
“Bim, Tina mana?”
Sesampainya di Jakarta, Jhon langsung ke kantor. Sedari tadi, ia tidak menemukan sosok wanita yang dirindukan. Lalu, Jhon bertanya pada asistennya. Karena saat ini, Jhon menempati posisi Alex, sehingga Bima pun menjadi asisten Jhon.
“Loh, memang Sir tidak tahu?” tanya Bima mendelik.
“Tahu apa?” Jhon semakin bingung.
“Tina mengajukan resign lima hari lalu. Dan katanya, Sir Jhon sudah Acc.”
“What?” Jhon terkejut hingga ia berdiri dari kursi kerjanya. “No. Saya tidak pernah melakukan itu.”
Kemudian, Bima menyodorkan sebuah surat. Surat persetujuan pengunduran diri Tina yang ditanda tangani Jhon.
Jhon pun terbelalak. Memang hanya Tina yang bisa meniru tanda tangannya dengan sangat mirip. Terkadang jika ia tidak ada di tempat, Jhon memberi izin pada Tina untuk menandatangani sendiri tanda tangannya. Dan memang sejauh ini tidak ada yang sadar ketika Tina memalsukan tanda tangan itu, lagi pula sejauh ini Tina memalsukan tanda tangan jika memang karena berkas yang segera diselesaikan saat Jhon tak ada saja dan itu pun dengan izin pemiliknya.
“Si*l,” umpat Jhon saat memegang surat persetujuan pengunduran diri sekretaris sekaligus kekasihnya itu.
“Kemarin hari terakhir Tina bekerja, Sir. Dan sekarang dia sudah tidak di sini.”
Dengan cepat, Jhon langsung mengambil jas yang ia letakkan di punggung kursi kebesaran yang dulu diduduki Alex.
“Sir.”
“Atur lagi jadwal pertemuanku untuk siang ini. Ada urusan penting yang harus diselesaikan.”
Bima menarik nafasnya kasar dan pasrah. Tidak bosnya yang dulu, tidak yang sekarang, keduanya sama – sama memiliki hubungan dengan sekretarisnya, membuat Bima kelimpungan jika hubungan mereka tidak sedang baik – baik saja.
Jhon melangkah cepat menuju lobby. Ia menelepon bagian basement untuk membawakan mobilnya ke lobby. Lalu, mengemudikan mobil itu ke tempat kos Tina.
Jhon memutar setirnya ke kanan untuk memasuki area temat kos itu. Sementara di kos itu, Tina sudah berpelukan dengan teman – teman penghuni kos itu sebagai tanda perpisahan. Bahkan kini, Tina sudah berada di dalam taksi. Ia melambaikan tangannya pada teman – temannya di sana.
Tepat saat taksi yang ditumpangi Tina menjauh, mobil Jhon pun datang. Kedua kendaraan itu sempat bertemu dan berselisih jalan.
Jhon tiba di kosan Tina. Ia keluar dari mobil dan melihat salah satu teman Tina memasuki rumah kos itu.
“Permisi.”
Salah satu teman Tina yang mengantarkan Tina hingga naik taksi tadi pun menoleh. Ia cukup kenal wajah Jhon karena Jhon memang sering mengantar dan menjemput Tina ke sini. Walau, mereka tidak pernah berinteraksi sama sekali tapi teman Tina tahu kalau pria itu bos sekaligus pacar Tina.
“Ya.” Wanita itu menoleh ke belakang. ia melihat pria bule yang bertubuh tinggi tegap itu diluar pagar.
Selain wanita itu, ada wanita lain di sebelahnya yang juga menghentikan langkah saat mendengar suara Jhon. Penghuni kos yang Tina sewa sejak bekerja di perusahaan Alex, memang hanya berisikan wanita saja.
__ADS_1
“Tina nya ada?”
Wanita itu menggeleng. “Baru saja Tina pergi.”
“Pergi? Ke mana?”
“Pulang ke kampungnya. Katanya ayahnya sakit.”
“Bukan, gendis. Bukan ayahnya sakit, tapi Tina mau dijodohkan,” sahut wanita yang satunya lagi.
Sontak dahi Jhon mengernyit. Dadanya bergemuruh. Kepalanya pun semakin pening. “Apa?”
“Ya, baru saja taksinya pergi,” ujar salah satu teman kosan Tina itu.
“Ke mana?” tanya Jhon panik.
“Stasiun.”
“Terima kasih.” Setelah mengucapkan kata itu, Jhon langsung menuju mobil dan menekan gas dengan kecepatan penuh.
Sesampainya di stasiun pun, Jhon memarkirkan mobilnya sembarang.
“Pak, parkirkan mobilnya dengan benar,” ujar petugas di sana.
Jhon segera menghampiri petugas itu dan memberikan kunci mobilnya. “Tolong parkirkan. Ini uang tip-nya.”
Jhon langsung berlari ke dalam. Ia mencari Tina ke sana ke mari. Hingga ia menemukan sosok yang sedang duduk sendiri dan siluet itu menggambarkan wanita yang ia cintai.
“Tina.”
Teriakan Jhon, seketika membuat Tina yang semula menunduk dan sedang membersihkan isi ponselnya, tiba – tiba mendongak. Tina melihat pria bule itu berlari ke arahnya. Lalu, memeluknya erat.
Jhon mengecup pucuk kepala itu beberapa kali dan saat matanya menangkap koper besar di samping Tina, ia pun melerai pelukan itu.
Jhon langsung menarik lengan Tina sembari menarik koper besar itu. “Ayo pulang!”
Namun, tubuh Tina tetap mematung. Ia tidak bergerak, walau Jhon mengajaknya beranjak. “Aku memang mau pulang, Jhon. Sudah lama aku lari dari keluargaku dan sekarang sudah waktunya aku pulang.”
Jhon lemas. ia menarik nafasnya kasar. “Sayang, jangan begini! Aku tahu kamu marah karena aku tidak ikut pulang bersamamu kemarin. Bukannya segera pulang, malah aku di sana lebih lama. Tapi kamu tahu, itu semua karena …”
“Michelle,” jawab Tina dengan memotong perkataan Jhonyang belum selesai.
“Sayang, mengertilah!” suara Jhon terdengar lirih dan memohon.
__ADS_1
“Justru karena aku mengerti keadaanmu, Jhon. Aku pergi.”
Jhon menggelengkan kepala.
“Aku dengar janjimu pada Michelle hari itu. hari di saat aku ingin menjenguk putrimu dan membawakan bunga untuknya. Suasana hati yang senang tiba – tiba hancur saat kamu mengucpkan janji di anak kecil itu untuk menikahi ibunya.”
Jhon semakin lemas. Ia langsung mengklarifikasi. “Apa yang bisa aku katakan selain iya, Tina? Aku tidak punya pilihan saat itu.”
“Ya, kamu memang tidak pernah punya pilihan. Jadi buat apa aku ada? Lebih baik aku pergi bukan? Karena toh akhirnya aku bukan pilihan.”
“Tina.”
“Jhon. Sudah lah! Mungkin kita memang tidak berjodoh.” Tina menepuk dada bidang itu. “Aku memang bodoh. Karena cinta, aku memberikan semua untukmu tanpa sisa.”
Seketika airmata Tina jatuh.
Jhon pun menggeleng. “Sayang, jangan seperti ini! Janji itu tidak benar – benar aku lakukan. Aku hanya menyenangkan Michelle saja.”
“Tapi putrimu pasti akan terus mendesakmu, karena kamu sudah mengiyakan permintaannya. Dan aku terus menerus sakit sendirian.”
“Tina, jangan tinggalkan aku. Kumohon!” Jhon menggenggam tangan Tina yang berada di dadanya.
Tina pun tersenyum. “Berbahagialah, Jhon. Doakan aku pun bisa mendapatkan kebahagian di sana.”
Jhon kembali menggeleng. “Tidak.”
“Keadaan kita saat ini tidak memungkinkan Jhon. Kata Mira, jodoh tidak akan kemana. Sekarag selesaikan urusanmu. Jika urusanmu sudah selesai dan sampai saat itu, aku belum menikah. Mungkin kita jodoh. Tapi ketika saat itu aku sudah menikah, berarti kita tidak jodoh.”
“Tidak Tina.” Lagi – lagi Jhon menggeleng. Tidak, ia tidak setuju dengan pernyataan Tina itu.
“Kamu jodohku, Sayang. Aku sangat mencintaimu. Aku yang pertmaa kali menyentuh seluruh tubuhmu dan aku akan bertanggung jawab atas itu.”
Tina tersenyum getir. “Selamat tinggal, Jhon. Keretaku sudah datang.”
Tina melepaskan genggaman tangan itu. Pengeras suara yang menyatakan kereta yang akan Tina tumpangi itu pun menggema, meminta para penumpang untuk bersiap memasuki area yang disebutkan.
Tina bergegas menarik kopernya dan hendak meninggalkan pria yang sedang kalut itu.
“Bye, Jhon. Tanggung jawab terbesar saat ini bukan aku, tapi putrimu. Pergilah dan buat dia bahagia di sisa usianya. Jangan kamu sia – siakan lagi putrimu.”
Tina tersenyum, senyum manis yang akan dilihat Jhon untuk yang terakhir kali.
Jhon hanya bisa mematung, karena apa yang Tina katakan benar. Saat ini, tanggung jawabnya memang untuk sang putri. Ia tidak bisa membahagian dua wanita itu bersamaan, terlebih keduanya memiliki keinginan berbeda. keduanya tidak bisa disatukan. Andai Michelle menyukai Tina, mungkin keadaan tidak akan serumit ini.
__ADS_1
“Tunggu aku, Tina. Jangan terima pria mana pun kecuali aku! Aku akan datang ke rumahmu setelah urusanku selesai,” teriak Jhon saat langkah Tina sudah menjauh.
Namun, suara Jhon dapat didengar wanita itu. Tina menoleh ke belakang dan tersenyum lagi. kepalanya tidak mengangguk karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Biarlah hidunya mengalir seperti air. Ia akan menerima setiap takdir yang Tuhan berikan padanya. Yang terpenting saat ini adalah ia ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik, agar kelak Tuhan pun memasangkan dirinya dengan pria yang baik. itu saja.