Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Bonchap 4 - menua bersama


__ADS_3

"Papa sama Ibu jadi tinggal ke Singapur?” tanya Bilqis pada Darwis dan Laila, saat mereka duduk bersama di ruang keluarga.


Darwis mengangguk.


“Ibu mah ngikut Papa kamu aja,” sahut Laila.


Darwis memeluk bahu Laila dan mengecup keningnya. “Terima kasih.”


Laila tersipu malu. “Mas, malu.”


Alex dan Bilqis yang berada di depan mereka dengan duduk berdekatan, mengulum senyum. Mereka gemas melihat pasangan yang tak lagi muda itu. Namun, kasih sayang yang mereka tunjukkan melibihi dari pasangan muda.


“Kamu juga akan ke Singapur kan, Lex?” tanya Darwis pada Alex.


“Ya, tapi setelah semua urusan di sini siap. Masih banyak yang belum bisa aku tinggalkan, Om.”


Darwis mengangguk. Ia cukup tahu pekerjaan Alex. Di luar, Radit tengah membawa keponakannya untuk membeli es krim. Es krim ke kinian yang iklannya selalu seliweran di instagram.


“Jadi, kemungkinan Ibu juga akan melahirkan di sana?” kali ini Bilqis yang bertanya.


Laila dan Darwis mengangguk.


“Kalau untuk melahirkan. Aku juga berencana membawa Bilqis ke rumah sakit kita,” ucap Alex yang langsung diangguki Darwis.


“Aku baru ingin bilang seperti itu,” sahut Darwis.


Laila tersenyum senang. “Ah senangnya. Jika seperti itu, Ibu jadi tidak khawatir padamu.”


“Bilqis juga tidak khawatir pada Ibu.”


Ibu dan anak itu tampak kompak. Dan sepertinya memang usia kandungan keduanya tidak jauh berbeda. Jika pasca menikah, Laila hanya mendapat masa periodenya satu kali, sedangkan Bilqis pernah mendapat beberapa kali.


“Es krim datang,” ujar Radit dari luar.


“Es krim datang.” Perkataan Radit diulang oleh Aurel.


“Yeay … Es krim.” Bilqis berbinar saat sang adik membawa banyak bungkusan yang berisi es krim.


“Ini pesanan Mba Qis. Ini pesanan Ibu. Ini pesanan Mas Alex. Dan ini kopi buat Papa. Ini buat aku dan Aurel.” Radit membagikan semua yang ia jinjing tadi.


“Loh kok Ibu pakai boba sih? Tadi kan ibu bilang yang pakai oreo, Dit. Yang seperti Bilqis.”


“Lah, tadi Ibu bilang apa aja. Jadi Radit belikan yang memang lagi kekinian,” sanggah Radit pada ibunya yang saat ditanya ingin pesanana es krim seperti apa, jawabnya apa saja.


“Ngga, ibu ga suka boba. Ibu mau yang punya Bilqis.”


Mata Laila tertuju pada es krim yang ada di tangan putrinya. “Ini buat ibu ya.”


“Ih, Ibu ga mau. Ini es krim kesukaan aku. Aku juga ga suka boba.” Bilqis menarik jauh es krim miliknya agar tidak diambil sang Ibu.


“Pelit,” jata Laila dengan memonyongkan bibir.


“Biarin. Wee …” Bilqis menjulurkan lidahnya pada sang Ibu.


Alex dan Darwis yang melihat kelakuan kedua istrinya pun menggelengkan kepala. Radit melihat ke arah kedua pria yang istrinya sedang berebut makanan.


“Papa sama Mas Alex baru tahu ya kelakuan Ibu dan Mba Qis. Minus,” uar Radit, membuat kedua pria yang ia panggil itu tertawa. “Kemarin aja, mereka berebut mangga. Ngga tahu situasi, mana Radit lagi sakit gigi.”

__ADS_1


Sontak, Darwis dan Alex kembali tertawa.


“Ibu, udah nyobainnya. Ibu udah makan banyak.”


“Sedikit lagi, Qis. Jangan pelit!”


Ibu dan Anak itu masih saja berebut.


“Dit, kamu beli lagi es krim yang sama seperti Mba untuk ibu, gih!” pinta Bilqis yang tidak rela es krimnya terus dimakan sang ibu.


Radit pura – pura lemas. “Ya, ampun. Capek Mbak, panas.”


“Sudah, sudah. Ini aku pesankan online. Mau berapa?”


“Jangan! Online lama, mending Radit suruh beli lagi aja.”


“Ya ampun, Ibu.” Radit semakin lemas saat sang Ibu menegaskan perintahnya.


“Nasib anak bungsu selalu menjadi tempat untuk disuruh – suruh,” keluh Radit lagi.


Bilqis tertawa. Darwis dan Alex pun sama. Sementara Aurel menatap kasihan pada sang paman.


“Ayo, Om. Aurel temenin lagi,” kata Aurel memberi semangat pada pamannya yang ingin membeli makanan itu, lagi.


****


Tiga bulan kemudian, kehamilan Bilqis sudah memasuki trimester ketiga. Tubuhnya semakin sekal berisi. Apalagi dadanya, membuat Alex selalu gemas meletakkan kepalanya di sana. Sama seperti pagi ini.


“Mas,” rengek Bilqis karena sedari tadi, Alex terus memainkan dua gunung yang semakin membulat. “Udah, aku mau masak. Nanti Aurel mau sarapan.”


Alex masih menikmati aktiitasnya. Hampi setiap malam dan setelah subuh, ia melakukan hal ini, dengan dalih agar saat melahirkan, Bilqis mendapat ASI yang banyak.


“Mas,” rengek Bilqis lagi.


Plop


Alex pun melepas kesenangannya. “Ini baik untukmu, Sayang.”


“Ya, pasti kau akan bilang, ini salah satu bentuk treatmen agar nanti ASI ku banyak,” jawab Bilqis.


Alex nyengir. “Ya, memang seperti itu. aku kan sudah pengalaman jadi tahu.”


Bilqis mengerucutkan bibir. “Modus. Bukan karena kamu pengalaman, tapi memang karena kamu encum. You know?”


“No,” jawab Alex sembari menggelengkan kepalanya.


Bilqis tersenyum dan membenarkan kembali kain yang menyangga dua buah dadanya. Alex menggelengkan kepala, ia tidak mengerti kata terakhir yang Bilqis gunakan.


“Apa encum?”


“Itu nama makanan yang terbuat dari ampas tahu.”


Alex mengernyitkan dahi. “Itu oncom, Sayang.”


Bilqis tertawa dan menarik tubuhnya untuk bangkit dari ranjang itu, karena kalau ia masih tetap berada di atas benda ini, ia tidak akan bisa melakukan aktifitas lain selain menerima perlakuan mesum suaminya, apalagi hari ini Alex sedang libur. Bukan hanya Alex yang libur, Aurel pun juga karena hari ini tanggal merah.


Alex tidak rela ssang istri pergi dari kamar ini. Ia kembali menangkap Bilqis dan memeluk tubuh itu. Alex terus menciumi leher, punuk serta punggung belakangnya membuat ia kegelian.

__ADS_1


“Mas,” rengek Bilqis sembari tertawa.


“Aku tahu encum itu apa,” ucap Alex.


“Apa?” Bilqis menatap wajah suaminya.


“Mesum kan?”


Bilqis tertawa.


“Aaaa …” Ia semakin menjerit tertawa karena Alex menggelitiki pinggangnya.


Tubuh Bilqis kembali jatuh ke ranjang. “Mas, udah ah geli.”


Alex ikut tertawa melihat istinya kegelian. “Biarin. Perutm yang bulat membuatmu semakin sexy, Sayang.”


“Maaaas.” Bilqis kembali berteriak.


Teriakan kedua insan yang sedang bersenda gurau ini tidak terdengar keluar, karena Alex mendesign kamar ini kedap suara. Berbeda dengan kamar yang ada di rumah Laila. Tapi untung saja, terhitung dari satu minggu lalu, Radit sudah pensiun mendengar suara – suara gaib dari kamar sang ibu, karena Darwis sudah memboyong istrinya ke Singapur dan menetap di sana. Darwis sudah mengaja Radit untuk ikut. Namun, Radit menolak. Alhasil, kini ia tinggal sendiri di rumah yang dahulu menjadi saksi ketangguhan Bilqis dan Laila dalam menopang kehidupan keluarga dan memenuhi segala kebutuhan.


"Maas, udah." Bilqis kembali memohon pada Alex agar berhenti menggelitiki.


Alex pun menghentikan aksinya. Ia mengungkung tubuh Bilqis dan mencium perut yang sudah cukup besar itu.


“Kapan jadwal periksa mereka?” tanya Alex sembari mencium dan mengelus perut Bilqis.


Bilqis sedikit bangkit dari tubuhnya yang semula terlentang. “Hm. Lusa.”


Alex kembali mengecup perut itu sambil berkata, “Sehat – sehat ya, Sayang. Daddy menanti kedatangan kalian."


Ya, hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa kantung yang berada di rahimnya dua. Bilqis akan melahirkan bayi kembar. Tapi untuk kali ini tidak berjenis kelamin perempuan, melainkan laki - laki. Dan, Alex sangat bahagia atas itu.


Alex bahagia karena nantinya bukan hanya Aurel yang akan memanggilnya Daddy. Ia juga semakin giat mendirikan perusahaan untuk anak – anaknya kelak.


“Sayang, Mas mau jenguk mereka lagi ya.” Alex tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


“Sudah ku duga,” jawab Bilqis tertawa dengan memukul pelan pipi sang suami, membuat Alex ikut tertawa.


Bersama Bilqis hidupnya penuh warna. Bersama Bilqis, hari – harinya memiliki makna. Bersama Bilqis, sepanjang malam dan pagi terbang ke nirwana. Bersama Bilqis, ia merajut asa hingga menua bersama.


“Aaaa …. Mas. Pelan – pelan.” Bilqis menahan dada Alex saat keduanya sudah menyatu.


“Ini udah pelan, Sayang.”


“Mas.” Bilqis kembali manahan gerakan Alex yang sudah diubun – ubun.


“Apa?”


“Love you.” Bilqis membentuk gambar hati pada lipatan jarinya.


Alex tersenyum dan menggigit leher sang istri.


“Aaa … Mas … jangan digigit!”


“Biarin.”


Alex kembali melanjutkan aksinya, hingga lupa bahwa diluar sana sang putri sedang menunggu untuk sarapan bersama.

__ADS_1


__ADS_2