cemburu terhadap Lenka atau cemburu dengan pasangan selingkuh ini, tapi Laila marah karena Ridho tega memisahkannya dari darah daging yang ia lahirkan. Apalagi setiap kali pemeriksaan, Ridho tidak pernah mengatakan padanya jika bayi yang ia kandung adalah kembar.


“Aku juga ingin kamu dipenjara, Mas,” ucap Laila tegas.


Sontak, Ridho melihat ke arah Laila.


“Aku tidak rela, kamu membohongiku dan mengambil putriku sampai aku tidak pernah melihatnya sama sekali. Kau pria paling tega yang pernah aku temui. Kau tidak memikirkan perasaanku saat itu? Huh!”


“Maaf, Laila. Aku tidak punya pilihan.” Ridho menggleng. “Lenka mendesakku.”


Laila menangis, hingga tak lama kemudian Alex dan Radit kembali berada di ruangan itu.


“Bu.” Radit mengahmpiri sang Ibu dan memeluknya.


“Tunggu apa lagi. Bawa dia, Pak!” Alex menunjuk Lenka dan meminta petugas untuk tidak lagi memberi dispensasi waktu.


“Lepas!” Lenka kembali meronta dan menatap ke arah Alex. “Alex, lepaskan Mama!”


Alex menggeleng. “Mama harus mempertanggung jawabkan semua.”


“Tuan Ridho yang terhormat.” Kini Radit yang bersuara dengan menatao taja ke arah pria yang masih berada di atas tempat tidur pasien. “Anda juga harus masuk bui dan mempertanggungjawabkan anak yang anda ambil dan memisahkannya dari ibu yang melahirkan.”


Ridho membalas tatapan tajam sang putra. Ia tahu, putranya itu sangat membencinya. Ia masih ingat bagaimana sang putra menghajarnya habis – habisan. Itu sudah bukti bahwa Radit benar – benar membencinya dan ia sadar bahwa hal itu adalah wajar. Setelah ingatannya kembali, ia baru menyadari bahwa dirinya memang teramat jahat dengan meninggalkan Laila begitu saja. Laila tanpa pekerjaan harus membiayai dua anaknya yang masih sangat kecil saat itu. Ridho tidak bisa bayangkan bagaimana menderitanya Laila dan kedua anaknya kala itu.


“Aku siap untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku. Silahkan, penjarakan aku!”

__ADS_1


Ridho pasrah. Ia menyodorkan kedua tangannya ke arah Alex, Radit, Laila, dan Darwis. Sebenarnya, Darwis tidak tega melihat sahabatnya itu. Tapi yang Ridho lakukan memang keterlaluan. Bukan saat pria itu amnesia, tapi lepas sebelum itu, Ridho sudah melakukan kejahatan dengan memisahkan dua anak kembar yang berada dalam rahim itu dari ibunya dengan terencana.


__ADS_2